Family And Enemy

Family And Enemy
Pecah


__ADS_3

Bela sampai di rumah bersamaan dengan kepulangan Mamanya.


"Aurel mana Bel?" Mama selalu menanyakan Aurel.


"Sama Bryan ma." Bela enggan menatap mamanya.


"Pipi kamu kenapa merah ,Bel?" Mama menyadari pipi Bela yang merah.


Bela meraba pipi sebelah kanannya. Berbekas tapi tak terasa. Bela mengingat kejadian tadi. Hatinya kembali sakit.


"Owh tadi ada nyamuk di pipi Bela. Bela menepuknya terlalu keras. Udah Ma, Bela lelah, ingin istirahat di kamar." Bela masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan mamanya.


Mobil hitam milik Bryan masuk pekarangan rumah besar itu. Aurel tampak baik-baik saja. Bryan mengantarkannya sampai kedalam rumah.


"Tante Dyra, Malam ini Papa mengundang keluarga tante untuk makan malam di restoran Diamond." Bryan menyampaikan pesan papanya.


"Oh ya. Apa ada tamu lainnya?"


"Kayaknya ada deh, tante." Bryan sedikit ragu.


"Oh. Kami akan datang." Dyra memberi senyuman.


"Kalau begitu Bryan pulang dulu, tante."


Dyra hanya mengangguk. Bryan segera keluar dari rumah itu.


----------------------------


Malam tiba, Aurel dan Mamanya sudah berdandan. Memakai pakaian yang berkelas.


"Ma, nggak usah ajak Bela nanti dia membuat masalah. Hari ini hari pertamanya ke kampus tapi dia sudah membuat masalah dengan Alex." Aurel merengek manja.


"Ya udah ayo kita berangkat nanti telat. Arron sudah mama telpon untuk langsung ke sana."


Mereka memasuki mobil. Sesampainya di sana mereka sungguh dibuat terpana.


Restoran ini sungguh berkelas. Restoran ini dibuka baru 2 bulan ini.


"Wah ma, restorannya sungguh bagus. Aku ingin restoran ini sebagai kado ulangtahunku." Aurel sungguh manja.

__ADS_1


"Hmm. Nanti mama berikan." Bisa dibayangkan betapa sayangnya mama Dyra pada Aurel.


Mereka masuk di ruang VIP. Banyak tamu yang diundang keluarga Bryan Termasuk keluarga Alex.


Kecantikan Aurel membuat orang yang melihatnya ingin memujinya. Ditambah lagi pakaian mahal yang dia kenakan. Semua orang di meja makan memandang Aurel kecuali satu orang. Alex sudah tahu kebusukan Aurel. Kalau bukan papanya yang menyuruh Alex ikut mungkin Alex tidak akan ikut.


Bryan terus memandangi Aurel. Kekasihnya sungguh cantik malam ini. Alex yang menyadari Aurel yang tersenyum manis pada semua orang hanya memalingkan wajahnya.


Sungguh rubah betina. Apa dia begitu ingin orang-orang memujinya? Apa dia kenyang makan pujian saja.~ Alex


---------------------------


Bela keluar kamar niatnya ingin makan malam tapi tidak ada orang satu pun di rumah ini.


"Kemana semua orang?" Bela duduk di Meja makan.


"Apakah nona ingin makan malam?" Tanya maid yang bertugas di dapur.


"Nanti saja. Kemana semua orang pergi?"


"Nyonya Dyra dan nona Aurel pergi makan malam di restoran Diamond, Nona." Maid itu menunduk takut.


Ada apa di dalam kamar itu.


Bela keluar kamar. Di genggamnya gagang pintu itu. Dengan ragu Bela membukanya. Orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut dan menoleh.


Maid yang membawa makanan tadi merosot ke lantai.


" Saya mohon, nona. Jangan siksa tuan muda lagi. Dia masih kecil." Airmatanya jatuh.


Bela menutup kembali pintu menguncinya. Bela melihat sekelilingnya. Ruangan yang tidak bisa ditembus cahaya sang surya. Bagaimana bisa ada penghuninya. Ditatapnya anak laki-laki yang masih berumur 11 tahun itu. Bela mendekat duduk di atas ranjang. Anak itu sedikit menjauhkan diri dari Bela.


"Katakan siapa yang menyiksamu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di rumah ini. Dan kau siapa?" Bela merasa pusing.


Maid tadi bangun, menceritakan semua yang terjadi di rumah ini.


Tanpa dirasa Bela menitikkan air mata.


"Jadi setelah aku pergi mama hamil di luar nikah dan menikah hanya untuk menutupi kehamilannya saja. Dan mama juga tidak mengakui keberadaannya. Bagaimana anak se kecil ini bisa menderita? Teganya Aurel melukainya. Aku sungguh tidak akan memaafkannya." Bela mengepalkan kedua tangannya. Emosinya sudah tidak bisa di kontrol olehnya.

__ADS_1


"Mohon tenangkan dirimu kakak, Gian yang salah. Harusnya Gian tidak lahir didunia ini." Gian menenangkan Bela. Semua ini memang karena dirinya.


"Ini bukan salahmu. Sudahlah aku akan menjadi keluargamu. Jika Aurel menyiksamu lagi bilang saja padaku. Aku harus segera keluar dari sini sebelum mama pulang." Bela keluar dari ruangan itu.


Bela terus mondar-mandir di kamar. Entah kenapa kepalanya pusing. Bela kesulitan memahami semua yang terjadi.


Ponsel Bela berdering. Bela langsung mengangkatnya.


"Halo ada apa?"


"Nona ada yang ingin membeli restoran anda. Apakah anda berkenan untuk menjualnya?"


"Siapa yang ingin membelinya?" Bela penasaran. 2 Bulan restorannya berdiri tidak ada yang mau membelinya karena alasannya pasti sangat mahal. Kenapa kini ada yang tertarik membelinya?.


"Nyonya Dyra Claretta dia ingin membelikan untuk putrinya."


"Katakan padanya! Sampai kapanpun pendiri sekaligus pemilik restoran Diamond tidak akan menjualnya ke siapapun."


"Saya sudah menduga anda tidak mau menjualnya nona. Tapi beliau tetap bersih keras. Beliau mau membayar 10 kali lipat."


"Tetap Aku tidak ingin menjualnya. Berapapun yang dia bayar tidak akan bisa membeli restoranku." Tegas Bela.


"Baik nona. Maaf telah mengganggu waktu nona. Selamat malam nona Ze."


Sambungan telepon terputus. Bela melemparkan handphone miliknya ke ranjang.


Berdiri dia di balcon kamar. Dari atas sana terlihat 3 mobil mewah masuk pekarangan. Bela berlalu dia masuk kedalam kamar mandi. Perutnya sakit sedari tadi, Mungkin efek dia datang bulan.


Dibawah, Bryan, Aurel, Arron dan Mama Dyra mengobrol santai di ruang tamu. Aurel duduk di samping Bryan. Arron malas untuk melihat kemesraan dua sejoli yang sedang kasmaran. Berkali-kali dia berdecak, kini dia beranjak pergi. Sungguh menyiksa jiwa kejombloannya.


"Ma, Aurel serius ingin restoran tadi."


Aurel sedih. Raut wajahnya masam.


"Maaf sayang. Pendiri sekaligus pemiliknya tidak menjualnya. Mama bisa apa?"


Aurel sedang kesal. Dia berdiri dan meninggalkan mereka. Mereka hanya menghela nafas.


Baru saja Aurel pergi mereka dikejutkan oleh suara benda pecah. Kira-kira apa yang pecah ?

__ADS_1


__ADS_2