Family And Enemy

Family And Enemy
beraksi 2


__ADS_3

Bela dan Sheila melompat ke lantai paling atas Red Bank melalui gedung disampingnya. Ditengah malam seperti ini tidak ada yang menjaga. Tidak aneh hanya saja mereka percaya diri tidak ada yang akan mengambil uang mereka.


"Tidak ada penjaga tapi masih banyak mata digital yang memantau." ujar Sheila.


"Tunggu Kak Cindy mematikan cctvnya." Sheila mengangguk mendengarkan Bela.


Cindy datang bersama Theo tanpa memberi tahu Bela. Dia meninggalkan putrinya bersama Ben di Thailand.


"Semua sudah siap," suara Cindy terdengar melalui earphone ditelinga Bela.


"Ayo, "


Sheila dan Bela mulai bergerak. Mereka masuk lewat jendela dilantai atas. Desain bangunan ini sangatlah aneh. Hanya ada beberapa pintu dan jendela. Banyak loker dan juga lemari kaca untuk menyimpan berlian mereka.


"Kakak, ada 150 loker disini. Aku merasa aneh, mengapa mereka menghapus rekening dan menaruh uangnya diloker?"


"Sheila, kau tidak aneh. Mereka saja yang bodoh." Bela fokus membuka loker pertama.


Tidaklah sulit membuka lokernya. Hanya perlu sandinya saja. Dan Bela tidak perlu bekerja keras untuk itu. Dia megandalkan Cindy.

__ADS_1


"Loker nomer 12 dengan password 44869152."


Bela membuka loker sesuai dengan apa yang dia dengar dari Cindy. Dan berhasil.


Sheila membuka tas yang sudah dipersiapkan untuk membawa uangnya. Lalu Bela mengambil separuh uang dari loker. Begitu seterusnya hingga 10 loker. Memang tidak semuanya tapi Bela sudah memastikan kesebelas loker tersebut milik orang-orang yang paling kaya diantara yang lain dan juga orang-orang yang membantu Thomas melakukan ketidakadilan.


"Kak, kenapa lampu tiba-tiba mati?" Sheila kaget karena seluruh penerangan padam secara tiba-tiba.


"Tuan Theo yang memadamkannya." Suara Cindy terdengar.


"Tenanglah, ini untuk memudahkan kita."


"Aman seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi kenapa listriknya padam?" Laki-laki berumur 30 tahunan itu mengarahkan senternya pada etalase.


"Ah, gara-gara si tua itu kita jadi tidak tidur sekarang. Tidak ada yang akan mencuri uangnya. Mendingan kita tidur dilantai bawah." laki-laki yang lebih muda darinya menyeretnya keluar untuk melanjutkan tidur.


Bela dan Sheila bernapas lega. Barusaja mereka menahan napas agar tidak ketahuan.


"Kukira kita akan tertangkap," Sheila keluar dari bawah meja bersama Bela.

__ADS_1


Mereka melanjutkan aksinya mengambil berlian yang tersimpan rapi di etalase. Total ada 15 berlian yang mereka ambil. Jika dijual pasti harganya sangat fantastis.


"Sudah, mari kita pergi dari sini. Ini sudah cukup berat, Kak." Sheila kesulitan membawa tasnya.


Mereka membawa tas ransel berisi uang dan berlian dipunggung mereka. Sampai diatap, mereka berlari sekuat tenaga lalu melompat ke gedung disamping Red Bank yang tingginya setara. Gedung itu tidak terpakai dan tidak terawat. Terkesan horor tapi mau bagaimana lagi itu satu-satunya jalan mereka.


Bulu kuduk mereka berdiri ketika turun ke lantai bawah. Mereka menahan hawa dingin yang menyelimuti gedung itu. Barulah mereka bisa bernapas lega ketika sudah sampai di mobil.


"Gila, gedung yang ini lebih serem dari omelannya Tante Maya." Bela melepas penutup kepalanya.


"Kita kemana?"


"Hmm, ke apartemen Kak Cindy saja. Disana banyak ruang rahasia yang tidak diketahui orang selain aku dan kak Cindy sendiri."


"Baiklah," Sheila mengemudikan mobilnya menuju apartemen Cindy. Setelah sampai diparkiran bawah tanah, mereka mengganti nomer plat mobil mereka dengan yang asli. Tadi mereka menggunakan plat mobil yang palsu.


"Jadi kita aman. Disini tidak ada cctv. Hanya ada dibagian depan." Bela melepas jaket hitamnya.


.........

__ADS_1


__ADS_2