
London.
"Veline jangan begitu, bangunlah ini bukan salahmu" ucap Clarissa berusaha membujuk Eveline.
"Kenapa kamu berani berbohong kepada kami!!. Padahal kamu tau kalau aku benci lelaki itu, aku gak nyangka Velin." sahit Faero dengan nada tinggi sampai membuat Eveline terkejut.
Clarissa yang mendengar Faero membentak Eveline langsung marah. Harusnya Faero mengerti keadaan istrinya yang sedang hamil. Tapi saat itu pikirannya sudah dipenuhi dengan amarah. Yang mrmang sudah tidak bisa dia kontrol.
"Kak!! Dia istrimu, Eveline sedang hamil. Kenapa malah membentak Eveline begitu. Jangan libatkan Eveline dalam hal ini. Dia tidak bersalah, lagian kalau aku izin pun papa dan mama juga tidak akan mengizinkan. Buat apa aku izin? Ini hakku!" pekik Clarissa.
Lucy mengelus pundak Clarissa dan berusaha menenangkan ponakannya. Claridsa juga harus bisa menahan emosi agar tidak mempengaruhi anak yang ada didalam perutnya.
Clarissa menarik nafas panjang untuk menenangkan emosinya. "Sekarang mau papa apa?" tanya Clarissa sudah merendahkan suaranya.
"Berceraiklah dengan lelaki itu atau kamu tidak usah menginjakkan kaki di rumah ini lagi" Clarissa sangat terkejut mendengar perkataan sang ayah. Tidak hanya Clarissa bahkan Lous, Lucy, dan Chera sangat terkejut.
Apalagi yang sekarang berada didekat tuan Nevan. Bagaimana terkejutnya Eveline mendengar ayah mertuanya mengatakan hal tersebut. Pasti dia juga terkejut.
"Apa yang kamu katakan Nevan? Ini putrimu, bagaimana kamu bisa memberi pilihan seperti itu." sahut Lous yang terkejut dan emosi.
"Silahkan tentukan pilihanmu. Kamu lebih memilih lelaki b*jing*n itu atau keluargamu." perkataan Lous seolah tidak didengar oleh tuan Nevan dan diabaikan begitu saja.
Clarissa masih berusaha mencerna ucapan ayahnya barusan. Ia tak bisa memilih antara suami atau keluarganya. Kalau dia meninggalkan suaminya, lantas bagaimana nasib anak didalam perutnya?. Kalau pilihan kedua, pasti Clarissa juga berat. Selama ini yang mensupport Clarissa adalah papa dan mamanya.
"Ya Allah berikanlah jawabanmu" batin Clarissa sambil mengelus perutnya.
"Tentukan sekarang, tak ada bantahan menunda!" tegas tuan Nevan dengar nada datarnya.
"Baiklah kalau papa memberikan pilihan itu. Aku minta maaf sama papa dan mama, aku tidak akan bercerai sampai kapan pun dengan mas Kendrick." jawab Clarissa, tangannya sambil mengelus perutnya dan berdoa dalam hati.
"Oke, kamu jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah keluarga Danata. Anggap saja kami bukan keluargamu. Dan kamu Lous, terserah mau kamu apakan anak itu. Aku sudah tidak peduli lagi." layar laptop langsung berubah, panggilan terputus begitu saja. Artinya Faero sudah memutus panggilan telefon secara sepihak.
Tuan Nevan benar-benar marah dan kecewa. Sementara Clarissa sudah pasrah dengan pilihannya sendiri. Ia hanya bisa berdoa semoga pilihannya tepat. Walau pun dalam hatinya ada rasa bersalah karna sudah mengecewakan banyak orang terutama orang tuanya.
Apalagi tadi terlihat sangat jelas mamanya menangis dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cantika seolah tak mau menatap Clarissa, padahal Clarissa merindukan tatapan tenang dari mamanya.
"Kak!" Chera memeluk Clarissa dengan erat sambil menenangkan saudaranya.
__ADS_1
"Aku gak pa-pa Chera" ucap Clarissa sambil tersenyum, berusaha menguatkan dirinya. Chera tau kalau Clarissa hanya berpura-pura baik, padahal dia sudah mendengar semuanya tadi. Tapi Clarissa masih bisa menunjukkan ekspresi baik-baik saja.
"Rissa kamu tinggal saja disini, anggap kami orang tuamu. Nanti biar kami bicara lagi dengan kedua orang tuamu ya" Lucy memegang pundak Clarissa, memberi semangat untuk ponakannya.
"Makasih bi. Kalian tidak perlu repot-repot untuk berbicara dengan papa dan mama. Mereka tidak akan mau mendengarnya. Biarkan semua ini berjalan sesuai semestinya. Aku percaya Tuhan sudah merencanakan yang terbaik" kata Clarissa dengan lembut dan mengukir senyum dibibirnya.
"Kamu memang hebat dan tangguh. Sikapmu tidak pernah berubah Rissa. Semoga Allah selalu memberi jalan dan menguatkan hatimu." sahut Lucy lalu memeluk Clarissa sambil menangis. Air mata yang ditahannya dari tadi tumpah juga dipundak Clarissa. Memang status Lucy hanya seorang bibi, tapi hatinya begitu tulus menyayangi Clarissa seperti menyayangi Chera.
...────ೋღ💠ღೋ────...
Esok hari di rumah Michael. Lavina sudah bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan susah payah. Semalam Michael menggempurnya, sehingga membuat Lavina merasakan perih dibagian intim. Lavina segera mengambil pakaian yang berserakam tak tentu arah lalu mengumpulkan menjadi satu dan dimasukkan ke keranjang kotor.
Lalu dia berjalan ke kamar mandi dengan sudah payah. Sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Michael sebenarnya sudah bangun dari tadi, hanya saja dia berpura-pura tidur. Ia merasa lucu melihat istrinya terlihat kesusahan karna ulahnya.
"Auww, issh.......hadeh!" ringis Lavina merasa kesal karna bagian bawah terasa sakit saat digerakkan.
"Aarrhh!!" Lavina teriak karna terkejut, tiba-tiba saja Michael menarik dari belakang dan otomatis Lavina reflek jatuh ke pelukan Michael.
Michael memeluknya dengan erat tanpa mau melepaskan Lavina. "Mas, lepaskan aku dong. Aku mau mandi" kata Lavina sambil melepaskan tangan Michael yang melingkar diperutnya.
"Kenapa buru-buru mandi sih, ini kan hari weekend temani saja aku disini." ucap Michael tanpa membuka matanya.
"Kita selesaikan yang semalam" bisik Michael didekat telinga Lavina. Membuat bulu halus Lavina merangsang ucapan Michael yang terdengar berat seperti ingin menerkamnya lagi.
"Nanti lah, tubuhku masih terasa remuk gara-gara kamu semalam menggempurku." ketus Lavina, entah berapa ronde semalam Michael melakukannya sampai Lavina lelah dan badannya terasa remuk. Michael hanya tertawa mendengar keluhan Lavina.
Michael bangkit dari tidurnya dan langsung menggendong Lavina menuju kamar mandi. Lavina terkejut dan reflek meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia masih sangat malu kalau memikirkan kejadian semalam.
🥀
🥀
🥀
Dalam kamar dengan hawa dingin yang menerpa. Tak ada kehangatan sedikit pun. Eveline sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia merasa sedih melihat suaminya tidak ada disampingnya. Jelas Faero masih marah sampai dia harus berpisah kamar dengam Eveline. Rasa kecewanya pada Eveline masih ada. Entah Eveline berpikir suaminya tidur dikamar lain.
Eveline berjalan ke ruang kerja Faero untuk mengecek apakah suaminya ada disana. Namun Eveline tidak menemukan suaminya disana. Akhirnya ditutup lagi pintu tersebut dan Eveline kembali mencari Faero diruang lain. Sampai dibawah pun Eveline tak menemukan Faero.
__ADS_1
Ia beralih ke dapur, kebetulan disana ada bi Heti yang sedang menyusun makanan untuk dibawa ke meja makan. Eveline pun bertanya pada bi Heti tentang keberadaan suaminya.
"Bibi tau gak mas Faero kemana?" tanya Eveline.
"Bibi gak tau non, dari pagi saya tidak melihat tuan" jawab bi Heti.
"Ya sudah bi, hmm kalau papa sama mama kemana bi?" tanya Eveline lagi.
"Sepertinya masih diatas belum keluar dari tadi"
"Pasti semuanya kecewa sama aku, sampai semua orang mengjilang gini. Biasanya kalau pagi sudah siap dimeja makan" batin Eveline.
"Non....Non gak pa-pa" bi Heti sedikit memegang pundak Eveline yang sedang melamun.
"Eh iya bi, gak pa-pa. Saya tinggal dulu ya bi" balas Eveline gelagapan dan langsung berjalan meninggalkan dapur.
Saat Eveline hendak memasuki lift, ternyata pintu lift terbuka dan terlihat Faero baru saja turun dari atas dengan pakaian formalnya. Padahal ini weekend harusnya Faero libur kerja. Pikir Eveline.
"Mas kamu dari mana aku cari-cari kamu" ucap Eveline, namun Faero terlihat cuem dan diam saja tidak seperti biasanya. Eveline tau pasti suaminya masih marah dengan dia. Sampai ucapannya saja tidak direpon.
Faero melenggang melewati Eveline menuju meja makan. Ia bahkan tidak mengucapkan 'good morning' atau 'selamat pagi' biasanya kata-kata itu selalu diucapkan Faero kalau bangun tidur. Tapi boro-boro diucapin begitu, bangun saja sudah tidak ada suaminya disamping.
"Mas kamu masih marah ya sama aku" ucap Eveline saat sudah sampai dimeja makan. Faero hanya diam saja dan terus menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.
Tak berselang lama datang lah tuan Nevan dan Cantika. Mereka juga ikut sarapan bersama, tapi suasana saat itu berasa canggung. Melihat raut wajah satu-persatu dari mereka hanya diam saja dan terasa amat sangat dingin. Eveline jadi merasa bersalah sekali. Nafsu makannya berasa menghilang seketika.
Selesai sarapan Faero pergi keluar tanpa menyapa Eveline sama sekali. Sama halnya dengan ayah dan mama mertuanya yang langsung pergi begitu saja. Eveline mengikuti Faero dari belakang sampai tiba diambang pintu utama. Eveline meraih tangan Faero agar suaminya berhenti.
"Mas, jangan diemin aku begini. Aku minta maaf, aku memang salah." Eveline terus menahan air matanya yang ingin keluar. Dia merasa sakit juga di cuekin apalagi tidak digubris ucapannya sama Faero.
"Aku mau pergi" jawab Faero dengan nada datar tanpa berekspresi.
"Kemana? Ini kan weekend harusnya kamu liburkan"
"Terserah aku mau pergi kemana" jawab Faero tanpa membentak dan masih dengan nada datar. Dari suaranya sudah terdengar tak bersahabat.
"Aku mau pulang ke rumah papa dan mama. Biarkan aku tenang disana dan kamu menangkan diri disini. Aku mengerti dengan perasaanmu. Biarkan aku tenang, aku gak bisa kamu cuekin begini mas." ucap Eveline yang sebenarnya tidak disukai oleh Faero. Tapi lagi-lagi Faero hanya diam dan mengatakan terserah.
__ADS_1
Akhirnya Eveline diantar oleh Faero pulang ke rumah orang tuanya. Bahkan terlihat Faero tidak mencegah Eveline sama sekali untuk pulang. Sudah jelas nanti dia akan ditanya oleh kedua mertuanya. Kenapa Eveline diantar pulang dan dia sendiri tidak ikut menginap disana.