
Aurel bersantai di ruangtamu. Makan buah dan beberapa camilan. Dia melihat kearah sofa yang ditempati oleh Bela semalam. Ternyata bekas darahnya sudah hilang. Dilantai juga tidak ada. Mungkin para maid sudah membersihkannya. Jadi untuk apa dia khawatir. Soal Bela, dia tidak peduli. Mau dia mati atau tidak dia sama sekali tidak peduli. Dari awal memang Aurel sudah tidak menyukai Bela.
Ditengah kesantaiannya tiba-tiba Bryan datang dan menyeretnya ke kamarnya. Aurel kaget, dia memberontak.
"Apa yang kau lakukan pada Bela?" tanya Bryan dengan menahan emosinya.
"Dimana Bela sekarang?"
"KATAKAN PADAKU!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BELA!!" Bryan mengguncang pundak Aurel.
"Aku tidak sengaja melakukannya.. Aku tidak sengaja menusuk paha Bela." Dia mulai berakting. Sebenarnya dia memang sengaja.
"Kenapa? KENAPA!!!" Bryan kembali berteriak.
Mata Aurel memanas. " Lalu aku harus apa? Kemarin malam setelah kau pergi aku mabuk berat hingga aku tidak sadarkan diri. Aku frustasi kau memutuskan hubungan kita. Seseorang telah meniduriku dan aku tidak tahu siapa." Aurel menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya dan mulai menangis. Dan akhirnya Bryan pun luluh. Semudah itu membuat Bryan luluh?
Bryan memeluk Aurel. "Menjauh dariku, aku sudah kotor." Mendorong Bryan agar menjauh namun Bryan kembali memeluknya erat.
"Tenanglah, aku akan menikahimu." Ucap Bryan sambil mencium kening Aurel. "Aku akan menerimamu apa adanya dan maafkan aku." Ternyata cintanya pada Aurel lebih besar daripada kemarahannya.
Sungguh diluar dugaannya. Aurel sangat tidak percaya bahwa Bryan begitu lembut setelah dia menangis. Hal yang dapat dia pelajari adalah airmatanya mampu meluluhkan Bryan. Dan yang sangat dia dambakan, menikah dengan Bryan. Aurel sudah sangat terobsesi pada Bryan.
⚡⚡⚡
Bela tidak tahu harus bersikap bagaimana didepan anak tirinya. Dari dalam hatinya dia begitu bahagia. Tapi sebenarnya dia juga kaget. Dia berpikir ini sebuah kebetulan atau apa.
"Mommy, Elvan kangen." Elvan memeluk kaki Bela.
__ADS_1
"Awas Elvan, Kaki Mommy sedang terluka."
"Maaf Dad, Elvan terlalu bersemangat. Karena Mommy akan tinggal disini." Elvan melepaskan pelukannya.
"Windy, bawa Elvan main ke luar!" titahnya pada Windy, pengasuh Elvan.
"Baik Tuan, saya permisi Nyonya." Windy pun membawa Elvan untuk jalan-jalan.
Albert membawa Bela ke kamar tamu. Kaki Bela sudah tidak terasa sakit lagi karena sudah diberi obat oleh dokter Sam tadi. Dan sekarang Bela bisa berjalan seperti biasa.
"Ini kamar siapa?" Bela mengamati setiap perabotan yang ada dikamar. Lebih mirip dengan kamar gadis daripada kamar pria dewasa.
"Tentusaja ini kamarmu. Aku merombaknya menjadi sedikit lebih feminim. Apa kau tidak suka?" Albert menyiapkan kamar Bela. Tidak mungkin Bela mau sekamar dengannya melihat pernikahan mereka tidak berlandaskan cinta.
"Aku tidak akan menempati ini. Kita ini suami istri kenapa tidur di kamar yang terpisah?" Albert tercengang mendengar apa yang baru saja Bela katakan.
"Diam, kata-katamu membuat darahku berdesir." Albert meringis bulu kuduknya berdiri.
Malam pun tiba, Bela duduk selonjoran kaki diranjang king size milik Albert. Tangannya sibuk menggeser layar ponsel. Beberapa saat yang lalu Cindy mengirimkan beberapa artikel yang sangat janggal.
"Kasus hilangnya beberapa gadis?" gumamnya membaca salah satu artikelnya.
"Kasus apa?" Albert mendekat padanya.
"Ini 3 gadis hilang diwaktu yang bisa dibilang runtut."
"Itu pasti cuma kebetulan."
__ADS_1
"Ya bisa jadi, tapi ini terjadi di daerah yng sama namun beda gang. Aku curiga ini sebuah penculikan. Dan para gadis itu belum kembali sampai sekarang. Kalau para gadis itu korban begal pasti barang berharga milik mereka diambil. Tapi barang mereka ditinggalkan di tempat terakhir yang mereka lewati. Itu aneh, seakan ini sudah disengaja atau mungkin balas dendam? Ah, kepalaku pusing, "keluhnya sambil memegang keningnya.
"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Biar para polisi yang menanganinya. Berbaring dan istirahatlah! Aku juga sudah mengantuk. " Albert menguap.
Apa semua wanita kepo sepertinya?
Kata Albert didalam hati.
Ada benarnya juga apa yang dikatakan Albert. Bela selalu ingin tahu lebih dan selalu ingin ikut campur masalah orang lain.
Sekarang sudah tepat tengah malam. Namun mata Bela belum bisa dipejamkan. Dia tidak bisa tidur seranjang dengan orang lain. Tapi Albert adalah suaminya jadi Bela harus bisa beradaptasi dengan statusnya sekarang.
Kamar utama yang minim pencahanyaan membuat Bela semakin sulit bernapas. Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon. Pintu kaca yang tertutupi oleh tirai itu dibukanya perlahan.
Begitu terbuka Bela disambut oleh angin tengah malam yang mampu membuat siapa saja merinding. Entah kenapa malam ini begitu mencengkam.
Bela menikmati pemandangan dari atas balkon. Ternyata kamar Albert berada di lantai yang tinggi hingga membuat seluruh perumahan serta jalanan terlihat.
"Aku bahkan tidak menyadari jika rumah ini punya banyak lantai seperti gedung kantor."
Diujung jalan ada wanita yang sedang berjalan kaki. Dia barusaja pulang dari kerja paruh waktunya di club. Sesekali wanita itu menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya maupun mengawasinya. Kakinya juga berjalan cepat hampir berlari.
Mobil putih berhenti dibelakangnya. Dua pria berbadan kekar keluar dari mobil itu dengan memakai penutup wajah. Wanita itu akan berlari tapi sudah terlambat. Salah satu pria itu menangkapnya dan yang lain memukulnya hingga pingsan. Lalu mereka memasukkanya kedalam mobil dan pergi dari area perumahan. Dan Bela melihat jelas kejadian itu. Walaupun terlihat seperti semut dari atas tapi Bela memiliki mata yang tajam dan ingatan yang kuat.
"Cih, "
Bela hanya bisa berdecih. Benar itu bukan urusannya tapi dia terlanjur melihat kejadian itu secara langsung.
__ADS_1
"Apa sekarang masih musimnya penculikan wanita?"