
Bryan dan Aurel barusaja selesai kelas. Mereka memilih mengobrol dikantin sembari memakan makanan ringan.
"Bray, nanti malam jalan yuk. Sudah lama kita nggak jalan-jalan." Aurel memeluk lengan Bryan.
"Oke, nanti ku jemput jam 7 malam. Kita akan dinner sekaligus jalan-jalan." Seperti biasa, Bryan sangat memanjakan Aurel. Menuruti semua yang Aurel minta. Entah pelet apa yang digunakan Aurel pada Bryan.
"Baiklah." Wajah Aurel terlihat berseri-seri.
"Hmm, apa Bela sudah ketemu?" Mendengar pertanyaan dari Bryan, senyuman yang tadinya merekah di wajah Aurel kini langsung lenyap.
"Sudah, bahkan juga sudah masuk kuliah tadi aku melihatnya."
"Bagaimana dinnernya kita tunda besok saja. Malam ini aku ingin menemui Bela. Aku sangat khawatir padanya." Bryan merasa tidak enak hati membatalkan rencana dinnernya bersama Aurel.
"Tidak masalah. Wajar kalau kamu khawatir, dia itu teman masa kecilmu kan." Aurel mencoba menyembunyikan rasa kesalnya.
Ternyata mama benar. Bela penghalang dari kebahagiaanku.
----------------------------------
Bela duduk diranjang rumah sakit. Dokter Eric sedang memeriksa kakinya yang membengkak.
"Apakah tulang kakinya patah, Dok?" Alex sengaja bercanda.
"Kalau tulang kakiku patah, aku juga akan mematahkan tulang kakimu." Ketus Bela.
"Ah tidak. Ini hanya terkilir biasa." Dokter Eric tertawa ringan. Dia sangat gemas pada Alex dan Bela pasalnya mereka selalu bertengkar.
"Syukurlah. Jika tulang kakiku patah, aku sungguh akan mematahkan kakimu."
"Terserah." Alex memutar bola matanya.
"Kalian ini sungguh lucu sekali. Kalian pacaran?" Dokter Eric selesai membalut kaki Bela dengan perban.
"Dih lucu apanya?" Alex membantu Bela turun dari ranjang.
"Kalau dilihat-lihat kalian itu cocok sekali." Dokter Eric menuliskan resep obat. Lalu memberikan kepada Alex. Dan mendapatkan tatapan yang tajam dari mereka berdua.
"Ccccari obatnya di apotek terdekat. Didalam rumahsakit ini juga ada tapi harus mengantri." Dokter Eric sedikit gelagapan.
"Terimakasih, Dok. Kami pergi dulu." Pamit Bela masih dengan tatapan tajam.
"Ya, jangan lupa minum obatnya."
"Baik, Dok." Alex membantu Bela berjalan.
__ADS_1
Setelah mereka pergi, Dokter Eric berkali-kali menghembuskan napas leganya.
"Hufft. Mereka cocok. Sama-sama bisa membuat orang berhenti bernafas untuk sesaat." Dokter Eric menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kembali ke Bela dan Alex. Mereka tetap beradu argumen sepanjang koridor rumah sakit sampai ke mobil.
"Tunggu disini sebentar aku ingin ke toilet." Alex langsung menutup pintu mobil setelah Bela duduk.
"Ck. Belum aku menjawab iya, dia sudah pergi. Mungkin sudah tidak tahan. Dasar emang. Tadi didalam kenapa nggak ke toilet dulu coba." Bela berdecak.
Drrt..Drrt
Ponsel Alex bergetar di kursi kemudi.
"Kenapa dia tidak membawa ponselnya dan malah meninggalkannya di mobil? Apa susahnya menaruhnya dalam saku?" Bela menggerutu. Dia benar-benar tidak habis pikir. Dari dia masuk kerumah sakit sampai keluar, ponsel Alex ditinggalkannya di mobil.
Ponsel itu berhenti bergetar. Bela mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel Alex. Dia bertanya-tanya kenapa banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Mayleen. Ponselnya kembali bergetar. Bela buru-buru mengangkatnya.
"Kakak, kenapa tidak mengangkat telponku?"
"Dia tidak membawa ponselnya dan malah meninggalkannya di dalam mobil"
"Bela? Apa sudah selesai ke dokternya?"
"Sudah."
"Bagaimana apanya?"
"Hish, kondisi kakimu lah."
"Owh. Kakiku tidak jadi patah."
"Sebenarnya apa yang dilakukan kak Alex hingga kakimu bengkak?"
"Dia menginjak kakiku. Dia pikir dirinya seringan kapas apa. Kemarin belum benar-benar pulih tapi tadi dia malah menambahinya." Bela berapi-api.
"Uh pasti sakit. Tapi sekarang dimana kak Alex?"
"Dia sedang ke toilet."
"Yaudah, nikmati waktu kalian. Nggak sadarkan udah seharian sama kak Alex. Byee Bela."
Mayleen mematikan sambungan telpon secara sepihak. Bela meletakkan ponsel ke tempatnya.
Iya juga. Dari pagi sampai sekarang jam 3 sore aku menghabiskan waktu bersama Alex. Tapi juga sama Mayleen kan. Tadi juga beda kelas.
__ADS_1
"Bel?" Tidak sadar Alex sudah duduk di kursi kemudi.
"Ah iya." Bela terkaget.
"Kenapa melamun? Kakimu sakit lagi kah?"
"Nggk, cuma lapar." Bela nyengir.
"Perasaan di cafe tadi udah banyak makan, masih lapar juga?" Alex mulai mengemudikan mobilnya.
"Tadikan cuma kentang goreng sama sandwich."
"Yaudah mau kemana sekarang?" Wih Alex kalem banget gila😂
"Pulang aja makan di mansion abis itu pulang ke rumah mama."
"kenapa nggak langsung pulang ke rumah aja?" keponya luarbiasa si Alex.
"Kalau nggak mau nganter yaudah. Turunin aja di halte bus depan." Bela melihat Alex sekejap.
"Bukan gitu." Alex salah tingkah.
"Lex beliin eskrim."
"Apa? Tadi katanya mau makan." Alex ridak mengerti wanita yang satu ini.
"Yaudah, turunin disini. Aku bisa beli sendiri." Bela membuka paksa pintu mobil.
"Bel, kau gila? Lagi datang bulan atau gimana? Sensi mulu dari tadi." Kenapa wanita sulit dimengerti?
"Enggak. Bela pengen banget makan eskrim." Bela beraksi dengan gaya imutnya.
"Iya iya nanti kubelikan." Alex yang pasrah.
"Nah, begitu dong. Kan nggak perlu berdebat. Tinggal beliin udah cukup." Bela dengan kemenangannya.
Enak juga punya cowok kek gini. Dih cowok?
Kita beda keyakinan. Aku yakin sama dia. Dia yang nggak yakin sama aku. Bela nggak cantik, sadarlah. ~ BELA
Sabar lex. Harus ngalah sama wanita. Apalagi wanita itu mampu menjungkir-balikkan perasaanmu. ~ ALEX
Maaf pendek😓.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Terimakasih😊.