Family And Enemy

Family And Enemy
murahan


__ADS_3

Aurel amat sangat menyesali perbuatannya. Dari kecil dia selalu cemburu pada Bela tanpa sebab. Kini dia menyadari hidupnya bisa dalam bahaya kalau saja dia masih bersikap seperti anak-anak.


Orang yang dia percaya selama ini ternyata orang yang menjauhkannya dari keluarga kandungnya. Betapa bodohnya dia menuruti semua perkataan Dyra. Aurel selalu dikendalikan oleh Dyra.


Albert menghampiri Aurel yang duduk melamun ditaman.


"Harusnya aku mendengarkanmu dari dulu, Paman. Mungkin nasibku tidak akan seburuk sekarang. Andai dari dulu aku percaya kalau kau itu Pamanku."


"Kau masih bisa memperbaikinya. Cukup mengakui perbuatanmu dan bertanggungjawab. Aku dan Bela akan mencoba meringankan hukumanmu."


"Aku percaya kepadamu. Tapi aku masih merasa sangat bersalah. Andai aku mempercayai semua perkataanmu, Paman." Aurel sangat putus asa. Dia hanya bisa pasrah dan berharap Bela bisa memaafkannya.


"Sejak kapan kau berhenti meminum jus yang dibuatnya?"


"Sejak seminggu yang lalu. Aku mencoba untuk tidak meminumnya dan malamnya aku merasa kepalaku seperti ditusuk ribuan paku. Keesokan harinya aku pergi kedokter. Dan aku tidak percaya apa yang dikatakan dokter itu. Besoknya lagi aku membawa sisa jus itu untuk di cek dilaboratorium dan itu seperti katamu. Kini aku percaya dia mencoba mengendalikan aku. Sejak saat itu aku selalu membuang jusnya ke kamar mandi. Mungkin belum sembuh sepenuhnya tapi aku akan terus usaha untuk menormalkan sarafku."


"Tapi Paman, apa Mama tahu kalau Paman punya anak?" tanya begitu mengingat soal Elvan.


"Sepertinya belum. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Wah, pasti Mama akan serangan jantung ketika tahu Paman menikahi Bela. Dan Mama pasti juga kaget kalau Paman punya anak. Elvan dulu pernah dibawa Bela kerumah. Pasti akan lebih seru lagi." Aurel sangat bersemangat.


Bela menunggu kepulangan Elvan dari sekolahnya. "Apa kau akan kembali kerumah itu?" tanya Cindy yang berada disampingnya.


"Setelah aku melihat Elvan, aku akan langsung pulang. Tapi dimana Aurel sekarang?"


"Dia ada di taman belakang bersama tuan Albert. Ngomong-ngomong soal penculikan itu, apa mungkin Nyonya Dyra membunuh mereka dan menjual organ-organ mereka?" Cindy ragu-ragu mengatakan hal itu.


"Aku tidak tahu, Kak. Nanti akan kucoba untuk masuk kegudang belakang. Tapi pasti akan sedikit sulit untuk sampai disana."


"Thomas berkeliaran dirumahmu." Albert datang bersama Aurel.


"Kalian mau pulang sekarang atau nanti?" Albert menoleh pada Aurel dan Bela bergantian.


"Sekarang saja, akan ada banyak kegiatan yang harus aku lakukan bersama Bela."


"Baiklah akan ku carikan taksi diluar." Albert dan Aurel keluar untuk mencari taksi. Jika Albert yang mengantarkan mereka nanti penjaga gerbang melaporkannya pada Dyra dan kacaulah rencana mereka.


Bela ingin menyusul mereka namun Cindy menghentikannya.

__ADS_1


"Aku ingin mengatakan sesuatu." Bela mengangguk.


"Saat kita mencuri uang dulu, aku melihat Nyonya Dyra dan Tuan Thomas sedang... "


"Sedang apa Kakak?"


"Hmm...." Cindy ragu, jika dia katakan akan sangat tidak sopan.


"Katakan saja,"


"Mereka berhubungan suami istri."


"Hah apa?"


"Aku tidak bohong. Mereka tidak menyadari ada cctv dan aku melihat itu semua."


Bela tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu matamu sudah ternoda. Tidak kusangka wanita tua itu begitu murahan."


"Mungkin mereka saling mencintai tapi Tuan Thomas sudah beristri. Mereka begitu nekat."

__ADS_1


"Cinta buta dan gila, Kakak" Bela masih tertawa.


__ADS_2