
"Gian, kau yakin bisa menemui ayahmu disini." Bela tidak yakin pada Gian. Bukan tidak yakin hanya saja dia sedikit ragu. Sama deh kayaknya, Thor.
"Setiap setahun sekali aku menemuinya disini." Gian melihat gedung tinggi nan mewah didepannya. Alex dan Bela saling tatap mereka sedang memikirkan hal yang sama.
Gian melangkahkan kakinya masuk ke gedung itu. Alex dan Bela, mereka berdua hanya mengekor dibelakang Gian. Alex paham betul dia sedang dimana. Dia sangat waspada.
Betapa terkejutnya Bela dan Alex saat mereka barusaja masuk ke gedung itu. Semua karyawan yang bekerja di perusahaan itu berbaris menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan muda." Mereka membungkuk bersamaan.
"Apa anda ingin menemui ayah anda? Mari saya antar." salah satu karyawan mendekati Gian.
"Baik." Mereka bertiga mengikuti karyawan itu sampai ke lantai atas.
Mereka berhenti didepan ruangan presdir. Gian masuk ke ruangan itu.
"Maaf hanya tuan muda kami yang boleh masuk." Karyawan yang mengantar mereka melarang Alex dan Bela.
"Baiklah, kami akan menunggu diluar saja." Bela tersenyum kecut. Padahal kekepoan Bela sudah sampai diubun-ubun. Seketika rasa keponya ia telan kembali.
"Kalian bisa duduk di sofa yang ada disana." Karyawan itu menunjukkan sofa di sudut ruangan.
"Terimakasih."
"Kalau begitu saya tinggal dulu. Ada sedikit pekerjaan yang harus saya lakukan. Permisi." Karyawan itu meninggalkan mereka berdua.
Bela duduk di sofa yang ditunjuk tadi diikuti dengan Alex.
"Ck. Padahal aku tadi sudah sangat kepo." Bela berdecak. Sungguh sangat disayangkan jika dia tidak melihat ayahnya Gian.
"Dasar tukang kepo." lirih Alex tapi tetap saja bisa didengar Bela.
"Kau tadi bilang apa?"
"Memangnya kau dengar?" Alex duduk mendekat ke Bela.
"Aku tidak tuli. Kenapa kau dekat-dekat seperti itu?" Bela menjadi was-was.
"Aku hanya ingin bermain dengan rambutmu." Alex memainkan rambut Bela dengan jari telunjuknya.
"Kalau sampai rambutku rontok, akan ku botakkan kepalamu." Bela mengancam Alex.
"Iya-iya. Kenapa rambutmu sangat halus?"
"Lex, tidak perlu bertanya hal yang tidak penting." Bela merasa tidak tenang. Dia sedikit mencemaskan Gian. Tapi buat apa mencemaskannya lagipula dia sedang bersama ayahnya.
__ADS_1
"Tenanglah. Apa yang kau cemaskan?" Alex menggenggam tangan kanan Bela. Dia mencoba menenangkannya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
"Kakak, ayah ingin bertemu denganmu." Gian muncul dari balik pintu.
"Apa?" Bela langsung bangkit dari duduknya. Dia dan Alex salimg tatap. Mata Alex seolah menyuruhnya pergi.
"Oke, aku akan masuk tunggu sebentar." Bela masuk ke ruangan presdir. Sungguh dia merasa tidak nyaman. Rasa ingin tahunya sudah lenyap. Apa yang dia rasakan sekarang tidak bisa digambarkan.
⚡⚡⚡
Dyra dan para petinggi-petinggi perusahaan sedang mengadakan pertemuan tertutup. Akhir-akhir ini keuntungan perusahaan sedikit menurun.
"Baik, pertemuan hari ini sudah mencapai kesepakatan. Semoga dengan strategi baru kita, keuntungan perusahaan akan meningkat seperti sebelum-sebelumnya." Dyra menutup berkas yang barusaja dia bahas.
"Kami juga menginginkan hal yang sama." Semua orang yang menghadiri pertemuan itu membungkuk sebelum mengundurkan diri.
Semua orang sudah meninggalkan ruangan hanya beberapa yang masih didalam.
"Bagaimana dengan bisnis kita yang ada di kota x?" Wanita yang berpakaian serba glamor. Dia Victoria Ghy menantu dari seniman yang berpengaruh dikota ini. Dia tega meracuni suaminya sendiri dan merampas semua kekayaannya.
"Seperti biasa tidak ada kendala hanya saja ada yang sudah mengetahui bisnis gelap kita." Pria berumur 30 tahun yang akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia Alberto Edison. Dia yang paling muda diantara mereka. Pria berwibawa yang masih lajang. Banyak wanita yang ingin menikah dengannya tapi dia masih tetap ingin melajang.
"Selagi dia bukan siapa-siapa, kita masih aman." Wanita yang hanya memperdulikan uang dan perhiasan miliknya. Dia Grace Harwell, designer yang suka mencuri desain baju milik orang lain dan menjualnya atas namanya sendiri.
"Pemimpin GO gruop, Arron Gerald. Apa masih ingin menyingkirkan orang itu?" Pernyataan Albert membuat semua orang membelalakkan matanya.
"Kita dalam bahaya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Grace menggigit kuku jarinya.
"Menyingkirkannya. Apalagi?" sahut Dyra dengan entengnya.
"Kau sudah gila ya?" Victoria menggebrak meja.
"Dia bukan anakku." dengan santainya Dyra mengatakan itu.
"Wah, kau ini wanita macam apa?" Alberto sungguh tidak menyangka Dyra tidak mengakui Arron sebagai putranya.
"Dia memang bukan anakku. Dia anak dari istri mendiang suamiku."
"Cukup, sekarang rencana apa yang kalian buat untuk menyingkirkan Arron?" Thomas menghentikan ocehan mereka yang tidak berguna.
"Aku masih tidak yakin jika dia akan menyingkirkan putranya." Grace menatap Dyra dari jauh.
"Aku tidak main-main, Nyonya Harwell." Dyra menegaskan ulang.
__ADS_1
⚡⚡⚡
Ini sudah hampir sore hari. Bela, Alex dan Gian sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka juga sudah menukarkan mobil yang tadi mereka gunakan untuk melarikan diri dari penguntit.
"Bel, kenapa diam saja?" Alex menyadari perubahan sikap Bela.
"Aku mungkin sedang tidak enak badan." Bela mengusap leher bagian belakangnya.
"Apa perlu ke rumahsakit, Kak?"
"Tidak perlu. Kakak hanya butuh sedikit istirahat saja, Gian." Bela menoleh pada Gian yang ada di kursi belakang.
"Ponselmu ada di dashboard. Aku lupa untuk memberikannya padamu tadi." Alex berfokus pada kemudi mobilnya.
"Oh, kapan kau mengambilnya dari rumah om Erland?" Bela mengambil ponselnya dari dashboard.
"Tadi pagi. Sebelum ke rumahmu aku menemui Rio sekalian saja aku ambilkan ponselmu." Jelas Alex.
"Hm, terimakasih." Bela mencoba menghidupkan ponselnya tapi tetap tidak menyala. Dia berpikir mungkin saja baterainya habis. Dia akan menchargernya dirumah.
Mobil mereka sudah memasuki halaman rumah. Rumah itu masih tampak sepi, belum ada satupun mobil yang terparkir disana. Itu berarti Dyra, Arron dan Aurel belum pulang. Jadi tidak ada yang akan mencurigainya dan menanyainya dari mana.
"Kau tidak mau masuk?"
Alex tidak menjawab dan hanya menggeleng. Dia ingin Bela istirahat dan dia tidak ingin mengganggunya. Sebenarnya Alex itu orang yang baik hanya saja masalalu yang membuat dia sedikit menakutkan. (Jangan kau hantui Author ya Lex)
"Baiklah kalau kau tidak mau masuk. Aku sudah kelelahan dan ingin segera istirahat." Bela membuka pintu mobil dan keluar.
"Tunggulah disini sebentar." Pinta Alex pada Gian.
"Kakak, duluan saja. Aku ingin bicara sebentar dengan Bang Alex." Gian menurunkan kaca jendela mobil.
"Baiklah. Jangan lama-lama, biarkan dia pulang dan istirahat." Setelah mengatakan itu Bela masuk ke dalam rumah. Gian kembali menutup kaca jendela mobil.
"Kira-kira apa yang dikatakan ayahmu pada Bela sehingga Bela menjadi pendiam?"
"Aku tidak tahu tapi ayahku tidak pernah membuat orang tersinggung. Tapi aku juga merasa ada sesuatu yang sedang kak Bela tutupi. Tapi apa?" Gian berpikir keras.
"Awasi pergerakan kakakmu. Aku khawatir ada sesuatu yang akan terjadi pada kakakmu."
"Baiklah." Gian keluar dari mobil Alex.
Aku yakin ada sesuatu yang sangat mengejutkan hingga Bela seperti itu. Mungkin aku sudah ikut campur terlalu jauh tapi apa boleh buat aku sudah memiliki perasaan terhadapmu.
Mobil Alex meninggalkan rumah Bela.
__ADS_1
......🐾Jangan lupa tinggalkan jejak.🐾......