
Bela membuka kaca mobilnya membiarkan udara khas alam liar masuk ke dalam mobilnya. Dia menghirup dalam dalam dan menghembuskannya. Benar-benar menyegarkan.
Hancur sudah keluargaku. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa semua ini terjadi kepadaku?
Bela mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus dia perbuat?
Drrt...Drrt
Ponsel Bela berdering.
"Halo Kak Elli, kenapa menelponku?"
"Dengar, anak buah kita menemukan kejanggalan atas kecelakaan kak Arron. Sebenarnya aku ragu dengan kecelakaan itu jadi aku menyuruh Virza untuk menyelidiki. Maaf kan aku."
"Tidak apa-apa. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku harus bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa."
"Tapi dengan kematian kak Arron siapa yang akan diuntungkan?"
"Tentusaja mama dan Aurel. Pasti mereka mengincar perusahaannya."
"Iya juga, perusahaannya kak Arron kan sangat sukses. Tapi bukankah mamamu sudah punya perusahaan sendiri?"
"Iya itu perusahaan peninggalan ayah."
"Kalau begitu akan aku laporkan kepada Om Erland. Supaya dia juga ikut membantu."
"Tidak. Jangan libatkan om Erland dalam masalah ini. Aku tidak ingin keluarganya ikut terkena imbasnya."
"Baiklah, jika itu maumu. Tapi sedang apa kau di pinggir hutan ha?"
"Dari mana kakak tahu aku dipinggir hutan?"
"Sena sempat melacakmu. Dia begitu mengkhawatirkanmu."
"Tenang saja, aku tidak akan melalukan hal konyol seperti melukai diriku sendiri."
"*Lalu apa yang kau lakukan disana*?"
"Aku tidak tahu."
"Coba kutebak, pasti emosimu membawamu ke tempat itu kan. Kau itu sering seperti ini."
"Itu kau tahu. Aku suka tidak sadar kalau sedang sedih ataupun emosi." Bela menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Cepatlah kembali, ini sudah malam."
"Oke."
__ADS_1
Bela memutus sambungan telpon.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? mencari informasi tentang siapa dibalik kecelakaan Arron atau mencari informasi tentang dirinya. Dia sendiri bingung yang mana yang harus dia selidiki terlebih dahulu.
Kenapa dunia ini begitu rumit?. Kenapa takdir mempermainkanku?. Aku harus diam atau bertindak?. Sungguh aku bingung tuhan.
Bela mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia sudah seperti orang gila sekarang.
"Ayolah Bela berpikirlah jernih. Lebih baik pulang dulu baru besok pikirkan lagi. Semangat!!" Bela menyemangati dirinya sendiri.
⚡⚡⚡
"Wah, wine ini sangat segar." Grace mencicipi minuman yang barusaja Thomas bawa.
"Iya kau benar. Ini sangat menyegarkan." Dyra meminum wine digelasnya.
"Apa putrimu tidak ada dirumah?" Albert hanya menatap segelas wine yang ada di meja ruangtamu.
"Kau lihat sendirikan tadi Aurel pergi menginap dirumah temannya."
"Maksutku putrimu yang lain."
Dyra meletakkan gelasnya dimeja dan menatap Albert.
"Putriku hanya satu."
"Sudahlah kita nikmati saja malam ini. Malam keberhasilan kita." Thomas mengisi gelas Dyra dengan wine yang sangat mahal.
Albert menghela napas. Dia merasa aneh. Ada rasa yang tidak nyaman setelah pemakaman Arron tadi. Terlebih lagi melihat kesedihan di wajah Bela.
"Sayang sekali Victoria tidak ada disini. Jika dia ada disini pasti akan sangat menyenangkan." Grace mencebikkan bibirnya.
"Sangat disayangkan." Thomas meminum wine miliknya untuk kesekian kalinya.
"Kalian menginap disini saja ini sudah malam. Aku akan siapkan kamarnya." Dyra naik kelantai dua untuk menyiapkan kamar untuk tamunya.
"Kenapa dia yang harus menyiapkannya? dimana semua pelayan rumah ini?. Aku tidak yakin dia mengurus rumah sebesar ini sendirian. Dia itu wanita licik hartanya banyak. Mana mau bekerja seperti ibu rumah tangga."
"Diamlah Grace! kau bisa menghancurkan bisnis kita. Ingatlah kita bergantung padanya. Jadi jangan mencari masalah dengannya." Albert memperingatkan Grace untuk tidak macam-macam. Memang diantara mereka hanya Grace yang paling ceroboh.
Mendengar peringatan dari Albert, Grace sedikit tersinggung tapi dia bersikap seolah baik-baik saja. Sejujurnya dia tidak begitu menyukai Dyra. Dimatanya Dyra hanya seorang wanita yang bermulut manis dan munafik.
Diluar rumah tepatnya dihalaman depan, Bela barusaja memarkirnya mobilnya. Dia sedikit kepo dengan tamu mamanya.
Kenapa ada mobil disini? masa iya ada tamu tengah malam begini? sepertinya mama belum tidur. Lampu ruangtamu juga belum padam. Batin Bela.
Bela melangkah dengan perlahan. Dia juga melepas sepatunya agar tidak membuat suara saat berjalan.
__ADS_1
"Daripada kalian tidak jelas begitu leboh baik habiskan minuman ini. Sayang kalau tidak habis ini mahal sekali. Aku membelinya langsung dari luar negeri." Thomas mengangkat botol minuman.
Owh, jadi mereka minum-minum untuk merayakan kematian kakakku. Sekarang aku semakin curiga.
Bela melangkah masuk ke dalam tanpa menghiraukan tamu-tamu mamanya. Dia pura-pura tidak melihatnya. Dengan santainya dia melewati para tamu yang tidak tahu diri itu dan menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Albert tidak sengaja melihat kedatangan Bela. Entah kenapa dia merasa sesak saat melihat Bela tidak berekspresi. Albert seolah-olah bisa merasakan kesedihan yang Bela rasakan.
Albert terus memandang ke arah tangga berharap Bela akan turun. Tapi kenapa dia berharap?.
"Albert.." Panggil Dyra membuat Albert terjingkat.
"Iya Kak?."
"Istirahatlah dikamar tamu! kenapa kau melihat terus saja melihat ke arah tangga?." Dyra merasa ada yang aneh dengan Albert.
"Tidak ada, aku akan ke atas." Albert bangkit dari duduknya. Dia menaiki tangga seraya memperhatikan setiap pintu kamar.
Dyra mengikuti dari belakang. Setelah Albert masuk ke kamarnya barulah Dyra masuk ke kamar Thomas. Coba tebak apa yang Dyra lakukan dikamar Thomas?.
⚡⚡⚡
Pagi ini Bela bangun kesiangan. Kalau bukan Aurel yang membangunkannya mungkin saja saat ini dia masih tidur. Sebenarnya Bela ingin tidur lagi tapi ada hal penting yang perlu didengarkan.
Dan disinilah semua orang berkumpul diruang tamu. Pengacara Arron datang untuk membacakan surat wasiat. Semua orang sangat antusias untuk itu tapi berbeda halnya dengan Bela. Dia sesekali menguap dan dilihat dari ekspresinya, Bela sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkannya. Terlebih lagi Bela masih menggunakan baju tidurnya. Dia juga belum sempat mandi. Jangankan mandi, menyisir rambutnya saja tidak.
Pengacara mulai membacakan isi surat wasiatnya. Semua orang memasang telinga mereka. Sedangkan Bela malah sibuk menganalisis ekspresi wajah mereka.
Cih, tamu mama sungguh tidak tahu diri. Ini bukan urusan mereka tapi kenapa mereka ikut mendengarkan ini semua. Ah aku lupa mereka juga mengincar harta kakakku.
Secara tidak sengaja mata Bela bertemu dengan mata Albert. Mereka saling bertatap mata hingga Albert memalingkan wajahnya.
"Jadi dengan kata lain, semua aset kekayaan Tuan Arron diberikan kepada pemilik Ryma Corp hanya 15% dari saham perusahaan yang diberikan kepada Nona Gabela. Sudah itu saja, jadi tidak ada bagian untukmu Nyonya Dyra." Jelas pengacara Herry.
"Tidak masalah, lagipula aku juga sudah mengurus perusahaanku sendiri." Dyra tersenyum kecut. Begitupun dengan Aurel, dia tampak sangat kecewa.
"Ini tidak adil. Bagaimana bisa mamaku tidak memperoleh 1% bagian pun? padahal mama telah merawatnya hingga besar." Aurel berdiri tiba-tiba dan menyampaikan pendapatnya.
"Aurel jangan ikut campur! pergi ke kamarmu!" Dyra mengusir Aurel agar tidak mengacau. Aurel semakin kesal, dia berlari ke kamarnya. Dan para tamu terhormat Dyra hanya diam tak percaya. Grace ingin tertawa sepuas hatinya namun dia tahan agar tidak mengacaukan suasana yang indah ini.
"Dan untukmu Nona Gabela, besok luangkan waktumu untuk mengunjungi kantor. Saya akan menunggu disana." Herry berdiri hendak berpamitan.
"Baik, saya pasti akan datang besok." Bela tersenyum manis.
"Saya pamit dulu." Herry membungkuk pada Bela.
Bela hanya menganggukkan kepalanya. Bela sangat senang melihat kepercayaan diri Dyra hancur didepan para tamunya yang terhormat.
__ADS_1
Kasian juga melihat mama gigit jari seperti ini. Haruskah aku menghancurkan harga dirinya juga?. Tidak Bela, mainkan dramamu disaat yang tepat. Pastikan dia hancur secara perlahan.
Bela tersenyum penuh kemenangan.