
"Semua sudah kami lakukan, sampai dokter luar negeri pun datang kemari untuk melihat keadaan tuan Kendrick. Dan dokter luar negeri pun tak bida berkata apa-apa. Hanya keajaiban Tuhan yang sekatanh kita butuhkan, namun tubuhnya tak mau bersemangat untuk hidup kembali" terang dokter Ridwan menyahuti, memang beberapa bulan lalu Farghan meminta rekan kerjanya diluar negeri yang memang seorang dokter profesional juga, untuk datang ke Indonesia mengecek keadaan Kendrick.
"Ta-tapi aku yakin kakakku akan sehat kembali dok, kami yakin itu. Tolong jangan menyerah dulu, pasti ada jalannya nanti" melihat keyakinan dalam diri Lavina, Farghan juga meyakini bahwa Kendrick akan sehat kembali. Ia pun mengiyakan ucapan Lavina.
Farghan memberi isyarat kepada dokter Ridwan. Lalu mereka bersamaan mengangguk, hati Lavina sedikit lega. Lavina pun menggiring tubuh lemah mamanya keluar dan mendudukkannya di kursi depan ruang ICU. Mereka sama-sama menangis disana menumpahkan rasa sedih. Sudah berbagai pengobatan dilakukan tapi memang semua dari diri Kendrick yang harus bersemangat untuk kembali.
"Lavi bagaimana ini, mama gak mau kehilangan kakakmu. Mama belum siap nak....hiks.....hiks.....Mama masih ingin melihatnya bahagia. Kenapa dia gak bangun-bangun Lavi. Apa Ken sudah gak sayang sama kita" tangis nyonya Mesya pecah dipelukan Lavina. Ia belum ikhlas kalau harus kehilangan Kendrick. Dielus punggung Mesya oleh Lavina untuk memberi ketenangan dan semangat.
"Kak Kendrick tidak akan kemana-mana ma, dia akan sembuh. Percayalah dia akan sembuh.......Berpikirlah positif ma, jangan memikirkan yang lain. Kak Ken akan kembali untuk kita semua. Aku percaya itu, mama yang sabar jangan banyak pikiran. Aku gak mau mama ikut sakit juga" ucap Lavina memeluk ibunya sembari menahan tangis agar tidak terlihat oleh nyonya Mesya. Sekuat tenaga Lavina berusaha tegas dihadapan orang tuanya. Padahal dilubuk hatinya, ia juga rapuh dan ingin menangis.
Disela-sela rasa sedih yang belum kunjung mereda. Tiba-tiba Farghan masuk ke ruang ICU dengan tergesa-gesa dan menampakkan wajah yang serius.
"Kak Farghan tunggu......Ada apa sampai kamu buru-buru begini?" tanya Lavina mencegah pergerakan Farghan sebelum sampai masuk ke dalam.
"Ken....Kendrick, Lavi.....Jantungnya berhenti berdetak. Aku harus masuk dulu" jawab Farghan dengan wajah pias dan cemas, ia langsung masuk tanpa mendengar perkataan Lavina lagi.
Sontak Lavina dan nyonya Mesya langsung mengalihkan pandangan ke arah kaca. Disana betul-betul terlihat Kendrick sedang ditangani oleh Farghan dan dokter Ridwan. Sampai pandangan itu tak terlihat lagi saat suster menutup gorden dari dalam.
Nyonya Mesya semakin menangis dipelukan Lavina. Begitu pun dengan Lavina yanh sudah tak bisa menahan rasa sedihnya. Akhirnya disitu mereka menumpahkan kesedihan bersama. Lavina mengambil ponsel ditas dan segera menghubungi Michael untuk datang. Sebelumnya juga dia sudah menelfon untuk menjemput, tapi belum datang juga.
"Bagaimana ini Lavi, mama gak mau kehilangan kakakmu.....hiks......hiks!" Lavina hanya bergeming tak bisa berucap apapun. Perasaannya juga gak bisa berbohong, kalau dia sendiri pun tak mau juga kehilangan Kendrick. Ia hanya bisa memeluk Mesya sambil hatinya berdoa.
Didalam Farghan berusaha untuk mengembalikan detak jantung Kendrick. Sampai tiga dilakukan tapi hasilnya nihil. Disitu Farghan langsung lemas sejadi-jadinya. Ia sudah gagal untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya. Dikembalikan lah alat tersebut ketempatnya. Lalu ia menatap wajah Kendrick lekat-lekat.
Farghan gak akan menyangka bahwa Kendrick benar-benar meninggalkannya dan yang lain. "Kendrick sudah pergi dok, dia benar-benar pergi. Saya gagak dok, gagal untuk menyelamatkannya." ucap Farghan kepada dokter Ridwan yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Dokter gak gagal, kita sudah berusaha semampunya. Hanya saja Tuhan lebih sayang sama sahabat dia. Kita harus ikhlas, sahabat anda sudah tenang sekarang." balas dokter Ridwan dengan memegang bahu Farghan untuk menguatkannya.
Dengan langkah lemas Farghan keluar, mulutnya kaku untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada nyonya Mesya dan Lavina. Wajahnya pucat pasih, air mata yang tadi sempat menetea sudah dihapusnya. Ia menguatkan hati agar tabah dan ikhlas.
Ceklek.
"Bagaimana keadaan Kendrick, Farghan? Dia baik-baik saja kan?" tanya nyonya Mesya sembari terus dipegangi oleh Lavina.
Farghan hanya diam ditempat tanpa bersuara. Ia gak sanggup untuk berkata jujur. Sudah pasti orang didepannya akan syok dan menjerit untuk menangis. Farghan hanya bisa menunduk lemas. Lavina yang geram karna Farghan tak kunjung menjawab akhirnya ikut mempertanyakan kembali.
"Kak jangan diam saja dong, kak Kendrick gak pa-pa kan?" tanya Lavina sedikit meninggikan nada bicaranya.
Farghan mengangkat wajahnya. "Maaf kan aku...." Farghan hanya bisa berkata maaf saja. Melihat kedua wanita didepannya yang sudah menangis sembari berpelukan rasanya tidak tega.
"Allah lebih sayang sama Kendrick, kami disini dokter yang hanya bisa menolong semampu kami. Dan semuanya ada ditangan Allah, maaf tante....Lavina.....Allah berkata lain, Kendrick sudah tiada" akhirnya Farghan bersuara yang membuat nyonya Mesya langsung terduduk lemas sembari terus dipegangi oleh Lavina. Mereka menangis tersedu-sedu sampai nyonya Mesya memukul pinggiran kursi sebab tak terima.
Lavina ikut menangis sambil menenangkan mamanya. Dan tak lama datang Michael yang sudah mendengar semuanya. Michael langsung memeluk istri dan mertuanya. Ia juga ikut sedih dan tak bisa berbuat apapun lagi. Karna semuanya sudah diatur oleh Allah. Sementara mereka gak punya hak atas kematian seseorang. Ini semua sudah takdir yang memang digariskan oleh Allah.
"Enggak Lavina, Kendrick gak mungkin ninggalin mama. Dia hanya tidur sebentar, dia pasti akan bangun.....hiks.....hiks.......Kendrick akan bangun, dia hanya tidur" melihat mamanya yang terus berucap seperti itu membuat hati Lavina semakin sakit dan terpukul.
"Ikhlas ma, ikhlas lah. Jangan seperti ini, Lavina juga terpukul. Mama jangan nangis begini, Lavina akan semakin sedih kalau mama begini." Lavina terus memeluk nyonya Mesya yamg tubuhnya sudah lemas seolah tak punya tenaga untuk bangkit.
Michael juga mencoba untuk kuat dan menenangkan mama mertuanya yang terus meronta sambil menangis. Dengan hanya melihat saja Michael sudah bisa merasakan bagaimana terpukulnya nyonya Mesya mendengar kabar duka yang seharusnya tidak ingin mereka dengar.
"Enggak mama harus buktikan sendiri kalau putraku belum meninggal. Dia hanya tidur, Kendrick gak mungkin ninggalin mama. Kau hanya salah memeriksa saja Farghan. Kendrick masih ada bersama kita, tadi mama sendiri yang melihatnya didalam." begitu terpukul dan tak ikhlasnya nyonya Mesya sampai mengatakan dengan lantang bahwa Kendrick masih hidup.
__ADS_1
Tubuh yang lemas itu langsung bangkit dan ingin masuk ke dalam untuk memastikan langsung. Ia tak mau percaya dengan mudah dengan ucapan Farghan. Tangan Lavina yang tadinya memegangi bahu Mesya langsung terlepas. Lavina tak bisa mencegah mamanua untuk masuk ke dalam. Kini pelukam Lavina berpindah kepada Michael. Disaat nyonya Mesya hendak memasuki ruang ICU, suara wanita yang begitu familiar terdengar ditelinga mereka semua. Memanggil nyonya Mesya dengan sebutan mama.
"Mama....!!"
sontak mereka semua langsung menoleh ke sumber suara, begitu pun dengan nyonya Mesya. Betapa terkejutnya mereka semua saat melihat siapa yamg datang. Wanita itu mendekat dengan derai air mata yang sudah banjir dipipinya.
"Clarissa!?" ucap Mesya terkejut tiba-tiba dihadapannya sudah ada Clarissa bersama perempuan dan masing-masing ditangan mereka sedang menggendong bayi.
Langkah Clarissa langsung mendekati nyonya Mesya dengan perlahan. Tepat dihadapan Mesya sendiri, barulah dia sadar bahwa memang yang ada dihadapannya sekarang adalah Clarissa.
Tanpa ba bi bu, nyonya Mesya langsung memeluk Clarissa dengan erat. Disitu tumpahlah air mata nyonya Mesya semakin deras. Lavina masih mematung ditempat melihat kedatangan kakak iparnya secara tiba-tiba. Apalagi digendongannya ada bayi. Lavina berpikir bahwa itu adalah anak dari wanita yang sedang bersama Clarissa.
"Aku akan menemuinya ma, maafkan aku baru bisa datang kesini, pulang untuk menemui kalian. Aku benar-benar minta maaf ma. Aku minta maaf" Clarissa begitu menyesal, saat dia datang suaminya malah sudah pergi meninggalkannya dan kedua putranya. Dalam hati Clarissa, dia begitu yakin kalau suaminya belum pergi jauh.
"Mama kangen nak, suamimu......hiks......hiks.......Dia sudah....." perkataan Mesya langsug dipotong oleh Clarissa.
"Mas Kendrick tidak akan kemana-mana ma, aku yakin dia akan kembali untuk kami." sambil matanya melirik ke arah Khalvan yang ada digendongannya. Sontak mata nyonya Mesya juga mengikuti arah penglihatan Clarissa yang sudah pasti mengarah ke bayi yang sedang digendongnya.
"Lavina aku titipkan Khalvan dulu padamu. Aku ingin masuk ke dalam, Farghan tolong antarkan aku masuk" Clarissa langsung mengalihkan Khalvan ke gendongan Lavina. Dengan hati yang masih bingung Lavina tetap menggendong bayi yang belum dikenalnya. Sementara Clarissa langsung diantarkan Farghan masuk ke dalam menemui Kendrick yang sudah terbaring tak berdaya.
'Jadi nama bayi ini Khalvan, tapi dia anak siapa? Kenapa digendong kak Clarissa. Bayi ini tampan sekali'. batin Lavina melihat ke arah Khalvan yang sedanh digendongnya.
Mereka semua duduk menunggu diluar ruang ICU, begitu pun dengan nyonya Mesya yang sama deklai belum menemui Kendrick. Sementata Chera yang sedang menggendong Kheisen juga ikut duduk disamping Lavina. Chera akhirnya tau keluarga dari suami Clarissa.
Lavina terus melirik ke arah Chera yang berada disampingnya. Ia masih asing dengan wanita yang sekarang ada disampingnya. Bahkan bertemu pun tidak pernah sama sekali. Michael pun juga bertanya-tanya dalam hati, siapa kedua bayi tersebut dan wanita yang sekarang ada disamping istrinya.
__ADS_1