Family And Enemy

Family And Enemy
Ada apa dengan Arron?


__ADS_3

Bela meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam rumah. Dia mengabaikan Aurel yang memanggilnya di ruang tamu. Dia masih merasa kesal dengan Bryan karena itu dia tidak ingin menemuinya.


"Bel, itu makanan buat siapa?" Aurel bertanya. Tetap saja Bela tidak menghiraukannya.


"BELA, bersikaplah sedikit sopan pada kakakmu!" Bryan sedikit membentaknya. Dia sudah tidak bisa mengontrol diri untuk tidak menegur sikap kurang sopannya Bela.


Langkah kaki Bela terhenti di tangga ke-lima. Dia berbalik melihat siapa yang baru saja membentaknya.


"Ini makanan untukku dan Gian. Puas?" Bela sengaja menekan kata puas. Kemudian dia berbalik melanjutkan menaiki tangga seterusnya.


Bryan tidak percaya pada dirinya sendiri. Baru kemarin malam dia merasa kasihan kepada Bela dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti fisik dan mental Bela. Tapi kenyataannya dirinya sendiri yang mengingkari janji yang dia buat.


"Sudahlah tidak perlu membentaknya. Dia pasti kelaparan dan mungkin selera makannya tidak sesuai dengan menu yang biasa rumah ini masak." Aurel tersenyum kecut. Tapi didalam hatinya, dia merasa senang saat Bryan membentak Bela. Dia mengingat apa yang kekasihnya dan adik tirinya lakukan kemarin malam. Pelukan yang penuh dengan kasih sayang dan juga luka.


Bryan tidak bergeming. Dia masih menyesali apa yang baru saja dia lakukan. Bryan merasa bodoh sangat bodoh.


Tanpa disadari Dyra melihat kejadian itu. Dia semakin yakin bahwa dia akan bisa membuat Bela sengsara.


Bela mengetuk kamar Gian.


Tok


Tok


Tok


Biasanya pengasuhnya yang membukakannya tapi Gian sendiri yang membuka pintunya.


"Ada apa, Kak?" lirih Gian. Kini Gian sedang was-was. Dia takut jika Aurel akan melakukan kekerasan padanya. Tapi ayahnya sudah menasehatinya supaya dia melawan.


"Ini ada makanan. Tadi kakak yang pesan. Boleh kakak masuk? kita akan makan bersama." Bela memperlihatkan 2 kantong yang sedang dia bawa pada Gian.


"Silahkan masuk, Kakak." Gian membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan membiarkan Bela masuk. Setelah Bela masuk dia menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Dia selalu begitu untuk mengantisipasi jika ada yang memaksa masuk tiba-tiba.


Bela duduk di lantai berkarpet. Dia membuka kantong plastiknya dan mengeluarkan satu persatu makanan yang ada didalamnya.


"Kak, kenapa duduk dilantai?" meskipun Gian bertanya seperti itu dia juga ikut duduk dilantai.


"Enakan dilantai, apalagi makanannya pakai tangan. Beuhh rasanya mantap." Bela mengacungkan kedua jempolnya.


"Owh, yaudah Gian cuci tangan dulu." Gian ber-oh ria. Dia berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Tidak lama setelah itu Bela mengikutinya.


"Wah, kakak membeli terlalu banyak ayam." Gian tidak pernah makan ayam selama ini sungguh miris.

__ADS_1


"Ini untukmu. Aku tahu mama tidak pernah memberimu makan ayam. Lain kali kita akan makan daging juga." Bela menyodorkan kotak berisi paha ayam. Dengan senang hati, Gian mengambil satu dan mencicipinya.


"Wah terimakasih, Kak. Setiap tahun aku bertemu ayah tapi dia hanya memberiku makan daging saja. Setiap ada kesempatan bertemu ayah selalu memberiku makan banyak daging. Tapi baru kali ini ada yang membelikanku ayam. Aku bosan makan daging terus." Gian menjadi sumringah setelah dia mencicipi pja ayam yang krispi itu.


Aku hanya membelikanmu paha ayam tapi kau sangat bahagia. Apa mama tega sekali? memberikan Gian sepotong ayam mama tidak sanggup?. Bela membatin. Didalam lubuk hatinya yang paling dalam dia ingin membawa Gian pergi jauh dari neraka ini. Tapi apalah dayanya Gian juga masih hak mereka.


"Jangan banyak bicara, cepat habiskan ini." Bela menyodorkan lagi satu kotak tumis buncis kesukaan Gian.


"Darimana kakak tahu kalau aku suka tumis buncis? aku tidak pernah mengatakannya." Gian tidak menyangka Bela tahu makanan kesukaannya. Dia cemberut.


"Rahasia." Bela menempelkan jari telunjukknya didepan bibirnya. Mereka tertawa bersama. Moment hangat seperti ini belum pernah Gian rasakan. Gian merasa dia mendapat kasih sayang seorang ibu. Hampir 12 tahun dia selalu mempertanyakan bagaimana rasanya mendapatkan kasih kasang seorang ibu. Kini dia mendapatkannya dari Bela. Dia merasakannya.


⚡⚡⚡


"Tante, besok Bryan akan pergi untuk kuliah ke London. Jadi Bryan titip Aurel ya ke tante. Maaf Bryan tidak bisa lagi menjaga Aurel." Bryan menyalimi tangan Dyra.


"Pergilah! tante tidak akan melarangmu. Itu juga demi masa depanmu dan masa depan Aurel juga. Tidak masalah jika kamu tidak bisa menjaganya, dia juga sudah besar bisa menjaga dirinya sendiri." Dyra tersenyum tulus. Dia sangat menyukai Bryan karena dia anak yang sangat bertanggungjawab dan juga pandai. Terlebih lagi dia berasal dari keluarga kalangan atas, jadi dijamin Aurel tidak kekurangan apa-apa.


"Mah?." Aurel tidak percaya mamanya membiarkan Bryan pergi jauh darinya. Yang dia inginkan Bryan selalu ada disampingnya.


"Sekarang pulanglah! atau kekasihmu itu tidak akan membiarkanmu pergi dari rumah ini." Ucap Dyra seraya melirik Aurel.


"Baik, saya permisi dulu." Sungguh berat bagi Bryan untuk meninggalkan Aurel.


"Besok antarkan aku ke bandara." Bryan mengelus puncak kepala Aurel.


Anak jaman sekarang lebay-lebay. Apa gunanya teknologi komunikasi?. Dyra memalingkan wajahnya seolah tidak melihat apa yang terjadi. Dia memilih meninggalkan 2 insan yang sedang kasmaran itu.


"Sudahlah, aku akan mengunjungimu tiap bulan atau kalau bisa tiap minggu. Jangan menangis." Bryan melepaskan pelukan Aurel dan menghapus airmata di pipinya.


"Sekarang aku pulang. Sampai bertemu besok." Bryan melambaikan tangannya.


Aurel tidak bergeming. Dia hanya menatap punggung Bryan yang menjauh.


Seharusnya aku tidak bersedih. Setidaknya Bryan jauh dari Bela. Aurel tersenyum paksa.


⚡⚡⚡


Pagi ini Bela sedikit tidak bersemangat. Tubuhnya terasa remuk semua. Kakinya sudah mulai membaik. Bisa digunakan untuk berjalan tapi rasanya sedikit linu saja.


Bela keluar kamar bersamaan dengan Gian.


"Pagi kakak." Sapa Gian.

__ADS_1


"Pagi juga." Balas Bela.


Bela melihat Gian dari atas sampai bawah. Gian memakai seragam SMP lengkap dengan dasi dan ikat pinggang serta tas yang berwarna hitam. Sepatunya juga berwarna hitam.


Mereka beriringan menuruni tangga.


"Pagi mama." Bela hanya menyapa Dyra dan tidak menyapa Aurel juga. Hl itu membuat Aurel tidak terima. Apalagi melihat Gian yang datang bersama Bela, rasa bencinya pada Gian semakin besar. Apa yang dilakukan Gian hingga membuat Aurel membencinya?


"Pagi." Jawab Dyra datar.


Bela duduk di kursi yang kosong dia tidak mau duduk disebelah Aurel. Gian duduk di sebelah Bela. Dia menunduk bukannya takut tapi dia tidak ingin melihat wajah Aurel.


Bela mengambil satu lembar roti tawar dan mengoleskannya selai kacang. Dia menaruhnya pada piring Gian.


Sejak kapan dua anak ini dekat?. Dyra mengangkat sebelah alisnya.


Aku tidak suka anak haram ini mendapat perhatian Bela. Seharusnya aku melenyapkannya sedari di lahir dulu. Aurel mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Apa aku melewatkan sarapan?" tanya Arron yang barusaja datang. Dia terpaksa duduk di sebelah Aurel walaupun banyak kursi yang kosong tapi dia punya maksud tertentu.


"Tidak, Kak. Aku dan Gian barusaja datang." Sahut Bela. Arron mengangguk.


"Mah, besok Arron ada kunjungan keluar kota. Malam ini Arron akan melakukan perjalanan. Jadi, Arron tidak pulang malam ini." Arron meminta ijin mamanya. Bela menatap Arron sekilas.


"Tidak apa-apa. Semoga selamat sampai tujuan." Dyra tersenyum memandang Arron.


"Terimakasih atas doanya. Hari ini mama tidak pergi ke kantor?." Arron menyadari bahwa mamanya tidak berpenampilan formal seperti biasanya.


"Mama dan Aurel akan mengantarkan Bryan ke Bandara. Dia akan pergi ke London untuk kuliah." Dyra berdiri dari duduknya.


"Ayo Aurel kita akan terlambat." Dyra meninggalkan Aurel.


"Iya, tunggu sebentar." Aurel dengan tergesa-gesa meminum susu coklat miliknya. Dan mengikuti mamanya.


Gian, Bela dan Arron hanya melihat kepergian mereka.


"Gian, kakak akan mengantarkanmu lesekolah barumu." Arron berdiri. Dia menghampiri Gian yang duduk disebelah Bela.


"Oh ya, kukira kak Bela yang akan mengantarku." Gian sedikit cemberut.


"Kakinya masih sakit dia tidak bisa mengemudi. Pergilah ke mobil duluan!" Arron menyuruh Gian untuk pergi ke mobil duluan. Tentu saja Gian menurut dan langsung menuju garasi.


"Bel, apapun yang terjadi tetaplah menjadi perempuan yang kuat." Arron menepuk pelan pundak Bela dan pergi setelah itu.

__ADS_1


Bela menjadi bingung. Kenapa tiba-tiba kakaknya bicara seperti itu.


Kenapa kakak bicara seperti itu? ada apa dengannya? apa dia akan meninggalkanku?


__ADS_2