Family And Enemy

Family And Enemy
Terlalu licik


__ADS_3

Theo menyiapkan berkas-berkas peralihan perusahaannya. Hanya ini yang bisa dia gunakan untuk bernegoisasi dengan Alden.


Kemudian dia mengendarai mobilnya seorang diri ke sebuah gedung bekas yang tidak terpakai.


"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Alden yang duduk di sofa.


"Aku ingin bernegoisasi."


"Negoisasi? HAHAHAHAH," Alden tertawa terbahak-bahak.


"Aku serius," Theo meletakkan map berisi berkas di atas paha Alden.


"Apa ini?"


"Perusahaanku milikmu sekarang. Jadi biarkanlah Bela hidup bersama Albert. Biarkan dia hidup bahagia."


"Hmm, baiklah. Aku terima ini." Alden tersenyum penuh kemenangan. Rupanya Theo datang sendiri kehadapannya dan mrmberikan apa yang dia inginkan.


"Kalian, " Alden memanggil beberapa orang yang sudah berdiri dibelakang Theo.


"Bereskan dia,"


"Baik bos!!" beberapa orang berbadan tegap itupun langsung mengeroyok Theo.


"Kita sudah membuat kesepakatan tapi kenapa kau melakukan ini padaku!!" Theo berusaha melindungi dirinya sendiri.


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Ibumu melenyapkan istriku dan Arron kakakmu itu juga melenyapkan adikku dan suaminya. Kau pikir hartamu bisa menebus itu?" Alden berapi-api.


"Kenapa kalian limpahkan kesalahan masalalu ke kita? bukankah mereka juga sudah tiada. Melenyapkanku tidak akan menghidupkan mereka kembali." Theo bertahan meskipun orang-orang itu memukulinya hingga babak belur.

__ADS_1


"Kau benar, tapi garis keturunan Damarion harus lenyap. Ya memang tidak akan menghidupkan mereka tapi kami puas hanya dengan itu. HAHAHH, " Alden tertawa seperti iblis.


"Lenyapkan dan buang dia ke jurang. Buat seolah-olah itu sebuah kecelakaan."


"Siap Bos,"


Alden pergi membawa berkas yang baru dia dapatkan dari Theo.


"Andai kau tahu, adikmu sudah menemui ajalnya. Dia akan berubah menjadi abu." gumamnya didalam mobil.


Theo terus bertahan. Meskipun napasnya mulai tidak terasa. Dia hanya ingat satu hal yaitu Bela. Bagaimana keadaannya.


"Dia sudah tidak bernapas." ucap salah satu dari mereka.


"Bawa dia dan mobilnya kepinggir jurang hutan bagian timur. Tidak ada yang akan menemukannya disana."


Boom!!


Muncul asap hitam. Sudah mereka pastikan mobil itu hancur. Mereka pergi bersama kelompoknya untuk mengambil upah dari perbuatan keji mereka.


..................


Albert menangis dibawah guyuran air shower. Tidak disangka dia melenyapkan orang yang dia cintai dan calon bayinya. Dia melakukan dosa besar yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Awalnya dia ingin menyerahkan Bela pada Alden karena dia tidak sanggup melukai Bela. Apalagi Bela sedang hamil anak pertama mereka. Tapi dia salah, tangannya sendirilah yang melenyapkan istrinya.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Albert memukul dadanya berulang kali. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri.


Albert sudah sedikit tenang setelah menangis dibawah guyuran air. Kini dia tengah membakar baju yang berlumuran darah yang tadi dia gunakan saat melenyapkan Bela. Dia menyingkirkan bukti yang ada.


Drrt Drrt

__ADS_1


Ponselnya berdering. Dia mengangkatnya.


"Halo, ada apa?"


"...."


"Iya, sampaikan pada Elvan jika Bela kabur dari rumah. Aku sudah mencarinya tapi sampai pagi begini belum kutemukan."


Dia memutuskan sambungan teleponnya. Baru saja pengasuh Elvan yang baru menghubunginya dan menanyakan apakah hari ini Elvan akan pulang atau tidak.


"Bagaimana caraku menyakinkan Elvan? Aku takut dia akan seperti sebelumnya atau bahkan lebih buruk."


...^^^.........^^^...


Alden berada di club bersama Grace. Dia menghabiskan waktunya bersama Grace semalaman.


"Kau tahu, orang yang menjadi dalang masalah ini adalah Thomas. Kalau bukan karena ketamakannya Satya tidak akan tiada. Dan Dyra, wanita itu terbuai oleh sentuhan laki-laki gila itu. Ah aku merasa kasihan sekali keluarganya hancur. Oh ya, tinggal beberapa bulan lagi Aurel akan bebas. Kuharap kalian bisa hidup bahagia." Grace terlalu banyak bicara.


"Ya kuharap begitu, tapi bagaimana caraku menyingkirkan Thomas dari hidupku?"


"Jangan sekarang, kau harus sabar sedikit. Aku sarankan kau menjalin hubungan dengan Victoria. Dia wanita yang sangat baik. Dia juga korban dari janji manis Thomas."


"Apa maksudmu dia melenyapkan suaminya karena Thomas?"


"Dia tidak melenyapkan suaminya. Thomaslah yang melenyapkannya. Hari itu dia menginginkan saham Light Entertaiment. Tapi suaminya Victoria tidak membukakan pintunya. Dia seperti iblis berwajah manusia. Berapa nyawa yang dia hilangkan demi uang." Grace mengunyah popcorn miliknya.


"Setelah Dyra dia akan mengincar Victoria. Sungguh dia wanita yang sangat baik meskipun ada sedikit kebodohan didalam dirinya." imbuhnya.


"Ya kita perlu sedikit bodoh untuk menghadapi orang yang terlalu licik." Alden tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2