
Bela mengetuk pintu kamar tamu yang dihuni oleh Elli dan Sena. Kesal karena sang penghuninya tidak juga membukakan pintu, Bela semakin menjadi-jadi. Hingga dia nekat mendobrak pintu itu sendiri. Tapi tetap saja pintu itu tetap tidak terbuka.
"Apasih?" akhirnya orang yang ada didalam bangun dan membukakan pintu.
"Pinjam dress,"
"Apaan?" kesadaran Elli belum terkumpul sepenuhnya.
"PINJAM DRESS!!" bentak Bela agar Elli bangun dari setengah tidurnya.
Elli tersentak dan membulatkan matanya melihat pakaian Bela kotor oleh tanah.
"Astaga, kau main dimana? ini masih jam setengah 5 pagi dan kau sudah main tanah." Elli menatap Bela dari atas sampai bawah.
"Diam, berikan aku dress yang kau bawa!!"
"Baiklah, akan kuambilkan sebentar." Elli masuk kedalam dan mengambil satu dress untuk Bela.
Bela langsung membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan dress yang dipinjamnya dari Elli.
"Sebenarnya kau ini darimana sampai kotor begitu?" Elli yang penasaran langsung bertanya.
"Percaya atau tidak aku sudah mendapat hartakarun itu." Bela mengambil peti yang dia simpan dikolong tempat tidur. Keadaan peti itu masih sedikit kotor tidak mungkin jika dia meletakkannya di atas ranjang tempat tidur.
"Hah, itu apaan?"
"Ini harta karunnya." Bela membuka peti dan mengambil kotak yang ada didalamnya.
"Harta karun apanya?"
__ADS_1
"Bagi orang lain ini memang bukan harta karun. Tapi bagiku ini harta karun sebab hanya dengan ini semua pertanyaan yang ada dibenakku terjawab. Semoga." Bela duduk dilantai sembari membuka kotak berwarna hitam.
"Kau ini bicara apa?" Elli ikut duduk dilantai.
Bela mengabaikan Elli dan mulai mengeluarkan semua isi dari kotak hitam itu. Banyak sekali foto-foto masa kecil Arron dan Bela.
"Wah, ini Kak Arron sama siapa?" Elli memegang foto dua anak kecil yang usianya tidak jauh.
Bela meraih foto dari tangan Elli. Dia merasa tidak asing dengan anak laki-laki yang berada disamping Arron. Bela merasa pernah melihat foto anak laki-laki itu. Dia mengingat dimana dia melihatnya.
Anak kecil ini, aku pernah melihat anak kecil ini di kantor Theo tepatnya di rak samping berkas penjualan tahunan. Ya aku tidak salah lihat. Tapi apa hubungannya dengan Kak Arron?
Bela membalik foto itu. Tertulos jelas disana sebuah kata yang semakin membuat Bela bingung.
"Aku dan adik laki-lakiku, Theo." Bacanya dengan nada datar. Elli yang mendengar itu ikutan bingung.
"Kalau dia adiknya Kak Arron berarti Theo itu kakakmu?" Elli berfikir logis.
Bela terlihat memikirkan sesuatu.
"Kau ingat saat aku diculik dihutan dan yang membawaku kembali adalah Alex?" mendengar pertanyaan dari Bela, Elli mengangguk.
"Orang yang menculikku itu gelagatnya sangat aneh. Dia memarahi hingga memecat anak buahnya karena telah membuatku terluka. Dia juga memberiku makan dan minum. Coba pikirkan mana ada penculik yang seperti itu?"
"Aku sempat melihat luka sayat dan tahi lalat di tangannya dan itu aku juga melihatnya ditangan Theo. Gaya bicaranya juga sama dengan orang waktu itu. Tidak diragukan lagi mereka orang yang sama. Tapi yang tidak aku mengerti, kenapa dia meninggalkanku dihutan yang lebat itu?"
"Apa tujuannya menculikmu?" tanya Elli yang sedari tadi mendengarkan semua yang dikatakan Bela.
"Kata yang selalu aku ingat, 'Bedakan mana yang menjadi keluargamu dan mana yang menjadi musuhmu!.' Sekarang aku mengerti apa maksudnya."
__ADS_1
"Oke, intinya adalah Theo itu kakakmu dan dia sedang mengkhawatirkan keselamatanmu. Bisakah kita lihat yang lain juga? aku sudah sangat kepo." Elli sangat bersemangat.
Bela mengambil amplop berisi foto-foto lama milik ayahnya. Dan dia terpaku dengan foto wanita berambut pirang yang tersenyum lebar berpose didepan kamera.
"Siapa wanita ini?" Elli menunjuk wanita berambut pirang itu.
Bela membaca tulisan dibalik foto yang dia pegang. Tanpa sadar air matanya menetes. Segera dia menghapusnya dengan telapak tangannya.
"Ini ibuku,"
Mendengar itu Elli tak lagi bertanya. Dia tahu betapa Bela sangat rindu dengan wanita yang melahirkannya. Terkadang Elli juga mendengar Bela mengigau memanggil-manggil ibunya saat dia tidur.
"Dikertas ini tertulis bahwa ibuku wafat sesaat setelah melahirkanku. Dan yang paling membuatku takjub ialah ibu tiriku yang melenyapkan ibuku. Sungguh miris. Berapa orang yang telah dia habisi demi harta ayah. Bahkan dia juga melenyapkan ayah. Sekarang target selanjutnya adalah aku." Dimata Bela terlihat api kebencian yang sudah terlanjur berkobar hebat.
"Wah, dia itu seperti pembunuh berantai. Ibumu, Ayahmu dan Kakakmu mati ditangannya. Apakah tidak ada niatan untuk membalasnya?"
"Hm, sepertinya kita perlu mengadakan pertunjukan teater." Bela tersenyum miring. Sepertinya dia sudah memikirkan rencananya untuk membalas Dyra.
"Sebenarnya hari ini adalah hari dimana para pemimpin perusahaan bersaing demi mendapatkan trofi Presdir Terbaik. 6 Tahun berturut-turut ibu tirimu memenangkan trofi itu. Dan tahun ini dewi keberuntungan tidak lagi bersamanya."
"Lalu siapa yang menang?" Bela mengemasi foto-foto kedalam tempatnya semula. Rencananya da akan menyimpannya ditempat yang menurutnya paling aman.
"Theo,"
Bela menatap Elli tidak percaya.
"Sungguh?"
"Pengumumannya tadi malam dan pagi ini pengambilan trofinya. Maaf aku belum sempat memberitahumu tentang acara tahunan ini."
__ADS_1
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan." Bela menatap jauh kedepan. Elli mengangguk pelan dan tersenyum.
Akan kubalas semua perbuatanmu terhadap keluargamu. Dan akan kupastikan semuanya setimpal. Bela mengepalkan telapak tangannya.