
Hari ini Bela sudah keluar dari rumahsakit. Rasanya bisa benas menghirup udara bebas tanpa ada bau obat. Tapi Bela memilih menghirup bau kriminal. Dia menemui Dyra dipenjara.
"Mama harap hubungan kalian langgeng." Ingin rasanya Bela tertawa mendengar kata 'Mama'. Masih pantaskah wanita ini dipanggil Mama?
"Mama tahu? aku sudah setengah bulan lebih dirumahsakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi dipengadilan kemarin. Suamiku tidak mengatakan apa-apa padaku bahkan saat aku bertanya. Tapi Mama jangan khawatir, Bela akan sering mengunjungi Mama." Bukan drama lagi. Jauh didalam hatinya dia masih merasa kasihan pada wanita didepannya ini.
Dyra berpikir Bela tidak mengetahui apa-apa. Dia mengira Bela tidak tahu kalau dialah yang melenyapkan keluarganya.
"Bela, Maafkan Mama. Seharusnya Mama menjadi keluargamu tapi Mama malah memilih untuk menjadi musuhmu."
"Biarkan saja, lagi pula itu sudah terjadi. Kita tidak bisa membedakan antara keluarga atau musuh. Terkadang yang kita anggap musuh sebenarnya adalah keluarga kita. Sebaliknya yang kita anggap keluarga sebenarnya adalah musuh kita. Itu sering terjadi. Yaudah Bela balik dulu. Sebentar lagi Elvan pulang sekolah." Bela bangkit dari duduknya dan keluar ruangan. Bela paham betul apa yang baru saja dia katakan. Kedepannya dia akan berhati-hati.
Dyra merenungkan apa yang dia perbuat selama ini dengan kedua tangannya.
"Apa kau mulai menyayanginya?" sekarang giliran Albert yang menemuinya.
__ADS_1
"Siapa?"
"Istriku, kalau dilihat-lihat dia itu murah hati. Dia bahkan memaafkanmu. Ternyata masih ada orang yang berhati bersih didunia ini." Terdengar gelak tawa darinya.
"Dia seperti ibunya."
"Ya, seperti ibunya dan akan tiada seperti ibunya juga." Albert berbisik tepat di samping telinga Dyra.
"APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADANYA!!!" sadar dengan apa yang baru saja dia dengar Dyra berteriak.
"Ternyata kau lebih gila dariku."
"Jelas orang akan menjadi gila jika keluarganya dilenyapkan. Kakak tertuaku akan segera keluar dari penjara. Dan mungkin dia akan membalas kematian istrinya. Kau berbohong pada kami dan malah menggunakan Aurel sebagai tameng. Kau bahkan merusak saraf otaknya. Kakakku tidak akan mengampuni kalian berdua." Kebahagiaan dan kepuasan terlihat dimatanya. Kini tinggal Dyra yang merasa khawatir.
Dyra duduk memeluk lututnya. Air mata penyesalan turun di pipinya.
__ADS_1
Malam itu hujan deras sekali. Dyra makan malam bersama Thomas. Wajah Dyra terlihat sangat tidak bersemangat dan Thomas menyadarinya.
"Kau kenapa sayang?" tanyanya lembut.
"Victoria dan Grace bersekongkol untuk melengserkanku dari Club Orchid. Mereka mengambil semua uangku. Dan penggelapan dana perusahaan sudah diketahui Theo. Sekarang aku tidak ada uang sepeserpun."
"Tenanglah sayang, masih banyak bisnis yang bisa kita jalankan. Contohnya penjualan organ tubuh manusia. Aku jamin itu sangat menguntungkan bagi kita."
"Kelihatannya menarik." Dyra pun tertarik. Dan pulang dari makan malam itu mereka melihat banyak gadis yang berjalan dipinggir jalan. Mereka seperti tidak tahu arah jalan pulang. Kesempatan itu digunakan mereka untuk menjalankan rencana busuk mereka.
Wanita itu dibius dan dikurung digudang. Hari berikutnya mereka mendapatkan 2 wanita. Mereka langsung mengeksekusi mereka bertiga satu persatu dan mengambil organ dalam mereka. Malam itu menjadi saksi kekejaman dua monster yang menyerupai manusia.
Dyra tersadar dari lamunannya.
"Harusnya aku tidak mengikuti rencana laki-laki sialan itu. Uang dan Cinta ini mengubahku menjadi monster." Tidak ada gunanya lagi Dyra menyesal dan menangis. Dia sudah tertimpa tangga. Kemalangan yang terjadi akibat kenikmatan semata.
__ADS_1