
Hari ini Bela ke kampus bersama Alex. Pagi-pagi sekali Alex sudah menjemputnya bahkan Bela masih tidur. Wow sepertinya Alex semangat sekali.
Setelah Bela selesai kelas, dia pergi ke kantin dengan Mayleen. Ngomong-ngomong soal Mayleen, tadi malam dia baru balik dari luar kota. Dia mendengar berita tentang Bela, lalu dia memutuskan untuk mempercepat pekerjaannya dan segera pulang. Bahkan tadi saat melihat Bela, dia langsung berlari memeluknya.
"Bel, aku merindukanmu." Mayleen memeluk lengan Bela.
"Hmm"
"Sungguh aku khawatir saat kak Alex bilang kau hilang." Mayleen mengerucutkan bibirnya.
"Sejak kapan kau memanggil Alex dengan embel-embel kakak?" Bela duduk di bangku yang kosong.
Mayleen hanya diam. Dia berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Aku akan pesankan minum dulu." Myleen sengaja menghindari pertanyaan dari Bela.
Aduh, keceplosan.
Mayleen memukul pelan mulutnya sendiri.
Kenapa dia menghindari pertanyaanku? Apa yang sedang dia sembunyikan dariku?
Bela membatin.
Tidak lama kemudian, Mayleen membawa 2 gelas lemon tea.
"Ini milikmu." Mayleen meletakkan segelas lemon tea didepan Bela.
"Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" Bela meraih minumannya lalu meminumnya pelan.
"Nggak ada." Terlihat dari raut wajahnya, Myleen sedang gugup.
"Jangan berbohong padaku."
"Sebenarnya Alex maksudku kak Alex itu sepupuku."
uhukk uhukk
Bela memukul dadanya sendiri. Setelah mendengar pengakuan Mayleen Bela langsung tersedak air. Betapa menyakitkannya tersedak air.
"Bel, kau kenapa?" Mayleen langsung panik.
"Kau sepupunya Alex?" Nada bicara Bela sedikit keras.
"Jangan keras-keras." Mayleen membekap mulut Bela.
Bela langsung menyingkirkan tangan Mayleen dari mulutnya.
"Kau serius sepupuan sama kadal mesir itu?" Bela sungguh tidak percaya.
"Kadal mesir? Sedekat itu kau dengan kak Alex hingga mempunyai panggilan spesial."
"Panggilan spesial? Spesial apanya? Spesial pakai telur?" Bela kembali menyeruput minumannya.
"Dikira kak Alex martabak kali ya." Mayleen terkekeh.
Bela memperhatikan sekelilingnya dia sadar bahwa sedari tadi sangat ramai tapi mendadak semua terdiam. Bela merasa deja vu. Dia sudah tidak asing lagi dengan suasana seperti ini.
"Hah, pantesan sepi."
"Kenapa?" Mayleen mengikuti arah pandangan Bela.
Alex dan 2 temannya datang dengan gaya coolnya. Dimata orang lain Alex sangatlah keren tapi tidak dimata Bela. Alex biasa-biasa saja sama seperti yang lainnya.
__ADS_1
"Bos duduk disana aja." Arvin menunjuk tempat duduk yang diduduki oleh Bela dan Mayleen.
Alex berjalan menuju meja Bela. Semua meja kantin telah penuh tidak ada yang tersisa. Satu-satunya meja yang kosong hanya meja Bela. Biasanya satu meja kantin dapat ditempati hanya 4 orang saja.
"Geser!" perintah Alex pada Bela.
"Ck, nyusahin." Bela menggeser tubuhnya.
"Siapa yang nyusahin?"
"Pikir aja sendiri." Bela kembali menyruput minumannya yang hampir habis.
"Eh ada Mayleen. Hallo mei." Arvin melambaikan tangannya didepan wajah Mayleen.
"Hai, duduk sini Bang." Mayleen menepuk bangku di sampingnya yang kosong.
"Oke." Arvin duduk disamping Mayleen.
Ni anak kenapa wajahnya berseri-seri. Ada perasaan deh kayaknya. ~ Bela
Ni anak berulah lagi. Harusnya nggak gue suruh pulang tadi. Awas kalau sampai bikin Mayleen galau lagi. Gue terbangin ke Afrika Selatan. ~ Alex
Aduh, jadi dag dig dug kan deketan sama Mayleen. Mana makin cantik lagi. ~ Arvin
Jangan grogi mey. ~ Mayleen
Mereka hanya diam, kalut dengan pemikirannya masing-masing.
"Kalian nyaman seperti ini?" Bela merasa tidak nyaman. Dia merasakan sesuatu yang memperhatikannya
"Aneh juga sih." Alex menoleh pada Bela.
"Bgaimana kalau pindah tempat ke cafe dekat perempatan. Disana ada menu baru." Mayleen memberi saran.
"Boleh juga."
"Kak Al?"
"Oke."
"Yaudah, Mayleen ikut sama aku." Arvin menggandeng tangan Mayleen pergi duluan.
"Tu anak cari kesempatan ya?" Bela menebak.
"Ya begitulah." Alex menghela napas.
Kemudian mereka beriringan keluar kantin. Kepergian mereka masih menyisakan banyak pertanyaan diantara banyak penghuni kantin.
Arron sedang sibuk dengan pekerjaannya. Banyak rencana proyek yang harus dia setujui. Dia bekerja sangat keras, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan lalu pulang. Dia belum menemui Bela.
Tok..Tok..Tok
Sekretarisnya mengetuk pintu.
"Masuk."
"Maaf pak, ada seorang wanita yang mengaku sebagai kekasih anda."
"Suruh masuk dan jangan halangi dia."
"Baik pak." Sekretaris Arron keluar ruangan.
__ADS_1
Tidak lama setelah kepergian Sekretarisnya, seorang wanita cantik masuk dengan membawa kotak kado.
"Sudah kau lakukan apa yang ku minta?" Arron membuka kotak kado itu. Ternyata itu kotak kado kosong. Dia memasukkan beberapa lembar kertas yang tulisannya tidak bisa dibaca.
"Sudah, Pak. Saya sudah melakukan semua yang bapak minta." Wanita cantik itu mengangguk. Dia membungkus kembali kotak kado yang dia bawa.
"Bagus. Sisanya tergantung masa depan." Arron menghadap kaca jendela. Dari kaca itu terlihat hampir seluruh kota.
"Tapi saya tidak mengerti, Pak."
"Pikirkan saja, mana ada orang yang diam saat seseorang akan membongkar rencana buruknya dan kebusukannya."
"Maksudnya apa, Pak? Nyonya Dyra akan berusaha menyelakai bapak begitu?"
"Mungkin saja. Dia hanya mengincar harta warisan ayah. Sementara itu harta warisan ayah sebagian besar diberikan kepada Bela. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat semua itu pindah ke tangannya. Termasuk menyelakaiku. Aku yang selalu melindungi Bela. Dia akan menyingkirkan orang yang dekat dengan targetnya dulu baru sang target itu sendiri." Arron menjelaskan panjang×lebar pada wanita itu.
"Pak, apapun yang akan terjadi, saya tidak akan membiarkan bapak celaka."
"Jagalah dirimu sendiri! Ingat masih ada tugas yang harus kau laksanakan." Arron memegang pundak wanita itu.
"Baik, Pak. Saya mohon undur diri." Wanita itu membungkuk memberi hormat.
"Ingat, tetap lakukan aktingmu."
"Siap, Pak." Wanita itu menghilang dibalik pintu.
Dari dalam samar-samar terdengar sekretaris Arron yang sedang bertanya.
"Nona, anda kenapa menangis?"
"Kau tidak dengar tadi? Dia memutuskanku." Ketus wanita yang tadi lalu pergi keluar. Sekretaris Arron hanya diam tidak mengerti.
Arron tertawa pelan.
Ya iyalah nggak dengar. Ruangan ini khusus kubuat kedap suara tapi tetap terdengar dari dalam.
------------------------------------
Kembali ke Bela.
Mereka baru sampai di cafe. Mayleen keluar dari mobil Arvin. Sedangkan Bela dia ditatih oleh Alex. Sepertinya terjadi sesuatu pada Bela hingga dia sudah berjalan.
"Bel, kenapa kau pincang begitu perasaan tadi masih jalan normal?" Mayleen selalu menyadari hal-hal kecil yang bahkan mungkin orang tidak bisa menyadarinya.
"Tanyakan itu padanya." Bela menunjuk Alex dengan dagunya lalu melepaskan tangannya dari tangan Alex dan masuk cafe meninggalkan mereka.
"Bel jangan tinggalkan aku." Mayleen berlari kecil menyusul Bela.
Arvin mendekati Alex.
"Bos, lo apain anak orang?"
"Nggak gue apa-apain." Jawab Alex datar.
"kalau nggak diapa-apain, kenapa sampai pincang gitu?"
"Lo suka sama dia, Bos?"
"Ehem, boleh dong Mayleen sama gue."
"Jangan deketin sepupu gue. Kalau lo macam-macam, gue terbangin ke Afrika Selatan." Ancam Alex.
"Bos, lo kok nggak adil gitu sih." Arvin memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Alex berjalan dengan santai tanpa menghiraukan Arvin. Dia sungguh muak dengan kelakuan Arvin yang menurutnya menjengkelkan itu.