Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 50 #Mengobati


__ADS_3

Clarissa sedang sendirian di rumah. Ia berada di ruang yang biasa digunakan untuk menaruh semua rancangan pakaian yang sudah selesai. Clarissa berdiam disana sembari membuat sketsa busana yang memang dipesan oleh orang.


Disela-sela ia fokus dengan tugasnya, art rumah datang membawa sebuah paper back berwarna biru dengan garis merah mudah gitu. Bi Heti menyerahkan paper back tersebut kepada Clarissa.


"Saya tidak pesan apapun bi. Ini dari siapa?" kata Clarissa bingung.


"Gak tau saya non, katanya buat non. Tapi gak ada nama pengirimnya." kawab bi Heti.


"Ya sudah bi, makasih" ucap Clarissa.


"Iya non, kalau gitu bibi ke belakang dulu"


"Iya bi."


Setelah kepergian bi Heti, Clarissa penasaran dengan isi paper back tersebut. Lalu dia buka perlahan dan nampak di dalamnya berisi gaun selutut berwarna merah muda dengan pernak-pernik kristak di bagian lingkaran pinggangnya. Clarissa menjadi heran, ia melihat ada sepucuk surat. Diambil oleh Clarissa dan dia membaca isi surat tersebut.


"Pakai lah saat besok kamu menemuiku, gaun itu untukmu"


Kendrick.


Setelah membaca isi surat tersebut barulah Clarissa tau kalau itu dari suaminya. Karena penasaran dicoba lah oleh Clarissa, ia pergi ke kamarnya sembari membawa paper back tadi.


Sampai di kamar ia langsung menuju ruang ganti, dilihat dulu oleh Clarissa sebelum dicoba. Setelah puas memandangi gaun tersebut, Clarissa mulai mencobanya. Dan tak disangka ternyata pas dibadan Clari. Ia sangat menyukainya.


Diputar-putar badannya, dia sangat senang. Karna tak menyangka suaminya akan membelikan itu dengan ukuran yang pas.


"Kok bisa pas ya, dia saja gak tau ukuran bajuku. Aah mungkin tau dari bajuku yang masih ada disana." gumam Clarissa.


"Bagus juga, warnanya cantik. Tumben banget dia mau membelikan aku baju" Clarissa berpikir sejenak lalu dia kembali melepas gaun itu dan kembali ke kamarnya.


Dia duduk di ranjang sembari mengambil ponsel yang tergeletak. Ia membuka kontak lalu mencari nama Kendrick disana. Setelah ketemu dia memberi pesan untuk mengucap terima kasih.


📱"Makasih, gaunnya cantik aku suka. Besok akan aku pakai" pesan dari Clarissa.


Tak berapa lama menunggu pesan Clarissa langsung mendapat balasan dari Kendrick.


📲 "Sama-sama, syukur lah kalau kamu suka" balasan dari Kendrick.


Read.


Clarissa menutup ponselnya lalu pergi keluar kamar menuju perpustakaan buku. Yang ada dilantai bawah, karna membaca atau pun menulis sudah menjadi hoby Clarissa sejak dulu. Bahkan dia sudah mencetak dua buku yang diterbitkan. Orang tuanya selalu mendukung apapun yang dilakukan Clarissa asalkan semua itu hal yang positif dan bisa bermanfaat untuk orang lain.


🌳


🌳


🌳


Michael sudah keluar dari rumah sakit. Sekarang dia rawat jalan di rumah, walau pun sebenarnya dokter menyarankan agar Michael dirawat beberapa hari kedepan. Namun Michael menolak dan meminta untuk rawat jalan saja. Akhirnya dia diperbolehkan pulang dengan syarat dia tidak boleh terlalu banyak gerak. Sebab luka bekas operasi tersebut belum kering.

__ADS_1


Mendengar saran dokter, Michael mengiyakan dan dia pun pulang. Jadi Lavina yang selama ini merawat Michael di rumah sakit, beralih ke rumah. Sehingga setiap pagi Lavina harus datang ke rumah Michael untuk membantunya jika perlu sesuatu. Awalnya Lavina masih ragu dan meminta sang ayah agar tak terus-menerus harus datang ke rumah Michael.


Namun tuan Alvero malah marah dan meminta Lavina agar merawat Michael sampai sembuh total. Lavina disitu tak bisa membantah yang pada akhirnya dia menuruti apa kemauan sang ayah sebagai rasa tanggung jawabnya juga.


Orang tua Michael merasa kasihan melihat Lavina. Dia pagi harus datang ke rumah mereka dan kembali sewaktu malam. Begitu terus tanpa bisa Lavina menikmati kebebasan. Refresing atau pun jalan-jalan seperti anak muda pada umumnya. Orang tua Michael juga gak bisa melarang Lavina untuk setiap hari harus datang ke rumah mereka, karena itu permintaan tuan Alvero langsung.


"Lavi, apakah kamu gak tidur sini saja. Tante gak tega kalau harus melihat kamu kesini setiap hari, merawat Michael lalu pulang malam. Pasti kamu capek" ucap tante Rita kepada Lavina yang berada di dapur untuk mengambilkan buah buat Michael.


Lavina tersenyum lantas menjawab. "Gak pa-pa tante, ini sudah tugas Lavina. Kalau bukan karna Lavina pasti Michael tak akan seperti itu" jawab Lavina.


"Sudah lah, ini semua bukan keinginan kamu. Lavi tinggal disini saja ya, biar nanti bibi siapkan kamar" tawar tante Rita.


"Gak perlu tan, Lavi gak masalah kok pulang pergi kesini" tola Lavina halus agar tak menyinggung perasaan tante Rita.


"Ya sudah kalau begitu tante tinggal dulu"


"Iya tan"


Sepeninggal tante Rita, Lavina pun juga sudah selesai memotong buah. Ia tata diatas piring sembari membawa jus lalu dia bawa ke taman samping menemui Michael.


Sampai disana Lavina taruh piring dan jus tersebut diatas meja. Lalu ia melangkah menghampiri Michael yang berada diatas kursi roda, karna Michael tidak boleh terlalu banyak gerak dulu.


Saat sudah dekat dengan Michael, tiba-tiba saja kaki Lavina terasa kram. Sehingga dia tak bisa menyeimbangkan diri.


"Aauuww....."


Bugh.


Dia terjatuh dipangkuan Michael dengan posisi miring. Tatapan mereka saling bertemu, Michael terkejut saat Lavina terjatuh ke arahnya. Jantungnya berasa mau lepas dari tempatnya. Begitu pun dengan Lavina yang merasa ada yang aneh dalam dirinya.


Sepersekian dekit mereka saling bertatap-tatapan dengan dada yang bergemuruh. Pandangan Michael beralih ke bibir ranum Lavina yang tampak merah muda.


"Astaga Michael, apa sih yang ada dalam pikiranmu" batin Michael.


"Kamu mau seperti ini terus" ucap Michael menyadarkan Lavina.


"Eh ah, maaf aku gak sengaja" kata Lavina berusaha bangkit.


"Auww...." keluh Lavina merasakan kakinya sakit.


"Kenapa?" tanya Michael.


"Kaki ku kram, sakit" jawab Lavina sembari berusaha berdiri, lalu berpegang pada kursi yang tak jauh dari Michael. Ia duduk di kursi tersebut sembari meluruskan kakinya.


"Masih sakit?" tanya Michael.


"Sedikit" jawab Lavina yang masih mengelus kakinya.


Pandangan Lavina kembali tertuju pada Michael. Ia melihat Michael sedang memegangi perutnya. Lavina jadi khawatir karna dia tadi tak sengaja terjatuh ke arah Michael.

__ADS_1


"Perutmu sakit ya, pasti gara-gara aku tadi. Maaf....Ayo masuk dulu biar aku lihat" kata Lavina.


"Gak pa-pa, memang kakimu sudah gak sakit?"


"Gak kok"


Tanpa banyak bicara lagi, Lavina bangkit dan mendorong kursi roda Michael untuk masuk ke dalam. Ia masih menahan sakit walau pun taj sesakit sebelumnya.


Di dalam kamar Lavina membantu Michael untuk beralih ke kasurnya. Lalu Michael berbaring karna Lavina yang memintanya. Kemudian Lavi mengambil kotak P3K yang ada diatas dalam laci.


"Coba aku lihat ya" kata Lavina.


"Memang kamu bisa, berani" ucap Michael seolah meremehkan Lavina.


"Jangan salah, aku dulu sempat sekolah jurusan kesehatan sewaktu lulus dari SMP. Jadi aku bisa kalau hanya sekedar mengobati" ucap Lavina menjelaskan.


"Ohh baiklah"


Lavina mulai mengangkat baju Michael sedikit dibagian lukanya. Walau pun terbuka sedikit tampak jelas dimata Lavina tubuh Michael sangat seksi dan kekar. Perut sobeknya terlihat jelas.


"Ya ampun ternyata dia mempunyai tubuh yang kekar" batin Lavina.


Tak mau Michael curiga karna dia curi pandang. Lavina segera mengecek luka yang ada diperut Michael.


"Beruntung gak pa-pa, tapi keluar darah sedikit. Nanti kita periksakan ya" kata Lavina.


"Gak perlu, kamu ganti saja perbannya" jawab Michael menolak.


"Baiklah" balas Lavina menurut.


Lalu dia mengganti perban luka Michael dengan sangat hati-hati dan telaten. Michael yang melihat itu dibuat takjub, seolah tak percaya yang ada didepannya itu adalah Lavina. Mata terus memandang wajah putih mulus Lavina sampai tak berkedib.


"Hmm, kalau memag kamu bisa dalam bidang kesehatan. Kenapa tidak meneruskan kuliah kedokteran?" tanya Michael.


"Gak, karena waktu itu minatku ke dunia fashion dan kecantikan. Jadi aku masuk kuliah mengambil jurusan itu" jelas Lavina.


"Kenapa tidak meneruskan kuliah kedokteran setelah lulus S1?" tanya Michael lagi.


"Ribet, aku males mengerjakan tugas banyak. Belum lagi nanti prakteknya dan skripsi" papar Lavina.


"Kalau menuntut ilmu itu jangan malas-malas. Kalau kamu mentingin malas, kapan majunya? Mumpung kamu masih muda teruskan saja untuk kuliah S2. Dan ilmu kamu nanti bisa bermanfaat untuk orang lain." kata Michael menasehati.


Lavina masih merenung sejenak memikirkan perkataan Michael barusan. Tepat juga ia selesai mengganti perban Michael.


"Gak salah sih kamu ingin jadi seorang model atau menekuni bidang kecantikan. Tapi kalau kamu menggali lagi ilmu yang kamu dapat dari sekolah kesehatan, maka itu bisa menolong banyak orang. Selain kamu bisa di dunia fashion dan kecantikan, kamu juga bisa menjadi seorang dokter. Dah paket lengkap tuh" tutur Michael.


"Hmm iya sih, nanti akan aku pikirkan lagi" jawab Lavina yang kini duduk di samping Michael.


"Bagus, aku berharap kamu mau meneruskannya" ucap Michael. Sementara Lavina hanya menggangguk saja.

__ADS_1


__ADS_2