Family And Enemy

Family And Enemy
jangan percaya


__ADS_3

Dua bulan berlalu,


Hari ini Elvan libur sekolah. Bela membawanya pergi ke taman tanpa Albert. Terasa tidak lengkap tapi harus bagaimana lagi. Albert sibuk bekerja.


"Mom, Elvan ingin bermain disana." Elvan menunjuk pohon dengan daun yang berguguran.


"Pergilah, tapi jangan jauh-jauh." Bela mengizinkan.


Hari-hari sangat terasa baginya. Albert bersikap manis layaknya seorang suami. Bela merasa keluarganya sudah lengkap. Tapi mengapa masih ada rasa tidak percaya pada Albert?


Bela membuka ponselnya berniat untuk menghubungi Cindy. Tapi dia urungkan niatnya itu. Pasti sekarang Cindy sedang berkencan dengan sekretarisnya Theo. Bela khawatir akan mengganggu waktu berharga mereka.


Bela mendekati Elvan yang sedang mengumpulkan daun pohon. Bela berjongkok memunguti dedaunan kering juga. Hal kecil seperti ini bisa membuat Elvan bahagia.


"Elvan nggak lapar ya?"

__ADS_1


"Belum, tapi Elvan ingin makan eskrim."


"Iya nanti Mommy belikan." Bela mengusap rambut Elvan.


Dari kejauhan Bela melihat Alex bersama Vanya bergandengan tangan. Dadanya terasa sesak. Sudah lama tapi kenapa hatinya masih belum rela.


"Elvan, pulang sekarang yuk. Nanti toko eskrimnya keburu tutup." Elvan berhenti bermain dengan daun dan menggandeng tangan Bela. Kemudian mereka keluar dari area taman.


Alex juga melihat Bela. Dia ingin menghampirinya tapi mengingat dia tidak sedang sendiri. Vanya sangat bahagia hari ini. Besok mereka akan menikah. Menjalani hidup baru bersama pasangan. Melupakan masalalu dan fokus ke masa depan. Itulah yang dipikirkan mereka. Alex, Vanya, Bela dan Bryan.


Bryan? Dia kembali ke London lagi untuk melanjutkan studynya. Mungkin setelah Aurel kembali dari penjara dia juga akan kembali.


Bela baru sampai dirumah. Kebetulan Albert pulang lebih dulu darinya. Membuatkan teh untuk Albert setelah dia pulang kerja sudah menjafi kebiasaan barunya.


"Minumlah selagi masih hangat." Bela meletakkan teh di meja.

__ADS_1


"Iya, aku akan meminumnya segera. Apa besok kau ada pekerjaan?"


"Kurasa tidak. Tapi besok aku ada janji dengan Theo. Membahas pembangunan Mall itu. Yeah, kurasa tidak akan lama. Memangnya kenapa?"


"Tidak ada, hanya kakak tertuaku bebas dari penjara. Ayahnya Aurel." Albert meminum teh hangatnya. Kenapa Albert berbohong? padahal Ayahnya Aurel sudah bebas dua bulan yang lalu.


"Owh, ngomong-ngomong soal Aurel sudah dua bulan ini aku tidak mengunjunginya. Aku juga belum mengunjungi Mama."


"Kenapa kau masih memanggilnya begitu? Dan jangan pernah mengunjungi dia lagi. Aku tidak suka." Albert meninggalkan Bela diruangtamu.


Kenapa aku tidak boleh mengunjunginya? Kenapa dia sangat sensitif? pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Bela membatin.


Rasa tidak percaya pada Albert kembali muncul. Padahal sudah dua bulan ini Bela merasa kalau dia sudah mulai tumbuh perasaan pada Albert. Berharap rumahtangganya senormal rumahtangga orang lain. Harus Bela akui hatinya cepat sekali berpaling tapi masih ada keraguan.


"Jangan percaya pada siapapun, termasuk suamimu." Seketika Bela teringat dengan perkataan Theo.

__ADS_1


"Aku harus bicarakan ini dengan Kak Cindy. Malam ini aku akan makan malam dengannya, tentunya dengan ijin suamiku." gumannya tanpa ada yang mendengar.


"Ah, sekarang aku merindukan Kak Elli dan Kak Sena. Tanpa mereka aku bukan apa-apa."


__ADS_2