
Baru bangun Aurel memikirkan apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar semalam. Dia merasa ketakutan sendiri.
"Apa semalam aku bermimpi?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Dia menganggap itu mimpi tapi kejadian itu terasa nyata. Dimana mamanya menyeret seorang wanita ke gudang belakang. Tak lama setelah itu jeritan memilukan terdengar.
"Tapi bagaimana kalau itu sungguhan dan bukan mimpi. Hari ini aku harus menemui Bela. Kurasa ada hal yang tidak beres dengan rumah ini setelah dia tidak pulang." Tekadnya sudah bulat. Aurel bahkan melupakan egonya.
Aurel bergegas mandi. Setelah mandi dia turun kebawah. Dia terkejud melihat Thomas sarapan bersama Mamanya dimeja makan.
"Sarapan dulu, Sayang."
Aurel menoleh pada Mamanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Kemudian dia membayangkan Mamanya adalah seorang pembunuh. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Dyra mendekatinya, "Apa kau sakit?" dan menyentuh keningnya.
Aurel semakin ketakutan. Entah dia tidak tahu kenapa rasa takut itu muncul.
"Aurel ingin sarapan dikampus, Ma." Tanpa pamit dia pergi ke kampus.
"Kenapa dia seperti itu? Apa dia mendengarnya semalam?"
"Ya sepertinya begitu. Katakan, kapan kau menjual rumah ini?" Thomas sudah selesai sarapan. Dia mendekati Dyra.
"Hmm, sepertinya besok aku sudah harus mengemasi barang-barangku. Rumah ini sudah terjual. Dan uang kita sudah terkumpul semua." Dyra mengalungkan kedua tangannya dileher Thomas.
"Jangan menggodaku. Mau bermain sekarang?"
Dyra mengangguk. Kemudian mereka masuk ke kamar utama. Apa yang akan mereka lakukan? Pasti orang dewasa juga mengerti.
Tanpa mereka sadari ada seorang maid yang mendengar percakapan mereka barusan. Dirumah ini ada peraturan yang harus diikuti oleh para pekerjanya. Yaitu mereka harus buta untuk apa yang mereka lihat dan harus tuli untuk apa yang mereka dengar. Jika ada sampai mati membicarakannya keluarga mereka taruhannya. Dyra selalu mengancam untuk menyiksa keluarga mereka jika mereka melakukan kesalahan.
Tapi tidak untuk maid yang satu ini. Dia adalah orang suruhan Albert untuk memata-matai setiap kejadian di rumah ini. Dan begitulah untuk sekarang.
Aurel masuk ke restoran untuk mencari Bela namun nihil. Kemudian dia mencoba menjadikan mencarinya di kantor Theo dan yang dia temukan hanya Cindy.
__ADS_1
"Ada apa Nona mencari atasan saya?" tanya langsung. Cindy melihat pertama kalinya ada ketakutan diwajah Aurel. Ini bukan ketakutan yang biasa tapi mungkin lebih dari itu.
"Ada yang ingin kutakan padanya. Kumohon antar aku menemui Bela." Aurel sampai duduk dilantai dan memohon pada Cindy.
"Katakan saja, kalau penting sekali saya akan langsung mengantarkan anda."
Aurel bangun dan langsung menceritakan apa yang dia lihat dan dengar semalam.
Dikediaman Albert, sebuah keluarga kecil sarapan di meja makan dengan tenang. Bel rumah yang berbunyi mengganggu aktivitas mereka.
Ketika Albert membuka pintu dia terkejut. Mereka sama-sama terkejut.
"Apa Bela dirumah Paman?" Aurel tidak mengerti kenapa Cindy membawanya kemari padahal yang dia inginkan hanya bertemu dengan Bela.
"Paman?" Cindy membeo.
"Kenapa kau membawanya kemari?"
"Tuan, dia ingin bertemu dengan Nona. Ada masalah yang sangat penting."
"Penting? setelah dia menusuk pahanya?"
Aurel sudah memohon tapi Albert tidak mengizinkannya masuk. Dan akhirnya dia nekat masuk saat Albert lengah.
"Dasar keponakan kurangajar." umpatnya lalu menyusul Aurel.
"Keponakan? Paman? Hah, situasi macam apa ini?" Cindy juga mengikuti mereka.
"BELA KAU DIMANA," Aurel berteriak layaknya tarzan dirumah ini.
"Ini bukan hutan, jangan teriak sesuka hati." Bela menikmati apelnya.
"Bela, maafkan aku. Aku mengakui kekalahanku. Aku akan bertanggungjawab atas kematian Mayleen tapi kau harus kembali pulang. Rumah kita sedang tidak baik-baik saja." Aurel bersimpuh dikaki Bela.
Albert dan Cindy hanya melihat tanpa ingin ikut campur.
__ADS_1
"Bagus kalau kau ingin mengakuinya. Akan ku jamin hukumannya tidak akan begitu berat. Aku akan kembali kerumah nanti tapi ada apa?"
"Semalam aku tidak sengaja melihat Mama dan Om Thomas membawa wanita ke gudang belakang. Aku berpikir aku hanya salah melihat tapi kemudian aku mendengar jeritan yang sangat memilukan. Aku berharap itu mimpi tapi itu terasa sangat nyata." Aurel gemetaran mengingatnya.
"Wanita?" Bela mengingatnya. Ya wanita yang diculik tengah malam itu. "Apa wanita itu berambut panjang dan memakai baju hijau?"
"Ya, itu dia. Tapi bagaiman kau tahu?"
"Itu wanita yang hilang hari ini dan aku melihatnya diculik tengah malam. Kalian mendengar berita beberapa hari yang lalu kan? Apa kalian juga memikirkan apa yang aku pikirkan?" Bela mengingat berita kemarin tentang menghilangnya beberapa gadis.
"Itu artinya Nyonya Dyra yang menculik mereka?"
"Hari ini dia berinvestasi di Orchid Club sebesar 19 Milyar." Albert melirik Bela dan dia mendapatkan tatapan membunuh darinya. "Aku tidak ikut, aku hanya menerima telpon dari Grace tadi." Bela melarang Albert untuk ikut campur dengan kelompok orang gila itu.
"Tapi darimana Nyonya Dyra mendapatkan uang sebanyak itu? bukankah Royal Village sudah hancur untuk yang kedua kalinya? Aku berani bersumpah. Aku sudah menghancurkan semua bisnisnya." Ya, beberapa hari yang lalu Cindy menyebarkan berita palsu yang bisa membuat Dyra tidak bisa berbisnis sampai kapanpun.
"Apa disini hanya aku yang tidak mengetahui apa-apa?" Aurel berlagak seperti orang bodoh.
"Apa sekarang waktunya aku membalaskan dendam Ayahku? Selama 13 tahun aku tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungku." Aurel bukan putri kandung Dyra. Dia hanya menjadi tameng atas peristiwa pelenyapan Ayahnya Bela.
Cindy mendekat pada Bela. Dia berbisik," Drama keluargamu membuatku pusing."
"Aku lebih pusing daripada Kakak." balas Bela dengan berbisik juga.
"Sekarang tujuan kita sama. Kuharap kita bisa bekerja sama."
"Ya, bekerjasama. Tapi apa hubungan Paman dengan Bela? Kenapa kalian tinggal bersama? Apa kalian sepasang kekasih?" Pertanyaan Aurel membuat Bela dan Albert terdiam dan saling tatap.
"Hubungan mereka lebih dari itu. Mereka adalah sepasang suami istri." Mulut Cindy memang tidak bisa berbohong.
"Wow, kau memang selalu berada di atasku. Tapi sekarang aku harus memanggilmu apa? Ah, istri pamanku seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan Bibi kan? Bibiku seumuran denganku." Aurel tertawa dengan sepenuh hatinya.
"Kurasa dia sudah gila. Oh Tuhan, kenapa keluargaku tidak ada yang akalnya sehat." Albert sampai menyebut Tuhannya.
"Apa dia punya kepribadian ganda?"
__ADS_1
"Sejak kecil memang dia sedikit aneh. Suasana hatinya cepat sekali berubah. Kau benar Kak, mungkin dia punya dua kepribadian yang berbeda."
Begitulah, silsilah keluarga yang rumit. Apa yang dilihat belum tentu itu benar. Disini mereka melihat Dyra-lah yang menjadi sumber kerumitan mereka. Tapi kenyataannya sumber kerumitan ini berasal dari Thomas. Dia yang gila harta dan hormat membuat dia ingin menyingkirkan seseorang tanpa harus menggunakan tangannya sendiri.