
Nyonya Cantika sudah memulai panggilan video call lewat laptop Faero. Mereka penasaran sekali Clarissa akan mengatakan apa. Sampai diminta untuk berkumpul, Faero dan Eveline pun juga penasaran dengan pambasan dan yang akan dikatakan oleh Clarissa.
Faero masih menyambungkan ponselnya ke laptop miliknya. Tak lama perangkat ponselnya sudah terhubung ke laptop. Faero memberi tau Cantika agar menghubungi Clarissa supaya melakukan video call ke nomernya. Cantika lalu mengambil ponselnya dan memberi pesan kepada Clarissa. Mereka semua dibuat penasaran oleh Clarissa, terutama Eveline yang sedang berpikir keras untuk mencari jawaban pembahasan Clarissa nanti.
...β¦β’ββΏπΉβΏββ’β¦...
London.
Lavina sedang berada di ruang tamy bersama Leo, Lucy, dan Chera. Mereka sedang berkumpul bersama untuk menemani Clarissa. Memang sudah dari kemarin-kemarin Clarissa ingin berbicara jujur kepada kedua orang tuanya. Tapi dia masih mengumpulkan keberanian.
"Semoga papa dan mama gak marah, tapi kalau dipikir buat apa juga mereka marah. Toh ini cucunya sendiri bukan hasil dari perzinahan. Terus kenapa aku harus takut, ohh Tuhan........Aku terlalu takut duluan." batin Clarissa menggenggam ponselnya menunggu balasan dari mamanya.
Taka lama notifikasi masuk ke ponsel Clarissa.
'Mama'
π© "Sayang, kamu kalau mau melakukam panggilan ke nomor kakakmu saja. Kami sudah menunggu apa yang ingin kamu katakan"
Clarissa memperlihatkan layar ponselnya kepada Chera yang berada disampingnya. Chera hanya mengangguk dan tersenyum, seolah mengatakan kepada Clarissa bahwa semuanya pasti akan seperti yang ada dalam bayangnya. Clarissa segera menyalakan laptop dan menyambungkan whatsapp ke laptop.
Setelah tersambung Clarissa mencari nomor kakaknya Faero dan menekan tombol untuk melakukan panggilan video call.
Tak berselang lama terlihat dilayar wajah Cantika dan tuan Nevan. Clarissa tersenyum haru karna begitu merindukan kedua orang tuanya itu. Sudah lama sekali Clarissa merindukan keduanya, tapi jarang sekali Clarissa bisa menelfin secara langsung seperti sekarang. Palingan juga hanya sekedar mengirim pesan dan bertukar kabar.
"Assalamu'alaikum pa ma" ucap Clarissa menyerka air mata yang ada disudut matanya.
"Wa'alaikumussalam. Bagaimana kabarmu nak?"
"Alhamdulillah aku baik pa" jawab Clarissa.
"Kamu ingin mengatakan apa pada kami? Apakah hal yang begit penting?" tanya tuan Nevan penuh selidik tapi masih bisa berpikir positif.
Melihat keponakannya yang terlihat gugup akhirnya Leo berpindah ke sebelah Clarissa dan langsung bertatapan dengan layar. Terlihat pula wajah Leo dilayar, sehingga tuan Nevan tau kalau sekarang Clarissa tidak sendiri melainkan bersama Leo dan Lucy. Yang artinya Clarissa memang benar-benar ingin mengatakan hak serius.
"Apa kabar Van?" tanya Leo basa basi tapi memang dia berniat menanyakan kabar walau pun tadi sudah mendengar jawaban saat Clarissa bertanya.
Penjelasan dikit, tuan Nevan adalah adik iparnya Leo. Jadi Leo adalah kakak kandung Cantika. Yang artinya Leo dari keluarga Cantika. Orang tua tuan Nevan sudah meninggal, mamanya pergi saat tuan Nevan SMA karena sakit yang diderita. Sementara ayahnya meninggal disaat Clarissa masih SMA dulu.
"Alhamdulillah sehat, keintinya saja langsung memangnya apa yang ingin kamu katakan Clarissa." tuan Nevan sudah menebak jika ada hal yang memang serius ingin dikatakan Clarissa.
Clarissa menatap layar sambil menggenggan erat tangan Chera yang berada disampingnya. Tapi Chera tak masuk untuk memperlihatkan wajahnya dilayar. Ia sedikit menggeser ke samping dan tangannya merasakan tangan Clarissa menggenggam erat.
Clarissa tak menjawab ucapan ayahnya. Ia malah mengambil sesuatu yang dia simpan di samping laptopnya dan memperlihat ke arah layar. Sehingga terlihat jelas dilayar sana sebuah tespek bergaris dua. Tuan Nevan dan Cantika terlihat kaget melihat tespek yang diperlihatkan Clarissa bergaris dua.
"Kamu hamil nak?" tanya Cantika dengan wajahnya yang terlihat terkejut.
__ADS_1
"Iya ma, aku sedang hamil. Maafkan Clarissa baru mengatakannya pada kalian. Usia kandungn Clari sudah mau tiga bulan. Aku benar-benar minta maaf baru mengatakan hal ini" terlihat jelas wajah tuan Nevan dan Cantika sangat terkejut. Lantaran Clarissa memberi tau kalau usia kandungannya sudah hampir tiga bulan yang artinya tak lama setelah Clarissa ke London. Dia mengandung cuxu mereka, tapi Clarissa tidak memberi tau hal itu.
"Kenapa kamu baru mengatakan hal ini pada kami Clarissa?" layar berpindah memperlihatkan wajah Faero yang marah.
"Maafkan aku kak, bukannya aku ingin menyembunyikan ini semua. Tapi......" Clarissa meremas baju yng dia pakai dengan tangan kirinya dan tangan kanannya masih setia menggenggam tangan Chera.
"Dia takut kalian tidak akan mau menerima kehadiran anak di dalam perut Rissa." sahut Leo menengahi.
"Seharusnya dia bisa berkata jujur dari awal, bukannya sudah berjalan lama baru bilang!!. Kami seperti keluarga yang jahat, menelantarkannya disaat hamil tanpa begink." ucap Faero dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu.
"Apa anak yang kamu kandung adalah anak lelaki b*jing*n itu" tanya tuan Nevan dengan nada bicara yang tidak bisa ditolerir lagi.
"Papa bicara apa sih, kenapa malah ngomong seperti itu. Kalau papa tidak mau menerima anak yang ada dalam kandunganku ya sudah. Tidak perlu berbicara kotor tentang suamiku" sahut Clarissa dengan air mata yang sudah meleleh. Hatinya sakit mendengar ayahnya mengolok suaminya.
"Papa kira kamu tidak akan bertindak sejauh ini Clarissa. Ternyata lelaki itu sudah menidurimu, apa yang dia berikan kepadamu sampai kamu mau disetubuhi!" Clarissa benar-benar sakit mendengar perkataan ayahnya yang tidak sepantasnya berbicara hal itu.
"Dia suamiku, apa salahnya aku sebagai istri memberikan hak kepada suamiku. Kita sudah halal bukan lagi haram untuk disentuh olehnya. Stop pa mengolok-olok mas Kendrick. Aku tau papa masih kecewa tapi bukan begini pa. Ini juga cucu papa sendiri." ucap Clarissa yang sudah terlanjur sakit mendengar perkataan ayahnya.
...βββββ...
Indonesia.
Tuan Nevan begitu terkejut saat mendengar Clarissa mengatakan kalau dia sedang hamil. Apalagi itu adalah anak dari lelaki yang benar-benar tuan Nevan benci. Dia tidak pernah berpikir jauh kalau Clarissa akan melakukanya dengan Kendrick. Sementara Eveline hanya diam membisu. Ia tak berani bersuara, hanya dia yang tau kenapa Clarissa bisa hamil. Yang pasti gegara beberapa bulan lalu.
Eveline melihat suaminya yang sepontan memutar laptop ke arah wajahny. Dan Faero dengan marah juga kecewa mempertanyakan alasan Clarissa yang menyembunyikan semuanya dari mereka. Tentu pasti karna Clarissa takut.
"Kenapa kamu baru mengatakan hal ini pada kami Clarissa?" marah Faero membeludak mendengar adiknya hamil tapi mereka tidak ada yang tau.
"Maafkan aku kak, bukannya aku ingin menyembunyikan ini semua. Tapi......" ucapan Clarissa tertahan dengan wajah yang menunduk. Lalu Leo pamannya menimpali ucapan Clarissa.
"Dia takut kalian tidak akan mau menerima kehadiran anak di dalam perut Rissa." sahut Leo menengahi.
"Seharusnya dia bisa berkata jujur dari awal, bukannya sudah berjalan lama baru bilang!!. Kami seperti keluarga yang jahat, menelantarkannya disaat hamil tanpa begink." ucap Faero dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu.
"Apa anak yang kamu kandung adalah anak lelaki b*jing*n itu" tanya tuan Nevan dengan nada bicara yang tidak bisa ditolerir lagi.
"Papa bicara apa sih, kenapa malah ngomong seperti itu. Kalau papa tidak mau menerima anak yang ada dalam kandunganku ya sudah. Tidak perlu berbicara kotor tentang suamiku" sahut Clarissa dengan air mata yang sudah meleleh tampak jelas dilayar.
"Papa kira kamu tidak akan bertindak sejauh ini Clarissa. Ternyata lelaki itu sudah menidurimu, apa yang dia berikan kepadamu sampai kamu mau disetubuhi!" tuan Nevan sudah diselimuti oleh amarah.
"Dia suamiku, apa salahnya aku sebagai istri memberikan hak kepada suamiku. Kita sudah halal bukan lagi haram untuk disentuh olehnya. Stop pa mengolok-olok mas Kendrick. Aku tau papa masih kecewa tapi bukan begini pa. Ini juga cucu papa sendiri." ucap Clarissa tegas.
Cantika hanya bisa menangis melihat perdebatan dari suamo dan anaknya. Dia bukannya tidak menerima cucu yang sedang dikandung putrinya. Tapi Cantika merasa tidak dihargai oleh Clarissa yang berani berbohong. Hanya karena rasa takut. Pikir Cantika.
"Turunkan nada bicaramu Clarissa, dia papamu." sahut Cantika memberi tau putrinya.
__ADS_1
"Aku ngomong apa enggak ya. Kasihan Clarissa, ini juga bukan kesalahannya tapi......Aku takut mas Faero tau dan akan marah padaku" batin Eveline sambil meremas bajunya tapi tak terlihat oleh Faero.
"Papa tidak mempermasalahkan anakmu, tapi setelah kamu melahirkan. Segera bercerai dengan lelaki itu." tuan Nevan memang kecewa dengan Clarissa tapi hatinya tak mungkin setega itu, tidak mau mengakui cucunya sendiri.
"Enggak!! Sampai kapan pun aku tidak akan pisah dengan mas Kendrick. Dia adalah ayah dari anakku, aku gak mau anakku tumbuh tanpa seorang ayah." jelas Clarissa tegas.
"Kamu sudah berani membantah Clarissa!! Apa kelebihan lelaki itu hah!! Dia gak pantas untukmu. Papa bisa carikan lelaki yang bisa menerimamu dan anakmu. Yang lebih baik dari lelaki b*jing*n itu" bentak tuan Nevan yang marah.
Cantika mengatakan kepada suaminya agar bersabar dan tidak marah-marah. Ia mengelus pundak tuan Nevan sambil menangis.
"Stop!! Stop papa menghina mas Kendrick. Papa gak seharusnya mengucapkan itu. Ini bukan papa yangku kenal." Clarissa juga terlihat marah sambil menangis. Beberapa kali dia menyerka air matanya.
Eveline yang sudah tidak tahan lagi melihat Clarissa menangis tersedu-sedu, akhirnya angkat bicara dan menengahi semuanya. Ini semua juga karna dia, tapi jika dipikir harusnya gak masalah karna Clarissa sudah halal untuk disentuh oleh Kendrick. Tapi karna perilaku yang tak bisa dimaafkan, mungkin ini yang membuat tuan Nevan jadi membenci Kendrick.
"Sudah, ini semua bukan murni kesalahan Clarissa. Mas jangan marahin Claridsa terus, pa aku mohon. Ini semua salahku" sahut Eveline menunduk setelah menyelesaikan bicara.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Faero.
"Eveline?" Clarissa berucap dan menatap Eveline seolah mengatakan jangan mengatakan apapun. Tapi Eveline tak menggubris tatapan Clarissa dan mengatakan semuanya. menceritakan dari awal hingga akhir. Sampai membuat kedua orang tua Clarissa terkejut. Setelah mengatakan hal tersebut Eveline tak berani menatap wajah mertuanya maupun suaminya. Hatinya dilanda ketakutan.
"Maafkan aku pa" ucap Eveline lirih sambil menunduk.
"Kalau tau kalian pergi waktu itu untuk ke hotel, mama gak bakal mengizinkan. Dan ini semua gak bakal terjadi, harusnya kamu berkata jujur sama mama Velin. Kenapa malah bersembunyi begitu. Bukan masalah halal atau tidak, memang itu sudah hak suami kamu Clari. Tapi bukan karna kesadaran tapi karna dia gak sadar dengan apa yang sedang dilakukan." Cantika berbicara sambil menangis, suaranya terdengar bergetar. Ia kecewa dengan anak dan menantunya.
"Aku minta maaf pa ma, maafka aku mas" Eveline bersimpuh dihadapan mertuanya dan suaminya. Dia benar-benar tak menduga akan menjadi serumit ini.
Clarissa yang melihat Eveline bersimpuh seperti itu tak tega. Andai dia ada disana mungkin Clarissa bisa merendam ketakutan Eveline dan mereka sama-sama bisa menguatkan. Apalagi sekarang Eveline sedang hamil. Pasti memberi tekanan untuk Eveline.
...π...
...π...
...π...
...Hay readers selamat pagi π€...
...Ohh ya author mau kasih tau kalau dipart sebelumnya ada revisi sedikit. Readers yang sudah baca boleh kalau mau baca ulang.....
...IG author :...
...@imeilda_08...
...Tinggalkan jejaknya π. Kopinya boleh enak tuh kalau dicelupin biskuit π. ...
...See you all, by by ππ...
__ADS_1