
05.00 pagi
Aroma makanan sampai ke hidung Bela. Pagi ini Bela masih ingin tidur. Aroma makanan menggoda perutnya dengan terpaksa Bela bangun dan segera mandi.
"Siapa sih pagi-pagi buta masak. Ganggu aja lagi tidur." Gerutu Bela.
Bela keluar kamar menuju meja dapur.
Banyak maid yang berjajar menyambut Bela dari bawah tangga.
Sejak kapan kak Elli mempekerjakan maid disini. Perasaan kemarin nggk ada deh. Jadi bingung. Kata Bela dalam hati.
Sesampainya didapur Bela melihat Sena dan Elli duduk di kursi memandang sarapan yang sudah disiapkan para maid.
"Morning..." Sapa Bela mancairkan suasana.
Bela langsung duduk diantara mereka.
"Pagi juga Bel." Jawab mereka serempak. Wajah mereka sudah pucat basi. Bela merasa khawatir pada mereka.
"Ummm. Sejak kapan kalian mempekerjakan maid disini? Kemarin aku pulang nggk ada tuh." Bela mulai bertanya. Mereka saling tatap.
" Kepala Maid, Tolong tinggalkan kami bertiga. Ada yang ingin kami bicarakan. Privasi." Sena meminta para maid agar meninggalkan mereka bertiga. Para maid membungkuk sebelum meninggalkan mereka.
"Sekarang katakan!" Bela menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Jadi gini....."
Flashback
03.30 pagi
Pak penjaga mengetuk pintu kamar Elli berkali-kali. Elli merasa terganggu dan bangun melihat siapa yang mengetuk pintu berkali-kali.
"Kenapa pak? Ada apa? ini masih setengah 4 pagi pak." Elli menguap. Terlihat jika nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Maafkan saya nona. Tapi ada 10 maid yang dikirim tuan Erland. Mereka sedang menunggu diluar." Pak penjaga menunduk tidak berani menatap nonanya.
"Apa? suruh mereka masuk saja pak. Biarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan." Bibir Elli bergetar. Pandangannya kosong.
"Baik nona." Pak penjaga membungkuk sebelum pergi.
Dari mana om Erland tahu kita tinggal disini.
Elli berjalan ke kamar Sena. Mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban dari dalam. Elli sudah tidak tahan, ia mengambil kunci cadangan di dalam guci besar disamping pintu. Pintu berhasil dibuka.
Elli menyalakan lampu dan menyingkap selimut berharap Sena bangun, namun nihil usahanya tidak membuat Sena bangun. Elli pun geram. Rasa geramnya pada Sena menghilangkan rasa takutnya. Elli mengambil air minum yang sudah tersedia di gelas diatas nakas. Elli mengguyur Sena.
__ADS_1
" Hujan astaga." Sena duduk sambil mengelap wajahnya menggunakan selimut.
"Akhirnya kau bangun juga. Kau itu tidur atau mati hah? Susah sekali membangunkanmu." Elli benar-benar sedang kesal.
"Apasih, kenapa membangunkanku? ini bahkan masih gelap." tanya Sena dengan santainya.
"Om Erland mengirim para maid kesini." Mulai terlihat kekhawatiran di wajah Elli.
"Ha? darimana dia tahu kita tinggal disini? dan sekarang bagaimana?" Sena juga mulai gelisah.
"Bagaimana apanya? kita nikmati saja dulu. Sebelum kita menerima hukuman darinya." Kini Elli sudah menyerah dan pasrah. Sena hanya membuang nafasnya.
Flashback end
"Jadi gitu..."
Elli menceritakan kejadian tadi pagi.
" Oh" Bela hanya ber oh ria.
Sudah kuduga.
"Kok cuma oh doang sih Bel." Sena merasa bingung.
"Terus aku harus teriak-teriak nggk jelas gitu? gini nih. HAH APA?" Bela mempraktekkan cara kaget yang benar.
"Awas Bel Bola matamu jatuh ke piring." Elli takut melihat Bela yang melotot.
" Pasti mereka merombak isi mansion ini." Sena menebak apa yang dilakukan para maid tdi.
Mereka makan dengan tenang. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar.
"Bela apakah kau lupa perkataanmu semalam?" pertanyaan Sena menghentikan gerak tangan Bela yang ingin menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sambil makan deh. Dengarkan." Bela dapat anggukan dari Sena dan Elli.
"Semalam.."
Flashback
Mobil Bela sudah meninggalkan kawasan hutan. Selama 30 menit Bela melewati jalanan .Di daerah tertentu terdapat toko bunga yang buka. Itu sudah sejalur dengan daerah pemakaman yang akan dituju Bela.
Jarang banget yang jualan bunga di jalan ini. Kalau aku lewat perkotaan pasti banyak toko bunga. Tapi kan jauh. Yodah beli saja disana. Lagi pula ini juga sudah dekat area pemakaman juga.
Bela menepikan mobilnya di depan toko bunga itu. Bela mematikan mesin mobilnya dan keluar. Penjaga toko menyambutnya di depan pintu.
" Selamat malam nona. Anda mencari bunga jenis apa?" tanya penjaga toko dengan ramah. wanita yang terlihat berusia 40-an tahun itu tersenyum manis.
__ADS_1
"Saya ingin bunga tulip seikat saja."
"Oh baiklah silahkan masuk. Nona bisa menunggu sambil melihat bunga yangblain juga." Wanita tadi membukakan pintu untuk Bela.
Setelah Bela memasuki toko itu, Bela dibuat kagum dengan keindahan bunga-bunga yang ada di dalam toko.
"Ini bunga yang anda pesan nona." Seikat bunga tulip yang cantik.
"Ini uangnya bu. Ambil saja kembaliannya." Bela memberikan 5 lembar uang bernilai ratusan ribu.
"Terimakasih banyak."
"Saya permisi bu." Bela keliar dan memasuki mobil. Penjaga toko membungkuk memberi hormat.
Mobil Bela meninggalkan toko bunga. Bela melihat ada mobil yang mengikutinya.
"Kenapa mobil itu terus mengikutiku? santai saja Bela, itu pasti orang suruhannya om Erland. Nikmati saja."
Bela mengurangi sedikit kecepatan mobilnya. Sengaja Bela melakukan itu agar mobil dibelakangnya tidak curiga.
Sesampainya di Pemakaman Bela memakirkan mobilnya di samping Pos penjagaan. Terlihat penjaga makam sedang tidur Padahal ini belum terlalu malam.
Bela memasuki area pemakaman. Ia mencoba mencari nama ayahnya diantara batu nisan yang ada.
Sudah belasan tahun aku tidak kesini. Semoga aku bisa menemukanmu ayah.
Bela membaca satu persatu nisan hingga ia berhenti di batu nisan yang bertulis SATYA DAMARION.
Bela berjongkok menatap nisan ayahnya. Bela menangis. Air matanya sudah tidak bisa ditahan. Ditaruhnya seikat bunga tulip yang dia beli tadi.
"Ayah Bela pulang yah. Bela sudah lulus kuliah ayah. Bela menjadi yang termuda diantara yang lainnya ayah. Maafkan Bela, telah meninggalkan ayah. Oh ya ayah Bela juga mengurus cafe di Australia. Itu cafe Bela sendiri dan kini cabangnya ada di kota ini juga ayah. Bela bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus meminta ke mama. Ayah kurasa aku harus pergi sekarang. Bela akan sering mengunjungi ayah nanti."
Bela keluar Area pemakaman. Sampai di dalam mobil dia melihat mobil yang mengikutinya terparkir sedikit jauh dari mobilnya. Tampak dari kaca spion ada wanita yang keluar dari mobil sambil berbicara ditelepon.
"Bukankah itu wanita yang tadi di toko bunga? kenapa dia mengikutiku? apa dia orang suruhan om Erland? kalau iya, tebak besok pagi apa yang akan terjadi."
Mobil Bela mulai meninggalkan area pemakaman. Bela memilih lewat jalan perkotaan. Meskipun jauh, Bela ingin melihat-lihat bagaimana perkembangan kota ini. Mobil Bela berputar-putar mengelilingi taman di sudut kota. Ia mengingat masa kecilnya disini. Bela duduk di kursi putih di bawah lampu taman yang temaram. Bela terlihat menikmati udara malam yang menyejukkan.
Flashback end
"Cuma gitu." Bela mengunyah suapan terakhirnya.
"Tapi yang aku tidak mengerti, bagaimana bisa om Erland tahu mansion kita di pinggir hutan begini." Sena mulai bertanya-tanya.
"Entahlah. Kurasa dia tidak mengikutiku sampai ke kota. Apalagi sampai di mansion."
"Jika sudah tahu plat mobilmu, om Erland bisa melacaknya." Elli menghela nafas.
__ADS_1
"Oh iya ya." Sena menggaruk belakang telinganya.
Bela memikirkan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Hanya Bela dan tuhan yang tahu.