
Alden duduk dibalik jeruji besi. Polisi menahan karena laporan dari wali kota. Lalu Albert datang dan membayar jaminan untuknya. Sekarang Alden bisa bebas dari penjara. Semalaman penuh dia berada dalam penjara.
"Apa lagi yang akan kakak lakukan sekarang?" tanya pada sang kakak.
Alden masih terdiam. Kalau dia menjawab pertanyaan Albert dia akan semakin terpojok dan terpojok. Memang ini semua terjadi karena dia tidak bisa mengontrol emosinya.
.............
"Kapan kau kembali kesini?" tanya Sheila pada pria disampingnya.
Pria itu memakai pakaian casual dengan kacamata hitam dimatanya.
"Sekitar 2 bulan yang lalu. Kau tahu aku mengawasimu dan Bela. Meskipun sangat sulit menemukan kalian dengan identitas baru kalian."
Kevin, itulah namanya. Orang yang dulu pernah terlibat perkelahian hebat dengan Bela saat masih duduk dibangku sekolah dasar. Kevin saat itu sempat mendapat perawatan medis. Sejak itulah dia mengagumi sosok Bela yang begitu kuat dimatanya.
Kevin mendengar Bela sudah pergi ke Australia. Dia langsung menyusulnya kesana. Dan disanalah Kevin tahu Bela punya saudara kembar. Wajahnya begitu mirip bak pinang dibelah dua. Tapi Sheila lebih mencolok dimatanya daripada Bela. Saat Bela kembali ke kota ini, Kevin menggunakan kesempatan itu untuk dekat dengan Sheila. Dan cinta diantara mereka mulai tumbuh seiring berjalannya waktu.
"Apa kau ingin menghentikan aku?" Sheila menatap mata Kevin dalam-dalam.
"Tidak, untuk apa? Dia juga membunuh ibuku. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan menemui ibuku untuk yang terakhir kalinya." Tampak sebuah luka yang begitu menyayat hati Sheila.
"Dia bukan ayahku dan aku bukan anaknya. Ayah kandungku adalah paman Jake. Dia yang menyadarkan aku betapa mengerikannya orang yang menyandang nama sebagai ayahku. Jadi lakukan apa maumu dan segera hidup bersamaku."
"Aku takut Kakakku akan tahu. Dia menginginkan kehidupanku kembali normal seperti dulu." Sheila memalingkan wajahnya. Satu hal yang menjadi penghambat jalannya yaitu Kakaknya.
Kevin memeluk Sheila untuk meyakinkannya. Hanya dialah yang mendukung Sheila dalam hal ini. Mungkin saja dia akan membantunya.
.............
Thomas mengendarai mobilnya sendiri. Rencananya dia akan menemui putranya.
"Hari ini Kevin mengajakku camping. Ini hari terakhirnya disini." Thomas tersenyum mengingat betapa mengagumkannya Kevin.
Mobil Thomas melaju sedang melintasi jalan beraspal pinggir hutan. Kevin menyuruhnya melewati jalan itu.
Pepohonan yang rindang menyejukkan mata. Tidak ada kendaraan yang melintas selain mobilnya. Udaranya masih sangat alami.
Thomas menghentikan laju mobilnya dan membunyikan klakson mobilnya. Ada wanita yang sedang berdiri di tengah jalan.
__ADS_1
"Ada apa dengan wanita itu? Apa dia ingin bunuh diri?" Thomas terus membunyikan klakson mobilnya.
Wanita itu berbalik badan. Dan betapa terkejutnya Thomas saat melihat wajahnya.
"Bela? Bukankah dia sudah tiada? Kenapa dia ada disini?" Panik itulah yang dia rasakan. Bagaimana orang yang telah tiada bisa berdiri didepannya.
Bela tersenyum padanya. Thomas berpikir dia sedang halusinasi. Bela berjalan mundur. Thomas semakin bingung. Dia yakin dia sedang berhalusinasi.
Bela semakim jauh dan Thomas mulai menginjak pedal gas mobilnya. Baru berjalan beberapa meter, bagian belakang mobilnya berasap. Dia panik dan mencoba membuka pintunya tapi tetap tidak bisa.
Dia ingat bagaimana dulu dia dan rekan-rekannya menghabisi Arron. Sama seperti sekarang ini. Mungkinkah Bela kembali untuk membalaskan dendam keluarganya?
Thomas pasrah, sudah waktunya dia membayar seluruh kejahatannya. Kini dia sadar pada apa yang telah dia perbuat pada keluarga Satya.
Duar
Api melahap mobilnya dengan cepat. Asap hitam mengebul diudara. Tidak ada lagi Thomas didunia ini. Sekarang hanya tinggal namannya saja.
.............
Malam ini Alden tidak bisa tidur. Dia menengguk segelas wine mahal yang dibeli Albert untuknya.
Datanglah ke gedung nomor 23 didaerah D. Ada hadiah yang sangat menarik menunggumu disana. Salam manis dari Gabella Zoffany, adik iparmu.
Alden tertawa setelah membaca pesannya.
"Bela? Bela palsu yang akan memberiku hadiah? Baiklah aku akan menemuinya." Thomas bangkit dari duduknya.
Jalannya sedikit sempoyongan karena kesadarannya terbawa oleh minuman yang baru dia minum.
Alden menaiki mobilnya dan pergi ke gedung yang dimaksud oleh Bela palsu. Kebetulan Albert melihatnya pergi terburu-buru. Lalu Albert mengikutinya dari kejauhan.
Thomas memasuki gedung yang penuh dengan properti kayu. Matanya terus mencari hadiah apa yang dimaksut oleh Bela palsu.
"Apa kakak iparku tidak merindukan aku?" Bela muncul didepannya secara tiba-tiba.
"Hadiah apa yang akan kau berikan padaku? Aku tahu kau Bela palsu. Mana mungkin orang yang sudah tiada hidup kembali?"
Bela menusuk Alden tepat diperutnya. Dan Alden tidak sempat menghindar.
__ADS_1
"Beginikan caramu menghabisiku?" bisiknya tepat ditelinga Alden.
"Kenapa kau menyerangku? Suamimu sendirilah yang menghabisimu." Lemas sudah banyak darah yang keluar dari perutnya ditambah lagi dia tidak benar-benar sadar.
Bela menarik pisau dari perut Alden. Membiarkan Alden meringkuk diatas lantai dengan bersimbah darah. Bela berlari ke pintu belakang. Melemparkan korek api yang sudah menyala ke lantai. Sebeluknya dia sudah menyiapkan ini semua. Seperti Alden menyiapkan pengkremasian untuk Kakaknya.
Sheila melepas topengnya. Senyuman iblis yang penuh kepuasan. Dendamnya benar-benar dia balaskan. Kematian kedua orang tuanya dan kakaknya. Serta penderitaan yang dialami oleh saudara kembarnya. Semua sudah dibayar lunas oleh mereka.
Sedangkan diluar gedung, Albert menyaksikan api melahap seluruh gedung dan kakaknya yang ada didalam. Sesaat dia mengenang Bela. Seperti ini cara Bela tiada. Tidak ada rasa sedih diwajah Albert. Harusnya dia puas setelah melihat kakaknya tiada seperti istrinya dulu. Tapi tidak ada ekspresi apapun yang terlihat dimatanya.
...............
Pagi ini Oliv mencari Sheila yang tidak terlihat batang hidungnya sejak kemarin. Dia mencari kekamarnya namun yang dia temukan hanya selembar kertas yang ada ditempat tidur adiknya.
Kakak maafkan aku. Setelah kau menemukan surat ini berarti aku sudah berada di air terjun untuk mengakhiri hidupku.
Maaf, aku tidak sebaik dirimu. Dan maaf aku tidak mengikuti perintahmu. Aku sudah melenyapkan mereka yang menghancurkan keluarga kita. Orang-orang yang membuat kita tidak bisa bersama. Tapi jangan khawatirkan aku. Anggap saja Sheila tidak pernah ada. Karena selama ini Sheila hanya bayangan Bela.
Sheila hanya bayanganmu. Kakak, aku sangat menyayangimu. Tolong jangan bertindak bodoh.
Kakak bisa hidup dengan normal sekarang. Terimakasih telah menjadi saudara kembarku. Selamat tinggal.
Oliv berlari menyambar kunci mobil yang ada di atas meja. Mengendarai mobilnya menuju air terjun yang Sheila maksud.
Tapi sudah terlambat,
Banyak orang yang sudah berkerumun dipinggir jembatan.
"Kasihan sekali padahal gadis itu masih muda." ucap salah satu pria.
"Apa ada orang bunuh diri disini?" tanya Oliv pada pria yang berdiri disampingnya.
"Iya, wanita itu melompat dari jembatan ini dan langsung terbawa oleh arus air ke laut. Kasihan sekali padahal dia masih muda."
Oliv terdiam, benarkan itu Sheila? Sheila benar-benar bunuh diri?
Oliv membaca surat dari Sheila yang ada dalam genggamannya. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Dan satu lagi, jangan pernah mencariku. Bye bye aku sayang Kakak.
__ADS_1
Kata terakhir yang ditulis Sheila untuknya. Sekali lagi dia kehilangan keluarganya. Sekali lagi tuhan merenggut kebahagiaannya.