Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 58 #Sad


__ADS_3

Semua orang punya caranya sendiri untuk bisa mengungkapkan rasa dihatinya kepada orang lain. Kadang mereka ada yang minder, mengutamakan egonya, atau dia si pemberani yang bisa langsung berbicara.


Jika hati sudah berlapang dada untuk menerima hasil jawaban seseorang yang di cintai. Pasti dia akan secara terang-terangan mengutaraka cintanya dan untuk masalah jawaban dipikir belakangan. "Diterima atau tidaknya yang penting sudah diutarakan". Sehingga mereka sudah merasa tidak ada beban lagi dalam hatinya. Biasanya orang yang berlapang dada akan berpikir demikian.


Berbeda dengan lelaki yang mementingkan egonya. Nah ini biasanya adalah sepasang lelaki dan wanita yang suka bertengkar tapi pada akhirnya saling mencintai. Pasti mereka tidak mau terbuka dan lebih mementingan egonya sendiri. Mereka ini yang akan sulit menemukan cinta sejatinya.


Kalau orang yang minderan pasti mereka malu untuk berbicara secara langsung. Selalu insecure dengan dirinya sendiri dan membandingkan dengan orang lain. "Dia lebih pantas dari pada aku yang miskin, jelek dan bla bla bla" mereka nanti pasti akan kalah dengan yang lain. Maka dari itu cobalah untuk terbuka satu sama lain agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Kunci dari segala sesuatu hubungan adalah komunikasi. Tanpa adanya komunikasi yang saling terbuka, hubungan akan mudah rusak. Coba mengertilah pasangan masing-masing, lebih peka dan inisiatif.







Lavina sudah bersiap saja di rumah Michael. Dia akan mengantarkan Michael ke perusahaannya. Tak bisa Michael lama-lama harus cuti, walau keadaannya belum sembuh total. Didampingi juga sama Dheri yang mengemudikan mobil dan disampingnya ada michael. Sementara Lavina duduk dikursi belakang.


Sepanjang jalan tak ada obrolan apapun, yaa sesekali Michael berbincang sama Dheri membahas masalah pekerjaan. Selebihnya tak ada yang mereka bahas sampai tiba di depan kantor. Michael yang masih menggunakan kursi roda, langsung dibantu oleh Dheri untuk berpindah posisi. Seterusnya Lavina yang mendorong kursi roda Michael sampai masuk ke dalam ruangannya.


Michael langsung berpindah ke kursi kebesarannya, dibantu oleh Lavina. Beberapa dokumen yang sudah ada diatas meja, siap untuk disentuh oleh Michael. Selama cuti untuk memulihkan kondisinya, semua dokumen dan pekerjaan jadi terbengkalai, walau ada Dheri tetap saja tak bisa menghandel semuanya.


Kini Michael sudah fokus dengan dokumen yang menumpuk. Sementara Lavina hanya termenung disofa sambil memainkan ponselnya. Entah angin dari mana, Lavina tiba-tiba teringat dengan ucapan Michael tempo hati saat dirinya masih kritis di rumah sakit. Lavina masih belum mengerti tentang ucapan tersebut dan baru kini Lavina teringat kembali untuk bertanya kepada Michael.


Dengan berani Lavina mempertanyakan perkataan tersebut kepada Michael. "Kak" sedikit menengok ke arah Michael yang masih fokus dengan dokumen ditangannya.


"Hmm?" tanpa menengok sedikit pun.


"Aku mau tanya maksud ucapanmu saat di rumah sakit waktu itu"


"Ucapan yang mana?" tanya balik Michael sepertinya dia lupa dengan perkataannya sendiri.


"Waktu kamu di ICU sebelum tak sadar lagi. Kamu mengatakan aku mau kamu mendampingiku maksudnya apa?" perjelas Lavina membuat Michael seketika menghentikan tatapannya pada dokumen dan beralih menatap Lavina.


"Masih ingat ternyata" batin Michael.


"Sekarang ini!!" Lavina mengernyit tak paham dengan maksud Michael.


Sedangkan sekarang hati Michael tak bisa digambarkan. Jantungnya tetiba berdegup tak beraturan, tatapannya tak bisa teralih dari wajah Lavina. Entah apa yang sekarang dia rasakan, untuk menghilangkan rasa kegugupannya Michael mengalihkan pembicaraan dengan meminta Lavina untuk mengambilkan teh hangat.


"Oke bentar" Lavina pun berlalu pergi meninggalkan Michael sendiri.


"Kenapa dia harus ingat sih, sudah lama juga. Aarrgh jantungku" Michael sangat frustasi sembari memegangi dadanya yang masih gugup.


Waah tanda apa itu?


Tak tau juga, hanya Michael lah yang mengetahuinya.


Sekitar lima menit kemudian, Lavina kembali ke dalam ruangan Michael dengan membawa secangkir teh yanh diminta olehnya tadi. Diletakkan cangkir tersebut diatas meja Michael. Dan Lavina kembali duduk disofa, terucap lagi hal yang masih mengganjal dihatinya. Persoalan yang tadi masih ditagih jawaban oleh Lavina.


"Yang tadi kamu belum jawab" Lavina masih menunggu jawaban dari Michael.


"Hadeh kenapa masih dibahas aja sih. Kental banget ingatannya" gerutu Michael dalam hatinya.

__ADS_1


"Masih dibahas saja? Lupakan lah, aku asal ceplos itu" jawab Michael asal. Ia bingung harus menjawab apa, waktu itu saja dirinya entah kenapa bisa mengatakan hal tersebut.


"Ck, mana ada begitu, emang sempatorang kritis main nyeploa kalau ngomong" kini nada bicara Lavina mulai sewot, karna tak puas mendengar jawaban dari Michael.


"Aaahh kerjaanku banyak, diam lah jangan berisik. Kalau mau makan atau pesan apapun pesanlah. Jangan ganggu" Michael pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan menyeruput teh yang tadi dibuat oleh Lavina.


"Kalau gitu aku boleh pulang ya, mau ke rumah sakit bentar aja nanti kalau kamu pu..... "


"Gak nanti saja sekalian bareng aku, tugasmu belum selesai" sahut Michael membuat Lavina berdecak kesal. Belum juga dia menyelesaikan biacaranya sudah dijeda saja oleh si songklek menyebalkan.


"Issh, kapan sih loh sembuhnya. Aku jadi gak bisa bebas kemana-mana, kerja gak bisa, main gak bisa. Selalu pagi sampai malam dirumah loh, menemai loh. Aku gak ada waktu sama sekali, aku tau salah tapi kenapa sih semuanya gak adil. Aku juga ingin bersenang-senang diluar, bukan malah seperti pembantu disini!" Lavina benar-benar marah, kesal, dan sedih. Dia menangis dengan tangan yang ditutupkan ke wajahnya.


Begitu nyaring tangisan Lavina ditelinga Michael. Lelaki itu yang tadinya hanya berfokus pada dokumen kini beralih menatap Lavina dengan iba, apalagi saat perempuan itu mengatakan bahwa dirinya semacam pembantu. Makin teriris saja hati Michael, ada rasa sakit disana semacam tertusuk benda tajam, yang membuat oksigen diparu-parunya seolah bergenti untuk mendapat asupan oksigen yang baru. Semua keluh Lavina, dia keluarkan semuanya. Selama ini hatinya merasa tertekan, tak bisa merasakan kebebasan. Dirinya juga ingin merasakan dan menikmati jalan-jalan, kerja, refresing, shopping, dan masih banyak lagi yang diinginkan Lavina.


Lavina bertahan dan selalu berharap kalau Michael akan segera pulih. Namun kenyataannya berbanding terbalik, ia malah merasa seperti pembantu. Dia ingin bebas dari itu semua, tapi masa hukumannya belum selesai. Tangan lembut seseorang berhasil menyerka air mata Lavina yang tak berhenti mengalir. Lavina sontak melihat siapa yang sudah menghapus air matanya. Tak disangka Michael sudah berada tepat disampingnya dengan posisi masih berdiri.


Lavina yang tadi menangis sontak langsung berdiri dengan rasa bingung.


Apakah sudah gak sakit perutnya?


Apa dia sudha baikan?


Kapan dia sampai di sampingku?


Lavina bertanya-tanya dalam hatinya. Ia menatap Michael dengan kebingungan. Dipegang tangan dia dengan lembut oleh Michael, lalu diajak duduk di sofa tersebut.


Michael kembali mengusap sisa air bening yang masih menempel di pipi Lavina. "Jika kamu mau kebebasan silahkan, aku gak memintamu untuk mengurusku setiap hari seperti pembantu. Kamu boleh pergi dari sini, tapi aku gak yakin papamu bisa segampang itu untuk melepaskanmu. Apalagi mengembalikan fasislitas milikmu yanng sudah diambil" Michael berbicara sembari menatap wajah Lavina dengan lekat.


"Udah gak sakit?" Lavina malah balik bertanya seolah tak mendengat ucapan Michael barusan.


"Aku hanya capek" ucap Lavina tertunduk.


"Yaa aku tau itu, sekarang pergi lah kalau memang kamu ingin ke rumah sakit. Pakai mobilku saja tak perlu supir. Aku percaya padamu dan kembali saat aku akan pulang. Walau terkadang kamu menyebalkan, kasihan juga kalau harus menghabiskan air matamu disini" seketika Lavina langsung memukul lengan kanan Michael tak begitu keras hanya pukulan kecil.


"Percuma dirumah sakit pasti juga ada papa, jadi percuma saja"


"Ya udah pergi kemana gitu, terserah kau. Ambil kuncinya diatas meja sebelah laptopku." Michael menunjuk ke arah laptopnya.


"Haaa, beneran?" tanya Lavina tak percaya.


"Gak mau? Tawaranku hanya berlaku satu kali saja" segera Lavina menyambar kunci mobil yang ada di meja Michael dan kmebali dengan senyum lebar.


"Thank you. Beneran kan kamu hak akan bilang sama papa" Lavina memastikan kembali untuk keselamatannya sendiri dari amukan sang ayah.


"Iya!" jawab Michael singkat.


"Eeh sini aku bantuin ke kursimu lagi" Lavina menawarkan bantuan.


"Gak perlu, aku bisa sendiri. Pergi lah" Sambil melangkah kembali ke kursinya.


"Besok gak usah balik ke rumahku, biar nanti aku yang mengatakan ke papamu. Aku sudah sehat" ucap Michael saat Laguna sudah mulai beranjak pergi.


Langkah Lavina terhenti mendengar ucapan Michael. Seolah Michael sudah tak membutuhkan dirinya lagi. Dan entah kenapa hatinya merasa tak rela untuk pergi jauh-jauh dari Michael. Sampai tak sadar dirinya termenung dengan posisi berdiri. Pergerakannya berhenti dan pikirannya melayang tak tentu arah.


"Kenapa masih bengong disita?" tanya Michael yang heran.


"Apakah kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya balik Lavina, terdengar suaranya seperti tak ada kerelaan untuk pergi.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Bukannya memang ini yang kamu inginkan? Terbebas dari hal yang membuatnya tak bisa bebas keluar sana-sini" entah itu perkataan yang memang hanya sebuah ucapan atau kata sindiran yang dilontarkan oleh Michael.


Lavina tertunduk mendengar ucapan Micahel barusan. Ia berjalan ke arah meja Michael dan memberikan kunci mobil tersebut tepat di samping tangannya. Dan dia kembali mengambil tanya disofa.


"Baiklah kalau begitu aku pulang" Lavina melangkah pergi dari ruangan Michael dan menutup pintunya kembali. Michael sama sekali tak mengejarnya atau mencegah dia. pergi.


*


*


*


*


Didalam taxi Lavina terus melamun, entah pikirannya berkelana kemana. Untuk hari seterusnya dia tidak akan kembali ke rumah Michael. seseorang yang selama ini dirawat olehnya, kalau bukan karna ancaman dari sang ayah, mungkin Lavina tidak akan sampai merawat Michael susah payah.


Tak terasa taxi yang ditumpangi oleh lavina sudah berhenti di depan sebuah resto. Sebelum turun tak lupa Lavina membayarnya. Ia pun berjalan masuk ke dalam resto tersebut. Ia mengambil bangku yang paling pojok disamping jendela. Kemudian memesan minuman.


Tak lama minuman yang dia pesan pun datang, segelas cappucino favoritnya. Lavina kembali termenung, memikirkan sikap Michael barusan yang tiba-tiba berubah. Mungkin karna tadi dia menangis dan meluapkan semua isi hatinya. Sehingga membuat Michael berpikir dan iba kepadanya.


Ditengah pikiran yang melayang kemana-mana, Lavina tak sengaja melihat sekilas dua perempuan yang begitu familiar. Dicoba diamati lagi agar tak salah melihat, ternyata saat dipandang dan ditelisik. Benar saja dua perempuan itu adalah kakak iparnya beserta sahabatnya. Lavina pun berjalan ke arah Clarissa dan Eveline sembari membawa minuman yang tadi dipesannya.


"Kak?" kedua nya pun menoleh ke sumber suara. Ekspresi mereka sedikit terkejut melihat Lavina ada disana juga.


"Lavina!" ucap mereka berdua serempak.


"Aku boleh gabung?"


"Duduk lah" jawab Clarissa.


"Kamu sama siapa? Sendirian aja?" tanya Eveline sambil menengok kanan dan kiri.


"Iya aku sendiri kok" ucap Lavina tersenyum.


"Aku kangen sama kakak, sudah lama gak ketemu sejak kak Kendrick masuk rumah sakit. Aku mau main ke rumah kakak juga gak sempet" Lavina tampak begitu merindukan Clarissa. Sejak hati dimana Kendrick masuk ke rumah sakit memang Clarissa tak pernah datang lagi atau hanya sekedar menengok sekilas.


Lavina juga ingin sekali berkunjung ke rumah Clarissa. Tapi dia sendiri tak ada waktu, semua waktunya hanya untuk mengurua Michael. Bahkan hanya untuk sekedar jalan-jalan saja tak sempat. Mungkin kalau Michael sendiri yang meminta untuk di ajak keluar, entah ke taman atau yang lainnya.


"Maaf Lavi, aku juga butuh waktu. Besok aku akan ke rumah sakit sama Eveline." ucap Clarissa sambil meminum jus yang dia pesan. "Aku sudah tau semuanya kok tentang latar belakang hubungan mas Kendrick sama Lavina" tambah Clarissa membuay Lavina melongo bercampur terkejut.


"Dari mana kakak tau?" tanya Lavina.


"Farghan yang memberitahuku, sekarang aku tau kenapa mas Ken bisa berhubungan lagi dengan dia. Walau memang caranya salah, tapi entah hatiku yakin kalau kakak kamu memang benar-benar merasa risih sebenarnya. Mungkin saja waktu itu pikirannya tidak jernih" balas Clarissa menatap lurus ke depan.


"Maafkan dia ya kak" ucap Lavina mengiba.


"Aku sudah memaafkannya dan hatiku sudah ikhlas" Clarissa tersenyum ke arah Lavina sembari menggenggam tangan adik iparnya.


Entah apa yang sekarang ada dalam pikiran Clarissa. Yang jelas Lavina nampak sekali kalau ada sesuatu yang akan dilakukan oleh Clarissa. Semacam dia akan menghilang dari kehidupan kakaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya readers tercinta othor suka telat up nya 🙏😖. Segini dulu ya besok lanjut lagi, good night 🌙.


Selesai baca jangan lupa pencet jempolnya ya 😉. Syukur alhamdulillah kalau mau sedekah giat dan vote nya.


By By 👋 see you

__ADS_1


__ADS_2