Family And Enemy

Family And Enemy
Dimulai dari sini


__ADS_3

Pagi ini Sena dikejutkan dengan Bela yang anggun dengan balutan dress milik Elli. Dia sungguh tidak percaya jika Bela akan secantik dan seanggun ini.


"Mimpi apa aku semalam." Keluh Sena.


"Kenapa ha?" Elli memutar bola matanya.


"Bel, kau kemasukan hantu perawan ya?" Sena menangkup kedua pipi Bela.


"Sena jangan mulai deh."


"Nggak usah aneh-aneh," Bela menurunkan tangan Sena dari pipinya.


"Sarapan sudah siap, Nona." Wanita paruh baya tadi malam membawa roti panggang beserta selai coklat yang masih tersisa di villa ini.


"Nggak perlu repot-repot, Bu." Elli mengambil sepiring roti dari wanita paruh baya dengan sopan.


"Ini hari terakhir saya menjadi pengurus villa ini. Jadi saya ingin melayani dengan sepenuh hati saya."


Mendengar penuturan dari wanita paruh baya itu mereka bertiga saling pandang.


"Kayaknya enak roti ini." Sena duduk tiba-tiba dan mencomot roti tawar panggang yang masih hangat.


Elli dan Bela ikut duduk dan menikmati sarapan yang disiapkan oleh wanita paruh baya tadi.


"Maaf Bu, tapi siapa yang memberhentikan anda kerja disini?" tanya Bela disela-sela makannya.


"Tuan muda bilang, saya bisa berhenti bekerja setelah nona menemukan kotaknya. Maaf sebelumnya tadi pagi saya melihat anda dari taman belakang. Apa anda sudah membukanya?"


Sena yang tidak mengerti kotak apa yang dimaksud.


"Kotak apa?" bisiknya pada Elli.


"Diam!!" ketus Elli.


"Sudah dan isinya sangat mengejutkan. Apa kakakku telah mempersiapkan ini semua?" Bela meletakkan roti sisa gigitannya dipiring.


"Seberapa pahitnya kenyataan tetap kita harus menerimanya. Sekarang saya bisa tenang. Nona pergilah dari rumah itu."


"Memangnya kalau aku tetap tinggal dirumah itu kenapa?"


"Mungkin saja ketika anda terlelap, wanita serakah itu akan menghabisi anda sama seperti caranya menghabisi ibu anda." Didalam mata wanita paruh baya itu terlihat dendam yang telah terkubur kini bangkit kembali.


Terus katakan lebih banyak lagi agar aku bisa membalas kematian keluargaku.


"Lalu apalagi yang bisa dia lakukan?" Bela sengaja memancing emosi wanita itu agar dia dapat menyimpulkan apa hubungannya dengan keluarganya.


"Dia bisa saja merangkai sebuah tragedi seperti caranya membuat tuan besar dan tuan muda tiada selamanya. Tidak hanya itu, dia bisa menambahkan racun disetiap makanan anda setiap harinya seperti caranya menyingkirkan putranya sendiri. Tapi untung saja putranya itu sedikit pintar darinya. Hingga dia masih bisa hidup sampai sekarang." Emosinya tidak dapat dibendung lagi.


"Kau tahu semuanya tapi apa hubunganmu dengan keluargaku?" pertanyaan dari Bela seakan air yang memandamkan api miliknya.


"Saya pengasuhnya tuan muda dulu." Ucapnya dengan nada sedikit terbata-bata. Bela yakin jika posisinya lebih daripada seorang pengasuh. Tapi Bela percaya saja agar lebih mudah untuk mendapatkan informasi lagi darinya.


"Hm, jadi begitu. Kalau begitu tetaplah bekerja disini sampai aku menyuruhmu untuk berhenti."

__ADS_1


Bela pergi tanpa pamit setelah mengatakan itu. Sena dan Elli merasa tidak enak hati atas ketidak sopanan Bela. Anak itu perlu dididik sopan santun sekali lagi.


"Maaf, sepertinya anak itu perlu mengikuti kelas sopan santun lagi." Elli meminum teh hangat untuk mengakhiri sarapannya.


"Tidak apa-apa, mungkin nona sedikit terguncang."


"Iya terguncang akal sehatnya. Ingin sekali aku menenggelamkannya di samudra." Gumam Sena tanpa didengar siapapun.


"Terimakasih untuk sarapannya pagi ini. Kami akan pergi sekarang dan setelah kami pergi ada beberapa orang yang akan menghuni tempat ini. Jadi villa ini tidak terlalu sepi." Elli bangkit dari duduknya.


"Saya harap kalian sampai di tujuan dengan selamat."


"Itu pasti," Sena juga bangkit dari duduknya.


Bela duduk di kursi kemudi. Dia berusaha tetap tenang meskipun kini emosinya sedang meletup-letup didalam dadanya. Sesekali dia memukul setir mobil untuk melampiaskan emosinya.


Drrt drrt


Bela mengambil ponselnya yang bergetar disaku depannya.


"Halo,"


"Mayleen sudah sadar dan dia ingin bertemu denganmu."


"Ada apa? apa ada yang ingin dia katakan?"


"Entahlah, tapi tolong cepat datang. Dia akan melakukan operasi lagi."


"Baiklah, aku akan memakai pesawat pribadi agar sampai disana." Bela mematikan sambungan telponnya.


"Alex, dia ingin kita menyusul ke sana. Kak Sena tolong telpon Kak Cindy agar menyiapkan pesawat pribadi untuk kita, segera!" Sena mengangguk dan langsung membuka ponselnya dan menghubungi Cindy. Elli ketar ketir perasaannya tidak enak. Bela melajukan mobilnya bak pembalap yang sudah profesional.


Ya tuhan, aku tidak ingin mati muda. Aku belum menikah. Harapanku masih banyak yang belum terwujud. Salah satunya memukul manusia yang tengah mengemudi ini menggunakan panci kesayangan tante Maya. Elli menangis didalam hati.


Kondisi Mayleen semakin membaik. Detak jantungnya mulai normal. Dokter yang menanganinya sangat antusias dalam menjalankan tugasnya.


Alex selalu menemani Mayleen karena dia sudah menganggap Mayleen adiknya. Hatinya terasa hancur melihat kondisi Mayleen terbaring lemah diranjang rumahsakit.


Jari tangan Maylen mulai bergerak perlahan. Matanya mulai terbuka melihat dunia.


"Bela," bibirnya menyebut satu nama.


"Me, apa kau sudah sadar?" Alex menggenggam tangannya.


"Aku ingin bertemu Bela." Ucapnya terbata-taba.


"Baiklah aku akan menghubunginya." Alex keluar ruang rawat Mayleen untuk menghubungi Bela serta memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Mayleen.


⚡⚡⚡


Sudah 2 ini Aurel selalu mengekori kemana Mamanya pergi. Dia sudah seperti orang gila. Setiap saat Mayleen menghantuinya hingga membuat wanita itu sedikit kehilangan akalnya.


Pagi ini Dyra ingin mengadakan pertemuan untuk para rekan-rekannya. Tapi cukup sulit untuk menyakinkan Aurel bahwa apa yang dia lihat hanyalah khayalannya saja. Dan alhasil Aurel menempel padanya seperti parasit. Dan terpaksa juga Dyra menghadiri pertemuan yang diaadakan dengan Aurel.

__ADS_1


"Apa kau yakin bisnis kita akan berhasil?"


"Itu pasti Nyonya Victoria Ghy." Dyra meletakkan penanya.


"Hm bulan ini keuntungan kita mengalami penurunan drastis. Apalagi dengan adanya mall baru didistrik sebelah. Penjualan bulanan mall kita menurun drastis." Albert menopang dagunya dengan tangan kanannya.


"Kalau begitu, lakukan apa saja." Dyra hanya berkata begitu. Dia tidak ingin menunjukkan kecerdikannya didepan Aurel.


Semua orang mengangguk dan mulai memikirkan hal ekstrem untuk mengembalikan keuntungan mereka.


Sedangkan ditempat lain, Bela beserta Elli dan Sena barusaja sampai dirumahsakit tempat Mayleen dirawat.


"Bela," panggilnya sayu. Mayleen tidak memiliki tenaga untuk sedikit lebih keras.


"Hm,"


"Tinggallah di hotel atau apartemen dan jangan dekat-dekat dengan Aurel." Dengan susah payah Mayleen menyelesaikan kalimat yang amat panjang baginya.


"Memangnya kenapa?"


"Aurel akan menyakitimu. Aku takut dia akan membuatmu seperti Zahra."


"Tunggu dulu, apa Aurel yang mendorongmu dari gedung itu?" mendengar pertanyaan Bela, Mayleen mengangguk. Bela menghela napas. Dugaannya ternyata benar.


"Kau tenang saja, aku akan memberinya pelajaran yang setimpal. Tapi kau harus sembuh dulu agar kau bisa melihatnya dihukum."


"Aku sudah tidak kuat lagi." Suara Mayleen melemah.


"Jangan bicara begitu. Aku akan menemanimu operasi dan setelah itu kita akan pulang dan menghabiskan waktu bersama."


"Tidak, jangan buang waktumu denganku. Aku akan pergi setelah ini. Kau sahabatku yang paling mengerti aku. Terimakasih telah menjadi sahabatku walaupun itu sangat singkat. Ijinkan aku pergi." Mayleen menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.


"HEI BANGUN JANGAN TUTUP MATAMU!! DOKTER!!! SUSTER!!! ALEX!!!" Bela panik dia terus berteriak sampai dokter masuk dan memeriksa keadaan Mayleen.


"Maaf nona Mayleen telah tiada." Ucap dokter yang barusaja memeriksa denyut nadi Mayleen.


Bela menarik kerah kemeja dokter itu.


"Sudah kukatakan selamatkan dia!!"


"Tapi kami sudah berusaha sangat keras. Semua terserah kepada tuhan."


Elli menjauhkan Bela dari dokter itu. Alex menatap tubuh Mayleen yang sudah tidak bernyawa. Dia merasa gagal menjadi seorang kakak.


"HEI BANGUN!!! SIAPA YANG MENGIJINKANMU PERGI?? BANGUN!! ATAU AKU AKAN MARAH DAN TIDAK MAU BICARA PADAMU!!!" Bela terus berteriak.


"Bela sudahlah, relakan kepergiannya." Alex memeluk dan menenangkan Bela.


"Bagaimana aku bisa merelakannya?" air matanya sudah tidak bisa ditahan. Dia menangis pilu dipelukan Alex. Elli dan Sena ikut meneteskan air mata.


"Kita keluar dulu biar jasad Mayleen diurus dokter agar segera dikebumikan." Elli mengajak mereka untuk keluar.


Sampai diluar, mereka duduk di kursi tunggu. Bela sedikit lebih tenang. Tapi dibalik tenangnya Bela terdapat sebuah dendam yang sedang menggebu-gebu.

__ADS_1


Akan aku buat kalian membayar semuanya. Kisah ini belum dimulai dan akan aku mulai dari sini.


__ADS_2