
Sirine mobil polisi bergema diseluruh kota pagi ini. Diikuti oleh lima mobil pemadam kebakaran. Semua orang bertanya-tanya ada apa dan dimana.
Dyra mengendarai mobilnya menuju Royal Village dengan kecepatan diatas rata-rata. Sepertinya Royal Village lebih penting dari nyawanya sendiri. Setelah sampai disana dia langsung diliput banyak media. Banyak wartawan yang menunggu didepan gerbang Royal Village karena penjaga tidak mengijinkan siapapun masuk kedalam.
Dyra memarkirkan mobilnya disisi jalan. Dia berlari kearah gerbang namun dia langsung diserbu banyak wartawan. Dengan susah payah dia bisa masuk kedalam.
Hatinya hancur melihat satu perempat sumber kekayaannya hangus terbakar. Bagaimana cara dia mengganti kerugiannya. Apa yang terjadi di Royal Village adalah tanggung jawabnya.
"Saya dari pihak kepolisian ingin memintai keterangan dari anda. Kami mohon kerjasamanya agar bisa segera menuntaskan kasus ini." Detektif Lee menunjukkan kartu identitasnya.
Dyra mengangguk pasrah. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti langkah yang diambil pihak berwajib.
Detektif Lee membawa Dyra ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Serta pihak polisi juga memanggil rekan-rekannya juga.
"Ada apa ini?" tanya Grace yang kebingungan.
"Kenapa saya juga dipanggil?"
"Tuan Thomas, tolong menurutlah dengan kami." Petugas meminta dengan sopan. Dari tadi Thomas memang memberontak layaknya penjahat yang tidak terima dengan tindakan kepolisian.
Sedangkan didalam ruangan, Detektif Lee sedang mengajukan beberapa pertanyaan pada Dyra.
"Semalam apakah anda mengunjungi Royal Village?"
"Tidak saya tetap dirumah bersama dengan putri saya."
"Apa anda yakin?"
"Ya saya yakin, kalau anda tidak percaya silahkan tanyakan putri saya."
"Lalu kalung ini milik siapa?" Detektif Lee mengeluarkan kalung bermata berlian milik Dyra yang sempat menghilang.
"Itu kalung saya yang hilang beberapa hari yang lalu." Dyra kaget, bagaimana kalungnya bisa ada di tangan detektif Lee.
"Lalu sepatu ini?" detektif Lee lagi-lagi mengeluarkan barang bukti yang membuat Dyra semakin kaget.
Itu sepatu yang ku gunakan saat membunuh pria sialan itu, tapi bagaimana bisa ada di tangan detektif ini?
Keringat dingin membasahi kening Dyra. Ada rasa takut dibenaknya. Tapi sesaat kemudian dia mencoba menenangkan dirinya.
"Dari kasus bom di Royal Village, saya rasa anda tidak ada kaitannya. Tapi soal sepatu ini anda tidak dapat mengelak lagi."
__ADS_1
"Apa maksud anda detektif Lee?"
"Apa kemarin malam anda membunuh seseorang?"
"Tidak, saya itu pengusaha bukan pembunuh." Tangan Dyra mulai bergetar.
"Oh ya?" senyum mengerikan dari detektif Lee.
"Borgol dia masukkan ke dalam sel tahanan!"
"Baik pak," dua orang anggota polisi memborgol Dyra dan memasukkannya ke dalam sel tahanan.
"LEPASKAN SAYA, SAYA TIDAK BERSALAH." Teriak Dyra tidak terima.
Pagi ini Bela baru sampai di mansion miliknya bersama ketiga kakaknya.
Cindy mendapat telepon dari seseorang dan mengatakan apa yang terjadi di kota ini.
"Siapa?" tanya Elli yang melihat gelagat mencurigakan dari Cindy.
"Bukan siapa-siapa. Katanya pagi ini ada ledakan bom di Royal Village. Lima rumah rata dengan tanah untungnya tidak ada korban jiwa."
"Gila pasti ruginya sampai triliunan itu." Sena membelalakan matanya.
"Itu yang perumahan mewah khusus para orang-orang kaya."
"Owh," tanpa banyak bicara Bela naik lagi menuju kamarnya.
"Gila sih, tapi ini belum pernah terjadi kan. Pengamanan disana ketat sekali. Semua orang punya kartu khusus untuk masuk kesana. Bagaimana bisa terjadi ledakan bom?" Elli selalu berpikir logis.
"Yang buat aku kaget itu, ternyata penanggungjawab semua yang terjadi di Royal Village itu Mama tirinya Bela."
"APA?" teriak Elli dan Sena bersamaan. Telinga Cindy terasa ngilu.
"Aduh, telingaku sakit."
"Apa Bela tahu?" Elli sedikit berbisik.
"Entahlah aku belum memberitahunya."
Sedangkan didalam kamarnya Bela tertawa penuh dengan kebahagiaan.
__ADS_1
"Nikmati hadiah dariku, ini baru permulaan. Akan ada yang lebih unik lagi dari ini."
Flashback
Ting tong
Pelayan hotel memencet bel kamar Bela. Rupanya Bela memesan beberapa camilan untuk mengisi perutnya yang kosong. Dan pelayan itu mengantarkan pesanan Bela.
Mendengar bel kamarnya ditekan, Bela langsung membukakan pintu untuk mengambil pesanannya. Bela berjanji pada dirinya sendiri untuk menikmati kelamnya malam ini.
Tuing
Notifikasi pesan masuk. Bela mengerutkan dahinya. Siapa yang mengirimkannya pesan malam-malam begini.
"Nomor tidak dikenal?"
Royal Village, itu sumber kekayaan ibu tirimu. Hancurkan separuh dari sumber kekayaannya. Aku tahu kau sudah banyak menderita karena ibu tirimu itu. Aku ingin membantumu karena aku juga punya dendam tersembunyi. ~ Alberto
Dalam hati Bela bertanya-tanya. Dendam apa yang disembunyikan oleh Albert. Padahal kalau dilihat-lihat dia orang yang paling dekat dengan Dyra. Memang ya terkadang musuh lebih dekat dengan kita.
"Hm, hancurkan?" otaknya berpikir keras. Tangannya sibuk mencari kontak untuk menghubungi orang sururahnnya. Bela menempelkan ponsel ke telingannya.
"Iya ada yang perlu saya bantu, Nona?"
"Hm, hancurkan separuh bagian dari Royal Village."
"Itu mudah sekali tapi untuk masuk kesana tidaklah mudah. Perlu kartu akses untuk membuka gerbangnya dan juga perlu satu rumah untuk bersembunyi."
"Itu mudah sekali. Siapkan semuanya."
"Baik,"
Sambungan telpon terputus. Bela mengirim pesan kepada Albert untuk menyiapkan kartu akses dan satu rumah untuk orang suruhannya. Dan Albert memang sudah menyiapkan semua itu. Hanya tonggal menjalankan rencananya saja.
Setelah itu Bela membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia tidak sabar menunggu besok.
"Apa yang kau lakukan itu sudah benar. Biarkan dia mendapat balasan karena telah menghancurkan keluargamu. Good job,"
---------------------------------------
Mampir juga dikarya Author yang lain.
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan puasa kalian lancar (bagi yang menjalankan).
Salam manis dari Author.