
Bela baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah karena habis keramas. Bela membuka tirai jendela membiarkan sinar matahari masuk.
Albert terusik dalam tidurnya. Perlahan dia membuka mata. Pagi ini saat pertama kali dia membuka matanya dia melihat istrinya. Terlihat seksi dengan rambutnya yang basah. Albert menelan salivanya susah payah. Melihat Bela habis keramas dipagi buta begini membuat hasratnya menggebu-gebu. Tanpa pikir panjang dia masuk ke kamar mandi.
"Kenapa dia mencuci rambutnya di pagi begini? Aku ingin sekali menerkamnya." Albert keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Ternyata Bela sudah tidak ada dikamar mungkin dia menyiapkan sarapan. Albert bernapas lega. Semenjak hidup bersama Bela, jantungnya berdetak kencang. Setiap berdekatan dengannya Albert selalu menjaga jantungnya.
Pintu terbuka dan Albert masih belum mengenakan pakaiannya. Bela membawa sarapan untuknya.
"Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu." Albert terkejut dan menutupi dadanya dengan tangannya.
"Ya maaf, aku buru-buru ini." Bela meletakkan nampannya di meja.
"Mau kemana?"
"Kak Cindy akan ke Thailand hari ini. Dia tidak lagi bekerja denganku. Katanya sih mau nikah disana." Bela memanyunkan bibirnya.
"Bukannya dia sedang dekat dengan asistennya Theo."
__ADS_1
"Iya, mereka berhenti bekerja dengan kita dan memilih memulai hidup baru disana. Yaudah, aku pergi." Sebelum Bela meninggalkan kamar dia mengecup bibir Albert. Dan membuat Albert diam dan tidak bergerak sama sekali.
"Apa ini?", dia meraba bibirnya sendiri. Jantungnya tidak bisa lagi dikondisikan. Jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya dan menari-nari.
Bela menemui Ben dan Cindy dibandara. Mereka seolah-olah akan pergi sungguhan.
"Masih aman," Bela mengacungkan kedua jempolnya.
"Bagus, tapi setelah ini kita harus berhati-hati." Ucap Ben memperingatkan.
"Sepertinya Tuan Theo sangat tertekan dengan kita. Dia menghawatirkanmu." Cindy memeluk Bela.
"Kalian pergilah, pastikan rencana kita aman."
Bela berhenti ditaman pinggir sungai. Hanya Cindy, Elli dan Sena yang tahu itu tempat favoritnya saat sedang sedih.
Bela duduk dikursi putih tepat dibawah lampu. Suasananya sedikit gelap dan horor. Hanya ada suara gemercik air. Pepohonan yang hijau menambah kesan tersendiri.
Bela melirik mobil merah yang tadi mengikutinya. Dan benar saja mobil itu masih mengikutinya hanya saja jauh dibelakang mobilnya.
__ADS_1
Langit menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Hujan turun begitu deras. Bela tidak tahu jika alam mendukungnya. Bela tetap duduk dikursi dan membiarkannya kehujanan. Tidak ada keinginan untuk berteduh. Cukup lama dia menikmati hujan. Sekitar 30 itu sudah cukup membuat badannya menggigil kedinginan.
Albert sedang khawatir dirumah. Hujan begitu deras dan Bela belum pulang. Orang yang dia suruh untuk mengikuti istrinya baru memberi kabar. Albert semakin khawatir mengetahui jika Bela sedang hujan-hujanan.
Rupanya Bela sudah pulang. Sekujur tubuhnya basah kuyub serta bibirnya mulai memucat.
"Darimana saja kau sampai basah kuyub seperti ini!" Albert membentak Bela.
Bela enggan menjawab. Dia pergi ke kamar. Albert terus mengajaknya bicara tapi Bela tetap diam saja.
Belum sampai dikamar Bela merasa mual. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan berlari masuk ke kamar mandi. Dia mengeluarkan isi perutnya di wastapel.
Albert memijat leher Bela. "Jangan hujan-hujanan masuk angin kan,"
"Keluar,"
"Hah,"
"Keluar, aku ingin mandi." Albert mengangguk.
__ADS_1
Setelah Albert keluar, Bela menutup pintu dengan kasar.
Brakk