
Setelah jet pribadi yang dinaiki Clarissa mendarat. Clarissa dan Chera bergegas untuk keluar. Very sudah menunggu mereka dan saat bertemu Very juga membawakan semua koper Clarissa yang terdapat dua koper besar dan satu koper sedang. Very membawa mobil keluarga Raymond untuk menjemput Clarissa. Tadi seharusnya dia mengantarkan nyonya Mesya ke rumah sakit, namun sudah dijemput duluan oleh Lavina.
Entah lah Clarissa merasakan ada firasat yang tidak enak dihatinya. Ia terus memikirkan suaminya sejak dalam perjalanan tadi. Sehingga ia meminta Very untuk mengantarkan mereka langsung ke rumah sakit. Seolah Very juga mengerti apa yang dikhawatitkan Clarissa. Ia bergegas tancap gas menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Very juga harus memikirkan dua si kembar agar tidurnya tidak terganggu.
Chera pun bingung dengan sikap Clarissa yang terlihat cemas dan mengkhawatirkan seseorang. Beruntung si kembar tidak rewel dari tadi, jadi mereka bisa tenang. Malahan sekarang Khalvan dan Kheisen sedang tidur. Pandangan Clarissa terus ke arah luar jendela, seperti ingin buru-buru sampaui dan tatapannya tidak bisa ditebak oleh Chera.
"Kenapa sih kak kok diem mulu, apa kak Clari sakit?" tanya Chera memegang pundak Clarissa. Otomatif Clarissa langsung menoleh ke arah Chera sambil tersenyum.
"Enggak kok, aku cuma kepikiran mas Ken saja. Firasatku dari tadi perjalana sudah gak enak. Semoga saja ini bukan hal buruk." jawab Clarissa apa adanya, memang itu yang sedang dia pikirkan dan khawatirkan.
"Berdoa lah kak semoga suami kakak gak pa-pa" Chera pun memeluk Clarissa dengan menyandarkan kepalanya dibahh Clarissa.
Very yang sedang menyetir hanya bisa melirik dari kaca spion depan dan mendengarkan semua percakapan mereka. Very jadi ikut cemas dan gelisa, takut yang difirasatkan Clarissa adalah hal buruk.
Sampai beberapa menit, akhirnya mereka tiba didepan rumah sakit. Clarissa langsung keluar, diikuti Chera dari belakang. Hatinya semakin bergemuruh dan jantungnya berdetak lebih cepat. Seolah memang sudah ada isyarat yang mengantarkan dia ke rumah sakit. Clarissa sendiri pun tak tau kenapa dirinya jadi seperti itu. Padahal Lavina pun tak memberi kabar apa-apa.
Chera menitipkan koper mereka didalam mobil. Very pun mengangguk saja, mana bisa mereka membawa koper sebesar itu ke dalam. Nanti malah dikirain pindahan ke rumha sakit. Dan Very pun menunggu mereka didalam mobil sebentar lalu keluar untuk mencari minum.
Di dalam Clarissa dengan langkah tergopoh-gopoh langsung pergi ke ruang ICU. Chera hanya bisa mengekor sembari menggendong Kheisen dan Clarissa menggendong Khalvan. Belum sampai didepan ruang ICU, hati Clarissa sudah dibuat sakit saat melihat mama mertuanya menangis sambil memeluk Lavina. Jarak Clarissa tidak begitu jauh, hanua saja mereka yang ada didepan ruang ICU tidak melihat keberadaan Clarissa. Karena ada dinding penghalang yang membatasi, dinding itu hanya setengah saja. Posisinya ada didepan ruang ICU, Clarissa masih bisa mendengar tangisan nyonya Mesya yang membuat hatinya sakit.
"Enggak Lavina, Kendrick gak mungkin ninggalin mama. Dia hanya tidur sebentar, dia pasti akan bangun.....hiks.....hiks.......Kendrick akan bangun, dia hanya tidur" melihat mamanya yang terus berucap seperti itu membuat hati Lavina semakin sakit dan terpukul.
__ADS_1
"Ikhlas ma, ikhlas lah. Jangan seperti ini, Lavina juga terpukul. Mama jangan nangis begini, Lavina akan semakin sedih kalau mama begini."
Dalam hati Clarissa sudah bisa menebak apa yang terjadi. Detik itu juga Clarrissa merasakan kakinya lemas. Ia hampir oleng tapi berhasil dipegang sama Chera yang masih setia dibelakangnya. Sontak Clarissa sadar dan berusaha menguatkan dirinya agar mampu untuk berjalan. Dalam hati kecilnya dia begitu percaya kalau suaminya pasti akan kembali untuk anak-anaknya.
"Enggak mama harus buktikan sendiri kalau putraku belum meninggal. Dia hanya tidur, Kendrick gak mungkin ninggalin mama. Kau hanya salah memeriksa saja Farghan. Kendrick masih ada bersama kita, tadi mama sendiri yang melihatnya didalam."
Mendengar perkataan sang mama mertua, Clarissa seperti sudah tidak tahan lagi untuk memeluk dan memberi penopang bagi wanita paru baya yang sedang menangis. Sekuat mungkin Clarissa berusaha sabar dan meyakinkan hatinya bahwa suaminya akan baik-baik saja.
"Kuat lah kak agar mereka juga bisa kuat sama seperti kakak" ucap Chera secara tiba-tiba, Clarissa pun menoleh ke arah Chera sebentar dan mengangguk.
Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang ICU yang tinggal beberapa langkah saja. Mungkin karna suasana yang sedih dan perasaan yang sakit, sehingga mereka semua tidak menyadari kehadiran Clarissa disana. Sampai tatapan mereka tertuju ke Clarissa saat Clarissa memanggil nyonya Mesya.
Semua langsung menoleh ke arah Clarissa. Dari tatapan mereka, Clarissa sudah bisa menebak kalau mereka semua terkejut dengan kehadirannya secara tiba-tiba.
...🌲🥀🌲🥀🌲🥀...
Di dalam ruang ruang ICU Clarissa menatap tubuh suaminya yang pucat. Alat-alat medis sudah terlepas dari tubuhnya. Tinggal selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher. Clarissa berusaha untuk kuat dan mendekati jasad suaminya dengan lemah. Tak ada Clarissa yang kuat seperti sebelumnya. Farghan yang tidak tahan melihat sahabatnya, langsung meninggalkan Clarissa berdua dengan tubuh Kendrick yang sudah terbujur kaku.
Clarissa langsung terduduk dengan tangis yang sudah tak bisa dia bendung lagi. Tangannya bisa merasakan dinginnya tubuh Kendrick. Sudah tak ada kehangatan lagi. Semua seolah sirna, Clarissa menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karna terlambat datang.
"Maafkan aku mas, aku gak bisa memenuhi janjiku untuk datang kesini lebih cepat. Aku kira kamu akan sadar kembali, tapi ternyata kamu malah meninggalkanku dan anak. Kau tau mas aku disana berjuang sendiri, mengandung sampai melahirkan. Kenaoa kamu gak mau berjuang juga untukku. Hiks...hiks....Kamu gak mau melihat putra kita. Dia tamoan sepertimu. Hiks......hiks....." Clarissa memeluk tubuh kaku Kendrick sembari terus menangis. Ia juga memperlihatkan foto Khalvan dan Kheisen. Berharap ada keajaiban yang tak terduga dari Allah.
__ADS_1
Clarissa masih ingin merancang keluarga kecilnya dari nol. Tanpa harus memikorkan masa lalu lagi. "Aku mau kita kembali bersama seperti dulu bersama Khalvan dan Kheisen. Ayolah mas bangun, aku yakin kamu masih ada disini. Kamu hanya ingin menungguku pulang kan? Sekarang aku sudah pulang, tapi kenapa kamu malah pergi selamanya. Aku mau melihat senyummu, hiks....setidaknya lihatlah putramu. Kamu sama sekali belum melihatnya. Hiks......bahkan aku yang harus berjuang sendiri melahirkan mereka. Tapi kamu malah pergi" Clarissa hanya bisa berceloteh menumpahkan semua perasaan yang selama ini dia tahan. Dan kini ia tumpahkan semuanya didepan tubuh Kendrick yang pucat dan kaku.
"Aku ingin kamu kembali mas, aku hanya ingin kamu. Aku gak mau merawat mereka sendirian. Aku butuh kamu, aku ingin merawat mereka bersama-sama denganmu. Ayo sayang bangunlah, hiks.....hiks......Bukankah ini yang kamu mau hidup bahagia denganku. Tapi.....tapi kenapa kamu malah pergi. Hiks......" Clarissa merasakan ada yang mengelus pundaknya. Saat wajahnya menoleh ternyata itu adalah nyonya Mesya. Ia masuk untuk melihat anaknya.
Clarissa seolah sudah tidak memperdulikan siapapun yang ada didekatnya. Yang dia mau hanya suaminya kembali. Clarissa terus memeluk tubuh Kendrick sembari menangis. Melihat semua itu nyonya Mesya juga gak bisa menahan tangis. Ia juga begitu sedih dan terpukul. Tapi tubuhnya dipaksa untuk kuat agar tidak tumbang.
"Sudah lah nak, mama yakin suamimu sudah tenang disana. Mama pun mencoba untuk ikhlas walaupun berat. Hati mama juga sakit, kehilangan anak yang mama sayangi" ucap nyonya Mesya sembari terus mengelus pundak Clarissa.
"Enggak ma, mas Kendrick pasti akan kembali. Dia gak mungkin ninggalin aku. Mas bangunlah hiks.....hiks...." Clarissa benar-benar tak ingin pergi jauh dari Kendrick. Lelaki itu sudah mengisi seluruh hatinya. Terlepas dari dari masa lalu Kendrick, Clarissa sudah tak memperdulikannya. Bagi dia sekarang adalah hidup bahagia bersama anak dan suaminya.
"Kendrick, mama ada disini selalu untukmu. Ada istrimu juga, bukankah kamu merindukan dia. Lihat dia datang, apa kamu gak kasihan melihatnya menangis seperti ini" nyonya Mesya juga berharap Kendrick bisa kembali walau semua itu mustahil.
Sepertinya memang sudah tak ada harapan lagi. Sehingga nyonya Mesya menggiring Clarissa untuk keluar. Sebelum Clarissa pergi keluar, dia sempat mencium kening Kendrick cukup lama dan mengecup punggung tangannya juga.
'Aku yakin kamu gak akan ninggalin kami, peganglah tanganku mas. Aku ingin kamu memegangnya dan tunjukkan bahwa kamu masih mau berjuang bersama kami. Aku, Khalvan, dan Kheisen.' batin Clarissa sembari mengecup punggung tangan Kendrick.
"Sudah ayo nak kita keluar, suamimu sudah tenang." ucap nyonya Mesya memegangi bahu Clarissa dengan kedua tangannya.
"Aku masih mau disini ma. Mama keluar duluan saja nanti aku menyusul. Aku gak akan lama kok" balas Clarissa tanpa menoleh ke arah mertuanya dan memilih meletakkan kepalanya disamping Kendrick.
Nyonya Mesya hanya bisa mengheka nafas dan meninggalkan Clarissa sendiri diruangan tersebut. Ia tau bahwa sekarang Clarissa masih butuh waktu untuj meluaokan segala apapun yang ada dalam hatinya. Dia sendiri sebagai ibu juga gak bisa menerima kepergian sang anak. Apalagi istrinya yang sudah lama tak pernah hadir di sisi suaminya. Dan saat datang malah disambut dengan kepergian sang suami selamanya.
__ADS_1