Family And Enemy

Family And Enemy
Keterkejutan


__ADS_3

Bela dan Aurel baru turun dari taksi. Bela berjalan dengan sangat hati-hati. Aurel membantunya berjalan. Para penjaga gerbang heran melihat keakraban dua gadis itu. Yang mereka tahu dua gadis itu sedang dalam pertikaian besar. Malam disaat Aurel melukai Bela mereka juga menyaksikannya. Mereka ingin menolong Bela namun mereka takut Nyonya besar rumah ini marah. Bagaimana pun tuan putri dirumah ini adalah Aurel.


"Bagaimana Nona Bela bisa memaafkannya begitu cepat?"


"Hey Pak Kumis, mereka memang seperti itu. Yang satu berulah yang satunya lagi harus sedikit mengerti."


"Cukup, saya tidak mau Nyonya Besar tahu kita membicarakan Nona-nona rumah ini. Gaji kita terancam." Percakapan mereka pun terhenti.


"Bela kau darimana saja?" tanyanya melihat Bela baru pulang setelah beberapa hari.


"Bela dirumahsakit, Ma." Aurel menjawab pertanyaan Mamanya.


"Kenapa? Apa kau terluka?"


"Aurel sengaja menusuknya dengan pisau buah." Belum sempat Bela membuka mulutnya Aurel terlebih dulu berbicara.


"Apa kau sudah gila? Dia ini saudaramu." Sungguh reaksi yang tidak terduga. Entah sungguhan atau berpura-pura.


"Bagian mana yang tertusuk ha?" Dyra menyentuh seluruh tubuh Bela mencari bagian tubuhnya yang terluka.


Perlahan Bela menyingkirkan tangan Dyra dari tubuhnya. "Hanya paha saja,"


"Maafkan Aurel, Sayang. Dia pasti kehilangan akalnya."


Mendengar kata itu Bela ingin muntah rasanya. "Sejak kecil kami terbiasa seperti ini, Ma. Aurel yang membuat kesalahan aku yang dihukum. Tapi Aurel selalu memberiku makan dan minum saat aku dihukum. Masa kecil kami sangat dipenuhi oleh kenakalan. Hingga Mama memisahkan kami." Bela menggali masalalu yang telah lama terkubur.


Tatapan mata Dyra berubah. Seperti ada kobaran api didalam matanya. "Iya saat itu kenakalanmu sudah sangat fatal."


"Ah, kenapa kalian menggali masalalu? Ayo Bela kita makan siang dulu. Dan bukannya Mama mau kekantor?" Aurel menyadari akan ada pertempuran jika mereka tidak dipisahkan.


"Iya, Mama akan berangkat sekarang." Dyra merapikan kemejanya sebelum keluar rumah.


Aurel membawa Bela ke meja makan. Dan beberapa pelayan menawarinya menu makan siang. Setelah makan tersaji, Aurel menyuruh semua pelayan meninggalkan mereka. Ada hal yang tidak boleh didengar oleh mereka.


"Apa Kau melihat mobil Thomas diluar?"


"Tidak Bel, sepertinya dia akan kembali nanti malam atau bahkan tidak. Semenjak kau tidak pulang dia menginap disini."


Bela berpikir sejenak.


"Bel, berarti aku akan dipenjara untuk waktu yang lama?" Aurel berhati-hari saat bertanya.


"Aku janji akan meringankan hukumanmu."


"Bel, Bryan ingin menikahiku dalam waktu yang dekat ini. Aku harus bagaimana?"


"Apa Mama tahu?"

__ADS_1


"Entahlah," Aurel merasa bimbang.


"Aku akan mencoba bicara padanya nanti." Mereka melanjutkan makan siang mereka.


"Maaf Nona, rumah ini akan dijual besok. Jadi cepatlah bergerak sebelum terlambat." Maid suruhan Albert berbisik pada bela sembari menyajikan air minum.


"Apa rumah ini akan dijual?" tanyanya pada Aurel.


"Kapan? Aku sungguh tidak tahu apa-apa. Mama tidak pernah bicara padaku sebelumnya." Aurwl menggeleng. "Kalau begitu kita harus bergerak cepat malam ini. Atau sekarang saja?" Aurel sedikit berbicara pelan.


"Nanti kalau Mama pulang bagaimana?"


"Ah, itu bisa diatur. Ayo," Aurel menyeret Bela ke kolam renang belakang. Supaya tidak ada yng curiga mereka pura-pura bermain air.


"Nona anda sedang apa?" tanya salah satu maid yang sedang bertugas diruang belakang. Maid wanita itu nampak ketakutan hingga memucat.


"Kau tidak lihat? kami sedang bermain air."


"Maaf Nona, Nyonya Besar melarang siapapun berada disini kecuali saya." Kakinya bergetar.


"Jangan banyak bicara, lakukan pekerjaanmu!" Mendengar perkataan Aurel, maid itu pergi dengan buru-buru.


"Kau lihat dia sedang gemetaran?"


"Ya aku melihat, sepertinya memang ada sesuatu disini." Aurel beranjak dari tepi kolam renang. Dia berjalan menuju pintu gudang. Namun Bela segera mencegahnya.


"Jangan gegabah, kita cari waktu yang tepat nanti. Mama sebentar lagi pulang. Kita akan tertangkap basah nanti." Aurel menuruti perkataan Bela. Mereka kembali ke ruang tamu dan menyalakan tv sambil memakan camilan. Dan benar saja Dyra pulang bersama Thomas.


Bersamaan dengan pulangnya Dyra, Albert juga datang bersama Elvan. Tentu saja itu membuat Dyra bingung. Kenapa Albert membawa anak yang pernah dibawa Bela kerumah sebelumnya.


"Ini putraku," satu kata yang bisa membuat Dyra mati berdiri ditempat.


"Jangan bercanda, kau bahkan tidak punya istri. Bagaimana kau bisa punya anak?"


"Tuan Thomas yang terhormat, saya sudah beristri." Thomas masih tidak percaya.


Bela dan Aurel keluar untuk melihat kekacauan apa yang sedang terjadi.


"Bisakah kalian masuk? Mengobrol diluar begini sangat tidak sopan."


Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk disofa.


"Katakan Nak, siapa ibumu?" Dyra bertanya manis pada Elvan.


Elvan turun dari sofa yang didudukinya dan memeluk kaki Bela.


"Bela, apa itu benar? Kau sudah menikah dengannya?" Dyra memegang dadanya.

__ADS_1


"Iya itu benar Ma, tapi itu hanya sebuah kecelakaan. Kami bahkan baru menikah kemarin lusa." Semuanya terdiam mencoba mencerna perkataan Bela.


"Astaga Bela, kau dan dia bahkan terpaut usia 10 tahun." Dyra terlihat sangat depresi.


"Maaf Ma, Bela tidak sengaja saat malam itu." Bela menelan salivanya dengan susah payah.


"Jadi kalian sudah....." Thomas berpikir apa yang terjadi malam itu. Albert dan Bela mengangguk. Mereka sudah merencanakan drama ini sebelumnya.


"Wow,"


"Kenapa kalian tidak bilang padaku?" Dyra menjadi sangat emosi. Dia tidak menyangka Albert adik tirinya menikahi putri tirinya.


"Aku takut Kakak tidak akan merestui kami. Lagipula pernikahan itu sangat mendadak."


"Ah sudahlah ini sudah terjadi. Kepalaku pusing aku ingin istirahat dikamar. Aurel antarkan Mama kekamar."


"Iya Ma," Aurel memberi isyarat untuk segera bertindak pada Bela. Bela mengerti tapi masih ada Thomas disini dan juga ada Elvan.


"Tuan Thomas, bukankah istri anda sedang sakit? Kenapa anda disini dan bukannya menemani istri anda dirumahsakit?"


Thomas terpojok, dia tidak bisa berbicara apa-apa. Rencana untuk malam ini sudah gagal. Dia harus segera pergi sebelum perselingkuhannya terbongkar. Dia pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Tidak lama setelah itu pengasuh Elvan datang dan membawanya untuk pulang. Jadi Mereka bisa bergerak sekarang.


"Kita tunggu para maid pulang dulu baru kita bisa bergerak."


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Para maid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Tidak ada yang boleh menginap atau tinggal disini. Jam 9 malam mereka sudah harus meninggalkan tempat mereka bekerja.


Aurel keluar dari kamar Dyra.


"Apa Mama sudah tidur?"


"Sudah, Mama akan tidur untuk waktu yang lama."


Beberapa saat yang lalu Aurel memberi Dyra air putih yang sudah dia campur dengan obat tidur.


"Bagus, sekarang kita bisa bergerak Bebas."


Mereka bertiga sudah ada di gudang belakang. Pintunya sulit dibuka karena tergembok. Albert mengambil palu lalu memukul gemboknya agar terbuka.


"Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan disini?" Albert merasa geram sekali dan memukul dengan sekuat tenaga. Akhirnya gemboknya hancur dan pintunya bisa dibuka.


Aurel dan Bela masuk ke dalam. Albert tetap dipintu untuk menjaga hal yang tidak diinginkan.


Gudang ini sangatlah luas. Mereka tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Hanya beberapa kursi dan meja yang tidak terpakai dan beberapa kantong hitam besar.


"Tidak ada apapun disini," Aurel menendang salah satu kantong hitam itu. Karena sepatunya yang sedikit lancip membuat kantong hitam itu robek. Entah karena sepatunya atau kantongnya yang tidak muat.

__ADS_1


Bau busuk menyeruak. Mereka berdua menutup hidung. Mereka penasaran bau busuk apa ini? Tangan Bela membuka dan merobek kantong hitam itu. Keluarlah bagian-bagian tubuh manusia yang sudah termutilasi.


Mereka berdua ingin muntah melihat hal menjijikan serta menyeramkan. Mereka tidak kuat berlama-lama disini bersama mayat yang sudah termutilasi. Mereka lari keluar untuk memberitahu Albert dan melapor pada polisi.


__ADS_2