Family And Enemy

Family And Enemy
Harta Karun Arron?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bela mengantar Elvan ke panti. Sebenarnya hari ini Bela akan mengajak Elvan untuk mengunjungi restorannya tapi dia urungkan karena dia khawatir Elvan akan takut melihat Dyra dan Aurel menggila karena teror semalam.


Dan benar saja Aurel dan Dyra bagikan ayam yang mengais tanah untuk mencari jarum emas.


"Siapa yang mengirim kertas itu?" Dyra duduk dengan pandangan kosong ke depan.


"Aku tidak merasa melukai siapapun. Tapi kenapa orang itu juga menyerangku?" Bela meminum teh hangat miliknya.


Aurel terlihat merenungkan sesuatu yang mengerikan hingga keringat dingin bercucuran. Wajahnya juga pucat seakan tidak ada nyawa ditubuhnya. Keadaan Aurel pagi tadi juga cukup memprihatinkan.


"Maaf Nyonya, kacanya sudah selesai diperbaiki."


"Pelayan berikan dia upahnya!!" titah Dyra pada pelayan yang sedang memegang amplop berisi uang.


"Terimakasih tapi ini terlalu banyak." Pria paruh baya itu menghitung uang yang ada didalam amplop.


"Itu bonus untuk Bapak. Lagian Bapak bekerja sejak dini hari tadi kan." Bela tersenyum.


"Terimakasih banyak, saya permisi dulu."


"Silahkan," Bela mengantarkan pria paruh baya itu sampai ke halaman depan.


Didalam rumah, Dyra dan Aurel dipenuhi rasa takut. Bahkan Aurel menjambak rambutnya sendiri.


"PERGI!! JAUHI AKU!! APA YANG KAU MAU?" Aurel berteriak-teriak sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat.


"Ada apa?" Dyra mencoba mendekati Aurel tapi Aurel menempis tanganya. Dyra kebingungan dan Aurel semakin histeris.


"HENTIKAN OCEHANMU YANG TIDAK BERGUNA!!"


"Tapi Mama tidak bilang apa-apa." Dyra kebingungan.


Aurel kembali menutup telinganya rapat-rapat. Dia semakin merasa kesal bahkan dia membanting apa yang ada didepannya sebagai pelampiasan.


Bela yang mendengarkan suara keributan dari luar hanya tersenyum miring. Dengan segera dia percepat langkahnya agar cepat melihat keributan yang terjadi.


"Mah, ada apa dengannya?"


"Mama tidak tahu, Bela. Tolong bantu tenangkan dia!" Dyra memegang tangan Aurel ke belakang agar Aurel tidak berbuat lebih. Sebagian ruang tamu sudah hancur karena Aurel terus saja menghancurkan barang-barang yang mahal.


Bela memukul leher bagian belakang Aurel. Seketika itu Aurel berhenti berteriak dan pingsan. Dyra menidurkan Aurel disofa. Lalu dia menelpon dokter. Dyra takut Aurel terkena penyakitental atau sejenisnya.


⚡⚡⚡


"Semua ini hadiah ini untuk Nona." Cindy membuka ruang kerja Bela direstoran.

__ADS_1


Bela terhuyung ke belakang tapi Cindy dengan tanggapnya menahan tubuhnya. Seketika kepala Bela pusing melihat kotak-kotak hadiah memenuhi ruangannya. Sepopuler itukah dirinya hingga banyak orang yang mengirimkan hadiah di hari ulangtahunnya.


"Suruh pelayan menyingkirkan itu semua." Bela memegang keningnya.


"Baik, Nona. Tapi ada satu yang spesial."


Cindy mengambil kotak berwarna merah maroon yang dihiasi pita berwarna hitam.


"Spesial?"


"Ini dari Tuan Arron."


Bela terdiam mengingat tahun-tahun lalu saat di berulangtahun. Arron juga memberikan hadiah dengan warna dan pita yang sama. Tanpa sadar tangannya menyentuh kotak itu. Matanya memanas ingin rasanya dia menangis dan berteriak memanggil namanya.


"Sepertinya Tuan Arron mempersiapkan segalanya sebelum dia tiada."


"Aku akan membalas orang-orang mencelakai kakakku." Bela mengepalkan tangan kirinya.


"Nona, Tuan Theo menunggu anda diperusahaan. Maaf saya lupa memberitahukan ini."


"Kita naik mobilku saja." Bela membawa kotak itu ikut serta.


Bela dan Cindy sudah siap untuk menuju GO Gruop. Setelah melalui perdebatan yang sengit akhirnya Bela duduk di kursi penumpang dan Cindy duduk di kursi kemudi.


Mobil Bela mulai berjalan. Cindy memang santai dalam mengemudi berbeda dengan Bela.


"Ini tidak lambat, Nona. Ini gaya saya yang santai tidak terburu-buru seperti anda."


"Kau menyindirku? biar kutunjukan gayaku jika sedang mengemudi."


"Apa yang akan anda lakukan?" Cindy menempis tangan Bela yang hendak mengambil alih kemudi.


"Saya masih trauma dengan cara mengemudi anda. Dua tahun lalu saat di Australia Anda hampir membunuh saya." Sambungnya.


"Apa yang membunuh? aku hanya sedang mengikuti balap liar. Lagian itu juga salahmu sendiri memaksa ikut mobilku." Bela menyilangkan tangannya didepan dada.


"Sudah saya katakan jika balap liar itu tidak baik." Cindy terus mengomel tanpa henti.


Bela mengabaikannya. Perhatian Bela terfokus pada kotak kado yang ada dipangkuannya. Rasa penasarannya sudah tidak dapat dibendung lagi. Bela membukanya dan ternyata isinya hanya beberapa lembar surat tulisan tangan dan sebuah peta.


Peta apa ini?


"Nona? apa anda mendengarkan saya?" Cindy menoleh sekilas.


"Ah maaf, aku sungguh penasaran dengan isinya. Aku akan menyimpannya." Bela menutup kembali kotaknya dan menaruhnya di kursi belakang.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, Nona."


Mereka turun dari mobil. Banyak karyawan yang menyambut mereka didepan pintu. Dan dengan senang hati Bela menyapa mereka semua.


Sedangkan didalam ruangan kerjanya Theo masih setia menunggu Bela. Dia sudah menghabiskan 4 gelas kopi untuk menemaninya menunggu kedatangan Bela.


"Tuan, mereka sudah sampai di loby bawah." Ben menelan salivanya dengan susah payah.


"Kenapa lama sekali? pasti kau terlambat memberitahunya." Theo pergi ke kamar mandi.


"Aku tidak terlambat pasti wanita itu yang telat menyampaikan pesannya." Ben bergumam.


Pintu terbuka menampilkan Bela dan juga Cindy.


"Selamat siang, Nona." Ben menyambut Bela.


"Dimana dia?" tanya Bela to the point.


"Tuan sedang berada di toilet. Silahkan duduk,"


"Astaga, dia minum kopi sebanyak ini sendirian? dia tidak mengajakmu?"


Ben menggeleng. Bela tertawa nyaring. Dia menebak Theo akan bolak balik pergi ke toilet untuk buang air kecil.


"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Theo yang baru selesai dari toilet.


"Tidak ada,"


Theo mengambil kotak kecil berwarna ungu yang berada di atas meja kerjanya.


"Ini untukmu. Selamat ulang tahun."


"Terimakasih, sepertinya sudah banyak hadiah yang kau berikan padaku dan aku belum membukanya." Bela menerima hadiah pemberian Theo dengan sedikit canggung.Theo hanya menghela napas.


"Kenapa kau telat menyampaikan pesannya?" Ben berbisik-bisik mendekati Cindy.


"Andai kau dalam posisiku." Cindy juga berbisik.


"Aku hampir saja termakan oleh singa jantan."


"Itu deritamu."


"Ehem, ini bukan waktunya untuk pacaran. Kalian bisa berpacaran setelah jam kerja berakhir." Sindiran Bela membuat kedua insan yang merasa itu tertunduk malu.


Setelah membahas tentang proyek pembangunan resort, Bela pulang ke mansion. Di perjalanan Bela melihat kembali peta didalam kotak pemberian Arron.

__ADS_1


Peta harta karun? aku akan membaca suratnya nanti. Kira-kira apa isi harta karunnya? kenapa juga Kak Arron membuat permainan seperti ini. Harta karun seperti apa yang Kak Arron sembunyikan?


__ADS_2