
"Kak, aku merasa aneh dengan Albert. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu."
"Sudah kuduga dia punya niat lain. Kau tahu orang tua yang Tuan Theo kurung itu?" Bela menggangguk.
"Tuan Theo sudah memindahkannya kesuatu tempat yang suamimu tidak bisa menjangkaunya."
"Tapi memangnya kenapa?" Bela semakin tidak mengerti.
"Orang tua itu menyimpan rahasia tentang kelahiranmu." Wajah Bela berubah seketika dia mengingat Sheila. Dimana Sheila dan bagaimana kabarnya saat ini.
"Kenapa saat aku sudah percaya pada seseorang, orang itu selalu mengkhianatiku. Kali ini mungkin Albert juga akan menghianatiku sama seperti Alex." Bela meratapi nasibnya.
"Kurasa aku perlu membuat restoran ini bangkrut." Ide gila muncul di kepala Cindy.
Bela pulang ke rumah suaminya dalam keadaan yang kacau. Wajahnya pucat seperti tubuhnya tidak bernyawa.
"Ada apa denganmu?"
"Restoranku bangkrut, " Air mata Bela jatuh begitu saja. Setelah sekian lama dia kembali memainkan dramanya.
Albert menarik Bela dalam pelukannya. Berusaha untuk mengurangi bebannya. Jantungnya berdetak kencang. Bela melepaskan pelukannya dan bertanya,
__ADS_1
"Kenapa jantungmu berdetak kencang?" Albert memegang dadanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Kau pasti lapar. Aku akan memasak untukmu." Bela meninggalkan Albert. Dia pergi kedapur.
Albert masih terpaku. Apa jangan-jangan dia sudah mulai jatuh cinta pada Bela?
Tidak tidak, itu tidak mungkin. Dia harus membalaskan apa yang diperbuat Arron pada kakaknya. Jika memang dia sudah mencintainya maka dia harus rela mengorbankan Bela demi keluarganya. Ya itu harus!!
Theo menikmati kopi malamnya. Pikirannya terus berkecamuk memikirkan Bela. Malam ini hatinya tidak tenang setelah mengetahui Alden sudah keluar dari penjara.
"Ya Tuhan, kenapa kehidupan Bela harus hancur seperti ini. Hanya karena orang-orang yang serakah itu hidupnya jadi seperti ini." Tangannya meremas kertas yang sedang dia baca.
"Berdiam diri seperti ini tidak akan membantunya, Tuan." Jake datang dari dapur membawa secangkir kopi.
"Nona Bela tidak lahir sendiri. Dia masih punya duplikat."
"Maksudnya?"
"Nona Bela memiliki saudara kembar. Namanya Sheila. Orangtua saya yang membesarkannya seperti cucunya sendiri. Mereka bertemu di Australia. Mereka sangat mirip bak pinang dibelah dua. Sangat sulit untuk membedakan mereka. Hanya saja Sheila lebih psikopat."
"Sekarang tidak ada lagi rahasia yang saya simpan." Imbuh Jake.
__ADS_1
"Alden mengincar Bela karena Arron. Kalau mereka tahu aku juga adiknya pasti mereka akan mengincarku. Kurasa Albert sudah tahu. Sekarang mereka mengincarku." Theo ngelantur.
"Jangan gegabah, masih ada Tuan Erland yang akan membantu nanti." Jake menenangkan Theo agar dia tidak mengambil tindakan yang salah.
Keesokan harinya,
Thomas menemui Alden setelah dia dengar Alden bebas dari penjara. Seharusnya Thomas mendekam didalam penjara tapi karena dia punya uang dia bisa bebas. Uang mengubah segalanya.
"Untuk apa kau mendatangiku?"
"Hmm, kau tahu Theo itu adiknya Arron. Dia menjadi kaki tangannya Arron. Kalau kau ingin menyingkirkan Bela singkirkan dulu Theo. Hanya itu yang menjadi penghalangmu. Soal Erland, dia menetap di Canada. Dia juga tidak peduli lagi dengan Bela." Bagaikan setan yang memiliki tanduk di kepalanya, Thomas menghasut Alden.
"Sekali monster tetaplah monster. Berapa nyawa yang kau hilangkan hanya demi uangmu itu?"
"Kita itu sama-sama monster, jadi jangan sok suci." Thomas menatapnya tajam.
"Jangan samakan kita. Kita itu berbeda. Kau ini serakah tapi aku hanya ingin mereka membayar penderitaan putriku. Wanitamu itu harus kulenyapkan."
"Kalau begitu lenyapkan saja, aku sudah bosan dengannya. Lagipula uang darinya sudah lebih dari cukup untukku." Thomas bersikap bodo amat.
"Kau memang benar-benar serakah. Dyra melakukan semua itu hanya karena dirimu. Semua yang telah terjadi seharusnya kau yang bertanggungjawab. Sebenarnya kematian Satya dan istrinya itu ulahmu. Semua berawal darimu." Alden menunjuk Thomas dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Yeah, aku memang monster." ucapnya sambil menurunkan tangan Alden yang menunjuknya.