
Oliv terbangun, dia ketiduran dikamar Elvan. Demam Elvan sudah turun sekarang. Dia bergegas mengambil tasnya dan pergi dari rumah yang dulu pernah ditempatinya itu.
Sesampainya di apartemen, dia masuk ke kamar Sheila. Menatap dinding yang dipenuhi oleh foto Alden. Rupanya Sheila sudah lebih dulu menyembunyikan targetnya yang lain.
"Kenapa sulit sekali bagimu untuk memaafkan?" gumamnya sambil memandangi Sheila yang masih terlelap.
Oliv menghidupkan lampu kamar Sheila. Cahaya mengganggu tidurnya yang tenang. Perlahan Sheila membuka matanya. Itulah cara jitu Oliv membangunkan Sheila.
"Kakak, ini masih pukul 5 pagi. Bangunkan aku satu jam lagi." Sheila menutupi kepalanya dengan selimut.
"Ayolah, kita akan membangun bisnis kita lagi. Bangunlah lebih awal, " Oliv menarik selimutnya.
"Ah Kakak, " Sheila merengek bak bayi. Oliv pun luluh dan membiarkan Sheila tidur satu jam lagi.
Oliv mandi dan berganti pakaian santai. Hari ini tidak ada jadwal untuknya bekerja diluar jadi dia berpikir untuk dirumah saja merancang bisnis baru miliknya.
Pukul 7 pagi, Oliv dan Sheila duduk didepan televisi sambil mengunyah roti lapis yang mereka buat.
"Kakak, aku ingin pergi keluar hari ini. Aku ingin mengunjungi rumahsakit yang ada di kota sebelah."
"Pergilah, tapi pulang jangan terlalu larut."
__ADS_1
Mereka tidak begitu peduli dengan siaran televisi yang sedang berlangsung.
"Berita terkini, Nyonya Grace Harwell ditemukan tewas di gedung yang belum selesai dibangun di daerah Y. Mayatnya ditemukan sekitar pukul 3 dini hari tadi. Polisi menduga dia bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari lantai 5. Dilokasi kejadian juga terdapat mobilnya yang masih menyala." Reporter menyampaikan beritanya.
Sheila makan dengan biasa sedangkan Oliv dia mencoba untuk tidak panik. Grace bukanlah target Sheila. Jadi itu pasti bukan Sheila.
Oliv berdiri membawa piring kotor ke dapur. Sheila tersenyum singkat memandang kearah televisi yang masih menayangkan berita tentang kematian Grace.
"Tahan dirimu Sheila, beri jarak agar tidak ketahuan." gumamnya pelan.
..........
Alden melempar botol minuman keras ke televisinya. Apartemen yang sudah tidak berbentuk. Barang yang berhamburan kemana-mana. Sangat menjijikan, dia berubah menjadi orang yang kotor dalam artian yang sesungguhnya. Membawa wanita yang berbeda setiap malamnya.
Ada satu pesan yang belum dilihatnya. Penasaran, "Rekaman suara siapa?" Alden memutarnya untuk mengetahui apa isinya.
"Tidak, aku tidak mengijinkan gedungku dipakai olehmu."
"Apa kau lupa kaulah dalang dari pelenyapan Satya?"
"Mengungkit masalalu itu sudah menjadi senjatamu. Kau dan Dyra sama-sama monster yang mengerikan."
__ADS_1
"Kenapa kau menyebut nama wanita itu lagi? Sudahlah, berikan saja bangunan indah itu padaku. Akan ku tunjukkan caraku berbisnis."
"Tidak akan pernah, "
"Lihat saja, keangkuhanmu akan terbayar."
Suara yang sangat dia kenal. Thomas dan Grace. Cara Sheila mengadu domba mereka akan berhasil sebentar lagi. Alden sudah tersulut emosi.
"Sial, kau tidak pernah bisa berubah. Semakin hari kau menjadi penghianat para rekanmu. Ternyata kau berulah, lihatlah sebentar lagi aku akan membalasmu." Alden melempar ponselnya disofa. Lihat, mudah bukan? Sheila tidak perlu ikut campur dalam masalah mereka sekarang. Cukup duduk dan melihat. Umpan yang dilempar oleh Sheila telah termakan oleh emosi Alden.
.........
Oliv membawa buah-buahan untuk Elvan. Ditengah hari yang panas seperti ini sangat segar jika mengkonsumsi buah-buahan.
"Kenapa kau kembali kesini?" tanya Albert dengan raut muka yang masam. Padahal dia senang sekali setiap Oliv mengunjungi kediamannya.
"Aku ingin memberikan buah ini." Oliv memberikan sakantong buah-buahan yang dia beli di supermarket tadi.
"Tidak perlu repot-repot."
"Tidak sama sekali. Hmm, bolehkan aku bertanya? Pertanyaanku ini mungkin sedikit bersifat pribadi. Apa kau dekat dengan Nyonya Harwell? Maksudku, ah tidak perlu diteruskan" Oliv merasa gugup.
__ADS_1
"Dulu kami memang rekan kerja. Thomas, Victoria, Grace dan Dyra. Lalu salah satu dari mereka membuat kesalahan yang sangat fatal hanya demi kekayaan dan kedudukan. Hanya aku dan Victoria yang masih memiliki akal sehat." Entah dorongan darimana Albert mengatakan itu pada Oliv. Mungkin sebentar lagi Oliv akan menjadi orang yang terpercaya untuk menumpahkan segala rasa sedihnya.