Family And Enemy

Family And Enemy
yang sebenarnya terjadi


__ADS_3

Sore sebelum Bela pulang ke rumah, Bela mampir ke salah satu cafe untuk membeli minuman guna merilekskan pikiran. Tapi dia tidak sengaja melihat Alden dan Thomas sedang berbincang disana. Bela bersembunyi di dinding penyekat yang tipis dibelakang Alden.


"Kita akan melenyapkan salah satu dari mereka dan membiarkan yang satunya lagi hidup. Dengan begitu dendammu sudah selesai kan?" Thomas menyodorkan minuman kaleng pada Alden.


"Ya, hanya salah satu dari mereka. Mau Bela ataupun Theo sama saja. Tapi kudengar Bela sedang mengandung. Jadi lebih baik Theo saja." ujar Alden. Mereka tahu Bela sedang menguping pembicaraan mereka.


Mendengar itu Bela kembali meneteskan airmata. Dia tidak ingin Theo tiada karena hanya Theo saja saudaranya yang masih tersisa. Dia harus membuat keputusan yang sangat besar. Jika dia yang tiada maka hidup Theo akan baik-baik saja begitu juga dengan Sheila. Itu yang dia pikirkan. Kemudian dia pulang dan sudah menyiapkan pisau kecil didalam sakunya.


"Lebih bagus jika mereka mati semua." imbuh Alden sambil melihat mobil Bela yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kau yakin ini akan berhasil?"


"Ya itu pasti, gadis itu memiliki hati yang tulus. Dia tidak ingin saudaranya pergi."


Alden pergi ke rumah Albert untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata Bela belum sampai disana. Mobilnya belum ada di pekarangan depan.


Albert kaget kenapa kakaknya masuk kamar dengan tergesa-gesa.


"Kakak kenapa?" tanyanya.


"Lenyapkan Bela! Jangan berkhianat pada keluarga kita." Setelah mengatakan itu Alden masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Albert semakin takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak lama setelah itu Bela pulang. Albert bersikap biasa aja seperti tidak akan terjadi apa-apa.


Tapi dia salah. Tangannya sendirilah yang menghabisi Bela dan anaknya. Rasa takut dan gugup menyelimuti hatinya. Dia minta maaf berkali-kali. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Kaca sudah pecah.


"Bagus, sudah ku duga kau tidak akan menghianati keluarga." Kepuasan nampak di raut wajahnya.


"Sekarang bawa dia ke mansionnya. Aku sudah menyiapkan tempat kremasi yang cocok untuk istrimu dan bayi yang ada di perutnya."


"Tidak kakak, aku mohon." Albert memeluk kaki Alden dan berlinang air mata.


"Tidak adikku, jika kau hanya diam itu akan menghancurkanmu. Pikirkan kehidupan Elvan."

__ADS_1


Albert tak bisa apa-apa. Alden benar, kehidupan Elvan lebih penting baginya. Hal yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali. Dia sudah kehilangan bayinya dan mungkin istrinya juga tidak bisa selamat.


Albert menggendong Bela keluar dan memasukkannya dalam mobil. Bela sudah tidak bisa bergerak dia sangat lemas. Dia sudah banyak kehilangan darah. Hanya butuh 15 menit untuk sampai di mansion pinggir hutan milik Bela.


Buru-buru Albert membawa Bela ke kamar paling belakang. Ternyata seluruh mansion sudah disirami bensin oleh Alden.


Albert menidurkan Bela diranjang. Airmatanya tidak berhenti mengalir. Kecupan lembut mendarat di jidat Bela.


"Aku mencintaimu, maafkan aku."


"Selamat, kau sudah berhasil. Aku juga mencintaimu." Bela membalasnya dengan kesadarannya yang masih tersisa.


Albert keluar, tidak lupa dia juga mengunci kamarnya. Bagaimana Bela bisa kabur dalam kondisinya yang sekarang?


Ku harap kak Theo tetap hidup. Ya tuhan, hidupku akan segera berakhir. Tolong jaga Sheila dan jamin kehidupannya normal. Batinnya sebelum pandangannya menggelap.


Sheila datang tepat pada waktunya. Dia melompat masuk dari jendela. Diluar sudah ada Elli yang menunggunya dari tadi.


Dan akhirnya Mereka sampai di rumahsakit tepat pada waktunya. Bela belum sepenuhnya tidak sadarkan diri. Dia masih melihat namun hanya padangan yang kabur. Dia hebat bisa bertahan selama itu dengan perutnya yang terluka.


Bagaimana mereka bisa tahu bahwa Bela akan dibakar di mansion itu?


Elli barusaja kembali. Tempat yang pertama kali dia tuju adalah mansion Bela. Betapa terkejutnya dia melihat mansion Mereka dimasuki banyak orang dan membawa cairan yang entah itu cairan apa.


Elli berlalu lalang didepan mansion sembari melihat apa yang terjadi. Kebetulan gerbangnya terbuka penuh. Dia melihat orang-orang itu menyirami caitan yang mereka bawa ke seluruh mansion. Elli panik. Dia langsung mencari Bela.


Semua tempat sudah dia kunjungi mulai dari Restoran dan kantor. Tapi dia tidak menemukan Bela maupun Theo. Kemana mereka pergi di siang bolong seperti ini? pikirnya.


Dia singgah di salah satu supermarket untuk membeli minum dan mencoba menghubungi Bela atau Cindy.


Ditengah kepanikannya Bela berjalan didepan matanya dan berlagak tidak mengenalnya. Kebetulan supermarket sedang sepi, dia menyeret Bela kesudut.


"Kemana saja kau? Kau menyuruh orang membakar mansion kita? Bel, kau gila?" ungkapnya dengan sedikit emosi.

__ADS_1


"Bela? Namaku Sheila." Sheila melepas cekalan ditangannya.


"Hah, kalau kau bukan Bela kenapa mirip sekali dengannya?"


"Aku saudara kembarnya. Dan siapa kau?" Dia menunjuk Elli. Sheila menyadari satu hal yaitu mansion Bela sedang terbakar.


"Apakah Kakakku baik-baik saja?"


"Kakakmu sedang gila. Dia menyuruh orang membakar mansion kita." Disaat itu juga Elli menyadari ada yang tidak beres dengan Bela.


"Shit, ternyata kecurigaanku terbukti. " Sheila dan Elli berlari masuk ke mobil dan menuju mansion.


Diperjalanan, Sheila tidak henti-hentinya mengumpat. Sebelum dia melihat mobil kakak iparnya didepannya.


Elli merasa ada yang tidak beres dengan mobil Albert. Dia melihat Bela pucat dengan pipi berlumuran darah. Mereka memarkirkan mobil di dalam hutan tepat di samping halaman belakang Mansion. Kemudian mereka menunggu Albert pergi dari Bela.


.........


Theo terguling-guling di rerumputan jurang. Saat mobilnya masuk jurang dia membuka pintu dan melompat. Masih ada kemungkinan dia untuk selamat. Theo tersangkut di batang pohon. Meski dia cacat tapi dia harus tetap hidup untuk Bela.


Ternyata Jake menunggu di bawah jurang dengan beberapa anak buahnya. Dia merutuki sifat Theo yang selalu terburu-buru mengambil keputusan.


"Dia mirip seperti ayahnya." gumamnya. Lalu salah satu anak buahnya menemukan Theo yang sudah sekarat.


"Bawa dia kerumah sakit dan kabari Ben serta Cindy."


"Baik tuan," Anak buahnya mengangkut Theo ke rumahsakit diseberang kota. Itu hanya perlu waktu 10 menit dari perbukitan itu.


"Apa Bela sudah selamat?"


"Sudah Tuan, Nona Bela dibawa kerumah sakit oleh Nona Elli dan Nona Sheila. Tapi dia masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Katanya luka diperutnya tidak terlalu dalam tapi dia sudah kehilangan banyak darah." ujar salah satu anak buahnya.


"Bagus, kabari aku jika ada informasi lagi."

__ADS_1


__ADS_2