Family And Enemy

Family And Enemy
Serangan mendadak


__ADS_3

Pagi ini sesuai perkataannya, Dyra membawa 3 koper uang ke kantor Theo. Dengan penuh rasa penasaran Theo terpaksa menerima uang itu meskipun sebenarnya dia tidak membutuhkan itu untuk proyek manapun.


"Terimakasih Nyonya, anda benar-benar menyimpannya ditempat yang aman."


"Tentu, jangan berpikir jika saya akan mencuri." Dyra keceplosan. Tapi dia tidak sadar.


"Mana mungkin saya berpikir seperti itu. Oh iya, saya barusaja mengunjungi pulau Poem kemarin. Tapi sayangnya saya hanya sebentar saja. Ternyata berada di kebun karet sangat menyegarkan." Theo berbohong. Sebenarnya kemarin dia berada di ruang bawah tanah rumahnya.


"Sepertinya anda sangat menyukainya. Saya senang jika anda puas. Urusan saya sudah selesai. Saya harus pergi."


"Hati-hati Nyonya,"


Setelah Dyra keluar dari ruangannya, barulah Theo menghubungi Albert untuk mencari tahu darimana Dyra mendapatkan uang sebanyak itu.


Dilain tempat, Bela duduk santai di kursi taman. Beberapa hari terakhir ini Bela merindukan Elvan. Bela ingin mencari tapi dimana dia akan mencarinya. Pasti Elvan sudah bahagia bersama keluarganya jadi dia tidak berniat untuk mencarinya.


Bela berjalan kaki menyebrangi jalan. Banyak orang yang menyebrang bersamanya. Entah ada apa dengan hari ini. Banyak sekali orang yang beraktifitas diluar bangunan.


Tanpa sengaja tangan Bela tersentuh oleh tangan orang lain. Sentuhan itu langsung mengingatkannya pada kakaknya, Arron. Sentuhan yang dulu dia benci kini sekarang dia rindukan. Bela berhenti sejenak tapi kemudian ada ibu-ibu yang sudah berumur 40 tahunan menariknya menepi.


"Apa kau ingin bunuh diri?" tanyanya.


"Tidak Nyonya, aku hanya sedikit tidak sehat saja." Bela memang sedikit tidak enak badan.


"Dengar, jika kau ada masalah maka selesaikan. Jangan melarikan diri. Kau bukan pengecut kan?"


Bela menggeleng.


"Hati bukan hanya tempat singgah kasih dan sayang namun juga tempat untuk menilai baik dan buruknya sesuatu. Jagalah hatimu baik-baik. Jangan kau biarkan hatimu sakit dan turuti kata hatimu. Yakinlah bahwa hatimu akan menunjukkan jalan yang benar." Ibu-ibu itu mengelus kepala Bela dengan lembut. Kemudian dia pergi meninggalkan Bela yang masih mencerna perkataannya.


"Cindy, dimana Bela?" tanya Theo yang barusaja masuk keruangannya.


"Bukankah Nona sudah sampai disini? Nona berangkat lebih dulu tadi." Cindy benar-benar tidak tahu jika Bela berjalan kaki.


"Maaf aku terlambat," Albert merapikan kemejanya.

__ADS_1


"Bela juga belum sampai."


"Tuan, saya akan mencari Nona." Cindy keluar untuk mencari Bela.


"Aku sedikit ragu," Albert duduk disofa.


"Kemarin Bela sekarang kau yang tidak yakin."


"Aku tidak yakin pernikahan ini akan senormal pernikahan orang lain. Terlebih lagi aku punya seorang putra."


Ya, putramu itu sangat dekat dengan Bela. Aku tahu didalam hatimu bersorak gembira. Theo melirik Albert sekilas.


"Tapi pernikahan ini juga sangat mendadak. Apa tidak bisa dua hari lagi?"


"Diam! Aku bekerja keras untuk menyiapkan pernikahan kalian tapi kau ingin mengundur acaranya. Terserah kau," Theo memijat keningnya. Sungguh dia tidak mengerti jalan pikiran orang didepannya ini.


Dilain waktu, Aurel mengunjungi club malam bersama Bryan. Siang ini Bryan baru kembali dari London dan malamnya dia ada janji dengan Aurel.


Mereka memesan minuman beralkohol pada salah satu bartender.


Bryan membuka amplop didepannya. Dia sama sekali tidak terkejut melihat isinya.


"Ah ini foto-fotoku bersama para wanita baruku."


"Teganya kau menghianati aku," mata Aurel memanas.


"Menghianatimu? Jujur saja aku menyesal menjadi kekasihmu." Bryan melepas kacamatanya.


"Aku nggak nyangka kamu jadi begini, Bry."


"Aku lebih tidak menyangka saat tahu semua kebohongan dan kelicikkan kamu selama ini. Kamu dan Mamamu selalu membuat Bela menderita. Berbagai tuduhan kamu lemparkan ke Bela padahal kamu sendiri yang melakukannya. Dan bodohnya lagi aku percaya. Kejadian 12 tahun yang lalu itu ulahmu. Kamu yang membuat Kevin marah dengan merobek bukunya. Bela berusaha menolongmu dan kamu malah menumpahkan kesalahanmu padanya hingga Bela dikirim ke Australia." Bryan mengatakan kebenaran yang sudah dia ketahui.


Beberapa hari yang lalu di menerima paket dari orang yang tidak dikenalnya di London. Paket itu berisi rekaman cctv di sekolah dasar dulu waktu Bela menghajar Kevin habis-habisan hingga Kevin dilarikan kerumahsakit oleh pihak sekolah. Dari rekaman itu Bryan mulai mengerti apa yang Bela alami. Dan bodohnya dia menampar Bela dihadapan banyak orang saat mencoba membela Aurel.


"Dulu aku masih kecil. Aku tidak mengerti apa-apa." Aurel memegang tangan Bryan untuk meyakinkannya.

__ADS_1


"Kamu membuatku membenci sahabatku sendiri. Hanya karena Bela lebih baik darimu. Kau merenggut semua miliknya. Sama seperti Mamamu kau juga licik. Harusnya Bela bahagia bersama Alex tapi kau mengundang Vanya untuk datang ke kehidupan Alex lagi. Padahal kau tahu Alex menderita karena ditinggal oleh Vanya. Dan sekarang aku tidak ingin terikat hubungan apapun denganmu lagi." Bryan melepas cincin pertunangannya dan mengambalikan ke Aurel. Kemudian dia pergi. Rasanya lega saat dia bisa memutus hubungannya dengan Aurel.


Aurel mematung diam menatap segelas minuman beralkohol didepannya. Tidak ada penyesalan malah dia bahagia telah menyakiti banyak orang.


Sudah setengah jam dia menikmati minuman beralkohol itu. Kini dia sangat mabuk berat hingga tidak sadarkan diri.


Bela barusaja kembali. Saat memarkirkan mobilnya dia melihat mobil Thomas terparkir di garasi samping. Dia bertanya-tanya apa mungkin ada hubungan spesial diantara Thomas dan Dyra.


Bela duduk diruang tamu. Baru kali ini dia merasa kakinya tidak mampu lagi berjalan. Tubuhnya lemas sepertinya dia sedang anemia.


Bela memandangi cincin pernikahannya yang baru saja disematkan dijari manisnya. Dia tidak percaya bahwa dia sudah menikah.


Ayah, putrimu sudah besar. Putrimu sudah milik orang lain. Tapi Bela hanya milik ayah dan Bela janji akan menjaga sucinya pernikahan Bela. Meskipun tidak didasari oleh cinta tapi Bela akan berusaha jadi istri yang baik. Batinnya.


Bela memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyerang.


"Maaf aku tidak bilang sebelumnya bahwa aku memiliki seorang putra."


Kata-kata itu selalu mengitari ingatannya. Matanya terpejam namun dia tidak bisa tidur.


"Kapan dia menikah hingga punya seorang putra? apa dia menyembunyikan putranya dari mata dunia? Istri yang baik itu harus menerima suaminya dengan apa adanya. Tapi putranya juga bukan masalah untukku. Besok aku akan mengunjungi rumahnya dan aku berusaha untuk mengambil hati putranya. Ingat kau sudah menjadi istrinya." Bela berbicara sendiri dengan mata terpejam.


⚡⚡⚡


Aurel baru sadarkan diri. Betapa terkejutnya dia saat terbangun dan melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Sekarang dia berada di ruangan yang dia tidak tahu dimana.


"Kenapa kau sangat bodoh Aurel?" Dia memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya.


Dengan perasaan yang campur aduk, Aurel pulang. Sampai dirumah dia menemukan Bela yang tertidur di sofa ruang tamu.


Dia berpikir apa yang barusaja dia alami itu gara-gara Bela. Bryan memutuskannya karena Bela. Semua gara-gara Bela.


Aurel berjalan mendekati Bela. Tangannya menggenggam pisau buah yang ada dimeja. Dengan penuh emosi Aurel menancapkan posau itu ke perut Bela. Namun Bela sadar dan bergerak. Pisau itu malah mengenai pahanya.


"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.

__ADS_1


"Hidupku hancur gara-gara kau." Aurel menarik pisaunya dan berniat untuk menusuknya lagi.


__ADS_2