
Hari ini Bela memutuskan untuk pergi ke kampus. Sebenarnya dia tidak perlu kuliah karena di Australia dia sudah S1.
Sesuai rencana Albert, kondisi perlahan membaik. Royal Village dibangun ulang serta separuh wilayah Pulau Poem menjadi milik Theo. Rumor-rumor yang sempat menyebar luas dikalangan pengusaha juga mulai mereda. Hebat hanya butuh 3 hari saja suasana kota menjadi normal kembali setelah ledakan di Royal Village.
"Nona, anda perlu menandatangi kontrak kerja dengan Move Entertaiment." Cindy memberi pengertian pada Bela yang terlalu keras kepala.
"Untuk apa aku melakukan itu? Apa untungnya?" dan Bela tetap menolak.
"Tentu saja kita untung besar," Cindy sedikit menaikkan nada bicaranya. Sungguh dia sudah lelah menghadapi Bela.
"Bicaralah yang sopan, apa begini caramu bicara dengan atasanmu?" entah apa yang membuat Dyra memaki Cindy karena cara bicaranya.
"Maaf Nyonya, tenggorokan saya sedikit sakit. Saya juga ada gangguan pendengaran. Saya khawatir atasan saya tidak bisa mendengar kalau saya bicara pelan." Baru kali ini Cindy menunjukkan sikap yang entah bagaimana menyebutnya.
Bela ingin tertawa mendengar jawaban dari Cindy. Bagaiman Cindy bisa mengatakan hal yang konyol itu. Tapi disisi lain dia bangga karena Cindy sudah belajar darinya bagaimana menyikapi orang seperti ibu tirinya ini.
Sedangkan Dyra, dia ingin sekali membalas perkataan Cindy tapi dia urungkan. Dia tidak akan pernah menang beradu argumen dengan anak muda seperti Cindy pikirnya.
"Kasus Mama sudah selesai?" Bela mencairkan suasana.
"Udah, tinggal bayar hakimnya aja. Beres tinggal kerusakan Royal Village yang perlu ditata ulang lagi."
"Tapi kenapa harus Mama yang bertanggung jawab?"
"Itu karena Royal Village itu milik Mama sepenuhnya. Mama juga sedang mencari tahu siapa dalang dari semua ini." Dyra terlihat sangat emosi. Tapi bagaimana pun dan dimana pun dia mencari pasti tidak ada jejak sama sekali.
"Pagi semuanya, hari ini Aurel mau audisi model di Move Entertaiment." Aurel sudah bersiap dengan baju yang super mahal serta memakai make up.
__ADS_1
"Ma, Bela berangkat ke kampus." Bela memilih untuk tidak mendengarkan Aurel. Hatinya masih belum menerima kepergian Mayleen sepenuhnya. Dan sekarang dia membenci Aurel. Setiap melihatnya Bela terbayang wajah pucat Mayleen.
Sampai dikampus Bela sendirian. Tiada lagi orang yang selalu duduk disampingnya menemani kelas dari awal sampai akhir.
Bela duduk dipojok tempat biasanya. Tas miliknya dia taruh di sampingnya tempat biasa Mayleen duduk.
"Kasian, dia kehilangan temannya."
"Ngeri juga ih, kalau Mayleen mati arwahnya gentayangan." Semua orang mulai berbisik-bisik dan membuat Bela semakin sesak.
Brak
Bela menggebrak meja. Telinganya sangat panas mendengar orang-orang mulai membicarakan orang yang telah tiada.
"Apa ini topik yang bagus untuk kalian bicarakan? Apa tidak ada topik lain yang lebih bermutu?"
Bela mengambil tasnya dan keluar dari ruang kelas. Kebetulan dia bertemu Arvin. Bela tidak tahu harus bicara apa. Bagaimana dia memberi tahu Arvin.
"Aku sudah tahu," Arvin mengatakan dengan luka yang begitu terasa.
"Teganya dia pergi sebelum mendengarkan pernyataan cintaku." Arvin tersenyum manis. Namun dapat dilihat dari matanya bahwa dia sangat terluka.
Bela menahan air matanya agar tidak jatuh. Bela memang memiliki fisik yang kuat tapi hatinya begitu rapuh seperti cangkang telur yang tipis.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Bela berlari menuju parkiran. Dia berlari sekencang mungkin agar cepat sampai ke mobilnya.
Bela masuk kedalam mobil dan menutup pintunya. Air matanya jatuh tanpa di suruh. Dia menangis sampai sesenggukan. Sesekali dia memukul kemudi mobil.
__ADS_1
Ditempat yang sedikit gelap serta berbau obat, pria berumur 50 tahun ini terbaring lemah di ranjang. Dia Jake, saksi mata kejadian 20 tahun yang lalu masih hidup. Dimana dia menyaksikan Dyra membunuh majikannya serta bayi yang sedang dikandungan majikannya.
Selama ini dia menyamar menjadi orang lain agar tetap hidup. Dia menunjukkan identitasnya tanpa sengaja ketika dia mendengar bahwa putra dan putri majikannya masih hidup dan berada disekitarnya. Dia berniat untuk menemui mereka tapi musuh telah mencium keberadaannya duluan.
Sudah tiga hari lebih dia tidak sadarkan diri. Dan Albertlah yang menyelamatkannya serta merawatnya sekarang. Albert menempatkannya diruangan khusus di Villa pribadi milik Theo. Kenapa disana? karena hanya itu tempat yang aman.
Perlahan jari tangannya mulai bergerak. Perawat yang sedang memeriksa keadaanya langsung menghubungi Theo.
Albert kebetulan datang untuk menjenguk.
"Ada apa suster?"
"Pasien telah sadar, Tuan."
Mendengar itu Albert buru-buru melihatnya. Tepat setelah Albert datang, Jake membuka matanya.
"Apa anda sudah sadar?"
"Maaf saya dimana dan anda siapa?" Jake melihat sekelilingnya. Ini tempat asing baginya.
"Anda akan aman disini. Saya akan menjamin itu."
"Aku ingin bertemu Nona Bela. Aku ingin bertemu dengannya." Jake hanya ingin mengatakan kebenaran agar tidak lagi membebaninya.
"Bela akan segera kemari bersama Theo."
Kenapa dia mencari Bela? Setelah ini aku harus menggali informasi lebih agar aku tahu masalalu Bela.
__ADS_1