
Aurel duduk di atas ranjangnya sembari memperhatikan beberapa lembar foto. Pupil matanya bergetar seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Orang yang selama ini dia pikir setia ternyata menusuknya dari belakang. Awalnya dia sedikit tidak percaya dengan desas desus yang beredar. Tapi sekarang dia melihat sendiri bagaimana kelakuan Bryan di London.
Tangan mengepal ingin sekali membunuh Bryan untuk membalas rasa sakitnya. Untuk apa dia mempertahankan orang yang sudah menghianatinya?
"Aku harus segera menyelesaikan hubungan ini," gumamnya sembari melepas cincin pertunangannya.
"Setelah ini akan kubuat Bela juga merasakan seperti apa yang kurasakan. Aku kehilangan Bryan dia juga harus kehilangan Alex." Sambungnya.
⚡⚡⚡
"BELAAAAAAAAA," Sena memanggil nama Bela layaknya tarzan.
"Apaan sih? gendang telingaku jebol ini." Elli menutup kedua telinganya.
"Bela mana?"
"Tadi baru pulang belanja sama Alex terus dijemput sama Theo. Kenapa emangnya?"
"Ada berita bagus hari ini." Sena duduk disofa sambil menyilangkan kakinya.
"Berita apaan?" Elli memutar bola matanya jengah. Setiap kali Sena mendapat informasi selalu informasi yang tidak penting.
"Besok lusa akan ada pengiriman sejumlah uang dari Royal Village ke Orchid Club. Itu uang hasil penggelapan dana perusahaannya Theo. Jadi yang aku mau tanyakan itu, kita turun tangan atau tidak?"
Elli berpikir sejenak, kalau mereka ikut campur untungnya apa kalau tidak ruginya apa.
"Tanya aja ke Bela nanti,"
"Sebelum kita pergi, kita perlu menjamin keselamatan Bela. Sayang sekali kita tidak bisa menemani Bela lebih lama lagi."
"Kita tidak perlu cemas, ada Theo yang akan melindunginya. Tapi kalau kita tidak yakin kita bisa menolak tawaran itu, Sen. Aku rasanya juga tidak ingin meninggalkan Bela." Air keluar dari sudut mata Elli.
"Tolong istirahatlah," pinta Bela pada Jake yang terus memohon untuk diizinkan pergi.
"Tidak, aku harus melenyapkannya."
"Pak, saya mohon anda memulihkan diri dulu. Baru setelah itu anda bisa membalaskan dendam."
"Kenapa orang tua ini keras kepala sekali," bisik Albert pada Theo.
"Namanya juga orang tua, kalau kau sudah tua kau juga akan jadi seperti itu juga."
__ADS_1
"Diam," ketus Bela pada dua orang itu.
"Kepalaku jadi pusing." Theo memegang keningnya.
"Suster, suntikkan obat penenang padanya."
"Baik Tuan Albert," suster langsung mengambil alat suntik beserta obatnya. Setelah beberapa saat barulah Jake bisa tertidur dengan paksa tentunya.
Dirumah, Dyra sedang mondar mandir didepan pintu menunggu kepulangan Bela. Tidak biasanya Dyra menunggu kepulangannya. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dyra.
"Dimana anak sialan itu?" Gumamnya.
Mobil Bela memasuki pekarangan rumah. Dyra bernapas lega.
"Mama kenapa?"
"Kalau pulang itu jangan larut malam. Anak cewek pulangnya jam segini bikin malu." Setelah mengatakan itu Dyra pergi ke kamarnya. Keringat dingin bercucuran didahinya.
Bela merasa aneh dengan Mamanya. Tidak biasanya dia marah karena telat pulang.
"Semoga besok lancar-lancar saja. Tidak ada halangan apapun." Tangan Dyra gemetaran.
⚡⚡⚡
"Apa kau yakin?"
"Setelah kau pergi dia menjadi orang yang dingin dan tak tersentuh. Kelihatannya dia sangat menderita. Tapi sekarang dia sedang dekat dengan saudara tiriku. Aku takut dia hanya dimanfaatkan olehnya. Saudara tiriku itu sangat licik. Setelah dia bosan dia akan membuangnya bagaikan sampah." Mulut Aurel serbaguna ternyata. Bisa jadi madu serta bisa jadi racun.
"Terserah padamu, aku hanya memberitahumu. Jika kau tidak ingin Alex terluka lagi maka kembalilah dan miliki kembali apa yang menjadi milikmu." Aurel meraih tasnya dan masuk ke mobilnya. Dia yakin Vanya akan termakan oleh cerita palsunya.
"Aku menyesal telah meninggalkanmu dan sekarang aku akan memilikimu lagi. Akan ku sembuhkan luka yang pernah kubuat dulu." Dan yap, Vanya memakan umpan yang dilempar Aurel. Mungkin jika Aurel berprofesi menjadi pemancing ikan pasti dia mendapat ikan yang banyak.
Keesokan harinya Bela ke kampus seperti biasa. Hari ini dia sangat bersemangat.
Diparkiran dia bertemu dengan Alex dan Arvin. Mereka berencana untuk makan siang bersama. Tiba-tiba ada Vanya berlari dan memeluk Alex dari belakang. Sontak membuat Alex serta yang lain menjadi kaget.
"Aku merindukanmu, sayang." Pelan namun bisa didengar oleh semua orang tak terkecuali Bela.
Jantung Alex berhenti berdetak. Perlahan dia berpaling ke belakang dan menatap gadis yang memeluknya. Alex sangat merindukan Vanya. Senang rasanya bisa bertemu dengan gadis yang selama ini membuatnya merasa terluka disetiap napasnya.
"Aku juga merindukanmu," gumamnya lalu memeluk Vanya erat sampai tidak ingin dilepas. Alex bahkan tidak menyadari bahwa Bela masih ada disitu.
__ADS_1
Arvin tercengang begitupun Bela. Rasa sesak didadanya mampu mematikan seluruh saraf tubuhnya. Dia bernapas saja tidak terasa.
"Vin, ayo kita pergi. Biarkan mereka mengobati kerinduan mereka." Bela menarik tas Arvin dan menjauh dari dua orang yang tengah berpelukan itu. Aurel tersenyum penuh kemenangan di dalam mobil.
"Bagaimana rasanya?" gumamnya sambil tertawa.
Arvin dan Bela duduk disalah satu bangku di kantin. Bela sengaja memesan jus alpukat untuk mengganjal perutnya.
"Bel, kau baik-baik saja?" tanya Arvin.
"Ya, hanya lapar sedikit saja."
"Aku tahu kau berbohong. Lebih baik kau melepaskan Bang Alex." Arvin tahu benar jika Alex sangat mencintai Vanya.
"Itu yang sedang aku lakukan," Bela kembali meminum jusnya.
"Aku tahu kau kuat. Dan maaf aku tidak bisa menjadi temanmu lagi karena aku akan kembali ke Canada sore ini."
"Kenapa mendadak sekali?"
"Maaf, aku berfikir untuk segera pulang. Mayleen juga sudah tidak ada disini jadi untuk apa aku tetap disini?"
"Mau kuantar ke bandara?" tawar Bela.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Bela mengangguk. Dari kejauhan dia melihat Alex dan Vanya berjalan ke arah meja mereka. Bela berpura-pura tidak melihatnya.
"Aku ada kelas," pamitnya pada Arvin. Bela berjalan dengan santai. Bahkan dia biasa-biasa saja saat berpapasan dengan Alex.
Aku menemukan setitik kebahagiaan tapi kau mengubahnya menjadi luka yang sangat terasa. Kata Bela dalam hati. Hatinya rapuh untuk kesekian kalinya.
"Hai Arvin," sapa Vanya.
Arvin tidak membalas sapaan Vanya. Dari awal memang dia tidak begitu menyukai Vanya. Setiap harinya Vanya selalu membuat Alex terluka. Itu yang tidak dia sukai.
"Bela kemana tadi?" tanya Alex. Dia baru menyadari kalau Bela menyaksikan pelukannya bersama Vanya di parkiran.
Arvin berdiri dan berbisik di telingan Alex.
"Jangan egois, pilihlah salah satu dari mereka. Bela sangat terluka jangan menambah lukanya lagi. Segeralah putuskan dia. Oh iya, sore ini aku akan terbang ke Canada. Sampai jumpa dilain hari," Arvin tersenyum penuh arti. Perpisahan yang sangat berkesan.
__ADS_1
"Aku akan pergi," Arvin perlahan melangkahkan kakinya.
Alex menyesali perbuatannya. Kelemahan terbesarnya adalah hatinya telah bercabang. Dan dia tidak bisa memilih antara Bela dan Vanya.