Family And Enemy

Family And Enemy
Drama


__ADS_3

"Kau tidak percaya padaku. Kau bahkan memutuskan persahabatan kita tanpa mendengar penjelasanku. Kau juga menolak membantu saat aku sedang memperjuangkan hidup dan matiku. Seolah-olah kau tidak peduli padaku. APA ITU YANG NAMANYA SAHABAT?" Bela menggebu-gebu. Bryan hanya diam dia masih mencerna kata-kata Bela.


"Lupakan kita pernah menikmati masa kecil bersama. Kau pasti masih tidak menyukaiku. Tenang, aku akan melupakan bahwa aku pernah mencintaimu." Bela jujur pada Bryan. Sekian lama dia menanggung beban dihatinya. Setelah semua ini Bela akan merasa lega.


Bryan masih menatap mata Bela dalam diam. Dia mencari sebuah kebohongan disana tapi yang terlihat hanya sebuah luka. Bryan langsung menarik Bela ke dalam pelukannya. Tentu saja Bela terkejut. Dia berusaha memberontak. Bela memukul dada Bryan tapi tetap saja dia kalah dengan tenaga pria.


"Lepaskan aku! Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?" Bela langsung menendang kaki Bryan. Bryan mengaduh kesakitan. Sedari kecil memang kakinya menjadi kelemahannya dan hanya Bela yang tahu itu. Setelah Bryan melepaskan pelukannya, Bela langsung memukul bagian pipinya. Akibatnya Bryan tersungkur ditanah dengan lebam di pipi kirinya.


"Apa kau tidak bisa memaafkanku?" Bryan berlutut.


"Itu yang sedang aku coba lakukan. Tapi apa yang kau lakukan. Kau malah membuatku semakin membencimu. Jangan ikut campur tentang masalah hidupku. Jadilah orang asing." Bela benar-benar memperingatkan Bryan. Kesabarannya sudah habis. Dia meninggalkan Bryan yang masih berlutut untuknya.


Sedangkan Aurel sedang melihat lebih tepatnya mengawasi dua orang yang sedang bertengkar itu dari jendela kamarnya. Ada rasa senang saat melihat mereka tidak akur. Ada pula rasa sakit saat mengetahui bahwa kekasihnya memiliki sedikit rasa pada adik tirinya itu.


"Perkataan mama memang benar adanya. Seharusnya aku tidak meremehkan Bela." Aurel meremas foto masa kecilnya dengan Bela dulu. Otaknya sedang memikirkan bagaimana cara menjauhkan Bryan dari Bela.


 --------------------------------------


Seperti keluarga yang lain, pagi ini semua anggota keluarga sarapan bersama. Kehadiran Gian membuat Bela kaget sekaligus senang. Tapi hanya Arron yang tahu bahwa dia sudah mengenal Gian. Sepertinya pagi ini Bela harus memulai harinya dengan drama.


"Ma, siapa dia?" Bela menatap Gian.


"Dia anak mama lebih tepatnya anak haramnya mama." Ucap Aurel dengan penuh penekanan.


"Wow, adik laki-laki yang tampan."


Prok prok prok


Bela menepuk tangannya. Semua orang langsung menghentikan kegiatan makannya.


"Aku Bela. Kakak tirimu." Bela mengulurkan tangannya pada Gian.


"Gian." Gian dan Bela bersalaman. Awalnya Gian tidak mengerti tapi dia berusaha mengikuti alur drama yang Bela buat.

__ADS_1


"Kalau begitu ikut aku jalan-jalan mau?" begitu mendengar ajakan Bela, Gian segera melepas tangannya dari tangan Bela. Dia melihat mamanya sekilas. Dia takut jika dia menjawab iya mamanya akan marah. Dan jika menolak dia merasa tidak enak hatipad Bela.


"Ma, bolehkan?" seakan mengerti ketakutan Gian, Bela beralih pada mamanya.


"Pergilah." Jawab mamanya.


Gian dan Bela merasa senang sekali. Tapi Bela bersikap biasa-biasa saja. Jika dia bersikap begitu senang semua orang akan curiga padanya.


Drama apa yang sedang Bela mainkan? Arron menyuapkan potongan roti ke mulutnya.


Apa yang sedang gadis ini rencanakan? Dyra meminum teh hangat miliknya.


 


Kini Bela dan Gian menumpang mobil milik Alex. Seperti rencananya dia ingin membawa Gian pergi. Tapi Gian sendiri sudah memiliki rencananya yang lain.


"Kakak, sebenarnya aku ingin menemui ayahku." Ucap Gian ragu-ragu. Dia tidak memiliki banyak keberanian apalagi ada Alex yang mirip preman pasar. Canda Alex.


"Lalu dimana kau bisa menemui ayahmu?" Bela menoleh kebelakang.


"Cih, ternyata nenek tua itu masih mengawasiku. Belok ke mall, kita cari makan dulu sekaligus menyusun rencana." Bela mengepalkan tangannya.


"Kakak, mama tidak pernah mengijinkan aku untuk menemui ayah. Tapi hari ini, alasanku aku ingin bersekolah seperti anak-anak yang lain." Gian menggigit jarinya sendiri. Dia takut menyeret Bela dalam masalah pribadinya.


"Kalau begitu, kita main drama. Aku suka sekali dengan drama." Bela menyeringai.


"Bel, kau yakin ingin ke mall." Alex menoleh sekilas pada Bela.


"Kita pergi ke restoran Diamond saja."


"Aku tahu kau ini labil, Bel."


"Diam!" Alex dan Bela mulai bertengkar lagi. Dan Gian menutup kedua telinganya dengan tangan. Dia merasa aneh, memang baru kali ini dia melihat orang dewasa bertengkar karena hal konyol.

__ADS_1


 


"Mereka sedang apa sekarang?" Dyra berbicara dengan seseorang di telpon.


"Sepertinya mereka sedang makan di restoran Diamond, Nyonya."


"Terus ikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak mereka." Tangan Dyra memainkan patung angsa mini yang ada dimeja kerjanya.


"Maaf, tapi kami tidak bisa mengawasinya secara langsung. Mereka masuk pintu khusus di restoran Diamond. Kami tidak bisa masuk karena hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk lewat pintu itu."


"Terserah." Dyra mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Dyra meletakkan ponsel di meja. Dia bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju jendela kaca yang memperlihatkan indah kota dari atas gedung.


"Aku berharap kau tidak akan menemukan jati dirimu. Gabela Zoffany." Dyra menyeringai.


Pasti dia sudah merencanakan sesuatu yang membuat Bela kesulitan mencari informasi tentang asal-usulnya. Selain itu mungkin banyak rahasia yang tidak Bela ketahui. Dan dia berusaha untuk melenyapkan segala rahasia yang ada.


 


Arron berada dirumah Erland. Dia berbincang dengan Erland dan Maya tentang drama yang dibuat Bela pagi ini.


"Anak itu gigih seperti ibunya. Dia akan terus berusaha mencari tahu tentang sesuatu yang membuatnya merasa tertarik." Erland meminum kopi miliknya.


"Tapi itu pasti akan membahayakannya. Aku tahu sifat Dyra. Dia akan berusaha berbuat apa saja untuk menyingkirkan penghalang dari rencananya." Maya memberikan pendapatnya.


"Sepertinya kita juga harus membuat sedikit drama." Arron santai.


"Berhenti bermain-main. Kau tahu kau juga terancam sekarang. Kartu As Dyra ada padamu. Entah kedepannya apa yang akan dia lakukan padamu." Maya kesal dengan Arron. Arron terlalu santai.


"Tenanglah, Tante. Aku bisa mengatasinya."


"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" Erland mulai serius.

__ADS_1


"Memangnya apa yang sedang aku rencanakan?" Arron malah balik bertanya. Tapi dilihat dari wajahnya, Arron menyimpan banyak rencana.


 


__ADS_2