Family And Enemy

Family And Enemy
Menyakitkan


__ADS_3

Semua anggota keluarga duduk di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan di piring masing-masing.


"Ma. Kapan Bela pulang?" Arron bertanya pada mamanya. Ia sudah tidak tahan berjauhan dari adiknya.


"Sebelum dia berubah, dia tidak akan kembali." Jawab mamanya terdengar datar dan dingin.


"Tapi Ma, kita bahkan hilang kontak dengannya. Haruskah aku mencarinya?." Arron terlihat sangat khawatir.


Tanpa diduga seorang gadis masuk rumah besar itu. Berpenampilan sederhana namun terlihat elegant.


" Tidak perlu mencariku kakak. Aku sudah kembali." Bela duduk di kursi. Semua orang yang berada di sana menatapnya dalam diam.


"Bela, Aku sangat merindukanmu." Aurel basa-basi. Akan terasa canggung kalau dia tidak menyapa Bela. Bela hanya membalas dengan senyuman.


"Kau kemana saja? apa kau sengaja hilang kontak dengan mama?." Mama Dyra terlihat murka.


Sejak kapan mama peduli padaku.


"Aku kehilangan ponselku Ma dulu. Jadi setelah aku punya ponsel baru aku lupa nomor kalian. Maaf." Bela berbohong. Dia memang sengaja menghilangkan ponselnya lebih tepatnya membuang ponselnya.


"Kau ini Bel. Membuat kakakmu ini khawatir." Arron bangkit. Sudah waktunya dia pergi ke kantor.


"Habiskan makanan kalian mama mau ke kantor juga." Mama Dyra bangkit dari duduknya.


"Iya ma." Aurel manis sekali. Mama Dyra mengelus kepalanya. Pemandangan yang membuat Bela sesak.


"Hmm Bela. Apa kau sudah sarapan? aku akan mengoleskan selai untukmu." Aurel mengambil roti namun gerakan tangannya di hentikan oleh Bela.


"Tidak perlu, aku sudah sarapan tadi. Hmm, oh ya aku harus memanggilmu apa? kakak atau apa?" Bela mulai memancing Aurel.


"Kita kan seumuran jadi panggil namaku saja. Aku hanya lebih tua 10 hari saja darimu." Aurel mengambil tasnya lalu berdiri.


"Kau mau ke kampus kan. Pergi saja denganku. Aku bawa mobil." Bela menawarkan tumpangan memang mereka satu tujuan.


"Bolehkah? apa kau mau kuliah disana juga? apa aku bisa pergi denganmu setiap hari?" Aurel banyak bicara.


"Iya. Kudengar kampus itu terbagus di kota ini. Apa kau ingin menempel padaku seharian?" Bela sudah muak dengan sikap manis Aurel.


"Ah tidak. Aku hanya ingin berbelanja dan ke salon bersamamu. Pasti sangat menyenangkan." Aurel membayangkan bagaimana rasanya berbelanja dengan orang lain selain mamanya. Bela hanya berjalan menuju mobilnya mengabaikan celotehan Aurel yang Bela rasa tidak menarik baginya.


Dengan manis Bela membukakan pintu mobilnya untuk Aurel. Entah apa yang terjadi pada Bela.


Aku mencoba menerima kehadiranmu. Aku tidak membencimu. Asal kau tahu.


"### Terimakasih Bela, kau manis sekali." Aurel senang sekali.


"Pakai sabuk pengamannya! aku tidak mau dimarahi Mama karena membuatmu terbentur saat aku mengerem mendadak nanti." Bela memperingatkan Aurel untuk memakai sabuk pengamannya dengan benar. Aurel dengan cepat menurutinya. Mobil mulai menuju kampus mereka.


Arron sedang menandatangani sebuah berkas di meja kerjanya. Arron masih kaget dengan kedatangan Bela yang tiba-tiba tadi pagi.


"Sudah kuduga Bela sudah pulang kemarin. Bahkan tadi pagi aku ke makam ayah, ada seikat bunga tulip. Siapa kalau bukan Bela? tapi kenapa Bela mirip sekali dengan Mama Lia. Aku seperti melihat mama Lia hidup kembali. Hanya om Erland yang bisa menjawab pertanyaan dibenakku."


Arron berbicara dengan dirinya sendiri. Dia mungkin akan mencari tahu tentang asal usul Bela.


 


Mobil Bela memasuki area kampus. Banyak mahasiswa yang kagum dengan mobil keren milik Bela.


Mobil Bela berhenti di parkiran yang sudah di sediakan pihak kampus.


"Aku duluan, ada kelas. Kau bisa buka pintu sendiri kan?." Bela melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Baiklah kalau kau perlu bantuan kau bisa hubungi aku. Ini nomorku." Aurel menyerahkan ponselnya.


"Aku sudah punya nomormu nanti ku hubungi jika aku dalam kesulitan. Aku duluan." Bela membuka pintu.


"Wah mobilnya keren.."


"Anak baru ya.."


"Ih pasti dari orang tuanya.."


"Sok sok an bawa mobil keren.."


"Lihat ada yang keluar."


"Pasti anak cowok."


"Ck ck ck sungguh penampilan yang tidak modis."


"Mobilnya keren tpi yang punya cuma pakai celana jeans dan kaos polos. Keren sih."


" Cewek tomboy yah."


Begitu celotehan orang-orang yang melihat Bela. Bela membutakan mata dan menulikan telinganya mengabaikan celotehan orang-orang yang membosankan.


Aurel keluar mobil mengikuti Bela. Aurel tampak cantik, manis dan juga berkelas. Berbeda dengan Bela. Bela hanya ingin kenyamanan dalam berpakaian. Tidak terlalu mencolok dan tidak terlalu ribet.


"Wah babunya aurel ya."


"Sopir baru kayaknya."


"Aurel dia siapa?." Salah satu teman Aurel bertanya.


"Dia adikku." Kata Aurel dengan lantang.


 


Bela sedang mengikuti kelasnya. Memperhatikan dosen yang sedang mengajar. Kemampuan otak Bela sedikit di atas rata-rata. Setelah kelas selesai, Bela tidak langsung keluar. Dia duduk santai sambil memainkan handphonenya.


"Hai anak baru ya?" sapa seseorang yang duduk di samping Bela.


"Iya." Bela menoleh sebentar.


"Namaku Mayleen. Siapa namamu?" orang yang bernama Mayleen itu mengulurkan tangannya. Tentu saja disambut hangat oleh Bela.


"Gabela Zoffany. Senang berkenalan denganmu." Bela tersenyum manis.


Mayleen membelalakan matanya seolah tidak percaya. Mayleen terlihat takut. Bela sengaja tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Gabela? kita dulu sekelas waktu sekolah dasar apa kau ingat?" Mayleen berkeringat dingin.


"Tentu saja. Kau selalu duduk di pojokan. Apa aku membuatmu takut?" Bela tidak tega melihat Mayleen ketakutan. Bela melepas genggaman tangannya.


"Siapa yang tidak takut denganmu." Mayleen menggerutu pelan namun masih bisa didengar Bela.


"Ayo pergi ke kantin. Kita ngobrol disana. Sambil pesan makanan." Mereka bangkit menuju kantin.


Sesampainya dikantin mereka memesan kentang goreng sebagai teman mereka mengobrol.


"Kau mau pesan apa Bel, biar aku yang pesankan."


" Aku kentang goreng satu sama jus alpukat satu."

__ADS_1


"Oke. Aku yang traktir. Besok gantian." Mayleen mulai memesan.


Bela mencari tempat duduk yang kosong. Beberapa menit kemudian Mayleen kembali dengan membawa pesanan di tangannya.


"Kita duduk dimana?" Mayleen celingukan mencari tempat yang kosong.


"Bentar. Kubantu membawa minumannya. Kemarikan." Bela mengambil alih minuman yang dibawa Mayleen.


"Bagaimana kalau kita duduk di samping kaca disana." Mayleen menunjuk tempat yang dia maksut.


"Oke. Jalanlah dulu." Bela mengikuti Mayleen dari belakang.


Ramai sekali kantin hari ini. Semua meja hampir penuh.


Tiba-tiba Mayleen tersandung kaki wanita lain. Mayleen hampir saja terjatuh.


"Ups kakiku terlalu panjang. Maaf." ujar wanita itu sambil tersenyum.


Bela berjalan seolah-olah dia juga tidak melihat ada kaki yang melintang.


"Aww" pekik wanita tdi Karena Bela menendang kakinya.


"Maaf kakiku terlalu keras." Senyum Bela yang mengerikan.


"Kau dasar gembel." Tangan wanita itu melayang hendak menampar Bela namun dengan gerakan cepat Bela menahan tangannya.


"Sakit lepaskan tanganku." Bela melepaskan tangan wanita itu. Tanganya terlihat merah bekas cengkraman Bela.


Wanita itu menangis lalu keluar kantin. Entah mau kemana dia.


Bela menghampiri Mayleen yang memucat duduk di meja yang kosong.


"Kau baik-baik saja Mey?" tanya Bela.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget sedikit." Mayleen sedikit tenang.


" Apa kau sering seperti ini? maksutku, apa mereka sering mengganggumu?" Bela mencomot kentang goreng miliknya.


"Kadang-kadang sih. Tpi aku sudah biasa."


"Mey, Apa maksut perkataan yang tadi.


'Siapa yang tidak takut padamu' tadi." Bela sungguh menyebalkan.


" Emmm. Setelah kejadian kau memukuli kakak kelas sampai masuk rumah sakit dulu, semua orang yang mendengar rumor itu takut padamu. Tapi keesokan harinya kau tidak masuk sekolah." Mayleen menjelaskan pada Bela.


" Aku pergi ke Australia. Mamaku menghukumku atas kejadian itu. Aku baru kembali kemarin." Bela menghela nafas.


"Apa kau tau? orang yang kau pukuli itu juga kuliah disini juga." Mayleen sangat senang bergosip.


"Aku tidak peduli."


"Kau tahu princess kampus ini tidak?"


"Siapa?" Bela memang tidak tahu.


"Aurel. Dan Sekarang dia pacaran dengan Bryan Emilio. Katanya mereka akan bertunangan dihari ulangtahun Aurel 3 hari lagi. Nah itu mereka."


Terlihat Aurel yang sedang menggenggam tangan Bryan mereka sangat romantis. Bryan tersenyum manis. Banyak penghuni kantin yang memuji kecocokan mereka. Pasangan yang sempurna.


Deg

__ADS_1


Bela merasa tidak bisa bernafas. Dia merasa sesak. Jantungnya serasa tidak berdetak.


Kau melupakan janji kita Bryan. Kau melupakannya. Melupakan masa-masa indah yang kita lewati bersama. Aku rasa cintaku bertepuk sebelah tangan. Sungguh menyakitkan.


__ADS_2