
Grace membuka pintu ruangan Dyra secara tiba-tiba. Dyra yang tengah memantau perkembangan produk bulan ini sampai hampir jantungan.
"Kau sudah menemui presdir baru GO Group? aku baru baca diartikel katanya Theo Mallory sangat tampan." Grace begitu mengagumi ketampanan Theo hingga dia terlihat seperti cacing kelabakan.
"Jangan gila, Grace. Dia seumuran Arron bahkan lebih muda darinya satu tahun." Dyra kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sayangnya aku punya putra jika aku mempunyai seorang putri, aku akan menikahkannya dengan Theo." Grace mendekati meja kerja Dyra dan mulai berfantasi liar.
"Itu yang sedang aku rencanakan. Aku mengundangnya makan malam, malam ini."
"Apa kau akan menjodohkan Theo dengan Bela?" Grace melotot.
"Bukan dengan Bela tapi dengan Aurel. Bela itu tidak bisa dikendalikan. Bisa-bisa rencana yang telah aku susun rapi-rapi bisa berantakan hanya karena satu perbuatannya." Dyra menutup laptopnya.
"Tapi Aurel bukannya sudah bertunangan dengan Bryan?" Grace duduk di sofa.
"Dia kuliah di luarnegeri. Disana juga banyak wanita yang cantik-cantik tidak mungkin jika Bryan tidak tergoda oleh salah satu dari mereka. Kalau pun iya, aku pasti tidak akan tinggal diam." Dyra bangkit dari meja kerjanya dan menyusul Grace.
"Aku menyukai kelicikanmu." Grace terkekeh.
"Aku sangat senang sekali hari ini. Aku akan menelpon Aurel nanti. Tapi apakah kau percaya dia sudah mulai berubah." Dyra kegirangan.
"Ku harap kau tidak menggunakan putri kandungmu untuk mencapai tujuanmu. Jangan memperalat dia!" Grace sebenarnya kasian terhadap Aurel.
"Kalau dia juga menyukai Theo, apa salah? itu simbiosis mutualisme. Jika dia tidak menyukainya aku akan berhenti." Dyra berkata datar seolah dia tidak menyangka bahwa Grace akan menasehatinya.
⚡⚡⚡
Hari sudah menjelang sore, Bela mengemudikan mobilnya menuju panti. Hari ini sangat melelahkan dia hanya ingin bertemu Elvan. Dia juga membawa bahan-bahan makanan untuk diberikan kepada Tyra. Sebenarnya tadi pagi Cindy sudah mengirim beberapa karung beras dan juga beberapa kotak pakaian tapi Bela sedikit tidak puas lalu dia membeli lagi.
Diperjalanan dia merasa tidak enak seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Bela sudah mulai lelah dia menelpon Cindy untuk mencari tahu siapa yang memata-matainya.
"Kak, cari tahu siapa yang sedang memata-mataiku. Aku sudah lelah dan tidak ingin bermain."
"Saya akan mengirimkan bodyguard untuk menjamin keselamatan anda."
"Kurasa itu tidak perlu, cukup cari tahu siapa yang memata-mataiku. Jangan lakukan apapun yang bisa membuat kita terancam!" Bela melepas earphone yang terpasang ditelinganya.
"Apa tidak bisa aku pergi kemana saja tanpa penguntit?" Bela memukul setir mobilnya.
Tapi siapa kali ini yang menguntitku? kalau Om Erland itu tidak mungkin. Mama mungkin saja, tapi buat apa mama memata-mataiku. Bela mengerutkan dahinya.
Perjalanan dari kantor ke panti memakan waktu kurang lebih setengah jam. Itu cukup melelahkan apalagi dia barusaja bekerja ditambah lagi Bela menyetir sendiri. Tapi semua kelelahan Bela akan terbayar dengan senyuman manis Elvan.
Setelah sampai di panti, Bela dibuat kecewa. Pasalnya dia tidak menemukan Elvan disana.
"Ngomong-ngomong Elvan dimana?" Bela bertanya pada Tyra yang tengah mengangkat beberapa kardus berisi bahan makanan.
"Elvan tadi dibawa oleh dua pria. Elvan memanggilnya dengan sebutan 'Paman'. Saya sedikit khawatir tapi saya berpikir pria itu pasti salah satu keluarga Elvan." Tyra menghentikan kegiatannya.
"Syukur kalau ada yang menjenguknya. Entah kenapa aku menyayanginya seperti anakku. Menjadi seorang ibu dalam satu malam." Bela tertawa ringan.
"Hmm, tapi bisakah kita tidak berbicara secara formal? aku tidak terbiasa." Bela menggaruk kepalanya yang dirasa tidak gatal.
Tyra tersenyum dan mengangguk. Kemudian Bela membantu Tyra membawa kardus-kardus isi bahan makanan ke dalam panti. Banyak anak-anak yang senang melihat bermacam-macam bahan makanan. Mereka juga menyukai pakaian yang dikirim oleh Cindy tadi pagi.
__ADS_1
"Kakak, terimakasih untuk semua ini."
"Pakaian ini sangat bagus, Kak."
"Kakak sudah cantik baik lagi."
"Mobil kakak bagus deh."
"Kakak, kami sudah sangat merepotkan." Anak perempuan berumur 6 tahun menyelipkan permen disaku baju Bela.
"Tidak, malahan kakak senang bisa melihat kalian seperti ini. Kalian senang kakak ikut senang." Bela tersenyum lebar. Tangannya masuk ke saku untuk mengambil permen yang diberikan anak itu lalu membuka bungkusnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
⚡⚡⚡
Hari sudah sangat sore, Aurel barusaja selesai kelas sore. Dia ingin menelpon mamanya dan berbicara mengenai rencanya untuk menyingkirkan Bela. Dia sudah tidak tahan melihat adanya Bela di kehidupannya. Baginya lebih baik Bela berada di Australia jauh dari kehidupannya.
Aurel mencari tempat untuk menelpon agar tidak ada orang yang mendengar. Padahal dia bisa berbicara langsung dengan mamanya kalau sudah dirumah. Aurel berjalan menyusuri lorong yang terlihat menyeramkan. Di dalam otaknya hanya ada satu tempat yang aman yaitu atap. Dan jalan utama menuju ke atap adalah tangga yang berada di kampus bagian belakang.
Aurel menaiki tangga menuju atap. Dikampus masih banyak orang tapi mereka mengikuti kelas. Tidak banyak yang berada di kampus bagian belakang. Itu sebabnya mengapa Aurel memikirkan atap adalah tempat yang sangat aman.
Setelah sampai diatap, Aurel dibuat terpana oleh pemandangan kota yang sangat indah. Bahkan Aurel sampai lupa apa yang membawanya ke atap.
Aurel membuka ponsel dan mencari kontak mamanya. Dia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo."
"Ada apa? cepatlah pulang!!"
"Mah, Aurel ingin segera menyingkirkan Bela dari rumah kita."
"Tapi Aurel sudah tidak tahan melihat dia bahagia. Aurel hanya ingin melihatnya sengsara."
"Kalau begitu kita buat dia sengsara saja."
"Bagaimana caranya?"
"Cukup ikuti saja perintah Mama. Akan Mama buat dia merasakan sakit melebihi Arron."
"Jadi itu artinya Mama yang melenyapkan Kak Arron?" Aurel mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mengumpulkan akal sehatnya.
"Dia ingin menjatuhkan kita. Dia mengetahui semua rahasia kita."
Aurel tidak percaya dengan kata-kata Mamanya. Tapi jika Arron tiada leboh dulu itu akan semakin mudah untuk menyingkirkan Bela.
"Bagus, Mama membuatnya bungkam untuk selamanya." Aurel tertawa nyaring.
"Diam dan segeralah pulang!! ada tamu spesial yang akan makan bersama kita malam ini."
"Baiklah, Ma." Aurel memutus sambungan telepon.
"Setelah Kak Arron mungkin kau akan segera menyusulnya. Gara-gara kau Bryan jadi jauh dariku. Akan ku buat kau merasakan sakit seperti yang aku rasakan." Aurel mengepalkan tangannya.
Aurel membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia melihat Mayleen berdiri tepat dibelakangnya dengan membawa 2 kaleng minuman bersoda.
Apa dia mendengar semua yang aku katakan?
__ADS_1
Sedangkan di rumah, Bela baru saja pulang. Dia tidak sengaja mendengar percakapan Mamanya dan Aurel dari dapur. Bela bersikap santai seperti dia tidak mendengar apapun. Bela duduk di meja makan dan menikmati anggur yang tersedia.
"Kapan kau pulang?" tanya Dyra yang barusaja membalikkan badannya. Dia sedikit kaget dengan kehadiran Bela yang secara tiba-tiba.
"Bela barusaja duduk." Bela mengunyah buah anggur dengan nikmatnya.
"Cepat istirahat dikamarmu!! nanti Theo akan makan malam disini. Jangan sampai terlambat." Dyra membawa camilan kesukaannya ke sofa ruang tamu.
Bela bangkit dari duduknya dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Aurel pulang!!" Aurel masuk ke rumah dengan sedikit tergesa-gesa.
Bela menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Kenapa lama sekali?" Dyra protes tapi Aurel tidak mendengarkannya. Dia langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Bela dan Aurel saling berpapasan tapi dengan segera Aurel menundukkan kepalanya dan sedikit berlari.
Ada apa dengannya? kenapa aku merasa dia sedang ketakutan. Bela membatin.
Melihat perilaku aneh Aurel, Dyra langsung mengikutinya. Bela tidak perduli apa yang akan dibicarakan Mamanya dan Aurel. Itu bukan urusannya. Bela masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya. Akhirnya dia bisa istirahat dengan nyaman.
Cukup lama dia berbaring mungkin sudah 20 menit itu cukup untuk menghilangkan rasa penat. Lalu Bela masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya sudah lengket akibat keringat ditambah lagi baju yang dia kenakan terkesan tertutup.
Drrt Drrt
Ponsel Bela bergetar berkali-kali. Bela masih belum keluar dari kamar mandi.
Drrt Drrt
Ponsel Bela bergetar untuk yang ke 3 kalinya. Kebetulan Bela sudah selesai mandi.
"Halo"
"Maaf mengganggumu, tapi ini dalam masalah serius." Bela mengernyitnya dahinya. Dia merasa bingung pasalnya yang menelponnya nomernya Mayleen tapi yang berbicara bukan Mayleen melainkan orang lain.
"Ini ponselnya Mayleen kan, lalu dimana dia dan kau siapa?" Bela mulai cemas.
"Mayleen jatuh dari atap gedung kampus. Aku mengambil ponselnya secara diam-diam untuk mengabari keluarganya. Tapi yang kutemukan hanya nomormu dan nomornya Alex." Terdengar sangat panik dan bercampur sedih.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kemungkinan dia masing hidup. Sekarang dia dibawa ke rumahsakit terdekat."
"Tapi tidak mungkin masih selamat jika dia benar-benar jatuh dari lantai 5."
"Dia jatuh dari lantai 4 bukan lantai 5. Itu gedung paling belakang yang kau belum tahu. Aku mencurigai Aurel, tidak mungkin jika Mayleen mencoba bunuh diri."
"Aurel?"
"Iya, aku sempat melihat dia jalan terburu-buru dari arah gedung belakang. Limabelas menit kemudian kampus digemparkan dengan penemuan Mayleen yang bersimbah darah di depan gudang belakang"
"Terimakasih infonya. Aku akan mengirimkan temanku untuk mendampingi Myleen dirumahsakit. Aku tidak bisa pergi sekarang. Ada hal yang aku harus selidiki tentang ini semua." Bela memutuskan sambungan telepon.
Bela mengusap wajahnya kasar. Kenapa kabar duka datang silih berganti?
Apa Aurel mendorong Mayleen hingga jatuh? tapi apa yang membuatnya melakukan itu? melihatnya bersikap sedikit aneh sepulang dari kampus itu membuatku yakin jika Aurel yang mendorong Mayleen.
__ADS_1
Bela menggertakkan giginya.