
~Stories Day~
Kehidupan tak akan selamanya pahitkan? Iya memang masih dalam proses. Gak selamanya kok akan terasa pahit. Lewati saja seperti air mengalir, mengikuti alur yang sudah Tuhan tata. Jalani dengan sabar dan ikhlas. Jika hidup ini terasa hambar, maka ciptakan warna didalamnya. Seperti halnya teh tanpa gula pasti tak ada rasanya, setelah diberi gula akan terasa manis. Sebaik mungkin berilah warna dalam hidup yang hanya sekali lewat diri sendiri. Memang harus dimulai dari diri sendiri, baru salurkan kepada orang lain.
Semangat jangan pantang menyerah sebelum melawan.
Setelah hujan muncul lah pelangi.
Ada luka pasti ada obatnya.
Kalau hari ini sedih, besok harus tersenyum.
Senyummu itu manis jadi jangan dimahalkan ya ^o^
...~≧ω≦~≧ω≦~≧ω≦~≧ω≦~...
London.
"Kamu yakin akan pulang besok Rissa? Gak nunggu satu minggu lagi?" tanya Lucy memastikan bahwa Clarissa sudah yakin dengan keputusannya yang akan pulang besok bersama Chera.
"Iya bi Rissa yakin. Aku gak bisa menunggu lama disini, suamiku butuh aku. Bibi dan paman tenang saja Rissa akan baik-baik saja, kan ada Chera juga yang menemani. Lagian Clarissa pulang juga pakai jet pribadi jadi gak perlu khawatir." Clarissa sudah yakin dengan keputusannya yang akan pulang besok. Ia sudah tidak bisa menahan diri disitu lebih lama. Apalagi Lavina terus memberinya pesan agar secepatnya pulang.
Clarissa jadi mencemaskan keadaan suaminya. Bagaimana kalau Kendrick tidak akan selamat? Lalu nasib mereka gimana? Apakah Clarissa akan kuat dan bisa menerimanya?. Tak terbayangkan sedikit pun dibenak Clarissa kalau Kendrick akan meninggalkannya.
Yeo lagi-lagi membantu Clarissa untuk pulang ke negaranya menggunakan jet pribadinya. Yeo berasal dari negara yang sama dengan Clarissa. Hanya saja dia memang tinggal di London untuk menutupi identitasnya. Clarissa merasa bersyukur Yeo masih mau membantunya. Sehingga Clarissa tak perlu susah payah mencari pesawat kembali dan gak perlu mengejar waktu.
"Mama tenang saja aku pasti akan menjaga kak Clari dengan baik. Dan dua si tampan ini." sahut Chera sembari menggendong Khalvan anak pertama Clarissa.
Selepas keluar dari rumah sakit Lucy selalu mempertanyakan nama mereka berdua yang pada akhirnya Clarissa mengatakan nama kedua putranya. Agar mereka semua juga tau nama keduanya dan mudah untuk memanggil.
"Ayo katakan Rissa siapa nama mereka, bibi ingin mendengarnya ini. Dari kemarin sulit sekali kalau harus mengajak bercanda mereka. Bibi ingin tau namanya." paksa Lucy yang sudah tidak sabar dan mendesak Clarissa untuk berbicara.
"Sabarlah ma, Rissa pasti akan mengatakannya kok. Mama nih ah gak sabaran, gak kejutan nantinya." sahut Chesa sembari tertawa. Ia juga ada disana bersama Leo dan putranya Zhafi.
__ADS_1
"Iya nih mama gak sabaran banget, dari kemarin dirumah sakit cerocoa mulu nanyain nama. Lagian kak Clarissa juga gak akan lupa nama buat mereka. Ya kali lah anak setampan ini gak ada namanya."
Puk.
"Auww!?"
"Sakit lah ma, aku hanya bercanda loh. Sensi amat sih" sindir Chera yang mendapat pukulan dari Lucy, mendengar anak sulungnya yang sudah nyamber saja kalau orang bicara. Main ceplas ceplos pula membuat Lucy kesal. Sementata Clarissa dan yang lainnya hanya bisa menertawakan Chera.
"Itu mulut dijaga jangan main nyamber aja" kesal Lucy dengan tatapan mata tajamnya ke arah Lavina.
"Sudah lah bi, katanya tadi mau tau nama mereka?. Sini aku kasih tau, aku beri mereka nama Khalvan Emilio dan Kheisen Emilio" ucap Clarissa agar kedua emak dan anak itu tidak saling ribut mulu.
"Waah nama yang indah, hai Khalvan dan Kheisen kalian sangat lucu. Pintar sekali mama kalian memberi nama." Lucy sangat gemas dan sangat antusias mendengar Clarissa menyebut nama keduanya.
Apalagi yang lainnya, mereka juga menyukai nama pemberian dari Clarissa. Hanya saja Lucy merasa kurang lengkap dengan nama keduanya. Tak ada nama besar keluarga mereka yang disematkan dalam nama anak Clarissa. Sehingga Lucy mempertanyakan itu.
"Kenapa tidak kamu sematkan nama keluargamu atau keluarga suamimu Rissa agar orang lain tau kalau putramu dari keluarga Danata atau keluarga suamimu?" tanya Lucy heran, sedangkan Chera serta yang lain tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Sehingga ia berharap kedua putranya pun sama tidak menggantungkan hidupnya kepada kekayaan keluarga yang memang sudah ada sejak mereka masih kecil.
"Bagus Rissa, hidup tak selamanya diatas. Mereka juga harus belajar untuk merasakan kehidupan rakyat biasa. Agar saat mereka dalam kesusahan tidak mengeluh dan putus asa." sahut Lous membenarkan.
"Iya paman" balas Clarissa dengan senyuman. Ia susah memikirkan semuanya jauh sebelum kedua putranya lahir. Ia hanya menyematkan nama suaminya untuk terus mengingatkan dia pada Kendrick.
Kembali....
"Ya sudah itu keputusanmu, kami disini hanya bisa mendoakan saja. Pesan paman apapun yang terjadi nanti disana tetaplah tabah dan sabar, cobalah ikhlas dan cari jalan masalahnya. Jangan menuruti nafsu amarah ya, pikirkan dengan kepala dingin. Itu adalah keluargamu, keluarga kami juga. Ingat pesan paman ya Rissa" Lous memberi nasihat kepada Clarissa agar tidak membenci keluarganya dan mencari jalan masalah dengan baik.
"Iya paman terima kasih atas nasihatnya. Aku juga mau berterima kasih sama paman dan bibi sudah memperbolehkan aku tinggal disini sampai melahirkan. Aku harap paman dan bibi terus sehat dan selalu terlindungi. Kalau ada waktu pasti aku akan main kesini lagi." seketika Lucy yang tidak bisa membendung air matany, tumpah di pelukan Clarissa.
Ia sudah Menganggap Clarissa adalah putrinya sendiri. Sama dengan Chera maupun Chesa. Karna mereka memang sejak dulu sudah tinggal bersama dengan waktu yang cukup lama. Jadi wajar kalau sekarang Lucy begitu menyayangi Clarissa menyamai kasih sayangnya kepada Chera.
"Kamu wanita hebat dan kuat nak, bibi menyayangimu. Kalau kamu gak ada tempat curhat, sini peluklah bibi atau telfon. Bibi akan setia mendengarkan semua keluh kesahmu" mendengar perkataan Lucy yang sangat menyentuh hatinya, Clarissa pun ikut menangis dan beribu-ribu mengucapkan terima kasih. Tak ada yang bisa diucapkannya lagi selain kata terima kasih.
__ADS_1
"Hiks, aku menyayangi paman dan bibi. Selamanya kalian pun orang tuaku, terima kasih ya" Clarissa kembali memeluk Lous dan Lucy bersamaan. Pemandangan yang begitu mengharukan sampau Chera berceletuk membuyarkan rasa haru dan tangis itu menjadi canda tawa kembali.
"Sudah ah melonya, mending ngajak main Khalvan dan Kheisen. Mereka matanya lebar semua gak berasa ngantuk apa ya" posisi saat itu sudah menginjak malam. Suara Chera membuyarkan rasa sedih menjadi senyuman kembali. Sebuah lengkungan yang banyak disukai orang yaitu senyuman yang indah.
"Iya ihh matanya pada lebar. Hey kalian gak mau tidur? Yuk kita ke kamar sayang" Clarissa pun membawa Khalvan dan Keisen ke kamar untuk menidurkannya ditemani sama Chera.
...🌲🥀🌲🥀🌲🥀...
Keesokan paginya dirumah sakit nyonya Mesya dan Lavina berada disana. Mereka sedang menjenguk Kendrick yang masih terbaring tak berdaya. Mereka hanya bisa berdoa dan berdoa. Tak ada kata selain doa yang mereka lantunkan. Derai air mata sudah pasti membanjiri kelopak mata nya. Terutama nyonya Mesya yang tak kuasa melihat Kendrick masih saja sama.
Lavina yang mendapat giliran masuk setelah sang mama. Dipakai lah baju khusus itu dan mendekat ke arah bebaringnya Kendrick disana. Matanya sudah tumpah dengan tangisan. Wajah yang dulunya tampan kini terlihat pucat dan berantakan. Lavina seolah tak melihat sosok kakaknya yang dahulu. Duduklah dia disana, mendekap tangan Kendrick.
"Aku kesini kak, aku kangen. Mau sampau kapan kakak begini terus? Apa kakak gak kangen sama kami disini. Apa sih yang kakak tunggu? Kak Clarissa? Kalau iya dia yang kakak tunggu maka bertahanlah sampai dia datang. Berjanjilah, kakak mengatakan ingin memperjuangkan cinta kalian kan? Ayo tunjukkan itu kepada kami. Aku ingin melihat perjuangan itu." Lavina berceloteh panjang lebar agar Kendricj mau bangun. Percuma, Kendrick tak merespon apapun. Bahkan tangannya terasa sedikit dingin.
Disitu Lavina menangis tersedu-sedu. Ia membayangkan wajah terakhir sang kakak yang sangat bahagia saat ingin menyatakan cintanya. Sampai Ken menyiapkan segalanya dengan sempurna. Tapi harus kandas begitu saja dengan takdir yang berkata lain.
"Kakak gak mau melihat keponakanmu, aku hamil kak. Sebentr lagi kakak punya ponakan. Nanti aku akan sering-sering berkunjung ya. Biar kita bisa main bareng.......Hiks.......Hiks." Lavina menjatuhkan kepalanya diranjang Kendrick sambil menangis. Tangannya masih memegang tangan Kendrick. Jujur saja dia begitu merindukan sosok kakaka disampingnya.
Diluar nyonya Mesya masih menunggu dan tak lama datanglah Farghan bersama dokter Ridwan. Farghan ingin berbicara dengan nyonya Mesya. Dan tak lama Lavina keluar dari ruang ICU lalu berjalan mendekati mamanya.
"Ada apa ma?" tanya Lavina.
"Ikut keruanganku kami perlu bicara sebentar" sahut Farghan yang langsung diangguki oleh nyonya Mesya.
Mereka pun bersamaan ke ruangan Farghan bersama dokter Ridwan juga. Dalam hati Lavin, dia sudah deg-degan takut yang akan dibicarakan oleh Farghan nanti adalah kabar buruk. Seperti halnya sebelumnya, ia masih ingat saat Farghan mengajak mereka berbicara dan hal mengejutkan sempat mereka dengar.
"Ada apa Far, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Lavina sambil menahan debaran jantungnya yang semakin kuat dan belum siap mendengar kabar buruk mengenai kakaknya.
"Kami minta maaf tante, Lavi, aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa Kendrick sama sekali tak menunjukkan sisi positifnya. Semuanya sama dan kemarin detak jantung Kendrick sempat melemah. Semakin hari tubuhnya seolah tak merespon apapun. Jadi kami mohon ikhlaskan Kendrick. Aku juga gak mau seperti ini" dengan terpaksa Farghan mengatakan sejujurnya walau pun memang tak ingin mereka dengar.
Lavina sudah menangis bersama dengan tangisan nyonya Mesya yang memeluknya. Mereka tidak tau harus menjawab seperti apa, semebtara yang mereka inginkan adalah melihat kesadaran Kendrick. Tapi takdir seolah berkata lain. Haruska mereka mengikhlaskan Kendrick?.
Entah mereka juga belum ikhlas rasanya. Hanya mulut yang bungkam dan keluh untuk membukanya. Lavina gak mau kalau harus kehilangan kakaknya. Kalau itu terjadi hatinya mungkin tak akan sanggup.
__ADS_1