
Michael langsung mengangguk dan menyuruh art untuk pergi saja dari dapur. Agar dia bisa leluasa bersama istrinya. Tanpa membantah dua art yang ada didapur langsung pergi entah kemana. Tinggal Michael dan Lavina saja. Michael jago kalau memasak, sampai Lavina menyukai masakan suaminya. Sampai ngidam pun Lavina masih mau Michael yang memasak untuknya.
Lavina memastikan kalau Michael benar-benar memasukkan lima belas cabai tidak kurang sama sekali. Michael sampai mendengus kesal, pasalnya tadi dia berniat mengurangi cabai tersebut. Eh malah Lavina malah menghitung semua cabai sampai berjumlah lima belas. Michael langsunh meracik bumbu-bumbu untuk membuat masi gorenh. Ia lebih suka memakai bahan alami langsung dari pada pakai bumbu jadi.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nasi goreng pedas pun jadi. Air liur sudah mau menetes disudut bibir Lavina. Ia sudah gak sabar ingin memakannya. Dari tadi dia sudah menahan lapar agar Michael mau menuruti keinginannya. Dan semua itu akhirnya tidak sia-sia.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Lavina. Michael sampai menelan saliva nya susah payah melihat istrinya dengan lahap memakan nasi goreng buatannya. Padahal dia gak ikut makan tapi lidahnya terasa panas melihat Istrinya benar-brnar memakan itu.
Benar memang kata mama, wanita hamil gak bisa ditebak. Padahal dia gak suka pedas bahkan makan tujuh cabai saja sudah kepedesan lah ini sampai lima belas biasa saja. Batin Michael.
"Gak pedas sayang?" tanya Michael.
"Gak mas enak kok, makasih ya. Kamu mau coba?" jawab Lavina sembari menawarkan satu suap ke arah Michael.
"Gak usah kamu makan saja. Aku sudah kenyang tadi habis makan." balas Michael enggan untuk mencoba. Membayangkannya saja sudah merasa panas apalagi memakannya bisa-bisa terbakar mulutnya.
Sampai makanan itu habis Michael masih setia menunggu Lavina. Benar-benar Michael sampai gak nyangka kalau yang ada di depannya adalah Lavina istrinya. Selesai makan Lavina diajak Michael untuk ke ruang keluarga bergabung dengan Rita dan ada Dheri disana yang baru pulang dari luar kota kemarin.
"Bagaimana sudah puas ngidamnya? Memang suamimu gak bisa peka, istri hamil sedang ngidam malah dilarang. Kalau sampai cucuku ileran, heh dia orang pertama yang mendapat amukan dari mama" sahut Rita sekaligus menunjuk ke arah Michael.
Lavina hanya tertawa kecil menanggapi omelan mama mertuanya. Begitu pun dengan Dheru yang juga ikut menertawakan Michael.
"Hahahah, dasar" tawa Dheri melihat Rita memarahi Michael.
"Ck, mama memang menyebalkan." Michael berdecak kesal melihat Dheri dan Lavina yang malah tertawa nyaring melihat dirinya dapat omelan dari sang mama.
"Lah kau aneh, istri ngidam malah dilarang. Bukannya diturutin" sahut Dheri tanpa menatap ke arah Michael, malah tatapannya tertuju pada layar televisi.
"Kalau ngidamnya yang wajar pasti gue turutin. Lah ngidam kok malah minta dua puluh cabai dalam satu piring. Bisa-bisa anakku lahir dengan badan gempol" gerutu Michael kesal, tak ada seorang pun yang membelanya. Malah sang istri terlihat asyik duduk disamping Rita dengan tangan yang memegang setoples camilan padahal baru saja selesai makan.
Aiih dia malah asyik makan cemilan. Baru juga selesai makan. Berapa kilo nanti berat anakku kalau dikasih makan terus, bisa gembul dong. Batin Michael.
Satu pukulan melayang dibahu Michael membuat ia mengadu kesakitan.
Plak.
__ADS_1
"Auwwh!!?" ringis Michael sambil mengusap-usap bahunya.
Michael melihat wajah mamanya yang tak terima. Mengadulah Michael kepada Lavina. Wajahnya diselipkan ke punggung belakang istrinya.
"Kalau mama denger kamu mengatakan seperti tadi. Bukan pukulan lagi, sekalian mama kentongin itu kepala sama panci dapur." ketus Rita mendengus kesal tak terima. Memang Michael main asal ceplos saja, sudah tau mamanya sensian. Eh malah digodain seperti itu.
"Wajar lah mama marah, aku juga gak suka kamu bilang kayak gitu. Beruntung sudah diadili sama mama. Kalau belum siap-siap tidur diluar sana" sahut Lavina menyingkirkan wajah Michael dari belakang punggungnya.
"Waduh siap-siap gak dapat kiss malam tuh. Hahah" sahut Dheri sambil tertawa mengejek, sontak satu bantal sofa melayang ke arah wajahnya. Beruntung tangannya sigap untuk menangkap.
"Yeh gak kenak, kurang ahli kau. Lain kali tepat sasaran dong" Dheri semakin megejek Michael membuat si empunya semakin kesal dan marah. Dengan perasaan kesal Michael mengejar Dheri yang berlari kesana-kemari menghindari kejarannya.
"Haduh, sudah mau jadi ayah malah sikapnya seperti bocah. Lihat sayang suamimu itu kelakuannya sama saja." dengus Rita yang lebih memilih menonton televisi bersama Lavina.
Wajar lah babang Michael wanita hamil makan terus. Istrimu makan bukan untuk dia sendiri tapi juga anakmu 😆.
...🌲🥀🌲🥀🌲🥀🌲...
London.
Di dalam ruang bersalin dua dokter sudah masuk dan empat suster yang bertugas. Terbaring Clarissa merinti kesakitan merasakan seluruh tubuh terasa remuk dan tulang-tulang yang patah. Tangannya hanya mempu menggenggam Lucy yang menemani. Keringat sudah bercucuran diseluruh tubuh dan wajahnya. Hanya kalimat doa yang terua diucapkan dalam hati. Bayangan suaminya saat ditabrak tiba-tiba muncul di pikiran Clarissa.
Hingga tarikan nafas terakhir Clarissa berhasil mengeluarkan anaknya. Tapi ia masih merasakan sakit diperutnya sama persis seperti yang pertama.
"Dok, perutku masih sakit." ringis Clarissa.
"Baiklah bu, seperti yang saya katakan tadi. Tarik nafas dahulu." perintah salah satu dokter tersebut.
Sesuai yang diperintahka Clarissa mulai menarik nafas dan mulai kembali berjuang kembali melahirkan anak keduanya. Disaat tarikan yang kedua barulah suara tangis nyaring ditelinga Clarissa. Disitu dia lega dan banyak bersyukur dalam hati. Lucy yang berada disamping Clarissa juga mengucap syukur. Tangannya kanannya ia gunakan untuk mengusap peluh dikening Clarissa.
"Selamat sayang kamu sudah menjadi ibu. Lihat kedua putramu sangat tampan" ucap Lucy dengan hati bahagia.
Clarissa yang kelelahan hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia masih mengatur nafasnya pelan-pelan agar kembali normal. Clarissa melahirkan bayi kembar laki-laki yang sangat tampan persis seperti ayahnya. Perpaduan antara Clarissa dan Kendrick. Lucy sampai takjub melihat cucunya yang begitu tampan.
Aku sudah berjuang disini, tolong berjuanglah disana. Kami menunggumu mas, kami butuh kamu. Batin Clarissa dalam hati.
__ADS_1
Selesai dibersihkan bayi mungil itu diletakkan dalam bok bayi. Clarissa sudah kembalu ke ruang perawatan setelah tadi berjuang nyawa untuk si mungil. Senyumnya kembali mengembang melihat kedua putranya yang menggeliat di dalam bok. Ia. Merasa bersyukur dan hatinya amat bahagia.
"Tampan banget sih, boleh gak aku bawa pulang satu. Kan kak Clari masih ada satu tuh" ujar Chera melihat ponakannya yang tampan. Seketika telinganya dijewer oleh Lucy sampai Chera meringis kesakitan.
"Aduh ma, sakiiit loh. Aku cuma bercanda" jeweran itu lepas saat Chera mengadu kesakitan.
"Siapa yang berjuang, siapa yang ngambil. Kalau mau buat sendiri lah, main ambil saja anak orang." cecar Lucy kesal melihat putrinya yang adal ceplos saja.
"Eh iya nanti kalau sudah ketemu jodoh aku buat sendiri!!" ketus Chera dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah bok bayi.
"Rissa apa asi mu sudah keluar?" tanya Lucy.
"Sudah bi kayaknya. Sini bi biar mereka minum asi." kata Clarissa.
Lucy langsung mengambil salah satu dari mereka. Lalu ia letakkan dengan hati-hati disamping Clarissa. Disana hanya ada Lucy dan Chera, sedangkan Lous masih keluar untuk mengurus pekerjaannya sebentar sebab dadakan.
"Chera kamu keluar dulu gih. Jagain diluar sana takut nanti papamu tiba-tiba masuk. Biar Clarissa bisa memberi asi ke anaknya dulu." Clarissa belum mau mengatakan siapa namanya mereka berdua. Sebab itu masih dirahasiakan olehnya.
"Baiklah" Chera hanya mengangguk patuh dan segera keluar, duduk di depan ruang rawat.
"Kelihatannya asi kau lancar ya" ujar Lucy menggendong salah satu baby Clarissa.
"Iya bi, aku senang sekali mereka bisa mendapat asi dariku." Clarissa mengelus lembut kening putranya. Bulu matanya tebal seperti Clarissa dan wajahnya mirip dengan Kendrick. Membuat Claridsa teringat dengan suaminya.
Selesai menyusui kedua putranya, Clarissa kembali beristirahat dan dua baby tersebut diletakkan kembali ke dalam box bayi.
Kala itu Clarissa merasakan sakit di perutnya saat mengunjungi butik. Padahal dia juga hanya duduk saja melihat para pengunjung. Tapi secata mendadak perutnya terasa sakit tidak seperti biasanya. Akhirnya dia memanggil Chera yang ada di ruangannya sedang mengambil ponsel Clarissa. Mendengar panggilan Clarissa, Chera segera menghampiri dan melihat Clarissa sudah meringis kesakitan.
Ia panik dan meminta karyawan untuk membantunya membawa Clarissa ke dalam mobil. Dengan laju cepat Chera mengendarai mobil tersebut menuju rumah sakit. Sebelum pergi Chera sempat meminta salah satu karyawan untuk menelfon Lucy. Agar dia menyusul ke rumah sakit tujuannya. Wajah Chera ikut panik melihat Clarissa terus meringis. Dalam mobil itu dia terus menenangkan Clarissa dan memintanya sabar.
Hingga sampai dirumah sakit Chera memanggil suster untuk membawakan brankar ke arah mobil. Dengan cepat suster tersebut membaringkan Clarissa diatas brankar dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Sementara Chera masih setia menunggu Clarissa hingga mamanya datang. Ia tak sanggup kalau harus menemani Clarissa sendiri.
Tak lama datang Lucy sendirian. Sementara Lous masih dikantor nanti dia akan menyusul. "Dimana Rissa?" tanya Lucy.
"Tadi dibawa ke ruang bersalin sama dokter. Katanya kak Rissa sudah mau melahirkan" balas Chera dengan wajah panik.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Lucy langsung menuju ruang bersalin dan disana dia menemani Clarissa sampai prosea lahirannya selesai. Dan diluar Chera menunggu bersama ayahnya yang baru saja datang. Cukup lama mereka menunggu sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang pertama dan tak lama mereka mendengar lagi tangisan bayi yang kedua. Chera sudah tau kalau Clarissa mengandung bayi kembar.
Saat USG tiga bulannya Clarissa, Chera ikut dan mendengar langsung ucapan dokter bahwa Clarissa hamil anak kembar. Disitu Chera sangat bahagia apalagi dengan Clarissa.