Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 101 #Berkumpul


__ADS_3

Hari demi hari telah dilewati oleh Clarissa dengan sangat baik Kehidupannya yang sekarang sudah berbeda dari yang sebelumnya. Lelah yang dirasakan Clarissa untuk mengurus anak dan suaminya tak pernah dipedulikan. Karna sumber semangatnya terletak pada mereka. Setiap ada waktu Kendrick selalu menyempatkan diri untuk bersama istrinya. Perhatian kecil seperti itulah yang membuat Clarissa bahagia. Disetiap jam istirahat Clarissa selalu ke perusahaan suaminya untuk mengantarkan makan siang. Tangan Kendrick yang patah sudah berangsur-angsur membaik, walau terkadang masih terasa nyeri. Gifh yang menempel ditangannya pun sudah dilepas. Jadi bisa mengurangi kesusahannya dalam bekerja.


Clarissa semakin hari terlihat semakin cantik. Ia memang menjaga berat badannya setelah melahirkan. Walau pun dia harus menyusui, badannya tetap dijaga oleh Clarissa. Dia rajin berolahraga dan minum vitamin agar asi nya tetap lancar. Dan pola makannya pun diperhatikan oleh Clarissa. Ia tak mau diejek dan dihina lagi oleh orang hanya karna berat badannya yang gemuk. Sehingga tidak bisa tampil cantik seperti wanita lain. Kalau buat Clarissa sendiri penampilan tak dipermasahkan, tapi karna suaminya seorang pebisnis dan pasti coleganya banyak. Jadi Clarissa ingin tampil cantik di depan suaminya, agar suaminya pun tidak ikut dicibir orang atau pun temannya dan agar tidak merasa malu.


Padahal kalau dari Kendrick sendiri tak mempermasalahkan berat badan Clarissa dan ia pun sudah pernah mengatakan hal itu kepada istrinya. Tapi Clarissa tetap ingin tampil cantik untuk menyenangkan hati Kendrick bukan untuj yang lain. Setiap apapun yang dilakukan Clarissa pasti akan disupport oleh Kendrick asalkan hal kebaikan. Sungguh perbedaan yang luar biasa dari Clarissa yang dulu dan sekarang. Kalau dulu dia lebih pendiam dan lebih memilih mengalah saat dirinya di injak-injak. Tapi sekarang Clarissa tidak akan tinggal diam jika ada yang berani menantangnya.


Sekarang waktunya Clarissa untuk mengantarkan suaminya terapi ke rumah sakit. Setiap minggu pasti Clarissa akan setia menemani Kendrick untuk terapi agar bisa jalan lagi. Semua Clarissa lakukan dengan tekat dan keyakinan kalau suaminya pasti bisa jalan kembali. Tak ada yang mustahil di dunia ini kalau Allah sudah berkehendak.


"Bagaimana kondisi suamiku Far? Apa ada perkembangab baik?" tanya Clarissa kepada Farghan setelah selesai melakukan terapi suaminya.


"Seperti yang bisa kamu lihat Clarissa. Kendrick masih kesusahan untuk berjalan. Padahal kita sudah lakukan terapi setiap seminggu sekali. Karna memang tulang belakangnya rusak parah. Yaa kita berdoa saja semoga ada keajaiban. Yang terpenting tetap semangat" jelas Farghan, berat untuk mengatakannya dan harus dia katakan.


'Semoga kalian bisa melewati cobaan ini bersama. Aku gak bisa mengatakan kalau Kendrick lumpuh selamanya dan aku juga gak bisa memprediksi Kendrick akan sembuh. Karna semua berbalik kepada yang Maha Kuasa, semua yang mustahil akan menjadi mungkin atas kehendak-Nya. Semoga diberi kesabaran dan hati yang lapang.' batin Farghan


Clarissa menunduk lesu mendengar penjelasan Farghan. Tapi ia tak mau memperlihatkan kesedihan di depan suaminya agar tak membuat Kendrick ikut patah semangat. Clarissa harus tetap tersenyum agar suaminya juga bisa tersenyum.


"Terima kasih Farghan, kalau gitu kami pamit pulang dulu." ucap Kendrick sembari tersenyum, tak memperlihatkan rasa sedih sama sekali setelah mendengar penjelasan Farghan barusan.


"Iya Ken, tetap semangat. Nanti sore aku main ke rumah mu bolehkan? Sudah lama aku gak bertamu" ucap Farghan.


"Boleh lah, pintu rumahku selalu terbuka buat kamu. Nanti ada Michael dan Lavina juga disana. Sekalian makan malam bersama, oke......Aku tunggu dirumah nanti" balas Kendrick.


"Iya.."


"Kami pamit ya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Clarissa pun mendorong kursi roda Kendrick keluar dari ruangan Farghan. Clarissa memang pintar dalam menyembunyikan kesedihan. Tapi gak buat Kendrick yang tau sifat istrinya seperti apa. Walau pun Clarissa terlihat tersenyum di depannya, Kendrick tau kalau sebenarnya di dalam hati Clarissa ada kesedihan.


"Sayang...!" panggil Kendrick.


"Iya mas kenapa?" tanya Clarissa sambil terus mendorong kursi roda Kendrick.

__ADS_1


"Kita ke taman rumah sakit ini dulu yuk. Aku mau ngobrol" pinta Kendrick.


"Baiklah" Clarissa mendorong kursi roda Kendrick menuju taman rumah rumah sakit tanpa mempertanyakan apapun.


Clarissa mendekati bangku yang kosong untuk tempatnya duduk. Dan sejenak menatap lurus ke depan dan akhirnya mempertanyakan soal obrolan suaminya yang ingin dibicaran.


"Tadi mas Ken mau ngobrol apa?" tanya Clarissa memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Kendrick.


Kemudian Kendrick memegang kedua tangan Clarissa sembari menatap ke arahnya. "Gak usah kamu terlalu memikirkan kondisiku. Aku baik-baik saja kok. Kalau pun aku gak bisa jalan selamanya, aku gak masalah asalkan kamu ada selalu untukku. Kamu maukan mendampingiku? Disetiap langkahku sampai akhir hayatku?" Clarissa tak menyangka kalau suaminya bisa menebak isi hatinya.


"Aku akan selalu ada untukmu mas sampai kapan pun. Sampai maut yang memisahkan. Apapun keadaanmu aku akan selalu ada disisimu. Kamu begini juga karna aku. Jadi biarkan aku menjadi kakimu untuk berjalan membawamu kemana pun. Maafkan aku sudah membuatmu susah mas" balas Clarissa dengan lelehan air mata yang dipendamnya sejak tadi. Ia sebenarnya tak mempermasalahkan kalau dirinya harus mengurus Kendrick seumur hidupnya. Karna suaminya sekarang adalah prioritas utama. Hanya saja Clarissa merasa sedih melihat kondisi Kendrick yang gak bisa jalan normal seperti dulu dan hal itu penyebabnya adalah Clarissa sendiri.


"Kamu gak membuatku susah. Aku yang malah menyusahkanmu." Clarissa langsung menggelengkan kepala saat Kendrick mengucapkan kalau dirinya menyusahkan Clarissa.


"Kamu gak menyusahkan aku mas. Kamu begini juga gara-gara menyelamatkanku. Jadi gak ada kata susah untukku merawatmu, karna memang itulah tugasku sebagai istri" balas Clarissa.


Kendrick pun tersenyum dan mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi Clarissa. "Dah jangan dibahas lagi, anggap saja semua ini cobaan untuk kita agar lebih bersabar dan ikhlas. Semua ini sudah takdir dari Allah. Gak usah dibahas lagi, kemarin biarkan berlalu dan sekarang yang harus kita jalani sambil menunggu esok hari" ucap Kendrick.


"Heem, kita pulang yuk" ajak Clarissa. Kendrick langsung mengangguk.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Setelah puas melampiaskan semua isi hati masing-masing. Sekarang hati Clarissa berasa jauh lebih tenang dan tidak seperti tadi yang penuh dengan kesedihan.


Malam pun tiba, seperti ucapan Kendrick sebelumnya. Keluarga Raymond berkumpul bersama ada Michael dan Lavina. Ada juga Farghan dan Alifa yang turut datang untuk berkunjung karna sudah lama gak main ke rumah Kendrick. Sekalian menjalin silaturrahmi agar tetap utuh. Walau mereka sudah berkeluarga masing-masing. Hubungan persahabatan harus terus terjalin sampai kapanpun.


"Sudah berapa bulan kandunganmu Alifa?" tanya Clarissa melihat perut Alifa semakin buncit.


"Sudah lima bulan lebih, bentar lagi enam bulan. Tinggal satu minggu lagi." balas Alifa.


"Sudah ambil cuti buat persiapan lahiran?" tanya Clarissa lagi.


"Sudah, dari kandunganku usia menginjak lima bulan udah ambil cuti. Eh iya kamu aku lihat-lihat makin cantik aja Clari." puji Alifa tersenyum.


"Masak sih, menurutku biasa aja." balas Clarissa, namun dalam hatinya ia sangat senang.

__ADS_1


"Lah gak nyadar ya kak, benar loh apa kata Alifa." sahut Lavina menimpali.


Clarissa hanya tersenyum menanggapi ucapan Alifa dan Lavina. Ia meneruskam makan malamnya. Sementara Kendrick pun menyadari kalau istrinya memang lebih cantik dari yang dahulu. Mereka pun meneruskan makan malam tanpa sepatah kata pun. Hanya bunyi sendok yang bermain dan menempel dipiring.


Selesai makan malam, mereka berkumpul di tuang tamu dan kembali mengobrol bersama. Ketiga sahabat itu sudah lama tak berkumpul. Dan kini mereka kembali bersama bertiga. Kalau dahulu ada Simon sekarang tinggal lah mereka bertiga.


"Kalian berdua nanti akan menginal atau pulang?" tanya Kendrick kepada Michael dan Lavina.


"Sepertinya kita pulang saja, tadi aku gak bilang sama mama kalau mau menginap disini." jawab Michael yang diangguki oleh Kendrick.


"Kamu kenapa diam saja dari tadi dek? Seperti nahan sesuatu gitu" ujar Clarissa melihat Lavina hanya diam saja tanpa menanggapi obrolan mereka sejak tadi. Biasanya Lavina yang paling antusias kalau berkumpul begitu.


"Perutku rasanya gak nyaman kak" jawabnya sembari mengusap-usap perutnya.


"Apakah sakit?" tanya Clarissa lagi.


"Iya, tapi sakitnya itu muncul terus hilang gitu terus" balas Lavina dan sekarang malah rasa sakitnya semakin terasa.


"Auww!!" pekik Lavina merasakan perutnya sangat sakit. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Michael.


"Seperti ini waktunya kamu melahirkan Lavina. Prediksi awal kan tinggal dua minggu lagi, tapi bisa maju dan mundur. Lebih baik kamu bawa ke rumah sakit Chel istrimu. Biar diperiksa sekalian" ucap Alifa memberi saran.


"Ya sudah ayo aku antar ke rumah sakit sekarang. Kayaknya benar apa kata Alifa kamu akan melahirkan" balas Michael mulai panik.


"Tapi kalian jangan hanya berdua saja, hmm aku panggilkan mama ya biar ditemenin. Aku gak bisa antar kalian ada Khalvan dan Kheisen" ujar Clarissa.


"Iya gak pa-pa sama mama saja"


Lalu Clarissa berjalan terburu-buru menuju kamar nyonya Mesya. Belum sampau diatas ternyata nyonya Mesya ada didapur. Clarissa pun menghampiri nyonya Mesya yang tampak sedang membuat sesuatu.


"Ma, mama" panggil Clarissa.


"Iya Clari ada apa?" tanya nyonya Mesya.

__ADS_1


"Itu ma Lavina mau melahirkan, mama bisa temenin Michael untuk membawa Lavina ke rumah sakit? Nanti aku akan ke rumah Michael untuk mengambil pakaian Lavina yang sudah disiapkan oleh mereka" ucap Clarissa dengan wajah panik.


__ADS_2