
Elvan membuka matanya. Air matanya terus menetes. Dia tidak tahu kenapa dia menangis. Suara itu sangat mirip dengan suara Mommynya. Elvan semakin terbawa suasana. Dia beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar. Turun dari tangga dan matanya terpaku pada wanita berambut sebahu yang duduk disofa.
"Elvan, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Aurel yang melihat Elvan menuruni tangga.
"Minum obatmu secara teratur. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali." Ucap Albert sambil meminum segelas kopi.
"Iya Ayah, " Elvan masih terpaku dengan wanita didepan Ayahnya.
"Terimakasih, kalau anda tidak datang tepat waktu mungkin saya dalam bahaya." Aurel tersenyum manis pada Oliv.
"Elvan, ini Tante Olivia orang yang menolongmu tadi." Albert memperkenalkan Oliv pada Elvan.
Elvan melihat Oliv begitupun dengan Oliv. Mereka saling bertatapan.
Deg
Jantung Elvan serasa berhenti sesaat. Mata yang sama dengan milik Mommynya.
"Tenangkan dirimu, Mommy tidak akan meninggalkanmu lagi." Kata-kata itu kembali terdengar ditelinganya.
Elvan menyadari bahwa wanita yang tengah duduk disofa ini memang Mommynya. Rasanya dia ingin memeluknya seerat mungkin dan tidak akan dia lepaskan. Tapi dia sadar jika nanti dia memeluknya tiba-tiba, Ayahnya akan tahu dan akan melenyapkan Mommynya seperti yang dulu. Elvan tidak mau itu terjadi. Jadi dia harus bersikap biasa saja didepan Ayahnya.
"Senang bertemu denganmu, Tante Oliv." Elvan tersenyum.
Oliv juga tersenyum. Rupanya Elvan sudah bisa mengerti posisinya. Lambat laun mereka pasti akan bisa hidup bersama lagi. Hanya perlu sedikit usaha lagi.
"Duduklah bersamaku, " Oliv menepuk sisi kosong disampingnya. Dengan senang hati Elvan duduk disamping orang yang selama ini dia rindukan.
"Jangan telat minum obatmu. Jaga emosimu, jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat." Oliv mengusap pucuk kepala Elvan.
"Tante, bisakah tante jadi Mommyku?"
Albert yang tengah meminum kopimya langsung tersedak. Pertanyaan macam apa yang baru dia dengar.
"Elvan, jangan bertanya yang tidak-tidak." ucapnya dengan marah.
"Tidak apa-apa, anda tidak perlu memarahinya. Diusianya yang masih muda dia perlu kasih sayang seorang ibu. Jika memang dia menginginkannya, saya bisa dan saya tidak keberatan." ucapnya agar Elvan tidak dimarahi oleh Albert.
__ADS_1
"Tapi itu berlebihan."
"Tidak sama sekali. Saya pernah menjadi seorang ibu. Jadi saya sama sekali tidak masalah."
"Maaf merepotkanmu." Albert menunduk, malu dengan dirinya sendiri.
.........
Thomas menikmati keberhasilannya saat ini. Hingga sebuah kabar menghancurkan kegembiraan.
"Siapa yang berani bermain-main denganku? Aku akan mencarinya sampai dapat." Dia meremas laporan keuangan yang baru dia terima hari ini.
"Maaf Tuan, tidak ada bukti yang tertinggal di tempat kejadian. Cctv juga mati saat kemarin malam. Jadi sulit untuk kita mengetahui pencurinya." ujar salah satu orangnya.
"Kalian sebenarnya bekerja atau tidak? Hanya menangkap satu pencuri saja tidak bisa?" Thomas mendekati orangnya.
"Maaf Tuan, kami akan mencoba mencari bukti lain. Saya permisi, " Dia tahu bahwa atasannya sedang marah. Dia mengundurkan diri sebelum bahaya menyerangnya.
"Sial, pencuri itu sangat cerdik. Aku harus memberinya umpan agar dia bisa segera tertangkap." Albert merogoh sakunya mengambil ponselnya. Dia menelpon seseorang.
"Sudah waktunya kau kembali, Nak. Pulanglah, Ayah membutuhkan bantuanmu."
"Baiklah, Ayah menunggumu." Albert memutus sambungan telponnya. Siapa yang barusaja dia telpon?
..........
Alden tidak pulang sama sekali. Aurel sudah putus asa dalam menasehati Ayahnya untuk berhenti bermain perempuan dan fokus dengan perusahaannya. Bahkan sekarang kedua perusahaan besar itu bangkrut dalam waktu yang bersamaan. Albert juga tidak ingin mengambil alih semua itu. Dia sedang berfokus dalam mengembangkan perusahaan miliknya sendiri yang berjalan dibidang makanan.
"Paman, sekarang bagaimana?" Aurel diliputi oleh kecemasan yang entah darimana datangnya.
"Sudah bangkrut maka biarkan saja. Apa boleh buat?" Ya, Albert tidak peduli sama sekali.
"Bukan itu,"
"Lalu apa?"
"Kenapa Ayah belum pulang?" Aurel meremas ujung bajunya.
__ADS_1
"Itu sudah biasa, setiap hari dia juga tidak pulang. Pasti dia sedang menghabiskan waktu dengan para wanitanya itu." Albert membaca majalah bisnis yang ada di meja.
Meskipun begitu, Aurel tetap mengkhawatirkan Alden.
"Lebih baik kau menonton film atau apa sana."
Membicarakan film, Albert kembali teringat pada Oliv. Senyumnya yang menawan tutur katanya yang manis membuat Albert selalu terbayang-bayang.
"Tidak sama sekali. Saya pernah menjadi seorang ibu. Jadi saya sama sekali tidak masalah."
"Apa dia pernah menikah?" gumamnya tanpa bisa didengar oleh siapapun.
..........
Oliv memasuki kamar Sheila. Dia berniat mengajaknya makan diluar. Tapi dia terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang.
Foto-foto Alden bersama beberapa wanita yang diambil tanpa sepengetahuan orangnya. Disalah satu foto terdapat tanda silang warna merah di wajah Alden. Oliv tahu apa maksudnya.
"Kakak, kapan kakak masuk kesini?" Sheila keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.
"Apa ini?" Oliv mengambil foto Alden yang menempel didinding.
"KAKAK TANYA, APA INI!!" Oliv berteriak. Matanya merah menahan amarah.
Sheila tertawa, "Kalau Kakak tahu, kenapa Kakak bertanya?" Dengan raut muka yang datar.
Oliv mencek*k leher Sheila dan mendorongnya hingga punggungnya terbentur ke dinding.
"Jangan macam-macam. Jangan membuat dirimu dalam kesulitan. Cobalah mengerti aku,"
Sheila melepaskan tangan Oliv dari lehernya secara kasar.
"Kakak yang harusnya mencoba mengerti aku. Aku tidak pernah melihat Ayah maupun ibuku. Rasa rindu yang menggebu membuat aku hilang akal. Dan apa Kakak pikir setelah tahu siapa pembunuh orang tua kita, Aku akan diam? Tidak, aku tidak akan diam dan hanya melihat. Sebelum aku melenyapkan mereka aku belum bisa puas. Aku akan melenyapkan mereka semua. apa Kakak dengar? AKU AKAN MELENYAPKAN MEREKA SEMUA."
"Beginikah sifatmu yang sebenarnya? Kau bukan adikku. Aku tidak punya adik yang seperti iblis." Oliv meninggalkan Sheila sendiri didalam kamar.
"Siapa yang berubah menjadi peri ketika orang yang mereka sayang terbunuh oleh orang-orang yang serakah?" Sheila merobek foto Alden.
__ADS_1
Itu adalah sebuah pertengkaran kecil antara adik dan kakak yang sedang berbeda pendapat dan sifat.
Jangan pelit likenya. Author sayang kalian banyak-banyak.