Family And Enemy

Family And Enemy
Bela dan Keyakinannya


__ADS_3

"Apa kau serius?." Alex terkekeh.


"Buat apa aku berbohong. Kalau kau melihat langsung ekspresinya pasti kau akan terbahak-bahak."


"Hmm, tapi kenapa tamu mamamu itu tetap ada disini?."


"Aku juga tidak tahu. Nanti malam aku akan pindah ke mansion. Disini aku mulai tidak nyaman sulit untuk bernapas." Bela mulai mengemasi barang-barang pribadinya.


"Maaf kemarin aku tidak bisa menemanimu." Alex membantu Bela.


"Tidak apa-apa." Bela tersenyum.


Alex mengambil beberapa kotak yang ada di atas meja dan menanyakan apa isinya.


"Bel, ini apa isinya?."


"Entahlah aku tidak tahu. Belum sempat aku buka."


Alex merasa curiga. Dia menggoyangkan satu persatu kotak.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ini pemberian dari siapa?."


"Tetangga depan rumah. Kau mau apa?" Bela menyilangkan tangannya didepan dada.


Alex meletakkan kembali kotak hadiah berwarna hitam itu.


"Ini apalagi yang harus dibawa?."


"Sudah cukup. Hanya beberapa benda yang akan aku bawa termasuk kotak hadiah ini. Pakaianku lebih lengkap dimansion daripada disini." Bela membawa tas sedang berisi buku-bukunya dan mengambil kotak hadiah itu.


"Perlu aku bawakan?" Alex menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri." Bela menolak bantuan dari Alex.


"Baiklah, kau ini sangat keras kepala."


"Ayo cepat turun dan pergi dari sini. Aku sudah malas berbagi oksigen dengan orang-orang seperti mereka."


Bela dan Alex menuruni tangga. Mereka mengabaikan orang-orang yang sedang berbincang di sofa ruangtamu.


"Bel, kau mau kemana?" Aurel menyadari kehadiran mereka.


"Aku akan pergi ada pekerjaan penting. Mungkin malam ini aku tidak pulang." Bela menghentikan langkahnya sejenak. Tetapi Alex tetap meneruskan langkahnya hingga sampai ke mobilnya.


"Lalu kenapa kau membawa banyak barang?" Aurel bertanya lagi.


"Aku akan membuang ini." Bela mulai emosi.


"Tapi itukan sayang kalau dibuang."


"Lalu apa kau mau menampung ini semua? menampung barang bekasku." Bela tersenyum meremehkan.


"Bela bersikaplah sedikit sopan! kau tidak melihat ada tamu disini." Ketus Dyra.

__ADS_1


"Ah, tamu mama nggak punya rumah ya? makanya tinggal disini."


Mendengar hinaan Bela, Grace bangkit dari duduknya dan menghampiri Bela.


"Dasar anak kurang ajar!" Grace mengangkat tangannya hendak memukul Bela. Tetapi Bela menahannya dengan tangannya.


"Lepaskan!!" Grace memberontak meminta tangannya dilepaskan.


"BELA LEPASKAN!!" Dyra berteriak.


Bela melirik Dyra sekilas. Bela semakin mengeratkan cengkramannya. Grace meringis menahan sakit dan mencoba melepaskan tangannya.


Alex berlari masuk kembali. Dan langsung menarik tangan Bela agar melepaskan tangan Grace.


"Apa yang kau lakukan? kau akan membuat pergelangan tangannya patah."


"Kalau tangannya patah itu karma baginya." Bela masih merasa kesal.


"Aww, tanganku." Grace meringis kesakitan. Tangannya memerah karena ulah Bela.


Dyra dan Bela saling tatap. Mereka menyalurkan rasa benci pada satu sama lain.


Alex membawa kotak yang tadinya dibawa Bela dan menarik Bela menjauh dari mereka agar tidak terjadi hal yang lebih.


"Lihatlah dia semakin kasar. Aku sungguh tidak menyukainya." Aurel menatap kepergian Bela.


"Aku harus segera menyingkirkannya." Dyra bergumam pelan. Tangan kirinya mengepal.


⚡⚡⚡


"Terserah, aku hanya ingin bertemu dengan Bela saja." Theo memutar kursinya membelakangi meja kerjanya.


"Nona Bela pasti datang. Saya akan menyambutnya juga."


"Lalu siapa lagi yang akan menyambutku besok?"


"Saya rasa kolega Nyonya Dyra akan datang semua termasuk Nyonya Dyra sendiri."


"Bagus, pertunjukkan yang sangat menyenangkan." Theo tersenyum miring. Dia sudah memikirkan apa yang akan dia perbuat besok.


Sedangkan disisi lain, Bela dan Alex tengah menyusuri sebuah pedesaan yang letaknya tepat di sebelah utara perkotaan.


"Ini kau yakin disini tempatnya?" Alex ragu melihat rumah yang sudah tidak terurus itu pernah ditinggali Bela semasa dia kecil.


"Iya, aku masih ingat. Ayo turun!!" Bela turun dari mobil lalu berjalan masuk ke pekarangan rumah kosong itu. Alex mengikutinya dari belakang.


"Permisi, apa ada orang?" Bela mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam.


"Sepertinya tidak ada orang. Ayo kita pergi!!" Alex sudah merasa tidak nyaman berada di rumah kosong itu.


"Tidak sebelum aku mendapatkan informasi." Bela mengintip jendela. Tidak ada orang didalam rumah. Barang-barang didalam rumah tampak berantakan seakan pernah terjadi pertempuran didalamnya.


"Cari siapa?" tanya seorang wanita yang tidak tahu kapan dan darimana dia muncul.


Bela dan Alex sedikit terkejut.

__ADS_1


"Pemilik rumah ini ada?" tanya Bela sopan.


"Pemilik rumah ini sudah pindah." Ketus wanita itu.


"Anda tahu dimana dia tinggal sekarang?"


"Rumah nomer 57 di pemukiman Greet."


"Ah terimakasih. Kalau begitu kami pamit." Alex menunduk. Dia langsung menyeret Bela.


"Hiiihhiiii. Saya harap kalian menemukannya." Wanita itu tertawa.


Bela dan Alex menghentikan langkahnya dan menoleh. Betapa terkejutnya mereka yang tidak melihat keberadaan wanita itu. Tiba-tiba suasana menjadi menyeramkan. Udara menjadi dingin dan sekitar mereka sepi tidak ada orang yang lewat. Mereka sadar bahwa tidak ada rumah penduduk sama sekali. Hanya rumah kosong itu yang masih berdiri kokoh ditempatnya.


Alex dan Bela bergegas naik mobil dan segera pergi dari sana.


"Apa itu tadi?" Alex bergumam.


"Sumpah baru pertama kali. Itu hantu atau apaan?" Bela menggeleng-geleng tidak percaya.


"Aku bertanya padamu tapi kau malah balik bertanya."


"Aku juga tidak tahu."


"Dia datang tiba-tiba dan juga hilang tiba-tiba. Datang tak diundang pulang pun tak diantar."


"Jelangkung kali ah. Tapi aku kayak nggak asing dengan tawanya yang haha hihi tadi. Aku pernah mendengarnya tapi dimana ya?" Bela mengingat-ingat. Alex melihatnya sekilas lalu kembali fokus menyetir.


"Ah, kau ingat saat menemukanku dipinggir hutan?"


"Iya kenapa?" Alex mengangguk.


"Sebenarnya aku berada ditengah-tengah hutan dan tidak tahu jalan keluar. Tapi tiba-tiba ada seorang wanita yang duduk di ranting pohon memberi tahu arah jalan pulang. Aku mengikuti petunjuknya dan aku menemukan jalan beraspal."


"Iya, disitulah aku menemukanmu. Tapi kau yakin dia tidak akan menyesatkan kita?"


"Ya aku yakin. Nyatanya saat itu aku bisa pulang." Bela dan keyakinannya.


"Tapi merekan bisa saja bukan orang yang sama." Alex masih saja ragu.


"Apa kau meragukan keyakinanku?" keyakinannya hampir saja goyah.


"Tidak bukan begitu." Alex gelagapan


"Turunkan aku disini!! aku akan mencari informasi sendiri." Bela mencoba membuka pintu mobil.


"Hey apa yang akan kau lakukan?" Alex panik.


"Berhenti turunkan aku disini!!."


"Iya iya aku akan mengantarmu sampai tujuan." Alex pasrah. Dia tidak mungkin membiarkan Bela pergi sendiri. Apalagi keadaan masih kacau setelah kepergian Arron. Bela bisa saja dalam bahaya.


"Gitu dong. Pacar idaman setiap wanita." Bela tersenyum manis. Dia mengelus kepala Aex bak hewan peliharaan. Alex pun hanya pasrah.


Aku tidak bisa menang melawan wanita. Alex membatin.

__ADS_1


Berani sekali kau meragukan keyakinanku. Akan ku buktikan padamu bahwa keyakinanku tidak mungkin salah. Bela tersenyum puas.


__ADS_2