
"Ada kabar buruk." Aurel menitikkan airmata. Itu membuat Bela bertanya-tanya.
"Apa?" Bela menaikkan sebelah alisnya.
"Kak Arron kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia." Aurel luruh dilantai.
Rasanya Bela seperti mati sesaat. Tubuhnya kaku dan sudah tidak berasa. Dia seperti mayat hidup. Lidahnya tidak sanggup lagi untuk mengatakan sepatah kata.
"Bangunlah! kita akan ke sana." Seakaan mengerti keadaan, Alex menyuruh Aurel untuk bersiap-siap.
Bela masih terdiam di tempatnya. Dia tidak akan menangis seperti yang Aurel lakukan. Dia ingin memastikan dulu semua itu benar atau tidaknya.
Sekarang mereka dalam perjalanan menuju rumahsakit tempat Arron di identifikasi. Di perjalanan Alex merasa bingung tapi dia tetap fokus menyetir. Aurel terus saja menangis membuat Bela semakin pusing.
"Aurel diamlah sebentar! kau membuat kepalaku berdenyut." Bela melemparkan botol air kosong ke kursi belakang tempat Aurel duduk.
"Bagaimana aku bisa diam sementara kak Arron dalam keadaan seperti itu." Aurel kembali menangis dia tidak menggubris protesnya Bela.
"Biarkanlah dia! dia menangis karena dia normal. Kau? kenapa kau tidak menangis?. Kalau didefinisikan kau ini seperti psikopat." Alex bukannya menengahi malah dia memancing emosi Bela.
"Terserah." Bela membuka bungkus permen karet yang dia bawa lalu memasukannya ke mulut.
Alex melirik Bela sekilas. Dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran Bela sekarang. Dengan santainya Bela mengunyah permen karet dimulutnya bahkan dia sambil bermain game di ponselnya. Tidak ada yang bisa mengerti perasaannya. Sebenarnya Bela merasa cemas tapi dia mencoba untuk tenang sekarang. Jika sudah takdir, cemas pun tiada guna. Kita tidak bisa merubah jalan takdir yang sudah ditentukan tuhan.
"Hm, ngomong-ngomong mama dimana, Rel?." Bela bertanya mengenai keberadaan Dyra. Sejak tadi Bela memang belum bertemu dengan Dyra. Itu membuat dia penasaran dimana dan apa yang mamanya lakukan saat ini. Menangis atau malah merayakan kematian Arron.
"Mama langsung ke rumahsakit. Sore ini mama akan terbang ke Itali tapi entah kenapa jadwalnya di tunda." Aurel cemberut. Dia merasa Bela sedang mengintrogasinya sebab itulah dia berhati-hati dalam berbicara.
"Itu berarti mama sudah ada firasat. Secara kan mama paling sayang sama Kak Arron." Bela sengaja berkata seperti itu. Ketidaksukaan terlihat jelas diwajah Aurel. Bela tersenyum tipis. Dia melempar umpan dengan sangat baik.
Sekarang Alex sudah sedikit mengerti. Di balik sifat tenangnya Bela tersimpan seribu kelicikan didalamnya. Disini rubah yang sesungguhnya adalah Bela.
__ADS_1
Sesampainya di rumahsakit, Aurel segera berlari memeluk mamanya. Mereka berdua tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Itu pura-pura atau sungguhan hanya tuhan dan mereka yang tahu.
Berbeda halnya dengan Bela, dia memilih tenang. Meskipun hatinya amat terluka dia ingin tetap terlihat kuat. Alex dan Bela duduk di kursi tunggu yang disediakan pihak rumah sakit. Mereka menunggu hasil otopsi hanya itu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak mereka.
Beberapa dokter keluar dari ruang otopsi. Aurel dan Dyra segera bangkit dari duduknya dan menyerang dokter dengan pertanyaan mereka.
"Maaf Nyonya, hasil otopsi akan keluar besok." Hanya dengan satu pernyataan dari dokter bisa membuat kedua wanita itu diam. Dokter segera meninggalkan mereka ada banyak pasien yang sedang menunggunya.
Bela bangkit dari duduknya dengan gaya coolnya.
"Lebih baik simpan saja air mata kalian untuk besok. Tidak lucu jika besok kalian kehabisan air mata untuk menangisi kepergian kakak saya.. Apa kata media?." Bela bicara begitu datar tapi mampu membuat kedua wanita itu emosi.
"Kenapa kau bicara begitu? kita semua keluarga." Aurel semakin tidak percaya. Bela bahkan tidak menangisi kepergian Arron.
"Keluarga? kapan kalian menganggap saya keluarga? kalian hanya menginginkan harta ayah saya saja. Sekarang ambillah! penghalang kalian sudah tiada kan?." Begitu datar tapi mampu membuat Aurel dan Dyra tersadar. Bela sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Kurang ajar sekali kau." Dyra mengangkat tangannya untuk menampar Bela. Tapi dengan sigap Aurel menahannya. Dyra menatap nanar Aurel dan Aurel hanya menggeleng pelan.
"Anda membesarkan saya? dengan cara mengirim saya ke Australia? anda bahkan tidak memberi saya sepeser uang disana. Saya bertahan hidup menggunakan uang pribadi saya sendiri." Bela mengusap air matanya. Gaya bicaranya pada mereka juga berubah. Sekarang tiada lagi ikatan keluarga diantara mereka.
Dyra terus saja terpancing emosi. Ingin rasanya dia menancapkan beberapa pisau di jantung Bela. Aurel bingung harus bagaimana. Dia memeluk erat mamanya agar tidak melakukan hal yang lebih pada Bela. Banyak wartawan yang sedang berada di luar rumahsakit ini jika sampai perdebatan mereka tercium awak media pasti akan menjadi artikel yang menarik keesokan harinya. Ternyata kabar kecelakaan Arron telah meluas dan menjadi topik yang sangat menarik bagi para kalangan pebisnis. Para awak media berlomba-lomba untuk mencari informasi terkait kebenaran dari kabar yang meluas tersebut.
"Di depan rumahsakit ini ada hotel. Ajak mamamu kesana dan tenangkan dia!." Alex menyuruh Aurel unuk membawa mamanya pergi. Jika terus terusan berada disini itu akan memperburuk suasana.
"Baik. Jagalah Bela disini! aku akan tennngkan mama."
"Tapi hati-hati diluar sana banyak wartawan yang sedang mencari informasi." Alex memperingatkan.
"Baik." Aurel mengangguk dan segera membawa mamanya pergi dari sana.
Alex menarik Bela dalam pelukkannya.
__ADS_1
"Kenapa semua ini terjadi pada keluargaku? hiks hiks." Bela terisak dalam pelukan hangat Alex.
"Cukup, yang sudah terjadi tidak bisa kita ulang kembali. Ini semua sudah takdir dari Tuhan." Alex mengelus kepala Bela.
"Ini sudah tengah malam. Kita istirahat dihotel atau di mobil saja?"
"Kita istirahat di mobil saja." Bela melepaskan diri dari pelukan Alex dan mengusap jejak air mata di pipinya.
"Oke." Alex dan Bela menuju parkiran mobil.
"Kenapa kau menggalangi mama?." Dyra melempar tas selempangnya ke ranjang hotel.
"Coba mama pikir, dikeadaan saat ini mama melakukan kekerasan kepada anggota keluarga yang lain. Itu akan membuat reputasi keluarga kita hancur dimata orang. Dan kalau sampai itu terjadi banyak rival mama yang akan menjatuhkan mama sendiri." Aurel mengungkapkan segala yang dia pikirkan.
"Aku sungguh tidak ingin kehilangan segala yang kumiliki sekarang. Jadi Aurel mohon sama mama, jangan melakukan hal bodoh yang bisa membuat kita terancam." Pinta Aurel pada mamanya dengan berlinang air mata.
"Maafkan mama, Sayang. Mama janji akan memikirkan resikonya dulu sebelum melakukan sesuatu." Dyra memeluk Aurel.
Tentusaja itu membuat Dyra luluh. Kelemahannya adalah Aurel. Dia tidak bisa hidup tanpa Aurel. Hanya itu yang dia milili sekarang. Gian? dia hanya sebuah pion yang digunakan Dyra untuk memenuhi semua keinginannya.
⚡⚡⚡
"Wah, tidak kusangka dia akan senekat itu." Pria ini barusaja membaca artikel tentang kecelakaan Arron.
"Kukira dia hanya omong kosong. Hhahahah." Terdengar suara tawa yang mengerikan.
"Tapi aku masih tidak percaya. Dia telah tiada bersama rahasia mereka. Ah sudahlah." Pria itu menutup laptop miliknya dan menaruhnya diatas meja kamar.
"Tega sekali kau membuat Belaku menangis. Baiklah aku akan menghiburnya besok." Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya dan terlelap menuju indahnya alam mimpi.
...✨Jangan lupa tinggalkan jejak.✨...
__ADS_1