Family And Enemy

Family And Enemy
Mencari harta karun 2


__ADS_3

"Dari tadi muter-muter mulu nggak ketemu juga." Protes Sena yang sudah lelah mencari perpustakaan di dalam villa tapi tak kunjung ketemu.


"Aku juga sudah capek." Elli terduduk dilantai sementara Bela, dia memperhatikan setiap sudut villa ini dan mengabaikan keluhan mereka.


"Non, mau dibuatkan makanan?" entah datang darimana wanita paruh baya ini mengagetkan mereka bertiga.


"Saya rasa tidak perlu. Kami hanya perlu 2 kamar untuk istirahat." Bela mengerti jika wanita paruh baya ini orang yang mengurus segala keperluan divilla.


"Didepan Nona itu kamar utama dan yang sebelah kanannya ,kamar tamu. Silahkan dipilih,"


"Saya akan tidur di kamar utama saja dan mereka akan tidur dikamar tamu. Terimakasih dan maaf jika mengganggu istirahat anda."


"Nona tidak perlu minta maaf, sudah kewajiban saya untuk menyambut tamu yang datang ke villa ini. Kalau begitu saya permisi, rumah saya di sebelah kanan villa ini. Jika perlu bantuan Nona bisa memanggil saya."


Bela mengangguk kemudian wanita paruh baya itu pergi.


"Tadi dia datang darimana?" Elli memeluk Sena ketakutan.


"Dih katanya nggak takut tadi tapi ini apa? pakai acara peluk-peluk segala lagi." Sena melepaskan pelukan Elli.


"Kalian berdua tidur dikamar tamu." Bela berucap datar.


"Lah kau sendiri nggak takut?"


"Ngapain takut. Lagian kalau bertiga kasurnya mana muat." Bela membuka pintu kamar utama dan langsung masuk kedalam tanpa ingin mendengar ocehan Elli dan Sena.


"Yaudah kita istirahat yuk. Semoga bisa tidir dengan nyenyak." Ucap Sena penuh harap. Lalu mereka masuk ke kamar tamu dan merebahkan tubuh mereka di kasur. Mereka sudah menuju alam mimpi.


Didalam kamar Bela menghirup dalam-dalam wangi Arron yang masih tertinggal. Matanya terpejam sesaat untuk meredakan rasa sesaknya.


Wangi Kak Arron masih tertinggal. Ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


Bela merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya lelah begitu juga dengan batinnya. Dilihatnya peta yang masih dia pegang.


Kuncinya didalam buku bernomor 178. Tapi dimana aku menemukan perpustakaan atau semacam rak buku? aku sudah memeriksa setiap sudut villa ini tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan apapun.


Bela menghela napas berkali-kali. Dia mencoba untuk memejamkan matanya tapi tidak bisa.


"Hish, tubuhku tidak bisa diajak kerjasama." Gumamnya pada dirinya sendiri.


Bela beranjak dari kasurnya dan menuju jendela kaca yang mengarah langsung pada halaman depan villa. Setelah puas dia melihat pemandangan malam, Bela menutup tirainya dan membalikkan badan. Disaat itu matanya melihat 3 buku yang berjejer di meja dekat jendela.

__ADS_1


"Buku 256, buku 817 dan buku 158?"


Tangan Bela mengambil buku nomor 817 yang berada di tengah. Seketika dirinya dibuat terkejut dengan terbukanya lantai yang dia pijak. Otomatis tubuhnya jatuh kebawah. Tapi untungnya dia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya jika tidak Bela pasti sudah menjadi telur dadar sekarang.


Bela menuruni tangga dengan rasa penasaran didalam otaknya.


"Apa yang ada di bawah sana?" dengan penasaran Bela terus menuruni tangga hingga anak tangga yang terakhir.


Sampai dibawah dia merasa takjub melihat berbagai jenis buku tertata rapi di raknya masing-masing. Namun pencahayaan diruangan ini sedikit minim dan hanya menyoroti rak buku tertentu. Sungguh sangat keren. Dan yang lebih membuat Bela takjub adalah kunci yang sedang dia cari berada disana.


Kunci itu disimpan didalam kotak kaca dan terlihat berkilau ketika terkena cahaya. Dengan penuh kegembiraan Bela mengambil kotak kaca itu dan membantingnya kelantai. Akibatnya kaca hancur dan kuncinya dapat di ambil. Bela langsung menyimpannya dalam kantung celananya yang kebetulan ada resletingnya. Jadi dia tidak khawatir kunci itu akan jatuh dan hilang.


Sungguh sangat beruntung Bela saat ini. Kesengajaan yang mengantarkan langsung dia pada apa yang tengah dia cari.


Bela mendongak keatas melihat jalan keluar yang telah membawanya kemari tapi jalan keluar tersebut sudah tertutup. Mungkin sudah dirancang sedemikian rupa agar Bela mencari jalan keluarnya sendiri. Benar kata Cindy, Arron telah mempersiapkan segalanya. Termasuk ini juga.


"Ini nih akibatnya kalau aku ceroboh." Bela menelusuri satu persatu rak buku mencoba mencari jalan keluarnya sendiri.


Bela sudah lelah menelusuri semua celah ditempat ini. Dia terduduk di lantai sambil memegang peta yang dia miliki.


"Apa gunanya ini kalau sekarang aku tidak bisa keluar dari sini." Bela menyandarkan punggungnya di rak buku.


"Ponsel!!!"


Bela menyalakan ponselnya sebagai senter lalu dia mendekati dinding dan mengarahkan cahaya kedinding itu. Hampir setengah jam Bela meraba dari satu dinding ke dinding yang lain. Dia hampir putus asa karena tidak menemukan apapun. Tapi tiba-tiba tangannya merasakan ada yang sedikit berbeda dengan dinding yang kini sedang diraba tangannya.


Bela mengarahkan ponselnya tepat di tempat tangannya merasakan hal yang berbeda. Dan senyum merekah diwajah Bela. Dinding didepan matanya bergaris seperti pintu tapi tentu saja tembok atau dindingnya tetap sama. Yang membedakan hanya teksturnya yang sedikit kasar dan terdapat garis seperti pinggiran pintu.


Bela bingung bagaimana caranya agar dinding ini bisa terbuka. Dia mencari benda disekitarnya dan hanya menemukan vas bunga yang terletak rapi diatas meja kecil disamping rak buku.


"Apa yang harus kulakukan dengan vas bunga ini?" Bela berjongkok didepan vas bunga.


Bela benar-benar dibuat bingung. Dan dia sudah merasa sedikit kesal lalu mencabuti bunga-bunga yang ada di vas. Dan untuk yang kedua kalinya sebuah kesengajaan mengantarkan Bela pada apa yang dia cari. Dinding bergeser layaknya pintu.


"Wow," gumamnya pelan.


Segera Bela keluar dari tempat yang menyesakkan baginya. Setelah Bela keluar dinding itu kembali tertutup. Entah sudah otomatis atau memang ada yang mengatur dibalik itu Bela tidak tahu. Dan dia tidak perduli. Dia yakin semua ini sudah diatur oleh Arron.


"Huh, masih belum pagi juga rupanya."


Bela membuka ponselnya dan melihat jam berapa sekarang.

__ADS_1


"Masih jam 1, kirain udah mau pagi ternyata masih lama." Bela mendongak keatas melihat bintang yang masih betah berada ditempatnya.


"Eh, sekarang ini dimana?"


Sekarang Bela baru sadar akan dimana keberadaannya. Disekelilingnya banyak pepohonan rindang. Bisa dia tebak bahwa dia sedang berada dibagian belakang villa.


"Tepat sekali, jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi? lanjutkan saja. Lagipula jika aku kembali sekarang itu akan sia-sia. Aku tetap tidak bisa tidur sebelum menemukan harta karun itu."


Bela membaca petunjuk selanjutnya yang ada dipeta.


"Hmm, ini memang sudah direncanakan dengan baik. Ini mungkin terlalu mudah untukku."


Bela mulai melangkah mengikuti peta yang dia pegang. Dia tinggal berjalan lurus dari depan dinding sampai dia menemukan pohon apel. Bela sedikit ragu dengan keakuratan peta yang dia pegang. Pasalnya dia sudah berjalan jauh sekali hingga dia sedikit jauh dari tempat di keluar sebelumnya.


"Masa iya peta ini bohong?" gumamnya disela-sela langkahnya.


"Tapi kalau bohong mana ada kunci dan ruang rahasia itu?" tanpa sadar dia sudah berada di bawah pohon apel. Tapi Bela terus melangkah hingga membuat dia harus mencium batang pohonnya.


"Aw hidungku," keluhnya sambil mengusap hidungnya yang nyeri akibat terbentur batang pohon.


Perlahan dia mendongak dan mengarahkan lampu ponselnya ke atas guna memastikan pohon jenis apa yang telah dia tabrak.


"Ah ketemu juga ini pohon," Bela memeluk batang pohon apel yang mungkin usianya sudah puluhan tahun.


"Dan sekarang dimana aku harus menggali untuk menemukan harta karun itu?"


Bela menyimpan peta didalam saku celananya dan sekarang dia mencari ranting atau benda apapun yang bisa dia gunakan untuk menggali tanah.


"Kira-kira dimana aku harus menggalinya? dipeta tadi tertulis bahwa harta karunnya dikubur tepat disamping kanan akar yang terlihat." Bela berjongkok dan mengamati tanah. Dan dia menemukan akar yang sedikit terlihat tumbuh diluar tanah. Tanpa basa-basi Bela langsung menggali tepat disamping akar tersebut.


Cukup lama dia menggali karena menggunakan alat seadanya. Pertama kali dia menggali hingga membuat urat tangannya serasa mau lepas tapi tidak mendapatkan apapun. Bela menggali lagi disamping dia menggali sebelumnya. Dan akhirnya dia menemukan harta karun itu. Dengan sisa tenaga dia mengangkat peti itu dari dalam tanah.


"Akhirnya,"


Bela membuka gembok yang telah usang itu dengan kunci yang dia miliki. Didalan peti berukuran kecil itu ada sebuah kotak lagi didalamnya dan selembar kertas berisi kata-kata yang mampu membuat Bela semakin penasaran.


"Semua yang ada didalam kotak ini adalah sebuah kebenaran yang sangat murni. Tidak ada rekayasa ataupun kebohongan. Semua yang kau ingin ketahui ada di dalam kotak ini." Bela membaca selembar kertas kecil yang terlihat sangat usang itu.


Bela ingin segera membuka kotak itu tapi dia pikir lebih nyaman jika dia kembali ke villa dan membukanya setelah dia membersihkan diri.


Kira-kira apa yang ada didalam kotak itu?

__ADS_1


Akankah isi kotak itu menjawab tentang teka-teki siapa ibu kandung Bela dan siapa dibalik kematian ayahnya? atau malah Bela mendapat informasi yang menguntungkannya dimasa depan?


__ADS_2