
Wekeend yang menyenangkan bagi Kendrick dan Clarissa. Mereka menikmati hari libur dengan bersennag-senang. Kendrick tak ada minat untuk keluar rumah, jadi mereka hanya menikmati wekeend dengan bermain dirumah saja. Walau pun mereka tak pergi jalan-jalan keluar, suasana dirumah sudah cukup menghangatkan hati dan memberi kebahagiaan dengam berkumpul bersama keluarga.
Wajah Clarissa jadi selalu berseri-seri memancarkan keceriaan dari sebelumnya. Sehingga rumah itu jadi lebih berwarna lagi. Tak ada yang namanya sepi, keributan, pertengkaran, kekerasan, dan lainnya. Sekarang hanya ada senyuman, canda tawa, dan keharmonisan. Begitu menyenangkan hati jika dibayangkan. Itulah yang dirasakan Clarissa sekarang, yang tidak pernah dirasakannya dimasa dahulu.
Kini Clarissa sedang diruang keluarga bersama kedua mertuanya, suami, anak, dan Chera tentunya. Mereka semua canda tawa disitu, tempat yang paling ternyaman kalau bisa berkumpul dengan keluarga dan bercerita banyak hal.
"Jus nya sudah jadiii, yuk diambil siapa yang pesan tadi.." ujar Clarissa membawa namban yang diatasnya ada lima gelas berisi jus buah sesuai masing-masing dari mereka. Clarissa lah yang membuatnya sendiri, tak ada yang bisa menandingi apapun yang dibuat Clarissa.
"Makasih......Kakak sudah seperti penjamu dicafe-cafe aja. Kenapa gak buka restoran atau toko jus atau toko roti atau toko kue atau......." Clarissa langsunh menyela ucapan Chera yang belum selesai. Ia grmas melihat tingkah Chera.
"Atau.....Atau terus, sudah aah gak usah dilanjutin. Kakak gak minat buka toko-toko begitu. Mending kamu saja sana yang buka toko biar nambah cuan" ujar Clarissa sembari memberikan jus jambu kepada suaminya.
"Aihhh, aku belum selesai bicara sudah menyela. Lagian aku gak berminat dibidang kuliner, aku mau beralih profesi" jawab Chera sambil meminum jusnya.
"Beralih profesi apa?" tanya Clarissa yakin kalau sepupunya itu pasti sulit menemukan profesi yang cocok. Karna dari dulu Chera selalu berganti-ganti keinginan kalau madalah cita-cita atau profesi yang ingin ditekuninya.
"Entah lah aku juga gak tau" benar kan tebakan Clarissa, kalau Chera masih memutar otak untuk berpikir. Akhirnya Clarissa tertawa kecil melihat tingkah Chera.
"Sudah kamu lanjutin butikku di London saja. Dari pada kamu pusing-pusing, kamu sudah ahli kalau itu. Sudah lama kamu membantuku, gak mungkin kalau kamu gak bisa mengurusnya." putusan Clarissa dan langsung diiyakan oleh Chera.
"Oke.....!" Chera menempelkan jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf O dan mengarahkannga kepada Clarissa.
"Ohh ya ma, desain yang mama minta tempo hari itu sudah selesai. Tinggal merancang saja, apa mama mau melihatnya? Atau nanti lihat hasilnya langsung?" tanya Clarissa kepada nyonya Mesya.
"Loh cepet sekali, padahal mama kan belum mengatakannya jadi dibuat apa enggak. Memangnya kamu gak capek?" nyonya Mesya terkejut mendengar ucapan Clarissa. Padahal ia tak meminta dibuatkan sekarang, tak disangka Clarissa malah membuatkan secepat kilat.
"Ya ampun ma, kalau hanya buat desainnya saja ngapain capek. Kalau orang yang sudah ahli, mau sesulit apapun dan sesibuk apapun pasti bisa jadi tepat waktu. Dan hasilnya gak akan mengecewakan" ucap Clarissa seolah membanggakan diri sembari tertawa cengir.
"Hmm, iya deh mama akui kamu paling jago. Nanti mama lihat hasilnya langsung saja, biar terlihat surprise gitu." ucap nyonya Mesya.
__ADS_1
"Heheh, oke ma siap." balas Clarissa tertawa lirih.
"Kak, aku kan sudah nganterin pulang ke sini dan sudah menuntaskan semuanya yang perlu diutarakan. Hmm aku.......Mungkin ini sudah waktunya aku pulang. Papa dan mama pasti kangen, toko kakak juga gak ada yang jaga. Jadi aku mau izin pulang" ucap Chera mengutarakan niatnya dan itu sangat sulit baginya harus berpisah dengan Clarissa lagi. Mereka sudah seperti magnet yang sulit untuk terlepas. Chera sudah sangat menyayangi Clarissa seperti kakak kandungnya sendiri. Apalagi selama ini dia lah yang menemani perjuangan Clarissa dari mengandung sampai melahirkan. Dan sampai detik ini pun ia masih ada di samping Clarissa.
"Kami yakin ingin pulang? Aku sebenarnya masih ingin kamu ada disini. Tapi aku tau pasti hatimu juga rindu dengan paman dan bibi. Mereka juga pasti rindu denganmu. Kalau kamu mau pulang mintalah Yeo untuk memakai jet pribadinya. Biar kamu gak nunggu-nunggu lama" ucal Clarissa dengam berat hati.
"Enggak-enggak, males kak........Nyebelin itu orang kalau sama aku. Mending aku pesan pesawat sendiri saja. Ndak mau aku berurusan sama dia" tolak Chera merasa Yeo adalah lelaki yang aneh. Sulit ditebak dan pasti menyebalkan bagi Chera.
"Yeo itu aslinya baik loh, padahal kamu duluan yang sudah mengenalnya dari pada aku. Jangan pandang orang dari statusnya, tapi dari hatinya. Kamu sih terlalu berlebihan kalau menanggapi tentang orang" balas Clarissa mengambil remot televisi untuk mengganti siaran.
"Eehh kak Rissa gak tau aja dia nyebelin. Pokoknya aku gak mau, aku mau pesan pesawat sendiri aja. Titik." kekeh Chera gak mau dibantah lagi. Pada akhirnya Clarissa mengalah, ia tadi hanya memberi saran kalau Chera gak mau ya sudah.
"Tante berterima kasih ya sudah membantu Clarissa selama ini dan bantu mengurus cucu tante. Kalau ada waktu lagi, berkunjunglah kesini. Kami pasti akan merindukan kamu. Semoga kedepannya kamu bisa mendapatkan jodoh yang baik dan mencintaimu setulus hatinya" ucap nyonya Mesya perhatian seorang ibu yang begitu dalam.
"Iya tante aamiin. Aku pasti juga kangen suasana disini" balas Chera sembari tersenyum dengan perasaan yang berat untuk pergi.
...π΅πΊπ΅πΊπ΅πΊ...
Dirumah lain keluarga Danata juga berkumpul untuk menikmati hari libur yang singkat. Dengan berbagai canda tawa bersama anak dan cucu. Tapi bagi seorang ibu, tanpa anak adalah hal yang menyakitkan. Hanya karna keegoisan dapat menghancurkan rasa harmonis.
Nyonya Cantika merasa hatinya ada yang kosong. Dibalik keceriaannya di depan keluarga, ada luka yang dalam di hatinya. Luka seorang ibu yang menyesali perbuatannya. Ia melihat suami dan anaknya bisa bercanda tawa, tapi apakah dalam hati mereka tak ada rindu terhadap Clarissa?. Sebenarnya jika dibelah dan ditelusuri lebih dalam masuk ke hati mereka. Pasti masih ada kerinduan yang dipendam oleh mereka. Hanya saja tidak terlihat dari luar. Apakah mereka gengsi untuk mengakui kerinduannya? Atau memang hatinya masih memiliki amarah?. Harusnya semua itu bisa dipendam demi kebahagiaan sang anak.
Yang menjalani rumah tangga adalah anak. Tapi kenapa orang tua harus mengatur sampai menjodohkan?. Karena orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya mereka tidak tau isi hati sang anak dan kemauannya. Apakah anaknya sudah mempunyai orang yang dicintai kah atau belum. Kalau sudah dan dipaksa menikah dengan orang lain, pasti menyakitkan bukan?. Dan kalau sang anak memang belum punya pasangan. Apakah mereka akan menerima juga?. Tergantung kesiapan hati sang anak yang memang menginginkannya.
"Mas, aku mau bicara sebentar sama mamu dan Faero." ucap nyonya Cantika yang sedang berada di ruang tamu bersama suami, anak, dan menantunya.
"Mama mau bicara apa, bicara saja. Penting banget?" tanya tuan Nevan.
"Iya, buat aku ini penting. Mengenai Clarissa" jawab nyonya Cantika tegas. Sudah cukup dia memendamnya. Rasa bersalah semakin mencuak dihatinya.
__ADS_1
Tatapan mata tuan Nevan langsunb berubah tatkala istrinya menyebutkan nama Clarissa. Apakah sejahat itu hatinya sampai mendengar nama putrinya saja raut wajahnya langsung berubah.
"Ngapain bahas dia, bukannya dia sudah memilih lelaki itu. Dia sudah gka butuh kita keluarganya. Jadi mau apa dibahas lagi." ketus tuan Nevan tak suka.
"Mas, Clarissa itu anak kita. Wajar kok dia ingin bertahan dengan suaminya. Apa salahnya sih, itu sudah haknya." tegas nyonya Cantika. Ia tak mau lagi egois dan menggantung kebahagiaan putrinya.
"Dengar!! Dia sudah gak butuh kita. Dia lebih memilih pria br*ngs*k itu dibandingkan kita orang tuanya. Gak perlu kamu bahas dia didepanku!! Anak itu gak bisa berterima kasih, sudah dirawat dan dibesarkan malah milih pria yang gak bisa bertanggungjawab" terang tuan Nevan dengan nada tinggi dan nafas menggebu-gebu, raut wajahnya penuh dengan amarah. Ternyata selama ini kemarahan tuan Nevan sama sekali belum reda.
Mendengar ucapan tuan Nevan seperti itu. Membuat hati seorang ibu tersakiti dan juga seorang istri yang dibentak pasti merasa marah. Nyonya Cantika sampai meneteskan air mata mendengar bentakan sang suami. Ia tak mau kalah untuk berdebat, disini keinginannya adalah menjalin hubungan baik lagi dengan putrinya.
"Clarissa itu putrimu!! Sampai kapan pun dia darah dagingmu. Clarissa sudah dewasa bahkan sudah punya anak. Dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri dan berhak mencari kebahagiaannya juga. Belum tentu yang aku atau kamu mau bisa membuat bahagia Clarissa. Memang mau kamu menyiksa putrimu sendiri dan membuang kebahagiaannya!! Aku sebagai ibunya merasa sakit dengan perkataanmu mas. Aku mau menemui Clarissa dengan atau tanpa seizinmu." marah nyonya Cantika lalu hendak pergi untuk menemui Claridda di rumah tuan Alvero. Ia sudah tak mempedulikan lagi perkataan suaminya.
Sementara Faero dan Eveline yang juga berada di sana sednag duduk bersama orang tuanya hanya bisa diam. Sebenarnya Faero juga merasa kerinduan terhadap Clarissa. Tapi melihat ayahnya yang marah, dia hanya bisa diam. Bahkan gak bida melerai kedua orang tuanya.
"Mama mau kemana? Aku temenin ya" ucap Eveline merasa kasihan, tapi Faero segera menjega agar istrinya tidak keluar.
"Kamu dirumah saja!" sahut Faero. Sontak Eveline menoleh dan memberi tatapan aneh kepada Faero.
"Kenapa sih mas? Aku mau nemenin mama. Dia mama mu loh gak ada rasa kasihannya sama sekali sih. Wajarlah mama sudah lama gak bertemu Clarissa." pungkas Eveline kesal bercampur marah.
"Tidak!! Kau tidak boleh pergi." sahut tuan Nevan menegaskan.
"Terserah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu putriku. Kamu sebagai papanya malah tidak ada peduli sama sekali." terang nyonya Cantika sudah tak mempedulikan larangan suaminya dan beranjak pergi.
"Sekali kamu temui dia, gak usah balik sekalian!" ucap tuan Nevan membuat Faero dan Eveline terkejut. Apalagi nyonya Cantika yang langsung berhenti ditempat dan menoleh ke arah suaminya.
"Kamu mengusirku? Hanya karna aku menemui putriku sendiri? Baiklah aku akan pergi sekarang." ucap nyonya Cantika dan berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas dengan air mata yang berhamburan.
Sampai dibawah nyonya Cantika sudah tidak sanggup menatap suaminya. Ia langsung keluar begitu saja tanpa berbicara apapun. Sementara Eveline ingin mencegah, tapi Faero menghalangi. Membuat Eveline merasa geram dan kesal. Melihat mama mertuanya yang menangis seperti itu, membuat nyali Eveline memuncak. Ia juga tak mempedulikan sorot mata suaminya yang mulai berbeda. Ia lebih memilih membela nyonya Cantika.
__ADS_1