Family And Enemy

Family And Enemy
pencurian kedua


__ADS_3

"Apa kakak tidak melakukan kesalahan?" Sheila duduk selonjoran disofa sambil bermain ponsel.


"Tidak, " Oliv merasa tegang.


"Kakak tidak bisa berbohong padaku,"


"Ya, aku membuat kesalahan. Aku menatap matanya. Kuharap dia tidak menyadari bahwa itu aku." Oliv mendudukkan dirinya disofa.


"Sudah kuduga, Kakak masih mencintainya. Belum terlambat untuk mengakuinya."


"Tidak, aku tidak akan kembali ke masalalu. Bahkan aku tidak sanggup membayangkannya."Hatinya menjadi bergemuruh. Rasanya dia ingin berlari ke Albert dan mengatakan padanya bahwa dia Bela, istrinya.


"Baiklah, semoga Kakak tidak menyesalinya. Kita akan bergerak malam ini." Sheila meletakkan ponselnya di meja.


"Secepat ini?"


"Iya, hidup orang-orang kecil dikota ini semakin terinjak-injak oleh orang serakah. Kakak, ada beberapa panti asuhan yang tidak bisa menghidupi anak-anak yang tinggal disana." Sheila bangkit dari duduknya.


"Bahkan ada dari mereka yang mengemis dan mengamen dijalanan. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan. Ada juga anak-anak yang mati kelaparan. " Melangkah ke dalam kamar. Oliv mengikutinya.


"Kita harus memberi pelajaran pada orang-orang serakah itu. Terutama walikota. Kakak sudah mendengar banyak dari Nyonya Victoria. Ngomong-ngomong kau sudah menentukan targetnya?" Oliv menoleh pada Sheila.


"Bank swasta terbesar dikota ini." Sheila membuka lembaran kertas besar yang tadinya tergulung. Kertas itu berisi denah bangunan dari Red Bank.


"Disinilah awal mula orang-orang kecil itu kehilangan uangnya. Pada awal pembukaan pada 3 tahun yang lalu, semua orang yang tinggal dikota ini wajib menyimpan sebagian uang mereka di bank ini. Dengan iming-iming uang mereka akan berbunga 5 persen. Tapi setelah bank ini berjalan 1 tahun, mereka protes karena uang mereka tinggal setengah dari jumlah sebelumnya. Mereka menyelenggarakan protes besar-besaran. Tapi ada banyak orang yang menjadi korban karena unjuk rasa itu. 40 orang mati karena tertembak. Dan setelah itu tidak ada lagi orang kecil yang menyimpan uangnya disini. Mereka memilih merelakan sisa uang mereka. Nyawa lebih penting daripada uang." Sheila menceritakan apa yang baru saja dia dapat.


"Tapi kemana semua uang itu?"


"Uang itu masuk ke rekening para orang-orang serakah itu. Sekarang hanya ada uang para orang-orang kaya di Bank itu. Jadi kalau kita mengambil semua uang yang ada disana tidak ada orang yang akan dirugikan. Biar orang-orang serakah itu merasakan bagaimana rasanya kehilangan."


"Ya kau benar, kita akan berusaha mengembalikan hak mereka yang hilang." Oliv dan Sheila saling bertatap muka.


...........


"Mata itu mengingatkanku pada Bela. Apakah dia Bela?"


Plak, Albert menampar dirinya sendiri untuk mengembalikan kesadarannya.


"Tidak, dia tidak mungkin Bela. Bela sudah tiada. Jangan terlalu berimajinasi." Albert menuangkan air putih ke gelas lalu meminumnya.


"Ayah, Elvan ingin makan apel."


Jantungnya terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Apakah Elvan mendengarkan perkataanya tadi?

__ADS_1


"Hmm, ambil saja dilemari pendingin."


"Baik Ayah, " Elvan berjalan ke arah lemari pendingin. Perlahan tangannya membuka lemari pendingin.


Mommy masih hidup? Aku akan mencarinya.


Elvan diam menatap buah dan sayur yang ada di dalam lemari pendingin.


"Elvan, jangan lama-lama. Cepatlah ambil dan lanjutkan belajarmu dikamar."


"Iya Ayah, " Elvan mengambil buah apel dan pergi ke kamarnya sesuai dengan perintah Ayahnya.


..........


Theo memasuki apertemen. Sheila sudah melihat wajah baru Theo namun Bela belum.


"Bel, " panggilnya lembut.


Bela menoleh, dia tidak mengenal siapa laki-laki didepannya ini. Dia baru akan bertanya tapi Theo memeluknya tiba-tiba.


Bela diam. Sudah lama dia tidak merasakan pelukan ini selama 3 tahun belakangan. Kini Dia tahu siapa laki-laki yang memeluknya.


"Apakah kalian akan bergerak malam ini?"


"Sheila yang memberitahuku. Aku akan membantu kalian mengembalikan hak setiap orang yang dirampas oleh Thomas." Theo mengecup kening Bela.


.............


Bela dan Sheila melompat ke lantai paling atas Red Bank melalui gedung disampingnya. Ditengah malam seperti ini tidak ada yang menjaga. Tidak aneh hanya saja mereka percaya diri tidak ada yang akan mengambil uang mereka.


"Tidak ada penjaga tapi masih banyak mata digital yang memantau." ujar Sheila.


"Tunggu Kak Cindy mematikan cctvnya." Sheila mengangguk mendengarkan Bela.


Cindy datang bersama Theo tanpa memberi tahu Bela. Dia meninggalkan putrinya bersama Ben di Thailand.


"Semua sudah siap," suara Cindy terdengar melalui earphone ditelinga Bela.


"Ayo, "


Sheila dan Bela mulai bergerak. Mereka masuk lewat jendela dilantai atas. Desain bangunan ini sangatlah aneh. Hanya ada beberapa pintu dan jendela. Banyak loker dan juga lemari kaca untuk menyimpan berlian mereka.


"Kakak, ada 150 loker disini. Aku merasa aneh, mengapa mereka menghapus rekening dan menaruh uangnya diloker?"

__ADS_1


"Sheila, kau tidak aneh. Mereka saja yang bodoh." Bela fokus membuka loker pertama.


Tidaklah sulit membuka lokernya. Hanya perlu sandinya saja. Dan Bela tidak perlu bekerja keras untuk itu. Dia megandalkan Cindy.


"Loker nomer 12 dengan password 44869152."


Bela membuka loker sesuai dengan apa yang dia dengar dari Cindy. Dan berhasil.


Sheila membuka tas yang sudah dipersiapkan untuk membawa uangnya. Lalu Bela mengambil separuh uang dari loker. Begitu seterusnya hingga 10 loker. Memang tidak semuanya tapi Bela sudah memastikan kesebelas loker tersebut milik orang-orang yang paling kaya diantara yang lain dan juga orang-orang yang membantu Thomas melakukan ketidakadilan.


"Kak, kenapa lampu tiba-tiba mati?" Sheila kaget karena seluruh penerangan padam secara tiba-tiba.


"Tuan Theo yang memadamkannya." Suara Cindy terdengar.


"Tenanglah, ini untuk memudahkan kita."


Setelah itu mereka turun ke lantai 3 untuk mengambil beberapa berlian. Tiba-tiba ada 2 penjaga yang sedang berpatroli memantau keadaan. Bela dan Sheila bersembunyi di bawah meja marmer dipojok ruangan.


"Aman seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi kenapa listriknya padam?" Laki-laki berumur 30 tahunan itu mengarahkan senternya pada etalase.


"Ah, gara-gara si tua itu kita jadi tidak tidur sekarang. Tidak ada yang akan mencuri uangnya. Mendingan kita tidur dilantai bawah." laki-laki yang lebih muda darinya menyeretnya keluar untuk melanjutkan tidur.


Bela dan Sheila bernapas lega. Barusaja mereka menahan napas agar tidak ketahuan.


"Kukira kita akan tertangkap," Sheila keluar dari bawah meja bersama Bela.


Mereka melanjutkan aksinya mengambil berlian yang tersimpan rapi di etalase. Total ada 15 berlian yang mereka ambil. Jika dijual pasti harganya sangat fantastis.


"Sudah, mari kita pergi dari sini. Ini sudah cukup berat, Kak." Sheila kesulitan membawa tasnya.


Mereka membawa tas ransel berisi uang dan berlian dipunggung mereka. Sampai diatap, mereka berlari sekuat tenaga lalu melompat ke gedung disamping Red Bank yang tingginya setara. Gedung itu tidak terpakai dan tidak terawat. Terkesan horor tapi mau bagaimana lagi itu satu-satunya jalan mereka.


Bulu kuduk mereka berdiri ketika turun ke lantai bawah. Mereka menahan hawa dingin yang menyelimuti gedung itu. Barulah mereka bisa bernapas lega ketika sudah sampai di mobil.


"Gila, gedung yang ini lebih serem dari omelannya Tante Maya." Bela melepas penutup kepalanya.


"Kita kemana?"


"Hmm, ke apartemen Kak Cindy saja. Disana banyak ruang rahasia yang tidak diketahui orang selain aku dan kak Cindy sendiri."


"Baiklah," Sheila mengemudikan mobilnya menuju apartemen Cindy. Setelah sampai diparkiran bawah tanah, mereka mengganti nomer plat mobil mereka dengan yang asli. Tadi mereka menggunakan plat mobil yang palsu.


"Jadi kita aman. Disini tidak ada cctv. Hanya ada dibagian depan." Bela melepas jaket hitamnya. Dia melakukan pencurian untuk yang kedua kalinya

__ADS_1


.........


__ADS_2