Family And Enemy

Family And Enemy
Benci mawar merah


__ADS_3

"Ah kepalaku pusing," Aurel bangun dari tidurnya. Semalam dia sangat emosi dan tidak bisa mengontrol dirinya. Bahkan dia baru ingat apa yang diperbuatnya pada Bela semalam.


"Astaga, apa Bela akan mengadu pada Mama?" Dia beranjak dari ranjangnya. Dia terpaku didepan cermin kamarnya.


"Bagaimana kalau aku hamil? Aku bahkan tidak tahu siapa pria yang bersamaku semalam."


"Tidak, tidak, aku tidak boleh hamil." Aurel menempis pikirannya. Hamil? itu tidak pernah terlintas dibenakknya. Hidupnya sudah hancur karena perbuatannya semalam. Jika dia hamil, hidupnya benar-benar hancur sehancur-hancurnya.


Tok tok


Dyra mengetuk pintu kamar Aurel.


"Iya masuk saja, pintunya tidak Aurel kunci."


Dyra membuka pelan. "Cepat turun dan sarapan. Jam berapa kau pulang semalam?"


Aurel bingung harus jawab apa. "Rencananya Aurel semalam mau menginap dirumah Zy tapi ternyata disana Aurel tidak bisa tidur. Jadi Aurel pulang tengah malam." Terpaksa dia harus berbohong. Dia tahu benar jika Mamanya melarangnya untuk clubbing. Untuk menjaga yang tidak-tidak. Tapi Aurel selalu melakukan hal yang dilarang dan pergi ke tempat yang dilarang tanpa sepengetahuan Mamanya. Entahlah Aurel merasa tertantang.


"Kalau begitu, cepat turun dan sarapan." Dyra menutup kembali pintunya.


Aurel merasa lega. Kemudian dia turun dan sarapan bersama Mamanya.


Dirumahsakit, Bela ingin turun dari ranjangnya. Dia sangat bosan jika cuma berbaring di ranjang. Punggungnya juga rasanya mau patah.


Perlahan dia menggerakkan kakinya yang terluka. Rasanya sangat perih. "Cih, biasanya juga terluka dan tidak terasa sakit. Tapi sekarang hanya terluka sedikit rasanya linu." Bela mengomel sendiri.

__ADS_1


Akhirnya telapak kakinya bisa menyentuh lantai. Bela menahan rasa sakit dipahanya. Dia mencoba berjalan keluar untuk menghirup udara segar.


"Mau kemana?" Bela menghentikan langkahnya.


"Suamiku, aku ingin keluar menghirup udara segar."


"Kenapa tidak membangunkanku? aku akan ambilkan kursi roda untukmu." Albert keluar untuk mengambilkan kursi roda untuk Bela.


Dan disinilah mereka berada, di taman belakang rumahsakit. Bela menghirup udara dalam-dalam. Dia tidak lagi merasa sesak seperti sebelumnya.


"Mau kuambilkan sarapan?"


Bela menggeleng. "Aku tidak suka makanan rumahsakit."


Albert berjongkok dihadapannya. "Keinginan istriku adalah perintah bagiku. Katakan, kau ingin makanan apa?"


Albert langsung berdiri. Bagaimana dia membawa istrinya pulang sementara kakinya belum pulih. "Kalau yang itu tidak bisa. Kakimu belum pulih."


"Oh ayolah, ini akan sembuh kalau dirumah." Bela merengek. Tapi Albert tetap tidak mengabulkan keinginannya malahan dia mendorong kursi roda Bela kembali kekamarnya.


Dari kejauhan, Bryan melihat Bela. Hatinya sangat merasa bersalah telah ikut memusuhi Bela. Tapi kemudian dia berpikir kenapa Bela duduk di kursi roda dan siapa yang bersamanya. Bryan melihat diruangan berapa Bela masuk.


"Akan ku belikan bunga kesukaannya."


Setelah sampai dikamarnya, Albert membaringkan Bela diranjang. "Aku ingin pulang. Aku ingin pulang." Bela terus mengucapkan itu.

__ADS_1


"Tidak sebelum kakimu pulih."


Bela cemberut. Tidak ada yang bisa dia hubungi. Cindy dia tugaskan untuk mengawasi kantor karena Theo sedang melakukan kunjungan ke luar kota.


"Kau belum mengatakan bagaimana kau terluka. Kau mau menceritakan sekarang atau besok?" Albert duduk didekatnya.


"Ah, tadi malam aku tidak bisa tidur. Lalu aku berbaring di sofa ruangtamu. Entah kapan Aurel datang tiba-tiba dia ingin menusuk perutku. Aku kaget dan langsung duduk. Pisaunya mengenai pahaku. Dia mengatakan bahwa aku menghancurkan hidupnya. Aku bahkan tidak tahu hidupnya bagian mana yang hancur karenaku."


"Ternyata dia sama gilanya seperti ayahnya." Gumam Albert pelan tapi tetap bisa terdengar oleh Bela. Dan Bela berniat menanyakannya setelah dia keluar dari rumahsakit. Dia ingin menggali lebih dalam lagi soal ayah kandung Aurel.


Pintu terbuka tiba-tiba. "Bela kau kenapa?" Bryan membawa buket bunga mawar. Albert kaget, dia berdiri sedikit menjauh dari Bela.


"Bryan, kapan kau kembali dan bagaimana kau tahu aku disini?" Yang Bela tahu Bryan masih di London.


"Itu tidak penting. Kenapa kau terluka?" Bryan meletakkan buket bunganya di pangkuan Bela. Tangan bergerak ingin menyentuh wajah Bela tapi Bela segera menempisnya kasar.


"Jika kau ingin bertanya, coba tanyakan pada kekasihmu. Pasti dia tahu bagaimana aku bisa terluka."


Mendengar itu darah Bryan langsung mendidih. Baru tadi malam dia memperingatkan Aurel tapi Aurel melukai Bela secara langsung. Tanpa babibu dia langsung keluar ruangan dengan langkah yang kasar. Jika orang melihatnya mereka pasti bisa menebak bahwa dia sedang marah.


"Buang ini ditempat sampah," Bela menyingkirkan buket bunga dari pangkuannya.


"Kenapa dibuang? Mawar-mawar ini sangat cantik." Albert mencium wangi mawar.


"Sebenarnya aku benci mawar merah. Aku lebih suka mawar putih. Dan sekarang bisakah kita keluar dari sini? bajingan itu akan segera kembali kesini untuk memberiku harapan palsu."

__ADS_1


Albert berpikir keras. Benar juga yang dikatakan oleh Bela. Dia harus membawa Bela ketempat lain. Suami mana yang rela istrinya diganggu oleh pria lain?


__ADS_2