Family And Enemy

Family And Enemy
Berakhir sudah


__ADS_3

Aurel mengambil jatah makan hari ini. Dia bersama para tahanan yang lain duduk dan makan dengan tenang. Dyra juga mengambil jatahnya dan duduk di samping Aurel.


"Apa kau percaya dengan Pamanmu itu?" tanya tanpa melihat wajah.


"Pasti, aku juga sudah bertemu ayahku."


"Mereka akan menyakiti Bela. Ayahmu punya dendam pada Ibunya dan Arron."


"Tidak mungkin, " Aurel tersenyum meremehkan.


"Terserah padamu saja, sebenarnya Ayahmulah yang bertanggung jawab untuk penderitaan Bela." bisiknya tepat di telinga Aurel.


"TIDAK MUNGKIN," Aurel mencekik leher Dyra. Kemudian mereka saling menjambak dan membuat keributan.


"Ibu dan anak sama-sama munafik."


"Mereka seperti itu karena harta. Lihatlah kita berada disini juga karena uang." Para tahanan yang lain mulai membicarakan mereka.


⚡⚡⚡


"Kita harus berhenti sampai disini." Cindy menutup laptopnya.


"Sangat disayangkan, padahal kemungkinan besar itu akan berhasil. Tapi kita harus menjaga keselamatan janinnya kan."


Rupanya Ben dan Cindy belum meninggalkan kota ini. Hanya saja tempat mereka jauh pengawasan siapapun.


"Tapi apa yang akan Tuan Theo lakukan?"


"Entahlah, dia mungkin akan bernegoisasi dengan Albert." Ben lebih mengenal Theo daripada orang lain.


"Negoisasi? Bagaimana kalau dia celaka? kau tahu kan musuh itu tidak mengenal waktu."


"Iya kau benar, mungkinkah kita kembali sekarang?" Ben langsung menyambar kunci mobil diatas meja.


⚡⚡⚡


Hari hampir malam,


Bela pulang setelah puas menumpahkan kesedihannya disana. Dia juga sudah menjemput Elvan dari sekolah.


Bela masuk ke kamar dan langsung disambut dengan pelukan oleh Albert.


"Kenapa kau tidak bilang apapun padaku?" Albert memeluknya erat.


"Apa dengan bilang aku hamil akan mengubah hatimu?"


"Apa?" perlahan-lahan Albert melinggarkan pelukannya.


Bela bersimpuh dikakinya, "Bisakah kita melupakan masalalu dan memaafkannya? Bisakah anak ini tetap hidup?"


Albert mundur beberapa langkah.


"Kenapa kau tidak bisa menjawabnya?" airmata Bela sudah tidak bisa ditahan.


"Sudah kuduga, kau akan menghianatiku. Aku memang salah menaruh hatiku padamu dan berharap lebih. Kenapa semua orang menghianatiku?" Bela kembali berdiri dan mendekat pada Albert.


"Mereka suka mempermainkan perasaanku." Tangan kanan Bela mengambil sebuah pisau kecil yang ada di saku celananya. Albert masih terdiam mencoba merasakan apa yang Bela rasakan.


Dengan gerakan yang cepat Bela meraih tangan Albert dan menggenggamkan gagang pisau itu. Albert masih belum sadar dia memegang pisau.


"Habisi aku dan anakmu!!!" Bela menarik tangan Albert yang memegang pisau ke perutnya. Albert terkejut menyadari dia melukai Bela dan calon anaknya.


Bela memegangi perutnya yang sudah berdarah. "Mudah bukan, kau benar-benar menyelamatkanku dan calon anakmu." Darah tidak berhenti mengalir dari perutnya. Tetapi Bela masih bertahan. Dia terduduk dilantai.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak sengaja. Ku mohon maafkan aku," Albert melempar pisau ke sembarang arah.


Tidak mereka sadari ada seseorang yang tertawa dibalik pintu kamar mandi. Dia adalah Alden. Pria paruh baya itu keluar dari persembunyiannya. Dia bertepuk tangan karena takjub dengan apa yang dilakukan adiknya.


"Bagus, sudah ku duga kau tidak akan menghianati keluarga."


"Sekarang bawa dia ke mansionnya. Aku sudah menyiapkan tempat kremasi yang cocok untuk istrimu dan bayi yang ada di perutnya."


"Tidak kakak, aku mohon." Albert memeluk kaki Alden dan berlinang air mata.


"Tidak adikku, jika kau hanya diam itu akan menghancurkanmu. Pikirkan kehidupan Elvan."


Albert tak bisa apa-apa. Alden benar, kehidupan Elvan lebih penting baginya. Hal yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali. Dia sudah kehilangan bayinya dan mungkin istrinya juga tidak bisa selamat.


Albert menggendong Bela keluar dan memasukkannya dalam mobil. Bela sudah tidak bisa bergerak dia sangat lemas. Dia sudah banyak kehilangan darah. Hanya butuh 15 menit untuk sampai di mansion pinggir hutan milik Bela.


Buru-buru Albert membawa Bela ke kamar paling belakang. Ternyata seluruh mansion sudah disirami bensin oleh Alden.


Albert menidurkan Bela diranjang. Airmatanya tidak berhenti mengalir. Kecupan lembut mendarat di jidat Bela.


"Aku mencintaimu, maafkan aku."


"Selamat, kau sudah berhasil. Aku juga mencintaimu." Bela membalasnya dengan kesadarannya yang masih tersisa.


Albert keluar, tidak lupa dia juga mengunci kamarnya. Bagaimana Bela bisa kabur dalam kondisinya yang sekarang?


Ditatapnya bangunan mansion yang mewah itu.


"Maaf," ucapnya lagi. Albert melempar korek apik yang menyala ke dalam mansion. Kemudian dia pergi dengan mobilnya.


Malam yang kelam serta mansion menjadi saksi bisu cinta dan kekejamannya menghabisi istrinya.


Api melahap cepat bangunan itu. Tidak ada yang menyadari kepulan asap dipinggir hutan. Mereka yang melihat hanya berpikir ada kebakaran dihutan.


Apa ini masih berlanjut atau sudah berakhir?


.............


Theo menyiapkan berkas-berkas peralihan perusahaannya. Hanya ini yang bisa dia gunakan untuk bernegoisasi dengan Alden.


Kemudian dia mengendarai mobilnya seorang diri ke sebuah gedung bekas yang tidak terpakai.


"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Alden yang duduk di sofa.


"Aku ingin bernegoisasi."


"Negoisasi? HAHAHAHAH," Alden tertawa terbahak-bahak.


"Aku serius," Theo meletakkan map berisi berkas di atas paha Alden.


"Apa ini?"


"Perusahaanku milikmu sekarang. Jadi biarkanlah Bela hidup bersama Albert. Biarkan dia hidup bahagia."


"Hmm, baiklah. Aku terima ini." Alden tersenyum penuh kemenangan. Rupanya Theo datang sendiri kehadapannya dan mrmberikan apa yang dia inginkan.


"Kalian, " Alden memanggil beberapa orang yang sudah berdiri dibelakang Theo.


"Bereskan dia,"


"Baik bos!!" beberapa orang berbadan tegap itupun langsung mengeroyok Theo.


"Kita sudah membuat kesepakatan tapi kenapa kau melakukan ini padaku!!" Theo berusaha melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Ibumu melenyapkan istriku dan Arron kakakmu itu juga melenyapkan adikku dan suaminya. Kau pikir hartamu bisa menebus itu?" Alden berapi-api.


"Kenapa kalian limpahkan kesalahan masalalu ke kita? bukankah mereka juga sudah tiada. Melenyapkanku tidak akan menghidupkan mereka kembali." Theo bertahan meskipun orang-orang itu memukulinya hingga babak belur.


"Kau benar, tapi garis keturunan Damarion harus lenyap. Ya memang tidak akan menghidupkan mereka tapi kami puas hanya dengan itu. HAHAHH, " Alden tertawa seperti iblis.


"Lenyapkan dan buang dia ke jurang. Buat seolah-olah itu sebuah kecelakaan."


"Siap Bos,"


Alden pergi membawa berkas yang baru dia dapatkan dari Theo.


"Andai kau tahu, adikmu sudah menemui ajalnya. Dia akan berubah menjadi abu." gumamnya didalam mobil.


Theo terus bertahan. Meskipun napasnya mulai tidak terasa. Dia hanya ingat satu hal yaitu Bela. Bagaimana keadaannya.


"Dia sudah tidak bernapas." ucap salah satu dari mereka.


"Bawa dia dan mobilnya kepinggir jurang hutan bagian timur. Tidak ada yang akan menemukannya disana."


Mereka memasukkan Theo kedalam mobilnya dan sesampainya di pinggir jurang, salah satu dari mereka yang mengendarai mobil Theo melompat keluar dan membiarkan mobil Theo terjun bebas ke jurang. Tak lama setelah itu suara ledakan terdengar dari bawah.


Boom!!


Muncul asap hitam. Sudah mereka pastikan mobil itu hancur. Mereka pergi bersama kelompoknya untuk mengambil upah dari perbuatan keji mereka.


..................


Albert menangis dibawah guyuran air shower. Tidak disangka dia melenyapkan orang yang dia cintai dan calon bayinya. Dia melakukan dosa besar yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Awalnya dia ingin menyerahkan Bela pada Alden karena dia tidak sanggup melukai Bela. Apalagi Bela sedang hamil anak pertama mereka. Tapi dia salah, tangannya sendirilah yang melenyapkan istrinya.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Albert memukul dadanya berulang kali. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri.


Albert sudah sedikit tenang setelah menangis dibawah guyuran air. Kini dia tengah membakar baju yang berlumuran darah yang tadi dia gunakan saat melenyapkan Bela. Dia menyingkirkan bukti yang ada.


Drrt Drrt


Ponselnya berdering. Dia mengangkatnya.


"Halo, ada apa?"


"...."


"Iya, sampaikan pada Elvan jika Bela kabur dari rumah. Aku sudah mencarinya tapi sampai pagi begini belum kutemukan."


Dia memutuskan sambungan teleponnya. Baru saja pengasuh Elvan yang baru menghubunginya dan menanyakan apakah hari ini Elvan akan pulang atau tidak.


"Bagaimana caraku menyakinkan Elvan? Aku takut dia akan seperti sebelumnya atau bahkan lebih buruk."


...^^^.........^^^...


Alden berada di club bersama Grace. Dia menghabiskan waktunya bersama Grace semalaman.


"Kau tahu, orang yang menjadi dalang masalah ini adalah Thomas. Kalau bukan karena ketamakannya Satya tidak akan tiada. Dan Dyra, wanita itu terbuai oleh sentuhan laki-laki gila itu. Ah aku merasa kasihan sekali keluarganya hancur. Oh ya, tinggal beberapa bulan lagi Aurel akan bebas. Kuharap kalian bisa hidup bahagia." Grace terlalu banyak bicara.


"Ya kuharap begitu, tapi bagaimana caraku menyingkirkan Thomas dari hidupku?"


"Jangan sekarang, kau harus sabar sedikit. Aku sarankan kau menjalin hubungan dengan Victoria. Dia wanita yang sangat baik. Dia juga korban dari janji manis Thomas."


"Apa maksudmu dia melenyapkan suaminya karena Thomas?"


"Dia tidak melenyapkan suaminya. Thomaslah yang melenyapkannya. Hari itu dia menginginkan saham Light Entertaiment. Tapi suaminya Victoria tidak membukakan pintunya. Dia seperti iblis berwajah manusia. Berapa nyawa yang dia hilangkan demi uang." Grace mengunyah popcorn miliknya.


"Setelah Dyra dia akan mengincar Victoria. Sungguh dia wanita yang sangat baik meskipun ada sedikit kebodohan didalam dirinya." imbuhnya.

__ADS_1


"Ya kita perlu sedikit bodoh untuk menghadapi orang yang terlalu licik." Alden tersenyum.


__ADS_2