
Sedari tadi Theo sangat tidak menikmati acara penyambutannya. Semangatnya luntur ketika asisten Bela memberi tahu jika Bela terlambat datang dan mungkin tidak ikut acara penyambutan.
Beberapa kali Theo menghela napas. Berharap acara yang tidak penting ini segera berakhir. Dia malas jika harus tersenyum dan menyapa para orang-orang yang serakah. Didepan mereka semua menyanjung dan membanggakan pimpinan mereka. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka berusaha menjatuhkan pimpinan mereka dan meraup banyak keuntungan dari perusahaan. Sungguh orang-orang yang tamak akan uang.
Theo juga tahu jika perusahaan ini penuh dengan para koruptor. Bahkan hampir semua petinggi perusahaan melakukan penggelapan dana perusahaan. Tapi anehnya tidak ada bukti untuk menyeret mereka ke penjara.
Tenang saja Arron, aku akan menyingkirkan tikus-tikus ini dari perusahaanmu. Theo tersenyum miring.
"Sudah cukup, terimakasih atas sambutannya. Saya merasa sangat terhormat." Theo berdiri dari duduknya.
"Kami yang merasa sangat terhormat bisa menjadi bawahan anda." Ucap salah satu petinggi perusahaan yang hadir.
"Kalau begitu kami mohon undur diri. Kami akan melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Sekali lagi kami mengucapkan selamat datang di GO Group." Semua orang yang hadir membungkuk memberi penghormatan sebelum keluar ruangan. Dan hanya tersisa 3 orang didalam ruangan. Dyra Theo dan asisten pribadi Theo..
"Putraku memang tidak salah memilihmu sebagai pengganti dirinya. Sekarang anda sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Saya berharap anda tidak keberatan jika nantinya saya memperlakukan anda selayaknya putra saya sendiri." Dyra tersenyum penuh ketulusan.
Cih, putramu? apa kau ingin membunuhku juga seperti kau membunuh Arron?
"Tentusaja tidak, Nyonya Dyra." Theo yang masih minim ekspresi.
"Putri saya ingin bertemu dengan anda. Apakah anda ada waktu luang?" Dyra terlihat sedikit canggung.
"Nona Gabela? tapi dia akan kesini nanti."
"Bukan dia tapi putri saya yang lain."
"Sebenarnya anda punya berapa putri?" Theo tertawa ringan.
"Saya hanya mempunyai 2 putri. Itu harta yang paling berharga bagi saya." Terdengar seperti Dyra sangat terpaksa mengatakan itu dan itu memang benar dia terpaksa.
"Owh, bagaimana kalau makan malam dikediaman anda? saya sudah lama sekali tidak makan masakan rumahan." Theo memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Baiklah, kami akan menyiapkannya. Maaf saya harus pergi. Satu jam lagi saya ada meeting penting dengan client." Dyra berpamitan.
"Silahkan." Theo memberi jalan.
Dyra pergi dengan senyuman. Tidak ada yang tahu dibalik senyuman itu ada sebuah rasa ketidaksukaan terhadap Theo. Mungkin Dyra telah menyusun rencana untuk menyingkirkan Theo dan memgambil alih perusahaan Arron.
Aku akan mengikuti caramu bermain. Theo tersenyum.
"Tuan, sepertinya Nona Bela sudah menunggu di ruangan anda." Ujar asistennya.
Theo hanya mengangguk. Kemudian dia bergegas menuju ruangannya. Dia tidak ingin Bela menunggunnya terlalu lama.
Bela masuk ke ruangan presdir seorang diri tanpa didampingi Cindy. Saat pertama dia melangkah memasuki ruangan ini, dia merasa sesak seakan tidak tersedia oksigen untuk bernapas. Sesekali Bela memukul dadanya.
__ADS_1
Bela melangkahkan kakinya menuju rak buku disamping meja kerja. Butiran air matanya mulai jatuh ketika melihat foto masa kecilnya bersama Arron masih terletak rapi di rak. Dengan segera Bela menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan didepan orang lain.
Bela mulai mengambil foto-foto penuh kenangan itu satu-persatu. Dia tidak akan membuangnya tapi dia akan menyimpannya sendiri. Lagipula ruangan ini sudah ada yang akan menempati. Bela juga membersihkan barang-barang dan berkas pribadi Arron yang lain. Kebetulan ada kotak besar yang tersimpan diatas rak. Bela bisa menggunakan itu untuk menyimpan semua barang-barang Arron yang tertinggal agar mudah untuk di bawa.
"Nona, Tuan Theo sudah selesai dengan acara penyambutan. Beliau sedang menuju kemari." Cindy datang tiba-tiba.
"Kalau begitu bantu aku mengangkat kotak ini. Sungguh ini berat sekali." Bela berusaha untuk mengangkat kotak itu sendiri.
Dengan rasa penasaran, Cindy membantu Bela mengangkat kotak berisi barang. Mereka menempatkannya disamping sofa agar tidak menganggu kerapian tempat ini.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Theo dan asistennya masuk.
"Tidak, baru 20 menit yang lalu. Itu tidak terlalu lama." Bela duduk disofa tanpa disuruh.
Dia tidak sopan. Sama seperti majikanku ini. Asisten Theo melirik Theo sekilas.
"Itu kotak apa?" Theo menunjuk kotak disamping kanan sofa.
"Bukan apa-apa, kotak ini berisi barang-barang kakakku yang masih tertinggal." Bela menjawab tanpa ekspresi.
Bahkan dia juga mirip sekali dengan Tuan Theo. Asisten Theo membatin lagi.
"Mungkin aku sedikit terlambat. Selamat datang di GO Group." Bela bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya.
Cindy merasa sedikit aneh. Dia memperhatikan Theo dan juga Bela.
Kenapa aku merasa mereka sangat mirip? siapa sebenarnya Tuan Theo ini?
Tanpa sengaja mata Cindy bertemu dengan mata Ben. Mereka saling bertatapan tapi sesaat kemudian kedua orang itu saling menyipitkan mata seperti sedang bermusuhan.
"Ehem, jangan lama-lama tatap matanya nanti saling suka loh." Bela berdehem. Dia berniat untuk menggoda kedua orang itu.
Cindy dan Ben terlihat salah tingkah. Theo tertawa ringan lalu dia duduk di sofa.
"Dia asisten pribadiku, namanya Ben." Theo memperkenalkan Ben pada Bela.
"Halo Nona." Ben menyapa Bela dengan senyuman.
"Hai Ben. Oh iya, untuk proyek kita yang terbaru kau bisa bekerja sama dengan Cindy. Siapa tahu kalian cocok."
"Baik, saya akan bekerja sama dengannya terkait pembangunan hotel yang baru." Ben melirik Cindy sekilas. Cindy ingin sekali menenggelamkan Bela ke samudra. Dari tadi dia terus menggoda Cindy.
"Apa kau sudah membuka semua hadiah dariku?"
"Hadiah? hadiah apa?" Bela membeo.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu aku mengirimkanmu hadiah lewat penjaga rumahku."
Bela mengingat hadiah-hadiah dari tetangga depan rumahnya.
"Itu darimu? berarti kau yang menempati rumah kosong itu?"
Theo mengangguk. Bela masih tidak percaya jika tetangganya adalah Theo.
"Nanti malam apa kau dirumah? Mamamu mengundangku untuk makan malam dirumahmu. Katanya saudarimu ingin bertemu denganku."
"Aurel ingin bertemu denganmu? pasti dia ingin memamerkan kecantikannya." Bela melipat tangannya didepan dada.
"Bisakah kalian keluar sebentar?" Theo menatap Cindy dan Ben secara bergantian. Mereka yang mengerti maksud Theo langsung keluar ruangan. Bela bingung untuk apa Theo menyuruh mereka berdua keluar.
"Semalam kau tidak pulangkan?" Theo menatap Bela.
"Sebenarnya aku pindah ke mansion. Aku tidak tahan berada di rumah itu. Alasanku tetap tinggal dirumah itu hanya kak Arron. Sekarang kak Arron telah tiada. Jadi untuk apa aku tetap tinggal disana."
"Syukurlah, kakakmu menitipkanmu padaku. Semalam aku khawatir saat melihatmu tidak pulang." Theo bernapas lega.
"Aku ingin tahu, apa hubunganmu dengan kakakku?"
Theo diam sejenak. Apa yang harus dia katakan? apa dia jujur saja?
"Arron teman baikku." Theo tersenyum kecut.
Arron kakakku dan kau adikku.
"Oh, begitu rupanya." Bela ber-oh ria.
"Hati-hati dengan Mamaku maksudku dengan Nyonya Dyra. Dia mungkin akan menyingkirkanmu karena dia menginginkan perusahaan ini." Bela memperingatkan.
"Kita hanya perlu mengikuti semua permainannya. Aku sudah sangat handal dalam bermain game seperti ini." Theo tersenyum miring.
"Kau suka bermain game dan aku suka bermain drama. Sepertinya ini akan sangat menarik. Aku ingin melihat apa yang bisa dia lakukan. Mungkin kita perlu pemain tambahan."
"Pemain tambahan? kira-kira siapa yang cocok?" Theo berpikir keras.
"Dareen Hasiel. Dia memiliki dendam pribadi kepada mama. Kita juga akan menemukan pemain tambahan lainnya."
Mendengar penuturan Bela, Theo hanya mengut-mangut setuju dengan Bela.
"Sepertinya kita harus menyingkirkan tikus-tikus serakah yang ada diperusahaan ini dulu. Semakin lama semakin terkikis pondasi perusahaan ini." Theo mengeluarkan data tahunan perusahaan beserta nama-nama karyawan dan para petinggi perusahaan.
"Aku akan menganggap ini sebagai pemanasan." Bela mengambil berkas itu dan membacanya dengan seksama. Begitupun dengan Theo dia mencari bukti terkait kasus korupsi para petinggi perusahaan. Cindy dan Ben juga turut membantu. Mereka semua sibuk dengan beberapa berkas.
__ADS_1