
Lavina berpacaran dengan Hans sudah sejak sebulan yang lalu. Tapi memang dia rahasiakan karna Lavi tau kalau orang tuanya maupun kakaknya tidak setuju dia dekat dengan Hans. Dulu Lavina sangat dekat dengan kekasihnya itu, tapi hubungan mereka harus kandas. Lantaran tuan Alvero tidak suka dengan Hans
Dia lelaki yang angkuh dan suka berganti-ganti pasangan. Tuan Alvero sudah mencari seluk beluk tentang Hans, mulai dari keluarganya bahkan pekerjaannya. Dan saat tau latar belakang Hans, tuan Albedo langsung menyuruh Laguna untuk putus.
Tapi pada akhirnya mereka menjalin hubungan lagi dengan sembunyi-sembunyi. Agar orang tua Lavina mau pun Kendrick tidak mengetahui. Kalau saja Lavi tau sifat asli Hans dari awal mungkin dia tidak akan mau menjalin hubungan dengannya.
Lavina menyesal karena tidak percaya dengan ucapan orang tuanya. Karena cinta dalam hatinya mengalahkan semuanya. Lavina sangat merasa bersalah, ia tadi juga sempat menampar Michael. Tapi malah Michael yang berkorban untuknya.
"Kamu sudah diperingatin sama papa kan, agar tidak berhubungan lagi dengan lelaki itu. Kenapa kamu malah membangkang Lavinaaa" marah Kendrick.
"Ma-maafkan a-aku kak hiks.......hiks......," ucap Lavina terbata-bata sebab takut.
"Mama maafkan aku" tambah Lavina, namun tatapan nyonya Mesya seperti ada kekecewaan.
"Gak seharusnya begini Lavi, mama kecewa sama kamu" sahut nyonya Mesya.
"Ma maafkan aku........" Lavina memegang tangan mamanya berharap nyonya Mesya akan mau memaafkan dia.
"Lavina boleh aku tau wajah lelaki itu?" tanya Clarissa tiba-tiba. Ia sangat penasaran dengan pacar Lavina, sebab namanya itu tidak asing ditelinga Clarissa.
"Ini kak ada diponselku" Lavina memberikan ponselnya yang foto Hans dijadikan wallpaper oleh Lavina.
Saat melihat wajah Hans sontak saja Clarissa terkejut dan mengembalikan hanphone itu kepada Lavina. Jantungnya terpompa tidak beraturan, ia mengingat sesuatu saat melihat wajah Hans.
"Clari kamu kenapa?" tanya Kendrick yang merasa aneh dengan sikap Clarissa saat melihat foto tersebut.
"Di-dia itu ya-yang pernah huufhh......." Clarissa menarik nafas panjang untuk menetralkan dadanya yang sedikit sesak. "Pernah melakukan kekerasan padaku dulu dan bahkan dia yang memukuliku habis-habisan" jelas Clarissa membuat Kendrick melotot tajam.
"Ohh jadi lelaki ini, dasar bre**sek" marah Kendrick, ia mengepalkan tangannya.
"Kekerasan apa maksudnya?" sahut nyonya Mesya yang bingung.
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku mau balii ke ruang operasi untuk menunggu kabar selanjutnya" ucap Kendrick berusaha menetralkan emosinya.
"Ya sudah pergi lah, biar mama yang menjaga adikmu" balas nyonya Mesya.
"Mas aku ikut kamu ya, ma gak pa-pa kan?"
"Pergi lah temenani suamimu" balas nyonya Mesya.
Kendrick dan Clarissa pun pergi keluar. Mereka berjalan beriringan menuju ruang operasi. Sepanjang lorong Clarissa banyak diam, dia mengingat kembali siapa lelaki yang sudah membantu Jennie untuk menyakitinya dulu.
Kendrick tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arah Clarissa yang sedari tadi hanya bengonh saja. "Kamu gak pa-pa Clar?" tanya Kendrick.
"Eh enggak pa-pa kok" balas Clarissa sedikit kaget.
"Beneran gak pa-pa? " tanya Kendrick lagi memastikan Clarissa benar-benar baik.
Clarissa hanya membalas dengan anggukan saja. Lalu mereka kembali berjalan sampai di depan ruang operasi. Disana sudah ada orang tua Michael yang menunggu. Dan bertemu lah Clarissa dengan orang tua Michael.
__ADS_1
Mungkin Clarissa tidak tau mereka, namun mereka lah yang tau tentang Clarissa. Didekat sana Kendrick menyapa mereka berdua yang bernama tuan Darma dan nyonya Rita. Saat mereka melihat ke arah Kendrick, tatapan keduanya seolah terkejut melihat orang yang dulu mereka benci ada disana.
"Bagaimana om tante apakah operasi belum selesai?" tanya Kendrick menyadarkan lamunan keduanya.
"Belum nak. Ini siapa yang ada di sampingmu?" tanya Rita yang penasaran.
"Apakah mas Ken mau mengakuiku istrinya di depan kedua orang tua Michael" batin Clarissa dalam hatinya.
"Ini kenalin namanya Clarissa, dia istri saya om tante" ucap Kendrick menjelaskan.
Sontak saja keduanya sangat terkejut mendengar hal itu. Tapi tidak dengan Kendrick yang sudah tau ceritanya dari awal. Sementara Clarissa memang tidak tau keduanya tapi sempat mendengar cerita Michael saat masih dirumah sakit waktu itu.
"Dia istrimu?" tanya Rita tak percaya.
"Iya tante" jawab Kendrick.
Lampu ruang operasi sudah padam, mereka menunggu dokter untuk keluar.
Farghan yang menangani Michael pun keluar dan langsung diserbu oleh beberapa pertanyaan dari kedua orang tua Michael mau pun Kendrick.
"Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Rita.
"Alhamdulillah, operasinya berhasil. Tapi..... " Farghan memotong ucapannya membuat semuanya yang ada disana menjadi khwatir.
"Tapi kenapa?" sahut Kendrick yang penasaran.
Farghan kembali masuk ke dalam dan Rita mamanya Michael langsung terduduk lemas di kursi. Kendrick semakin merasa bersalah melihat sahabatnya harus seperti itu.
"Tante, om, saya minta maaf karna menolong adik saya, Michael jadi seperti ini" sesal Kendrick.
"Sudah lah nak Ken, ini diluar kendali kita. Kamu berdoa saja semoga Michael cepat sadar" ucap Darma papa Michael.
Kemudian tuan Darma kembali menenangkan istrinya yang tengah menangis dan Kendrick pamit bersama Clarissa untuk kembali ke ruangan Lavina.
...🌳🌳🌳...
"Kak bagaimana dengan Michael? Apakah operasinya berjalan dengan lancar? " tanya Lavina saat mengetahui Kendrick baru saja masuk ke ruangannya dengan Clarissa.
"Bagaimana keadaan Michael Ken?" sahut nyonya Mesya ikut bertanya.
Wajah Kendrick terlihat tak bersahabat, ia tampak lesu dan putus asa. Langkahnya menuju sofa, dan dia duduk disana. Tak ada jawaban dari mulut Kendrick, sehingga membuat Lavina mau pun nyonya Mesya jafi cemas. Lalu mereka beralih menanyakan kepada Clarissa.
"Kak gimana keadaan Michael?" tanya Lavina kepada Clarissa, berharap kakaknya mau menjawab.
"Operasinya sudah selesai tapi dia sekarang kritis. Kita berdoa saja semoga di bisa melewati masa kritisnya" jelas Clarissa membuat Lavina semakin merasa bersalah.
"Kak tolong antar aku ke ruangannya.....hiks......aku mohon kak" paksa Lavina, ia ingin sekali melihat keadaan Michael dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya.
"Tapi bagaimana dengan keadaanmu Lavi"
__ADS_1
"Aku sudah gak pa-pa, tolong kak antar aku sekarang" Lavina tetap memaksa untuk melihat Michael.
Lalu Clarissa menoleh ke arah suaminya berharap Kendrick mau memberi jawaban. Namun malah dia hanya diam saja tak merespon isyarat dari Clarissa.
Clarissa pun meminta pendapat dari mama mertuanya. Dan nyonya Mesya hanya mengangguk saja tanpa suara. Akhirnya Clarissa keluar untuk mengambilkan kursi roda buat Lavina. Namun Lavina tidak mau, dia ingin jalan sendiri.
Tapi Clarissa bilang tidak mau mengantarkan kalau Lavina tidak mau menurut. Dengan terpaksa Lavina menuruti ucapan kakak iparnya agar dia bisa segera bertemu dengan Michael.
Setelah itu Clarissa membawa Lavina untuk menemui Michael. Sementara Kendrick dan nyonya Mesya tidak ikut, mereka hanya berdiam diruangan Lavina. Mereka berdua maaih kecewa dengan Lavina lantaran dia tidak menurut dan malah membuat mereka kecewa.
Sesampainya di depan ruang ICU yang di lihat oleh keduanya hanyalah Rita saja, sedangkan suaminya entah kemana. Clarissa mendorong Lavina agar semakin dekat dengan mama Michael.
"Tante Rita" sapa Lavina membuyarkan lamunan nyonya Rita.
"Lavina....." ucapnya.
Kemudian Lavina bangkit dari kursi rodanya untuk duduk dan mendekat ke samping nyonya Rita. Ia memegang kedua tangan nyonya Rita dan meminta maaf.
"Tante, maafkan Lavi........Gara-gara Lavina, Michael jadi begini sekarang" ucap Lavina sembari menangis.
"Sudah lah, Ini semua bukan salahmu. Kamu juga gak akan tau kalau kejadiannya bakal seperti ini. Sekarang kita doakan saja semoga Michael bisa cepat sadar." tutur nyonya Rita..
"Aku boleh masuk untuk menemuinya tan?" ucap Lavina.
"Boleh kok, tapi kamu bisa sendiri? "
"Iya bisa tan, sekali lagi terima kasih"
"Iya" balas nyonya Rita tulus.
Lalu Lavina pergi masuk ke ruang ICU sendiri. Sementara Clarissa menunggu diluar bersama mamanya Michael. Mereka sama-sama hanya diam saja, tak ada suara yang dikeluarkan dari keduanya.
Di dalam Lavina sedang memakai baju khusus sebelum masuk. Lalu dia antar oleh suster untuk ke ruang Michael dirawat. Sesampainya disana Lavina melihat Michael terbaring lemah dengan selang oksigen yang menempel di wajahnya.
Wajahnya pucat, dia terbaring tak berdaya. Lavina perlahan berjalan mendekatinya dan duduk di samping Michael. Ia mengingat kembali sebelum kejadian ini terjadi. Matanya masih bisa melihat Michael berusaha untuk menolongnya. Walau pun pada akhirnya dia yang harus tumbang.
Lavina tak bisa berbicara apapun di depan Michael dalam keadaan yang seperti itu. Dia sangat menyesl karna tak mau mendengarkan ucapan Michael kala itu.
"Maafkan aku Chel. Aku salah tidak mau mendengarkanmu atau pun penjelasan darimu dulu. Aku malah menamparmu dan memilih pergi dengan lelaki itu. Tak ku sangka kamu mengikutiku sampai ditempat dia membawaku. Hikss......Hiksss.... Sadar lah Chel dan marahi aku sesukamu. Kau boleh memakiku atau pun menyalahkan aku." Lavina tak bisa membendung air matanya lagi, ia tumpahkan semuanya di situ sembari tangannya memegang tangan Michael.
"Bangunlah, aku mohon. Aku akan melakukan apapun untukmu, apapun yang kamu mau aku akan turuti asalkan kamu bangun Chel. Ayo lah hikss......hikss" Lavina masih berusaha agar Michael bisa membuka matanya kembali namun tak kunjung bangun.
"Kau selama ini selalu menjagaku sampai detik ini. Kamu sudah seperti pelindung bagiku, terima kasih" ucap Lavina tulus.
Ia hendak pergi dari sana karna melihat Michael tak merespon sama sekali. Sebelum dia pergi entah pikiran dari mana, dia mengecup tangan dan kening Michael. Lalu Lavina meninggalkan Michael yang masih terbaring lemah.
Baru tiga langkah dari tempat duduk, tangan Lavina ada yang memegang. Sontak saja dia berbalik dan melihat Michael memegang tangannya.
"Michael kamu sudah sadar, aku panggilkan dokter sebentar ya." tapi tangannya ditahan oleh Michael.
__ADS_1