Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 65 #Restu


__ADS_3

Hari baru dengam cerita yang baru. Jika kemarin penuh ketegangan, kesedihan, rasa sakit. Semoga hari ini tempat kesenangan, kegembiraan, dan senyuman. Begitu pun dengan Lavina yang merasa bimbang akan keputusan nanti. Dirinya dilanda kebingungan, antara ingin menerima dan rasa takutnya. Ia baru saja selesai mengikuti materi dikelas. Langkahnya mengarakan dia ke taman kampus. Duduk lah Lavina disana sendirian, ia teringat janji dengan Eveline siang itu.


Karna masih ada waktu, Lavina sempatkan untuk membaca buku pelajarannya di taman kampus. Lavina masih belum punya teman yang benar-benar dekat dengan dia. Mungkin mereka merasa minder untuk dekat dengan Lavina yang memang dari keluarga terpandang. Padahal dari Lavina sendiri tak pernah membedakan teman atau sahabat dari kasta dan fisiknya. Kalau dia baik maka Lavina juga akan baik padanya. Dan Lavina masih anak baru, jadi belum kenal banyak dengan teman sekampus.


Saat fokusnya asyik membaca buku, tiba-tiba entah arahnya dari mana. Datang lah seorang lelaki tampan berkulit putih bersih, memakai hem warna hitam dan celana jens. Ia membawa tas dipunggungnya yang hanya ditautkan satu di bahu kanan sambil menenteng tas laptop. Lavina heran melihat lelaki di depannya itu. Lantaran Lavina sendiri tak mengenal lelaki tersebut, sesekali ia melihat lelaki itu berlalu-lalang bersama temannya kemarin.


"Boleh aku duduk?" tanya lelaki tersebut.


"Silahkan.." jawab Lavina sambil menggeser duduknya ke arah kanan agar lelaki itu bisa duduk disampingnya. Kembali lah fokus Lavina kepada buku tanpa menghiraukan lelaki di sampingnya.


"Boleh kenalan? Nama kamu siapa?. Namaku Sarhan" Ucap lelaki yang bernama Sarhan tersebut sembari menyodorkan tangannya.


"Lavina!" kata singkat yang diucapkan oleh Lavina tanpa menoleh atau hanya sekedar melirik ke arah Sarhan. Lavina masih tetap fokus membaca buku tanpa membalas uluran tangan Sarhan.


Sarhan pun menarik kembali uluran tangannya. "Apakah kamu suka membaca buku?" tanya Sarhan menatap ke arah Lavina.


"Iya...." setelah menjawab perkataan Sarhan Lavina pun menutup bukunya. Dan menatap Sarhan yang masih ada di sampingnya. "Maaf aku harus pergi, permisi" ucap Lavina lalu berjalan menjauhi Sarhan sampai tubuhnya sudah tak terlihat lagi.


Lavina mengambil mobil diparkiran kampus. Di letakkannya laptop dan tas tepat di sampingnya. Tempat duduk bagian depan. Ia pun mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Eveline. Yang jaraknya bisa ditempuh setengah jam saja. Lavina mengemudikan mobilnya dengan santai, sebelum sampai dia sempat ke toko penjual pia (roti kacang). Lavina membeli tiga box berukuran sedang dengan isi cokelat dan keju.


Lalu ia kembali melanjutkan perjalanan setelah membeli pia tersebut. Sampai tak terasa dia sudah tiba di depan rumah keluarga Danata. Dua kali Lavina membunyikan klakson mobil sampai si satpam yang berjaga membukakan gerbang.


"Terima kasih pak, kak Eveline nya ada di dalam pak?" tanya Lavina kepada satpam yang berjaga.


"Ada non di dalam. Dari tadi nona Eveline gak kelihatan keluar." jawab satpam tersebut.


"Ini buat bapak, di makan ya sama temennya. Saya mau masuk dulu" Lavina menyodorkan paper back berukuran sedang kepada satpam tersebut. Itu adalah pia yang tadi dibelinya.


"Terima kasih non" si satpam mengambil paper back tersebut dari tangan Lavina.


Lavina pun berjalan mendekati pintu. Tak lama setelah memencet bel rumah, Eveline membukakan pintu. Mereka bersamaan memasuki rumah. Lavina duduk di sofa sembari menaruh tas disampingnya.


"Kakak sendirian?" nampak dirumah itu sepi hanya ada Eveline di rumah dan para art saja.


"Iya, kebetulan mama lagi ke butik. Suamiku ke kantor dan papa juga ada di kantor." jelas Eveline.


"Ohh..." Lavina mengangguk mengerti. "Eh iya ini aku tadi beli pia untuk kakak. Enak loh ini langganan aku. Coba deh cicipi" Lavina memberikan dua paper back kepada Eveline.


"Waah sepertinya enak, makasih ya Lavi. Kamu repot-repot segala." mata Eveline berbinar saat menerima pia dari Lavina. Si bumil sudah ngiler nampaknya. "Aku cobain ya" kata Eveline.


"Iya kak" Eveline pun membuka paper back yang di dalanya ada kotak beriai pia cokelat.


"Hmm enak banget lembut pula. Cokelatnya berasa banget" ucap Eveline senang.


"Memang enak kak, lembut juga. Mangkanya aku suka" balas Lavina tersenyum senang.


"Ohh iya....Kamu mau bicara apa?" tanya Eveline.

__ADS_1


Wajah Lavina berubah masam, ia menunduk dan bernafas berat. Tujuannya menemui Eveline memang ingin curhat sesuatu. Sudah jelas itu mengenai dirinya dan Michael semalam. Hatinya bimbang dan gelisah, dia tak tau harus memberi jawaban apa. Atau harus bersikao bagaimana nantinya.


"Kamu kenapa Lav? Kok mukanya ditekuk gitu" kata Eveline memperhatikan Lavina sejak tadi.


"Permisi non, ini minuman dan camilannya" bi Heti menaruh dua minuman dan camilan tersebut di atas meja.


"Terima kasih bi" ucap Lavina dan Eveline bersamaan. Bi Heti mengangguk tersenyum lalu ia pergi meninggalkan Eveline dan Lavina ke dapur.


"Kamu belum jawab Lav" Eveline mengingatkan kembali pertanyaannya yang tadi.


"Kak Michael mengajak aku untuk menikah kak" sontak jawaban Lavina membuat Eveline terkejut sampai terdiam sejenak mencerna ucapan Lavina barusan.


"Kapan?"


"Semalam"


"Terus kamu terima?"


"Ini yang aku bingungkan kak, antara menerima atau tidak" Lavina nampak lesu dan bimbang.


"Kamu cinta gak sama dia? Kalau hatimu gak bisa menerima kehadirannya tak perlu dipaksakan untuk menerima" tutur Eveline memegang pundak Lavina.


"Aku memang cinta sama dia kak, tapi aku takut"


"Apa yang kamu takutkan sih. Kalau kalian sama-sama jatuh cinta ya sudah terima saja. Michael juga baik, dia selama ini kan selalu menjaga kamu. Bahkan Michael juga sahabat kakakmu, yang sudah pasti kamu dan irang tuamu sudah tau Michael itu seperti apa" Eveline memberi penuturan dan saran yang menurutnya baik.


"Katakan pada hatimu bahwa Michael tidak akan menyakitimu. Mungkin ini lah cinta sejatimu Lavi, terima lah. Jika hatiku sudah ikhlas dengan kehadiran Michael, pasti ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya."


"Aku akan memikirkan lagi perkataan kakak. Terima kasih sudah mau mendengar curhatanku" Lavina memeluk Eveline seperti kakaknya sendiri.


"Kamu pasti bisa Lavina. Percayalah pada hati kecilmu. Aku akan selalu mendoakanmu" kata Eveline sambil mengusap lembut punggung Lavina.


"Iya kak" setelah puas berpelukan Lavina pun merenggangkan pelukannya. Obrolan terus berlanjut dengan hal-hal lain. Kadang bahas kuliahnya Lavina atau perkembangan calon anak Eveline.







Waktu berputar begitu cepat, siang berganti sore. Tampaknya Michael sudah datang di rumah Lavina. Mobilnya terparkir di halaman rumah dan orangnya sudah duduk di dalam bersama kedua orang tua Lavina. Michael datang seorang diri, awalnya tadi Dheri akan menemaninya. Namun Michael melarang dan mengatakan bahwa dia sendiri yang akan datang.


Michael tampak santai saja, tak sedikit pun memperlihatkan kegugupan atau ketakutan. Ia begitu percaya diri berhadapan dengan orang besar seperti tuan Alvero. Mungkin memang sudah terbiasa bertemu dengan kedua orang tua Lavina, jadi Michael tak gugup lagi untuk mengutakan niatnya. Berbeda dengan Lavina yang sedari tadi hanya menunduk sambil meremas kedua tangannya.

__ADS_1


Ia sudah siap untuk memberi jawaban jika nanti ayahnya bertanya pada dia. Jantungnya berdegup dengan kencang, hatinya gelisah. Ia takut ayahnya akan menolak niat baik Michael. Yang artinya hatinya harus patah kedua kali, bukan karna disakiti oleh snag pujaan hati. Melainkan terhalang restu orang tuanya. Yaa walau dia sendiri masih mempertimbangkan jawabannya.


"Ada keperluan apa nak Michael datang kesini? Kemarin Lavina bilang sama om kalau kamu ingin bertemu. Apakah ada hal yang penting?" tanya tuan Alvero yang duduk di samping istrinya dan Lavina duduk disamping sang mama.


"Iya om. Sebelumnya saya mau minta maaf kemarin ngajak Lavina keluar malam-malam."


"Ohh gak pa-pa asalkan dia pulang dengan aman dan bisa menjaga dirinya." jawab tuan Alvero.


"Terima kasih om. Niat saya kesini baik ingin melamar Lavina menjadi istri saya, jika om dan tante merestui kami" ucap Michael membuat tuan Alvero sekaligus nyonya Mesya terkejut.


Tuan Alvero memandang istrinya sejenak dan melirik ke arah Lavina yang masih menunduk diam.


"Apakah nak Michael serius ingin melamar Lavina?" tuan Alvero memastikan lagi barangkali dirinya salah dengar.


"Iya om saya yakin. Saya mencintai Lavina dengan segenap hati saya. Memang awalnya Lavina saya anggap sebagai adik, tapi semua itu berubah dengan kedekatan kami berdua. Saya janji akan membahagiakan Lavina dan menjaganya lahir batin" ucap Michael apa adanya.


"Om menghargai niat baikmu, kamu juga sudah dekat dengan kami. Karna kamu juga sahabat Kendrick, tapi semua keputusan ada di tangan Lavina. Om merestui nya, bagaimana ma?" tuan Alvero bertanya pada sang istri.


"Mama tidak masalah pa, kalau Lavina nya mau. Mama akan setuju, Lavina bagaimana dengan jawabanmu. Apakah kamu menerima lamaran dari nak Michael?" tanya nyinya Mesya kepada Lavina yang masih setia menunduk.


Tapi tak lama kepalanya terangkat saat mendengar pertanyaan sang mama. Lavina benar-benar gugup untuk menjawab, tangannya sudah berkeringat dingin. "Bismillah" berbisik dalam hatinya. "Kalau papa dan mama merestuinya, aku akan menerima lamaran kak Michael" kedua orang tuanya tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Lavina.


"Alhamdulillah..." ucap Michael lirih. Ia bersyukur Lavina mau menerima lamarannya. Walau nampak di ketegangan diwajah Lavina.


"Lavina sudah memberi jawabannya. Jadi kapan nak Michael mau mengajak orang tuanya kesini untuk menentukan tanggal pernikahannya. Ini mau ada acara lamaran atau nikah langsung" sepertinya tuan Alvero ingin menggoda keduanya.


"Ndak perlu acara lamaran om, Lavina tidak menyukainya. Secepatnya saya akan bawa papa dan mama kesini" Michael seraya menahan tawa melihat wajah Lavina yang terkejut. Semua mata tertuju padanya, jika saja disitu tidak ada kedua orang tuanya. Sudah pasti Lavina akan menabok lelaki yanh sekarang ada di depannya itu.


"Kok aku jadi sasarannya" ucap Lavina lirih tapi masih bisa didengar oleh semuanya. Orang tuanya hanya tersenyum menanggapi celotehan Lavina.


"Baiklah om akan tunggu kedatangan orang tuamu. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda harus disegerakan"


"Baik om" Michael akhirnya lega mendengar jawaban dari kedua orang tua Lavina maupun dari Lavina sendiri. Ia bersyukur rencananya untuk menikahi Lavina berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal satu langkah lagi yaitu meminta restu kedua orang tuanya. Dan Michael sudah yakin kalau niatnya akan direstui pula oleh kedua orang tuanya.


...OOOO(≧▽≦)OOOO...


...Assalamu'alaikum 🙏...


...Othor mau kasih tau nih biar kalian gak menunggu up dari othor. Jadi author akan up hari Senin -Jumat saja. Kalau kamis gak upgrade artinya diganti hari Jumat yaa. Terima kasih jangan lupa jempolnya kalau selesai baca 😉....


...Mau nambah sedekah gifh yang lain juga boleh 😄....


...Follow IG othor dong...


...@imeilda_08...


...Thank you 💞...

__ADS_1


...See you all by by 👋👋...


__ADS_2